Sang Pengantar Arwah

Tidak ada hal yang pasti di kolong langit ini, kecuali kematian. Untuk menghadapinya, semua agama dan kepercayaan menjelaskan dan mengatur apa yang terjadi di balik kematian. Sumba, Nusa Tenggara Timur memilki kepercayaan lokal yang dikenal dengan nama Marapu. Kepercayaan tradisional ini beresensi kepada harmonisasi relasi antara manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan sesamanya, dan dengan semesta alam.

Ma, bermakna ‘yang’, dan Rapu, berarti ‘disembah’ atau ‘dihormati’. Yang disembah adalah arwah leluhur, tetapi di atasnya terdapat kekuatan tertinggi yang tak dibandingkan. Kekuatan tertinggi ini tidak dinamakan (anonim). Pemeluk Marapu menyanjung dengan, ”Ndapa Nunga Ngara, Ndapa Teki Namo” Artinya: Yang tak disebut nama, yang tak diperbandingkan.”  Marapu memiliki kitab suci bernama Lii Ndai. Kitab ini berupa syair yang dihafal para pemuka adat dan dibacakan pada saat upacara-upacara tertentu diselingi nyanyian adat.

 

Dalam kepercayaan Marapu, arwah nenek moyang sangat dihormati, dipuja, dan dimintai tolong untuk menyampaikan permohonannya kepada Tuhan. Mereka juga sangat menghormati raja/ pemimpinnya. Hal ini bisa disaksikan lewat tradisi penguburan raja yang bernama Taning Maramba. Bisa dikatakan prosesi penguburan Raja di Sumba ini adalah acara pemakaman termahal di dunia. Hal tersebut sudah menjadi tradisi turun-temurun yang terus dijaga di Pulau Sumba.

Upacara kematian penganut Marapu harus dilengkapi penyembelihan banyak hewan. Kerbau, kuda, sapi dan babi adalah hewan ternak yang disembelih sebagai persembahan kepada Sang Pencipta untuk menghantarkan arwah raja yang meninggal di kehidupan selanjutnya. Bukan hanya itu Taning Maramba juga membutuhkan batu besar utuh yang diangkut dari atas gunung. Batu raksasa tersebut dibawa turun untuk menjadi makam raja.

Sebelum menggunakan bantuan alat berat di zaman modern ini, pada zaman dahulu masyarakat Sumba bahu membahu mengangkat batu raksasa. Banyak dari mereka yang tidak selamat sampai ke tujuan. Masyarakat yang mengakat batu besar itu hanya menggunakan kayu pohon, dan menempuh jarak lebih dari 12 km. Jika ada sedikit saja kecelakaan yang terjadi, batu besar ini akan menelan korban. Mereka bisa terjepit, tertindih, terdorong, dan terinjak. Hal tersebut merupakan gambaran dari loyalitas, pengorbanan, dan kecintaan rakyat Sumba terhadap rajanya.

Karena beratnya prosesi tersebut, hingga kini persiapan proses pemakaman paling cepat bisa memakan waktu satu tahun.
Sebelum dimakamkan, jasad raja dimasukkan ke kulit kerbau. Jasad itu baru dibungkus dengan kain setelah tiga hari kematian dan diawetkan menggunakan Bunga Walahanggi. Bunga itu dikeringkan dan disimpan di tempat duduk mayat.

Biasanya jenazah dibungkus kain tenun dalam posisi jongkok, seperti ketika masih di dalam rahim. Posisi tersebut diyakini sebagai perlambang kehidupan baru setelah kematian. Kain tenun pembungkus jenazah bergambar seorang pengawal raja yang meninggal, dipimpin oleh seorang kepala pengawal yang sedang menunggang kuda menuju rumah adat untuk disemayamkan.

Mereka adalah papanggang, sang pengantar arwah. Orang-orang yang hidupnya untuk menemani raja semasa hidup, dan masuk ke liang lahat menemani raja bersama-sama menutup mata di bawah batu raksasa.

Salam Indonesia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *