Ribuan Tahun Menjaga Adat Kampung Bena

Di atas ketinggian 2.245 mdpl, berjarak 17,5 km dari Bajawa, Kabupaten Ngada terdapat salah satu kampung adat tertua di daratan Flores, Nusa Tenggara Timur, namanya Kampung Adat Bena. Banyak cerita tentang asal usul kampung yang diperkirakan telah ada sejak 1.200 tahun lalu ini. Kedatangan Tim Trip Salam Indonesia ke kampung ini awalnya tidak direncanakan. Karena masalah cuaca, penyeberangan Trip Salam Indonesia ke Pulau Sumba harus tertunda. Pulau Flores memang sangat kaya akan ragam budaya dan panorama alamnya, karena itu Tim Trip Salam Indonesia memutuskan ke Kampung Bena ini.

Kampung ini berada di sebelah timur Gunung Inerie yang artinya ‘Ibu Bergembira’. Rumah adat di sini memiliki arsitektur tradisional yang beratap alang-alang berpadu dengan susunan batu-batu gunung. Hal ini menjadi bukti bahwa kampung ini merupakan sisa peradaban megalitikum. Rumah adat di sini per lima tahun diremajakan atau dibangun ulang kembali. Arsitektur rumah-rumah adat ini dibangun sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya, dan bambu menjadi bahan dasar rumah adat Kampung Bena.

Mata pencaharian kaum laki-laki Kampung Bena adalah berladang dan bertani. Hasil pangan mereka adalah umbi-umbian, jagung, dan kacang-kacangan. Selain itu mereka berkebun kopi, kemiri dan tanaman lain yang tumbuh subur di kaki Gunung Inerie. Para kaum perempuannya menenenun dengan cara tradisional. Hasil tenun ini kemudian dijual ke kota Bajawa atau ke para wisatawan yang berkunjung. Harga tenun kecil yang dipakai sebagai ikat kepala dijual seharga Rp 100 ribu.

Kampung Bena berbentuk seperti perahu raksasa. Pintu masuk ke kampung Bena hanya melalui sisi pintu. Di dalamnya berderet sebanyak 40 rumah adat yang saling berhadapan. Di antara deretan rumah yang saling berhadapan dan dijadikan halaman, berderet kuburan. Mayat-mayat tersebut dikuburkan di antara kurungan batu-batu berlempeng tipis dan panjang serta tajam. Batu-batu itu menjulang keatas hingga membentuk semacam kurungan. Beberapa ujung batu tersebut diletakkan lempengan sehingga membentuk semacam meja dari batu.

Masyarakat Kampung Adat Bena mempertahankan tradisi leluhur mereka sejak zaman batu. Maka itulah kampung ini disebut kampung megalitikum. Di depan rumah mereka juga terdapat bebatuan besar yang ujungnya runcing. Batu itu merupakan simbol pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang. Masyarakat di sini percaya bahwa batu-batu besar di kampung mereka disusun oleh raksasa bernama Bhake. Raksasa tersebut meninggalkan jejak berupa telapak kaki di sebuah batu besar. Pada halaman tengah kampung terdapat ‘Ngadhu’ dan ‘Bhaga’ yang merupakan representasi hubungan dengan leluhur setiap generasi hingga selamanya. ‘Ngadhu’ merupakan representasi nenek moyang laki-laki dari satu suku, sedangkan ‘Bhaga’ merupakan representasi nenek moyang perempuan dari sebuah suku.

Kampung Bena dihuni oleh sembilan suku yang berbeda yakni; suku Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, Ago, dan suku Bena. Meskipun terdiri dari banyak suku, mereka hidup dengan damai dengan pertalian saudara yang sangat kuat. Ini merupakan bukti bahwa sejak dulu nenek moyang kita sudah menghargai perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika,

Salam Indonesia. (*)

One Reply to “Ribuan Tahun Menjaga Adat Kampung Bena”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *