SEMANGAT BARU DARI GONG WANING

Hari ini kami akan mengunjungi Sanggar Benza dan bertemu dengan Nyong Franco, seorang yang memopulerkan lagu gemu famire. Letaknya di Kabupaten Sikka.

Saat melangkahkan kaki masuk ke dalam sanggar kami mendapat kejutan anak anak yang sedang berlatih menari dan bermain alat musik.

Belum sempat bertemu dan bertegur sapa, kami langsung disuguhi pertunjukan mereka.

Mereka sangat bersemangat, tidak ada beban dan tampil sangat lepas.

Sehingga setelah selesai, kami memberikan tepuk tangan yang sangat meriah.

Beberapa diantara kami merinding melihat pertunjukan mereka. Bagaimana tidak, anak anak ini membawa aura positif.

Anak anak ini asli berasal dari Sikka, mereka menghabiskan waktu lenggangnya di sanggar Benza untuk berlatih alat musik tradisional NTT bernama Gong Waning.

Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul. Gong waning terdiri dari beberapa jenis instrumen, seperti gendang, gong dan saur.

Waning sendiri adalah alat musik yang terbuat dari kayu kelapa dan hanya memiliki 1 membran.

Pertunjukan tersebut dilengkapi dengan tarian, nyanyian dan musik dari gong waning tersebut.

Lirik lirik yang mereka mainkan mengandung makna keberagaman Indonesia.

Lirik yang membuat setiap pendenganrnya menjadi terenyuh dan jatuh hati, termasuk kami.

Kami berkenalan dengan seluruh personil, kemudian bertemu dengan Nyong Franco selaku pemilik sanggar.

Nyong Franco dan sanggar Benza merupakan salah satu pelestari bangsa yang patut diapresiasi. Dan patut dikenalkan kepada seluruh pelosok negeri, bahkan luar negeri.

Anak anak di sanggar Benza sangat menginspirasi. Mereka membuat kami kembali bersemangat lagi.

Dan semangat itu kami bawa untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Larantuka.

Larantuka adalah Kota yang terletak di ujung timur Flores.

Larantuka terkenal dengan kota yang sangat religius dan dijadikan sebagai destinasi untuk wisata religi dari dalam negeri atau luar negeri.

Tim trip Salam Indonesia mendapatkan kabar baik karena jalan menuju Larantuka tidak memiliki kelokan yang ekstrim.

Namun, namanya juga adventure, terdapat dua jalan bercabang ketika menuju Larantuka.

Tim memilih cabang kiri, dengan niat menghindari jalan pegunungan yang berkelok.

Dan…

Kejutan…

Jalan disini sangat rusak dan dipenuhi jalanan batu yang ekstrim dan dipenuhi batu-batuan.

Beberapa kali kami bertanya kepada penduduk setempat, apakah jalan tersebut bisa dilewati.

Kita memilih melanjutkan perjalanan. Sejauh mata memandang, kami disuguhi pemandangan alam yang sangat indah, yaitu pegunungan dan lautan yang sangat biru. Lautan yang masih belum terjamah dan sangat bersih.

Tidak hanya itu, kami selalu saling sapa dengan warga di jalanan desa yang kita lewati.

Mereka tampak senang dan sangat ramah.

Untuk mendapatkan pengalaman berharga, terkadang diperlukan memilih jalur keluar dari zona nyaman, seperti perjalanan kali ini.

Walaupun jalanan cukup terjal, namun sebanding dengan pengalaman yang didapatkan!

Sampai Larantuka, kemana lagi ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *