Sowan Ke Ibu Soekamti

Ibu Soekamti adalah sosok penting di balik nama Endank Soekamti. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia dan juga Wali Kelasku semasa belajar di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta. Di SMM aku diluluskan dengan tidak hormat alias Drop Out.
Sebagai guru, ibu Soekamti adalah sosok yang dibesarkan dari lingkungan disiplin yang penuh dengan aturan dan tata krama. Setelah lulus dari IKIP, beliau diangkat menjadi guru dan ditempatkan di SMM. Sebagai seorang guru, tentunya beliau harus menerapkan ilmu juga berikut kedisiplinan lainnya. Sedangkan siswa-siswa di Sekolah Musik tersebut terkenal dengan sifatnya yang ingin ‘bebas’, sehingga untuk menanamkan kedisiplinan di sekolah, Bu Kamti perlu banyak usaha.
Setelah belasan tahun menyandang nama Endank Soekamti, aku belum pernah sowan dengan sang pemilik asli nama Soekamti tersebut. Menjelang perilisan album ‘Salam Indonesia’, aku sengaja mengunjungi Ibu Soekamti dan memperkenalkan para personel Endank Soekamti.

Nomer hp Bu Kamti aku dapat dari grup WA alumni SMM. Meski beberapa kali sempat nyasar, tidak terlalu sulit menemukan rumah beliau, semua tetangga mengenal sosoknya. Bu Kamti sudah lama pensiun, tepatnya 2011 lalu beliau sudah tidak lagi mengajar di SMM. Selama 35 tahun mengajar, sudah ribuan murid yang diajarinya, dan tentunya masing-masing menyimpan kenangan tersendiri. 

Setelah puluhan tahun lamanya, aku sempat kaget ketika pertama kali bertemu, ternyata sosok Bu Kamti tidak seperti yang aku bayangkan. Beliau sangat ramah dan terlihat cantik. Setelah bersalaman dan dipersilakan duduk, aku menanyakan kesibukan beliau saat ini. Dengan santai, Bu Kamti menceritakan kesibukannya, saat ini ia hanya di rumah saja sebagai MC (momong cucu). Dari tiga orang anak, Bu Kamti dikaruniai tiga cucu yang tinggal di rumahnya, dan  dua cucu lainnya. Satu di antara cucu Bu Kamti merupakan lulusan SMM jurusan biola.

Dengan jujur, Bu Kamti mengaku lupa denganku sewaktu di sekolah dulu. Maklum, sudah 35 tahun mengajar tentunya sudah ribuan murid yang ia didik, dan sulit mengingatnya satu persatu. Mungkin Bu Kamti lupa karena selama di sekolah kepalaku selalu gundul, maklum saat itu aku masih jadi skinhead, hehe.

Perbincangan semakin cair ketika Bu Kamti bercerita bahwa suatu ketika ia disodori majalah oleh Pak Wardani yang juga guru di SMM, “ibu sudah baca ini?” Di majalah yang terbit skala nasional tersebut ditulis tentang sosok Endang dan Soekamti. Keduanya kontras, jika Endang adalah sosok yang halus, baik, dan ramah, Soekamti sebaliknya, galak. Belum lagi ada tetangganya yang mendengar di radio yang menceritakan asal muasal nama band Endank Soekamti.
“Lha, ibu nggak tahu, bahkan sampai dikomentari tetangga yang bilang, kalau ngajar jangan galak-galak, bu!” katanya.

Sontak aku pun mati gaya mendengarkan ceritanya tersebut, untungnya Dory segera memberikan tanggapan, “wawancara itu hanya main-main kok, bu, hehehe.” katanya dan aku segera mengiyakan pernyataannya sambil senyam-senyum.
“Ya saya kaget, kok Erix bisa begitu  ya, tapi nggak apa-apa lah, saya doakan semoga jadi orang besar”. ujar Bu Kamti melegakan perasaanku. 

Kami pun lanjut berbincang-bincang tentang kenangan semasa sekolah di SMM. Seperti yang diakui Bu Kamti, dulu aku termasuk siswa yang rajin di sekolah, bahkan ruang praktek musik sudah seperti kos-kosan, kita makan dan tidur pun di sana, tapi kalau pas masuk kelas malah selalu terlambat. Satu-satunya guru yang ingin menerapkan disiplin di sekolah ya cuma Bu Kamti. Tapi dasar sekolah seni di zamannya, anak-anak susah diatur, apalagi seperti yang dikatakan Bu Kamti, mata pelajaran Bahasa Indonesia dan lainnya di luar pelajaran musik itu dipandang sebelah mata. Siswa saat itu selalu pilih-pilih mata pelajaran. Selama puluhan tahun mengajar di SMM ia selalu bertemu murid yang hampir sejenis, ingin bebas. Bayangkan yang daftar masuk ke sana ada ratusan siswa, tapi yang lulus mungkin hanya puluhan. ;p

“kalau guru lain bisa santai mengikuti alur siswanya, nah kalau di mata saya nggak bisa seperti itu, umumnya siswa di sekolah musik sudah menganggap dirinya calon seniman, padahal kalau bagi saya yang penting harus menurut aturan yang ada, nah Erix ini termasuk yang suka menentang aturan,” katanya.

“Siapa yang mampu datang ke sekolah tepat jam 7 pagi? Biasanya setiap jam kemudian murid-murid baru berdatangan, sampai hampir bubar setengah 9, baru kelas penuh, dan besoknya seperti itu lagi, hampir terjadi setiap hari,” kenangnya. 
“Sebenarnya dulu itu saya galaknya seperti apa sih,” tanya beliau. Aku pun tidak bisa menjawab karena memang banyak hal yang terlupakan di saat-saat sekolah dulu.
“Ya kalau begitu saya mohon diikhlaskan kalau dulunya galak, tapi kalau nggak galak mungkin sekarang Erix cuma jadi musisi biasa aja,” ujarnya lalu kami semua pun tertawa.

Beliau mengaku pernah menonton Endank Soekamti di televisi tapi tidak mengenali Erix itu yang mana. Bu Kamti juga bercerita kalau sempat dipanggil sebuah stasiun televisi nasional untuk menjadi narasumber, tapi kebetulan saat itu beliau berhalangan hadir, karena sedang kurang sehat.

Lalu kami bercerita banyak hal, di antaranya beliau masih sering bertemu beberapa murid-muridnya, mereka juga kerap mampir ke rumah beliau. Aku juga sempat menceritakan tentang DOES University dan minta doanya dari beliau.
Setelah lulus dari IKIP, Bu Kamti melamar pekerjaan untuk menjadi guru. Ketika proses wawancara, ia mendapat penempatan di Semin, Gunungkidul. Ia juga mendapat tawaran lain, bagaimana kalau mengajar di Bantul? Mengajar di Semin yang ini bisa berjalan kaki, juga bisa naik sepeda. Semin yang dimaksud ternyata Sekolah Musik Indonesia, sebelum bernama SMM. Ia pun penasaran, dan sorenya langsung melihat lokasi sekolah tersebut. Sekolah Musik Indonesia saat itu dikelola langsung dari pemerintah pusat di Jakarta, dan ketika Bu Kamti mulai mengajar di sana tahun 1976, sekolah tersebut kemudian ditarik Kanwil Yogyakarta.
Selama dua tahun pertama mengajar, Bu Kamti tidak diberi tugas apapun. Ia tidak diberi pekerjaan oleh kepala sekolah di sana. “Ya, dua tahun hanya datang, duduk, dan absen. Akhirnya saya sampai lapor ke Kanwil, dan katanya yang penting ikuti aturan yang ada di SMM,” ujarnya 

Setelah Kanwil mulai turun tangan, beliau baru diberi tugas mengajar. Bu Soekamti mengajar di sana hingga beliau pensiun, sungguh pengabdian yang luar biasa untuk dunia pendidikan.
Di akhir perbincangan, beliau melontarkan arti di balik nama Soekamti yang diberikan orangtuanya. Hal tersebut membuatku kaget dan merasa beruntung, sebab selama ini ternyata aku sendiri tidak tahu. Ia mengatakan bahwa, SU artinya ‘indah’, KAM berarti ‘datang’, dan TI adalah nama Jawa untuk perempuan. Bu Kamti mempunyai saudara kandung laki-laki yang bernama Soekamto. Maka Soekamti artinya adalah ‘Kedatangan Yang Membawa Keindahan’.
Saat ini di masa pensiunnya, beliau ingin hidup santai. Sebelumnya ia sempat dipanggil lagi oleh SMM untuk kembali mengajar, namun ia sudah tidak berkenan. Terimakasih Bu Soekamti, engkau adalah inspirasi bagi kita semua. (*)

One Reply to “Sowan Ke Ibu Soekamti”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *