SAMBUTAN PULAU SABU

Hari ini kami menuju ke Pulau Sabu.

Sebuah pulau kecil yang terletak di antara Pulau Timor, Sumba dan Rote.

Perjalanan yang tim trip salam Indonesia harus lalui adalah sekitar 12 jam dari Pelabuhan Bolok Kupang.

Informasi yang didapatkan kapal akan berangkat pukul 12.00.

Pagi ini rombongan mobil veloz merah meluncur ke pelabuhan untuk mencoba memesan tiket untuk ketiga mobil menuju ke Pulau Sabu.

Kami sedikit kaget melihat banyaknya kendaraan yang sudah mengantri, kami mendadak khawatir jika tidak ada slot tempat untuk tiga mobil kami.

Kami mencoba memesan tiket pukul 12.00 untuk tiga mobil rombongan trip salam indonesia, namun ternyata kami ditolak.

Alasannya adalah setiap mobil harus sampai di pelabuhan terlebih dahulu, kemudian tiket baru bisa di pesan.

Kami diberi solusi untuk mobil veloz merah bisa berangkat pukul 12.00 terlebih dahulu, dan mobil lainnya yaitu veloz putih dan hilux akan berangkat pukul 16.00.

Solusi yang cukup membantu walaupun kami harus terpisah kapal. Namun setidaknya kami semua akan sampai di Pulau Sabu di hari yang sama.

Tim akhirnya dipecah menjadi 2 tim.

Tia, Yance, Trio dan Nafi berangkat terlebih dulu dengan kapal Ranaka pukul 12.00 bersama mobil veloz merah.

Tim yang lain menunggu pukul 16.00 sambil berwisata di gua kristal yang letaknya tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Sebagian tim lain menunggu sembari mengedit video.

Tia, Yance, Trio dan Nafi menunggu diruangan VVIP kapal Ranaka. Tidak ada perasaan curiga sama sekali, kami menunggu dengan sabar. Namun, sampai pukul 15.00 kapal tidak kunjung berangkat.

Kami hanya saling mengeluh dalam hati, namun tidak ada pikiran negatif sama sekali.

Beberapa penumpang memberikan informasi terlambat karena ombak yang besar. Kami tetap santai menunggu kapal berangkat sambil bermain hape dan tidur santai.

Tiba tiba terdengar suara ramai masuk ke dalam ruangan VVIP.

Rombongan yang berangkat pukul 16.00 tiba tiba masuk ke dalam ruangan VVIP. Kami sontak terkaget.

Kami langsung panik dan saling tuduh bahwa kedua tim salah kapal. Kami segera mencari tahu kebenarannya.

Ternyata, kapal Ranaka yang berangkat pukul 12.00 berubah jam keberangkatan menjadi pukul 16.00.

Dan kapal Umakalada yang harusnya berangkat  pukul 16.00 sudah berangkat pukul 12.00.

Informasi yang cukup membuat kami terkejut karena dua mobil veloz putih dan hilux sudah berangkat ke Pulau Sabu pukul 12.00 tanpa supir.

Yang membuat kami kaget lagi adalah kapal Umakalada akan berangkat menuju ke Waingapu Sumba.

Sehingga kami sangat khawatir jika dua mobil tersebut akan sampai di Waingapu Sumba.

Informasi tentang pergantian jam keberangkatan tidak disiarkan kepada penumpang, sehingga timbulah kesalah pahaman.

Kami segera mengkonfirmasi kepada kapten Kapal kelanjutkan mobil kami.

Kami cukup lega karena kapal Umakalada akan menunggu kapal Ranaka sampai di pelabuhan, sehingga 2 mobil di dalam kapal Umakalada tidak akan berangkat menuju Sumba sampai kapal Ranaka sampai.

Memang hal yang membuat terkejut dan lucu.

Setidaknya kami memang kompak karena tetap dalam 1 kapal, walaupun2 mobil sudah berangkat terlebih dulu.

Kami kemudian bisa tertidur dan istirahat di dalam Kapal.

Kapal melewati laut Sawu yang memiliki gelombang cukup besar.

Namun karena kelelahan, kami tertidur dengan pulas.

Pag harinya, kedua kapal saling berdekatan, para sopir segera loncat mencari mobil mereka masing masing.

Dan kondisi mobil aman dan selamat.

Namun semoga komunikasi yang baik dipelihara oleh ASDP, sehingga tidak akan ada kesalahan seperti ini lagi.

Pagi harinya, kami lagi lagi bertemu dengan GPS yang baik hati. Mereka sudah menunggu kedatangan kami sejak subuh.

Kami disambut dengan sunrise di Pulau Sabu dengan indahnya.

Selanjutnya segera menuju destinasi yang sudah kami rencanakan sebelumnya.

Destinasi pertama adalah Kelabba Majha. Lokasi ini merupakan tempat yang cukup terkenal di Pulau Sabu.

Salah satu destinasi favorit para pelancong.

Kelabba Maja adalah bukit bukit dan tebing tebing yang luas dan memiliki banyak varian warna sehingga tampak cantik, yaitu warna putih, coklat, biru dan merah.

Kelabba Maja merupakan tempat sakral untuk warga Pulau Sabu. Tempat yang dipercaya sebagai berdiamnya dewa bernama Dewa Maja. Sehingga di lokasi ini masih sering digunakan untuk lokasi upacara.

Lokasi ini sudah cukup teratur dan terawat, sehingga setelah mencari konten kami bisa menikmati keindahan alam dengan bersantai di Gazebo.

Yang selalu  menyenangkan dalam perjalanan adalah interaksi dengan warga sekitar. Kami menemukan sebuah budaya unik, yaitu setiap pria di Pulau Sabu selalu membawa pisau di kantong celananya.

Hal ini dikarenakan sebagai bentuk pengamanan diri dari hal hal yang tidak diinginkan.

Sehingga kami memutuskan untuk berkunjung ke pembuatan pisau Sabu yang terkenal di seantero NTT karena ketajamnnya.

Pisau sabu disebut dengan nama tud’i yang dibuat dengan cara tradisional.

Namun, untuk kualitasnya tidak kalah dengan daerah lainnya.

Selanjutnya kami menikmati sunset di pulau Sabu.

Langit dan cuaca yang bersahabat membuat kami mendapatkan pemandangan yang indah.

Serta melihat warga pulau Sabu yang melakukan proses pembuatan garam di kerang kerang besar yang mereka temukan di pantai.

Walaupun perjalanan di pulau Sabu mendapatkan kejutan dari kesalahan kapal.

Ternyata kami mendapatkan pemandangan yang luar biasa di Pulau ini.

Tidak hanya itu, warganya menyambut kami dengan sangat ramah.

Kami menghabiskan malam sembari mengobrol bersama.

Berbagi bersama dengan mereka yang entah kapan lagi akan bertemu.

Kami saling bertemu, untuk mengajarkan dan diajarkan.

Kami pamit esok hari untuk kembali melanjutkan perjalanan!

Terimakasih pulau Sabu yang membuat kami menjadi merasa berarti.

Semoga ada waktu untuk bertemu lagi. Kami pamit sembari cium hidung sebagai ucapan salam tradisional di Pulau Timor.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *