Radio Tak Akan Pernah Mati

Sebagai media massa, radio memiliki karakteristik yang unik dan khas, meski tentunya mempunyai keunggulan dan kelemahannya sendiri. Sebagai media massa. radio menawarkan keintiman, karena penyiar menyampaikan pesannya secara personal. Walaupun radio itu didengar oleh orang banyak, sapaan penyiar yang khas seolah ditujukan kepada diri pendengar secara seorang diri, seakan-akan berada di sekitarnya. Sehingga radio bisa menjadi ”teman” di kala seseorang sedang sedih ataupun gembira.

Karena aku termasuk yang kurang hobi membaca, maka aku lebih suka mendengarkan radio untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Radio itu mampu menciptakan theater of mind, dimana perasaan kita bisa terhanyut saat mendengarkan apa yang sedang disiarkan. Selain itu, radio juga mampu melibatkan dan merangsang imajinasi, dan memiliki kemampuan untuk mengilhami dan memotivasi pedengarnya.

Di era awal karir Endank Soekamti, kita selalu mengirimkan lagu ke radio-radio, bahkan merikuesnya sendiri agar lagu tersebut bisa diputar, beruntung jika bisa menapaki tangga lagu. Radio juga bisa menjadi penentu mana lagu yang bagus atau tidak, mana yang laku di pasaran atau tidak. Namun akibat industri yang belum sehat, seringkali stasiun radio memutar lagu yang itu-itu saja. Karena itu dengan inisiatif penuh, aku sempat mendirikan Radio Soekamti, stasiun radio yang diperuntukan bagi band dan musisi yang lagu-lagunya sulit masuk ke radio arus utama. Radio ini dikelola oleh komunitas, dan karena bisa diakses secara online, radio ini diperuntukan untuk para pecinta musik dimanapun berada.

Setiap setelah rilis album, Endank Soekamti selalu menggelar promo dan media tour ke berbagai kota, dan yang paling banyak disambangi adalah radio. Pada rangkaian Media Tour dan Road Show ‘Salam Indonesia’ sepanjang Januari 2018, Endank Soekamti mengunjungi banyak stasiun radio di sepanjang Pulau Jawa-Bali-Lombok. Dari sekian banyak stasiun radio, kita juga bertemu beragam karakter dan gaya para penyiarnya.

Menjadi seorang penyiar bukanlah hal yang mudah, karena tidak hanya harus bermodal suara indah. Namun, seorang penyiar juga perlu belajar dan bekerja keras untuk menjadi profesional di bidangnya. Modal utama lainnya menjadi penyiar adalah memiliki wawasan, sense of music, dan sense of humor. Penyiar adalah ujung tombak sebuah radio, karena berinteraksi langsung dengan pendengar.

Agar tidak monoton, penyiar harus berwawasan luas. Penyiar radio yang berwawasan luas, tak akan kehabisan kata-kata untuk berbicara. Karena itu siarannya akan lebih hidup, dinamis, dan berisi. Tugas penyiar bukan hanya mutar lagu-lagu, tapi mesti paham juga tentang jenis musik, alat musik, dan artisnya. Biasanya kan jika ada band yang akan berkunjung untuk talk show, pasti mengirimkan pers rilis terlebih dahulu, dan itu yang sebelumnya harus dibaca dan dipelajari dulu oleh si penyiar.

Radio juga identik dengan hiburan, karena itu penyiar radio idealnya juga harus humoris, dan mampu menghibur pendengarnya. Lewat tayangan DOES, aku beberapa kali mengritik para penyiar radio yang terkadang kurang menguasai topik pembicaraan dari sebuah wawancara. Padahal kan itu tadi, seorang penyiar adalah ujung tombak sebuah radio.

Sebagai band, Endank Soekamti mendukung potensi yang dimiliki radio, di antaranya dengan media tour, dan secara ekslusif mengirimkan singelnya ke radio-radio, sebelum lagu tersebut beredar edisi digital dan fisiknya.

Sebagai barometer musik, radio juga seharusnya memiliki sebuah music store sendiri. Ini adalah ide dan terobosan yang bisa diperhatikan, karena sudah seharusnya radio dan music store itu bisa bersinergi. Band dan musisi bisa menjual produknya, baik album ataupun merchandisenya ke radio tersebut. Jika ini berlangsung secara masif, aku yakin radio bakal berumur panjang dijamin media massa lainnya, meski aku juga percaya bahwa selama manusia masih memiliki telinga untuk mendengar, maka radio tidak akan pernah mati.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *