Rumah Adat dan Tenun Suku Sasak

Ciri khas arsitektur Suku Sasak terlihat di setiap bangunan di desa ini seperti; masjid, rumah, lumbung padi dan tempat pertemuan umum yang dindingnya menggunakan pagar anyaman dari bambu dan tiang terbuat dari kayu, dengan atap yang terbuat dari alang-alang kering. Enaknya bangunan ini adalah bisa menyejukkan saat cuaca panas terik dan bakal terasa hangat di malam harinya. Ada beberapa bagian di dalam rumah adat Desa Sade, di antaranya ada ‘Bale Dalam’ yang di bagian depannya untuk tidur anak laki-laki dan orang tua mereka. Tempat ini sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu dan tempat makan. Dapur mereka pun masih memasak menggunakan tungku. Di sebelahnya terdapat kamar anak perempuan yang sekaligus juga menjadi tempat melahirkan. Hingga sekarang masyarakat Sade mempercayakan kelahiran bayi mereka pada dukun beranak, jika tidak bisa diatasi, mereka baru membawanya ke bidan.

Kaum pria Desa Sade kebanyakan adalah petani. Karena tidak ada sistem irigasi, panen hanya dapat dilakukan sekali dalam setahun. Mereka mengandalkan musim hujan sebagai perairannya. Hasil panen berupa padi dan palawija kemudian disimpan di dalam bangunan kecil. Lumbung Padi mereka di sebut Lumbung Pare, untuk mengambilnya menggunakan tangga yang terbuat dari bambu dan agar datang keberkahan, hanya kaum perempuan yang boleh mengambil makanan dari lumbung tersebut.

Pulau Lombok juga memiliki kain tenun sendiri yaitu tenun khas suku Sasak. Para perajin tenun 100% masih mempertahankan peralatan serba tradisional, mulai alat memintal benang hingga penenunan. Benangnya terbuat dari kapas, dan pewarnanya dari daun-daunan. Kualitas tenun pun sangat baik dengan kerapatan benang yang padat. Namun harga tenun Sasak lebih mahal karena proses produksi pengerjaannya yang memakan waktu cukup lama. Pengerjaan sehelai kain berukuran 60 x 200 cm memakan 2-4 minggu, bergantung pada kerumitan motif.

Kira-kira satu bulan hanya bisa menyelesaikan satu kain tenun. Kain yang ditenun secara manual ini memiliki beragam motif dengan harga mulai dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Sejak usia 8-9 tahun, anak gadis mereka sudah diajarkan menenun, dan jika belum bisa menenun, anak gadis di Desa Sade belum diijinkan untuk menikah.

Desa Sade terletak sekitar delapan km, hanya dengan memakan waktu sekitar 20 menit perjalanan dari Bandara International Lombok. Jika ingin berwisata ke Pantai Seger dan Tanjung Aan, jangan lupa singgah ke Desa ini. (*)

One Reply to “Rumah Adat dan Tenun Suku Sasak”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *