SAMBUTAN PULAU BUNGIN

Pulau Sumbawa menjadi salah satu Pulau yang baru untuk hampir seluruh tim, karena mayoritas baru pertama kali berkunjung ke Pulau ini.

Tim bisa beristirahat dengan cukup nyaman di kapal dengan rute Pelabuhan Kayangan – Pelabuhan Poto tano.

Pelabuhan ini ternyata sangat indah dengan landscape dermaga dan bukit bukit hijau khas Sumbawa. Saat tim berburu sunrise di tepi pantai, para penduduk dan polisi yang ada disekitar pelabuhan menyambut tim dengan ramah.

Destinasi kali ini adalah Pulau Bungin yang dikatakan sebagai pulau terpadat di dunia.

Semua tim langsung penasaran dan bersemangat . Pulau Bungin tidak terlalu jauh dari Pelabuhan Poto Tano. Namun, tim harus melewati perjalanan yang panjang, berliku dan dipenuhi dengan kubangan air.

Pulau Bungin berada di pesisir pantai sehingga mayoritas bekerja sebagai nelayan, rumahnya berdekatan dan sangat rapat.

Suku  Pulau Bungin merupakan keturunan Suku Bajo Makassar. Mereka memiliki kebiasaan merantau dan hidup di pesisir pantai, sehingga menetaplah mereka di Pulai Bungin.

Yang membedakan dengan warga Pulau Bungin adalah mereka tidak memiliki kebiasaan merantau, sehingga rumah yang mereka miliki bisa ditinggali beberapa kepala keluarga. Itu yang menyebabkan pulau ini menjadi sangat padat.

Setiap pasangan yang akan menikah diharuskan menumpuk karang untuk calon rumah mereka. Secara tidak langsung mereka melakukan reklamasi kepada pulau mereka. Karang tersebut akan ditumpuk dengan tanah dan jadilah lahan untuk rumah mereka, begitu seterusnya.

Ketika tim mulai mengexplore Pulau Bungin, kami disambut dengan ramah. Penduduk Pulau Bungin tampak senang bertemu “orang baru”.

Ketika tim sedang mencari konten foto dan video tidak ragu mereka mengajak ngobrol , meminta foto bahkan mempersilahkan tim untuk bercengkrama bersama.

Penduduk disini tidak sungkan diwawancarai dan menceritakan asal usul dan kisah hidupnya. Beberapa penduduk ikut berkeliling, beberapa anak – anak kecil membuntuti tim karena penasaran dengan segala properti yang tim bawa.

Tidak hanya itu, mereka seringkali menceritakan kambing pemakan sampah. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri . Sejauh mata memandang kambing-kambing yang berkeliaran sedikit demi sedikit menghabiskan sampah plastik yang bergeletakkan di jalanan. Kambing untuk masyarakat Pulau Bungin hidup berdampingan dan hidup bebas bersama masyarakat. Bisa disimpulkan bahwa Pulau Bungin dipenuhi sampah, sehingga herbivora menjadi pemakan sampah, hal yang tidak wajar dan harus menjadi konsentrasi pemerintah dalam pengelolaan sampah.

Masyarakat Pulau Bungin terlalu sering berinteraksi dengan circle mereka, sehingga sangat senang bertemu dengan orang baru.

Keramahan yang dimiliki oleh masyarakat Suku Bungin membuat tim merasa bertemu keluarga baru. Hal ini yang perlu dipelajari oleh tim yang seringkali acuh dengan sesuatu yang ditemui.

Bukankah setiap orang yang kita temui akan mengajarkan kita sesuatu, atau mereka yang memberikan pelajaran yang baru?

Berpikir positif dengan apa yang ditemui ternyata memberikan dampak yang positif untuk hidup kita juga.

Pengalaman berinteraksi dan merasakan kehidupan Pulau Bungin memang luar biasa. Selanjutnya mari kita Explore Pulau Sumbawa!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *