Wae Rebo, Desa Terindah di Indonesia

Di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, terdapat sebuah desa yang dikenal sebagai surga di atas awan, namanya Wae Rebo. Di desa tersebut hanya ada tujuh rumah adat yang memiliki arsitektural tradisional yang sangat unik. Bentuknya kerucut, dan terbuat dari kayu dengan atap dari ilalang yang dianyam. Hingga kini Desa Wae Rebo telah bertahan selama 20 generasi. Desa ini terletak di barat daya kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Untuk bisa sampai ke Desa Wae Rebo memang tidak mudah dan perlu perjuangan.

Tim Trip Salam Indonesia berencana menginap di Desa Wae Rebo, namun karena hari sudah terlalu malam, akhirnya tim menginap di Desa Cepang. Pagi harinya Tim Trip Salam Indonesia memulai perjalanan ke Desa tersebut. Setelah memarkir mobil di kaki gunung, perjalanan yang sebenarnya baru dimulai. Tim diharuskan berjalan kaki melintasi jalan yang mendaki sejauh tujuh km. Namun saat ini perjalanan yang seharusnya ditempuh selama empat jam, bisa dilalui hanya dengan tiga jam. Kita bisa menghemat satu jam dengan menggunakan ojek.

Selain lintasan menanjak, dan hawa yang sangat dingin, di sepanjang perjalanan juga banyak lintahnya, jadi harus rapat semuanya. Saat Tim Trip Salam Indonesia menelusuri jalan tersebut, cuaca agak kurang bersahabat, di antaranya kabut tebal dan gerimis yang membasahi medan menanjak. Menurut warga, sehari sebelumnya terjadi tanah longsor, yang mengakibatkan longsoran di tiga titik, karena itu harus ekstra hati-hati untuk melaluinya.

Karena masih asri dan belum banyak terjamah modernisasi, air sungainya sangat jernih, tim sempat berhenti untuk minum dan membawa airnya untuk di perjalanan. Ada tiga pos sebelum mencapai Desa Wae Rebo, yang pertama di jembatan setelah turun dari ojek, pos dua ada di pertengahan, dan pos tiga berada tepat di depan pintu masuk Desa Wae Rebo. Di pos tersebut ada kentungan, dan selalu ditabuhkan sebagai tanda jika ada tamu yang akan masuk.

Setibanya di sana, rasa letih dan pegal-pegal hilang seketika dan terbayar dengan pemandangan alam dan budaya masyarakat yang menakjubkan. Hati merasa damai melihat rumah adat yang dinamakan ‘Mbaru Niang’. Bentuknya yang kerucut itu memang memiliki filosofi tersendiri, yakni perdamaian.

Selain rumah adat yang menjadi daya tarik, kehidupan masyarakatnya juga tak kalah menarik untuk diketahui. Sebagian masyarakat Desa Wae Rebo aktif bertani, sedangkan para wanitanya membuat tenun. Setiap keluarga punya rumah utama, dan sebagaimana tradisi di Flores, setiap tamu yang baru tiba harus ‘sowan’ ke rumah utama untuk bertemu Kepala Suku. Semua tim masuk, melepas sepatu, dan duduk melingkar. Michael yang merupakan anak kepala suku mulai bercerita tentang Desanya.

Tim Trip Salam Indonesia disuguhkan makanan yang mereka masak. Tim juga mencicipi kopi yang juga hasil tanam sendiri. Kebanyakan dari mereka adalah petani kopi. Adalah seseorang yang berasal dari Bandung memutuskan untuk tinggal di Desa Wae Rebo selama empat tahun. Ia mengajar bagaimana menanam kopi yang baik dan benar. Kini orang tersebut telah diberi tanah untuk tinggal di sana. Sebelum diijinkan kepala suku, tim tidak boleh merekam apapun.

Rumah utama yang didatangi Tim Trip Salam Indonesia ini juga menjadi tempat untuk berembuk dan menyelesaikan masalah. Sesuai arsitekturnya, segala sesuatunya dimusyawarahkan di rumah ini hingga ‘mengerucut’ dan menjadi satu kesimpulan. Di rumah kerucut yang diperuntukan bagi tamu, dapurnya dibuat terpisah. Ini menjadi salah satu bukti bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan para tamu yang datang. Hal ini karena banyak tamu yang terganggu akan asapnya, padahal jika kita duduk saja, kita tidak akan terkena asap.

 

Sedangkan di rumah lainnya, letak dapur berada di tengah untuk tempat makan bersama, asapnya juga bisa dimanfaatkan sebagai pengawet kayu di rumah tersebut. Rumah-rumah ini memiliki lima lantai dengan tinggi sekitar lima meter. Setiap lantainya memiliki fungsi yang berbeda. Tingkat pertama untuk tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga, tingkat kedua untuk menyimpan bahan makanan, tingkat ketiga untuk menyimpan benih pangan, tingkat keempat untuk menyimpan stok pangan saat kekeringan, dan tingkat kelima untuk tempat persembahan leluhur. Jika ingin menginap, kita juga bisa menumpang di rumah adat ini.

Desa Wae Rebo merupakan sebuah tempat yang bersejarah sehingga dinobatkan menjadi situs warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 2012 lalu. Tak heran jika Wae Rebo disebut sebagai desa terindah di Indonesia. (*)

2 Replies to “Wae Rebo, Desa Terindah di Indonesia”

Leave a Reply to NOVIAN Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *