#ArsipTSI “ISTANA PURBA” Arosbaya

Bukit kapur Arosbaya terletak di sisi utara pulau Madura. Tepatnya di salah satu kecamatan di daerah Kabupaten Bangkalan yang terletak 16 km dari ibukota Kabupaten Bangkalan.

Bukit kapur ini menjadi sumber mata pencarian sebagian masyarakat Arosbaya.

Mereka menambang bongkahan bata kapur yang di klaim lebih kuat dari batu bata merah.

Dan menjadi bahan bangunan utama rumah-rumah di Madura. Secara alami, Bukit kapur ini menjelma menjadi gerbang dan dinding raksasa yang membuat kita serasa memasuki sebuah reruntuhan istana purba.

Secara alami, Bukit kapur ini menjelma menjadi gerbang dan dinding raksasa yang membuat kita serasa memasuki sebuah reruntuhan istana purba.

Di sini kita akan bertemu beberapa bekas tambang Batu Kapur. Corak pahatan alami itu cukup indah.

Besar kemungkinan tidak disadari oleh penambang, bahwa secara tidak langsung mereka menciptakan obyek wisata alam yang cukup bagus dan patut diperhitungkan.

Tidak hanya itu, tumbuhan tumbuhan liar membuat Arosbaya semakin indah, perpaduan warna hijau dan coklat di tambah ada beberapa kolam yang memancarkan air berwarna hijau.

Apalagi saat musim panas, terobosan terobosan sinar matahari menerobos dinding dinding gua.

Goa goa yang berada di dalam bukit Arosbaya ini, serasa menjadi ruang yang hangat untuk dinikmati bersama para sahabat.

Akses menuju bukit Arosbaya cukup mudah, bisa menggunakan roda dua dan mobil. Untuk parkir mobil dikenakan tarif sebesar Rp 20 ribu, sedangkan motor dikenai Rp 3 ribu. Kemudian, untuk tiket masuk per orangnya dipatok Rp 10 ribu.

Arosbaya mungkin belum seterkenal bukit Jaddih di Bangkalan, Madura atau Tebing Breksi di Jogja. Tapi lokasi ini mulai dikenal oleh beberapa pemburu foto digunakan untuk hunting foto, wisata kelaurga atau prewedding. Tak heran jika lokasi ini mulai ada warung-warung yang berdiri.

Saat ini Arosbaya masih merupakan lahan private, namun sepertinya pemda setempat mulai melirik untuk mengolah potensi wisata Arosbaya. Semoga siapapun yang mengelola, Arosbaya bisa tetap memberi manfaat bagi masyarakat sekitarnya, dan juga tetap terjaga keindahannya.

Salam Indonesia!

#ArsipTSI “Manusia Pasir Sumenep”

Kampung di pesisir utara pulau Madura ini memiliki sebuah tradisi turun temurun yang sangat unik.

Mereka terbiasa untuk bermain, duduk duduk hingga tidur di atas pasir pantai.

Dulunya memang rumah mereka berlantaikan pasir pantai.

Tapi sekarang ini, saat rumah mereka sudah mengadaptasi hunian modern, warga kampung pasir tetap tak bisa lepas dari pasir.

Setiap rumah di kampung ini, pasti memiliki sebuah bak pasir di teras rumahnya.

Biasanya mereka bercengkerama, bersenda gurau bersama keluarga dan teman-teman disitu.

Bukan hanya di teras rumah, tapi pasir itu juga ada di kamar tidur mereka.

Bahkan menurut pengakuan warga, kalaupun mereka membeli kasur, itu hanya pajangan.

Mereka tetap akan tidur di atas pasir. Bahkan anak-anak kampung pasir, dibuat dan dilahirkan di atas pasir itu.

Setelah kita perhatikan, ternyata pasir yang ada di bak itu berbeda dengan pasir yang di lingkungan rumah.

Pasirnya lebih halus, dan tidak sulit untuk dibersikan dari badan. Pasir itu biasanya mereka ambil sendiri dari pantai.

atau ada juga yang menjual jasa mengambilkan pasir pantai itu dengan harga 20ribu per karung.
Pasir itu pun mendapat perlakuan khusus. Setiap hari pasir itu dibersihkan dengan cara diayak.

Warga kampung pasir percaya bahwa tidur beralaskan pasir ini bisa jadi obat bagi tubuh merekat, terutama untuk penyakit tulang seperti rematik.

Memang belum ada penelitian khusus tentang ini, namun bisa jadi karena pasir yang kita tiduri itu, akan menyesuaikan dengan tubuh kita.

Ikatan warga dengan pasir ini sangat kuat, bahkan jika mereka pergi keluar negeri pun, biasanya mereka membawa pasir dari rumah mereka.

Itulah Kampung Pasir, Madura. Salah satu kampung dengan budaya yang unik di Indonesia.

Salam Indonesia.