Tiga Hari di Bukit Hiliwuku

Sumba Timur merupakan kabupaten terbesar di pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Luas wilayahnya lebih luas dari pulau Bali. Menurut sejarah geologi, sekitar 60 juta tahun yang lalu Pulau Sumba terletak di sekitar Teluk Bone di selatan pulau Sulawesi. Wilayah ini dulunya merupakan bagian dari Kepulauan Sunda. Akibat adanya escape tectonics, Pulau Sumba terus bergerak menuju selatan hingga berada di posisinya saat ini. Ada banyak bukit yang indah di Pulau Sumba, salah satunya adalah bukit bukit di Tanarara.

Perbukitan Tanarara yang sangat luas dan unik tersusun dari Bukit bukit karang yang gersang. Bukit ini di lapisi oleh hamparan rumput yang disaat kemarau berwarna coklat ke emasan, dan berwarna hijau disaat musim hujan. Selama tiga hari tiga malam, Tim Trip Salam Indonesia mendirikan tenda di atas Bukit Hiliwuku yang merupakan bagian dari Perbukitan Tanarara. Bukit yang menyimpan warisan bumi Tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur ini merupakan deretan belasan bukit hijau kosong. Selama tiga hari tim melihat melihat panorama berupa luasnya hamparan rumput yang sedang mengering, Bukit ini juga ada banyak hewan ternak seperti, kuda, sapi kambing.

Punggung setiap bukitnya relatif datar dan saling sambung menyambung. Menariknya lagi, akses jalan di sini berada di punggung bukit, bukan di lembah. Dari atas punggung bukit inilah Tim Trip Salam Indonesia menikmati pemandangan yang luar biasa dan berbeda dengan tempat lain. Selama mendirikan basecamp di Bukit Hiliwuku, banyak sekali warga yang berdatangan untuk bermain ke lokasi camping. Mereka benar-benar ingin mengtahui apa yang sedang dikerjakan Tim Trip Salam Indonesia. Setelah melihat beberapa video yang sedang dikerjakan, mereka sangat senang. Pada malam harinya juga banyak warga yang datang, tidak hanya orang dewasa tapi anak-anak menikmati proses pengeditan video Salam Indonesia. 

Oleh warga sekitar, Tim Trip Salam Indonesia difasilitasi kamar mandi yang berada di sebuah sekolah. Untuk keperluan mandi dan buang air besar, mereka sendiri yang membawa dan menyiapkan air. Mereka sangat ramah dan mudah akrab dengan kami. Mereka juga tidak mau dibayar sepeser pun. Semoga pengembangan pariwisata di Sumba tidak hanya mengutamakan sisi pendapatan, namun juga memperhatikan sisi budaya, pendidikan, lingkungan hidup, para penghayat kepercayaan (Marapu), dan ketentraman serta kenyamanan masyarakat. Sunset di Hiliwuku, Tanarara tidak akan pernah terlupakan. (*)

 

 

 

One Reply to “Tiga Hari di Bukit Hiliwuku”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *