River Tubing di Pringgasela

Di Indonesia ada banyak sungai panjang yang mengalir sampai puluhan kilometer, karena itu banyak tempat bagus dan sempurna untuk melakukan River Tubing. Tubing adalah meluncur bebas di sungai dengan menggunakan ban dalam. Kegiatan yang menyerupai rafting ini merupakan olahraga air yang banyak diminati penyuka olahraga yang menantang. River Tubing ini mirip dengan olahraga rafting, namun yang membedakannya adalah penggunaan ban karet sebagai pengganti perahu karet yang digunakan ketika Rafting. Jika kita Rafting menggunakan dayung, maka untuk menyusuri sungai, River Tubing cukup menggunakan kedua tangan.

Di Indonesia ada beberapa spot menarik untuk melakukan River Tubing, di antaranya; Cukang Taneuh atau yang dikenal grand canyon Pangandaran Jawa Barat, beberapa spot di Bali, Jawa Timur tepatnya kota Batu Malang, di Yogyakarta tepatnya di gua Pindul, Gunung Kidul, selain itu masih banyak tempat lainnya untuk melakukan olahraga air yang menantang ini. Pada intinya lokasi bermain Rafting juga bisa digunakan untuk bermain River Tubing.

Jika diibaratkan sebuah toko, untuk urusan destinasi wisata, Pulau Lombok merupakan toko serba ada. Di sana terdapat segala macam objek wisata. Mau ke gunung, ke pantai, kegiatan budaya, hingga wisata tubing semuanya oke. Sebagai penyuka olahraga ekstrim, aku dan teman-teman, termasuk Dory Soekamti melakukan River Tubing di Sungai Mencerit yang berlokasi di Desa Pringgasela, Lombok Timur. Lokasi tubing pemacu adrenalin itu ini merupakan sebuah sungai panjang yang sangat jernih.

Kita dapat menikmati tubing sepanjang dua kilometer selama dua jam. Selain itu yang lebih menantang adalah sebuah gua yang harus kita lalui di tengah perjalanan. Terowongan itu panjangnya 50 meter hingga 100 meter. Ada banyak spot yang menarik selama dalam perjalanan. Namun, sebelum menuju sungai Mencerit kita harus menempuh perjalanan menaiki mobil dan menyusuri jalan sepanjang hampir satu jam. Jalan yang dilewati pun tidak terlalu mudah, agak sedikit ‘off road’ lah.

Sesampainya di sungai, sebelum meluncur kita harus latihan dulu, dua tiga kali untuk menyesuaikan posisi ban dan pegangannya agar tidak mudah terbalik. Teman-teman yang lain mudah untuk penyesuaian, lha tapi giliranku ternyata sulit juga beradaptasi, karena postur tubuhku. Karena itu posisi riding terpaksa aku kustom sesuai dengan kebutuhan dan kenyamananku sendiri. Posisi ban sengaja aku balik dimana letak pegangannya ada di depanku, sedangkan normalnya pegangan tersebut ada di kanan kiri kita. Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, aku pun meluncur cepat….Let’s go!!

Ternyata arus sungai deras sekali sehingga aku berada di posisi paling depan tanpa seseorang pun, termasuk guidenya. Pegangan ban pun nyaris lepas, hal itu sangat berbahaya sebab jika kehilangan ban, gimana caranya aku pulang? Setelah berhasil mengendalikan arus sungai, sambil menunggu teman-teman aku mencari tempat ‘parkir’ yang aman. Sama seperti diving, jika tidak ingin terkena arus, kita harus sembunyi di balik batu.

Setelah bertemu dengan rombongan yang lain, kita sempat berhenti sejenak melihat pemandangan alam yang menyejukan mata. Melihat area persawahan dari tengah sungai sungguh merasakan betapa permainya negeri kita Indonesia. Selanjutnya adalah sungai kedua, kali ini arusnya lebih tenang dan airnya lebih dingin.

Setelah itu kita memasuki terowongan sebuah gua, ada dua terowongan yang bernama virgin, nah bisa dibayangkan bentuknya kayak apa? Nah yang kedua namanya ‘dark cave’ sesuai namanya, gua ini cukup gelap, belum lagi di sana sebelumnya banyak laba-laba, tokek, dan kawan-kawannya. Kita berempat masuk ke gua tersebut, aku ada di paling depan, di belakangku Dory, Rio, dan Wisnu.

Selain gelap, gua ini sangat sempit dan nggak mungkin bisa balik ke belakang. “gludaakk” tiba-tiba aku terbalik dan tersumbat. Dory pun segera berusaha untuk turun dari band agar tidak menekan posisiku, air pun semakin tinggi dan kita terjebak di gua dengan ketinggian 30 meter saja. Hingga kemudian salah satu guide datang membawa lampu penerang. Namanya juga petualangan, pasti ada saja tantangan dan hal menegangkan yang terjadi.

Karena itu agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika ingin melakukan River Tubing. Pertama tinggalkan barang berharga di loker atau di tempat penitipan yang disediakan. Karena jika nekat membawanya, kita bisa saja kehilangan barang-barang berharga karena arus air sungai bisa menelannya. Misalnya saja kunci kendaraan, jam tangan, handphone, itu mudah terlepas ketika berada di sungai yang mengalir deras. Namun jika kita ingin membawa kamera dan barang lainnya, pastikan membawa ‘housing underwater’ atau wadah tahan air yang khusus dirancang untuk melindungi barang-barang tersebut. Penting juga untuk mengenakan peralatan keselamatan seperti; helm, life jacket, dan decker. Meski sedang berada di atas sungai dengan limpahan air di kanan dan kiri, namun ada baiknya kita membawa air minum sendiri. Sebab kita akan berada di bawah sinar matahari dan mudah terkena dehidrasi.

Olahraga air River Tubing ini masih awam terdengar dikalangan masyarakat modern, namun olahraga ini sangat bagus untuk pembentukan karakter pasalnya, jika olahraga rafting bisa menampung enam orang dalam satu perahu, maka rasa takut dan tegang ketika melewati aliran sungai yang deras dapat diredam, namun pada water tubing semua tantangan dan rintangan yang ada harus dihadapi sendiri.

Kita juga tidak perlu khawatir, sebab ditemani oleh banyak instruktur terlatih yang akan menjaga sepanjang pertualangan. Salut untuk anak muda Desa Pringgasela yang tergabung di JBB Adventure. Mereka mengelola semua secara swadaya. Jika kalian ada di Lombok, dan penasaran mau Tubing di sana, langsung saja hubungi 082147460729 atau ke instagram @jbbadventure. (*)

One Reply to “River Tubing di Pringgasela”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *