POS LINTAS BATAS NEGARA

Jika mengingat kejadian semalam, berbagai perasaan bersemayam.

Lucu, kaget, takut dan seru bercampur menjadi satu.

Setelah kami merasakan kesegaran dari air terjun Oehala di daerah So’e, kami melanjutkan perjalanan.

Hari ini kami berangkat menuju ke Atambua. Sebuah kota yang berada di perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste.

Dari Kupang, kami menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam. Perjalanan seperti biasanya, berjumpa dengan jalanan yang berkelok-kelok.

Sebagian dari tim masih terjaga dengan menikmati pemadangan, namun sebagian tim menggunakan waktunya untuk tidur.

Hari ini kami berkunjung sampai luar negeri !

Dari Atambua, kami harus melewati perjalanan selama 30 menit menuju ke Patok Batasan Lintas Negara.

Hari ini sangat panas, namun kami bersemangat berjalan menuju ke perbatasan untuk melihat Timor Leste.

Kami diperbolehkan masuk sampai di Tugu Timor Leste. Seluruh tim senang melihat dirinya sudah bisa berkunjung ke luar negeri.

Perbatasan kini dibuat semegah mungkin, hal itu adalah upaya mencegah trjadinya konflik akibat kesenjangan.

Setelah kami menikmati daerah perbatasan dan menyelesaikan berbagai kerjaan, kami akan menuju ke Fatuleu.

Sebuah daerah yang dijangkau dengan perjalanan selama 5 jam dari Atambua.

Jalanan dari Atambua menuju Fatuleu malam itu cukup sepi, mobil melaju dengan kencang bebas hambatan.

Malam itu karena kami sudah kelelahan, kami mengikuti arahan google maps dalam memilih jalan.

Ada dua jalan yang tersedia, namun kami memilih jalan yang lebih cepat 20 menit. Hal itu dikarenakan kami ingin segera sampai dan menghemat waktu perjalanan.

Tidak ada pikiran negatif dibenak kami.

Kami melanjutkan perjalanan dan mencoba melewati jalan yang ada di depan mata.

Jalan tersebut memang sudah rusak, tertutup semak-semak, terdapat batu-batuan, terdapat sungai kecil dan seringkali curam.

Kami saling gotong royong untuk melewati jalan tersebut.

Hi-lux menjadi ketua rombongan dan memberikan arahan kepada 2 mobil veloz dibelakangnya.

Walaupun pelan pelan dan saling membantu, kami bisa melalui jalanan ekstrim itu walau cukup menyita tenaga.

Di tengah perkebunan dan jalanan yang sepi, tiba tiba kami didatangi oleh beberapa gerombolan bapak bapak warga lokal.

Mereka menanyakan maksut perjalanan kami, karena suara kami cukup menganggu mereka.

Setelah kami jelaskan, kami bisa melanjutkan perjalanan. Maksut mereka hanya mengkonfirmasi perjalanan kami. Mereka juga khawatir jika kami tersesat.

Informasi yang didapatkan, tidak jauh dari tempat saat kami didatangi oleh segerombolan bapak-bapak tersebut kami sudah bisa bertemu jalan yang baik dan mulus.

Kami kemudian bersemangat melanjutkan perjalanan.

Namun tiba-tiba mobil Hi-lux memberikan informasi melalui HT bahwa jalan tidak bisa dilewati karena tertutup batang pohon.

Beberapa dari kami turun, namun tiba-tiba terdengar suara saling sahut-sahutan seperti suara-suara burung, hewan, dan lain lain.

Kami tidak berpikir apa apa, suara suara bersahut-sahutan tersebut kami balas dengan teriakan teriakan kami sambil bercanda.

Suara suara tersebut semakin kencang , mendekat dan saling sahut-sahutan.

Kami mendadak khawatir dan ketakutan.

Ada warga lokal yang menghampiri kami, mempertanyakan maksut perjalanan kami.

Selanjutnya seluruh tim berkumpul di sebuah tanah lapang, tidak disangka seluruh warga desa sudah berkumpul bersiap menyerang kami dengan berbagai senjata yang mereka bawa.

Seperti pisau, pistol, parang sampai berbagai kayu kayu yang menyeramkan.

Malam itu kami cukup kaget dengan apa yang sedang kami hadapi.

Setelah melalui diskusi, akhirnya kami tau bahwa mereka sangat khawatir dengan hewan ternak mereka.

Mereka mengira kami sadalah erombongan pencuri ternak.

Kasus ini sedang ramai di daerah Fatuleu, sehingga mereka sigap jika bertemu dengan orang asing dengan kendaraan malam hari di daerah tersebut.

Tidak dipungkiri kecurigaan mereka adalah karena jalanan rusak yang kita lalui.

Bersama para perangkat desa kami akhirnya menjelaskan maksut dan tujuan kami sesungguhnya.

Semua aman dan terkendali ketika fajar keluar dari ufuk timur. Mobil kami dicek oleh para warga untuk meyakinkan seluruh warga desa.

Akhirnya kami tau, suara suara yang saling sahut menyahut itu bernama KOA, sebuah sandi suara untuk berbagai kondisi di daerah Pulau Timor.

Bisa dalam keadaan terdesak, tanda dalam bahaya, tanda untuk berkumpul atau ajakan dalam suatu acara. Dan hari itu ditengah masalah kesalahpahaman ini, kami jadi belajar tentang Koa, sebuah tradisi unik dari daerah Fatuleu.

Tidak ada yang salah untuk kali ini, karena hal ini memang terjadi karena kesalahpahaman.

Setelah berfoto sebagai kenang-kenangan kondisi menjadi kondusif.

Kami diantarkan oleh para warga menuju ke destinasi kami selanjutnya.

Mereka tidak menyeramkan, mereka sangat baik jika keadaan sudah kembali normal.

Pengalaman yang membuat kami cukup diaduk-aduk perasaannya.

Semoga selalu aman untuk kita semua!

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *