LEMBO ADE

Selamat datang di Dompu!

“Lembo ade”

Sampai di Dompu, kami bertemu beberapa orang, saat dalam keadaan terburu buru, saat akan berpamitan semua orang mengatakan Lembo Ade!

Lembo ade merupakan dua kata yang sangat halus merupakan bahasa perekat untuk semua sehingga dapat menjalani kehidupan bermasyarakat secara damai. Secara Terminologi : Lembo ade terdiri dari dua kata yaitu lembo dan ade. Lembo diartikan lapang, luas, tinggi, besar, sabar, tawaddu.

Lembo Ade ini sebenarnya hingga sekarang masih belum pasti memiliki arti apa, namun kalimat ini berjuta makna dan merupakan kalimat ampuh dalam bersosialisasi. Kamipun memakai kalimat ini untuk berbaur dengan masyarakat atau sekedar berbicara kepada tim lainnya.

Sebanding dengan Lembo Ade, hampir di setiap tempat kami bertemu orang orang baru dan orang orang yang sangat baik dan ramah.

Salah satunya di area Ndoro Canga atau kawasan savana Gunung Tambora. Tempat ini sangat mengesankan untuk kami.

Di area taman nasional Tambora, kita akan melihat padang rumput yang luas. Tempat yang sangat cocok untuk melepas hewan ternak. Gerombolan Kambing, Kuda, Sapi dan Kerbau menambah unik pemandangan taman nasional Tambora.

Dan uniknya, di sini tidak ada penggembala hewan hewan ternak itu. Mereka dibiarkan bebas di alam lepas. Dan karena itu hewan hewan ternak ini terlihat mandiri. Pagi hari rombongan ternak ini akan konvoi menuju pantai. Mencari air dan kubangan untuk berendam. Dan di malam hari mereka berkonvoi menuju gunung. Dan tidur di sana.

Bagi para pemburu foto landscape, kawasan tambora akan jadi surga. Selain pemandangan bagus, masyarakat juga bersahabat untuk jadi objek foto. Hewan hewan juga cukup variatif. Selain hewan ternak, kita juga bisa bertemu kawanan monyet, Kelelawar besar dan burung-burung.

Tim trip Salam Indonesia bisa bebas memilih lokasi camping, tidak ada yang mengganggu dan tidak ada pungutan liar, yang ada warga dan polisi hutan yang ramah yang memperbolehkan kami memakai beberapa fasilitas seperti kamar mandi bahkan seruan untuk menginap.

Warga disini juga sangat senang diajak bercengkrama.

Tim Trip Salam Indonesia camping di bawah langit dan bintang, suara hewan-hewan liar serta merasakan api unggun dan memasak bersama.

Kawasan Gunung Tambora juga sangat bersih, jarang sekali melihat sampah. Semoga tempat ini tetap terjaga keindahannya, terutama kebersihannya. Tidak ada tangan tangan jahil yang mengotorinya, karena keindahan seperti ini yang harus tetap kita jaga.

Tambora, sungguh sebuah tempat yang membuat kita seketik jatuh cinta. Jadi jika berniat datang ke tempat ini, siapkan cadangan waktu untuk extend.

Diperjalanan selanjutnya kami mampir sebentar mandi di mata air Oi HODO untuk melepas lelah.

Terimakasih Tambora, kamu memberikan kesan yang luar biasa!

JOKI JOKI CILIK

Tradisi Pacoa Jara (pacuan kuda) ini merupakan, salah satu tradisi unik di Sumbawa. Setiap kali diadakan, acara pacu kuda akan diramaikan oleh anak-anak, remaja, dan orang tua. Bukan hanya saat perlombaan, saat latihannya pun arena pacuan kuda sangat ramai.

Seperti latihan yang digelar di Lapangan Kara, desa Lapadi, Dompu ini. Disini digelar latihan setiap hari Minggu. Mulai jam 7 sampai tengah hari.

Saat latihan saja, peserta berdatangan dari Bima, Sumba, Lombok dan daerah lain di luar kabupaten Dompu. Sedangkan saat perlombaan, biasanya berdatangan para peserta dari berbagai kota di Indonesia.

Perlombaan Pacuan kuda skala besar biasanya dilakukan tiga kali setahun.

Kuda kuda lokal Sumbawa biasanya berukuran tidak terlalu besar. Sedangkan kuda dari Sumba berukuran lebih besar. Ada juga yang kuda blasteran antara kuda lokal dan kuda luar negeri.

Untuk menentukan kelas tiap kuda, akan dilihat lewat tinggi kuda dan gigi nya. Jika kuda sudah ompong gigi tengahnya, maka dia harus naik kelas.

Makin unik lagi karena Main Jaran ini jokinya masih kecil kecil. Biasanya berumur 5-12 tahun.

Para joki sudah dilatih sejak mereka usia 4 tahun. Sekali membawa kuda, mereka dibayar Rp 100-200 ribu/putaran. Semakin sering menunggangi kuda dalam satu event balapan, semakin banyak uang yang mereka kumpulkan.

Kalau menang, uang yang mereka dapat pun bertambah. Sesuai dengan kesepakatan dengan pemilik kuda.

Mungkin itu yang membuat mereka semangat untuk menjadi joki. Meskipun risikonya jatuh dan patah tulang. Joki-joki cilik ini berani bawa kuda setinggi 100-150 cm, yang kadang masih lebih tinggi dari sang joki. Untuk naik turun pun mereka masih harus digendong orang tuanya.

Penggunaan joki cilik di Sumbawa bukan hanya karena badan mereka ringan. Namun ada nilai lain sesuai tradisi leluhur masyarakat Dompu. Anak laki-laki harus bisa mengendalikan arah hidupnya dan bertanggung jawab atas semua resiko.

Sebelum bertanding, Joki joki cilik harus menjalani tradisì doa ritual penyatuan roh kuda dengan roh sang joki melalui perantara dukun, atau dalam bahasa setempat disebut Sando.

Tujuan dari Sando untuk menjaga agar joki cilik tidak sampai terjatuh saat balapan.

Mari kita doakan, agar para Joki cilik ini bisa merubah tradisi menjadi prestasi. Bukan enggak mungkin, merek ikut kejuaraan dunia, kan?

 

SAMBUTAN PULAU BUNGIN

Pulau Sumbawa menjadi salah satu Pulau yang baru untuk hampir seluruh tim, karena mayoritas baru pertama kali berkunjung ke Pulau ini.

Tim bisa beristirahat dengan cukup nyaman di kapal dengan rute Pelabuhan Kayangan – Pelabuhan Poto tano.

Pelabuhan ini ternyata sangat indah dengan landscape dermaga dan bukit bukit hijau khas Sumbawa. Saat tim berburu sunrise di tepi pantai, para penduduk dan polisi yang ada disekitar pelabuhan menyambut tim dengan ramah.

Destinasi kali ini adalah Pulau Bungin yang dikatakan sebagai pulau terpadat di dunia.

Semua tim langsung penasaran dan bersemangat . Pulau Bungin tidak terlalu jauh dari Pelabuhan Poto Tano. Namun, tim harus melewati perjalanan yang panjang, berliku dan dipenuhi dengan kubangan air.

Pulau Bungin berada di pesisir pantai sehingga mayoritas bekerja sebagai nelayan, rumahnya berdekatan dan sangat rapat.

Suku  Pulau Bungin merupakan keturunan Suku Bajo Makassar. Mereka memiliki kebiasaan merantau dan hidup di pesisir pantai, sehingga menetaplah mereka di Pulai Bungin.

Yang membedakan dengan warga Pulau Bungin adalah mereka tidak memiliki kebiasaan merantau, sehingga rumah yang mereka miliki bisa ditinggali beberapa kepala keluarga. Itu yang menyebabkan pulau ini menjadi sangat padat.

Setiap pasangan yang akan menikah diharuskan menumpuk karang untuk calon rumah mereka. Secara tidak langsung mereka melakukan reklamasi kepada pulau mereka. Karang tersebut akan ditumpuk dengan tanah dan jadilah lahan untuk rumah mereka, begitu seterusnya.

Ketika tim mulai mengexplore Pulau Bungin, kami disambut dengan ramah. Penduduk Pulau Bungin tampak senang bertemu “orang baru”.

Ketika tim sedang mencari konten foto dan video tidak ragu mereka mengajak ngobrol , meminta foto bahkan mempersilahkan tim untuk bercengkrama bersama.

Penduduk disini tidak sungkan diwawancarai dan menceritakan asal usul dan kisah hidupnya. Beberapa penduduk ikut berkeliling, beberapa anak – anak kecil membuntuti tim karena penasaran dengan segala properti yang tim bawa.

Tidak hanya itu, mereka seringkali menceritakan kambing pemakan sampah. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri . Sejauh mata memandang kambing-kambing yang berkeliaran sedikit demi sedikit menghabiskan sampah plastik yang bergeletakkan di jalanan. Kambing untuk masyarakat Pulau Bungin hidup berdampingan dan hidup bebas bersama masyarakat. Bisa disimpulkan bahwa Pulau Bungin dipenuhi sampah, sehingga herbivora menjadi pemakan sampah, hal yang tidak wajar dan harus menjadi konsentrasi pemerintah dalam pengelolaan sampah.

Masyarakat Pulau Bungin terlalu sering berinteraksi dengan circle mereka, sehingga sangat senang bertemu dengan orang baru.

Keramahan yang dimiliki oleh masyarakat Suku Bungin membuat tim merasa bertemu keluarga baru. Hal ini yang perlu dipelajari oleh tim yang seringkali acuh dengan sesuatu yang ditemui.

Bukankah setiap orang yang kita temui akan mengajarkan kita sesuatu, atau mereka yang memberikan pelajaran yang baru?

Berpikir positif dengan apa yang ditemui ternyata memberikan dampak yang positif untuk hidup kita juga.

Pengalaman berinteraksi dan merasakan kehidupan Pulau Bungin memang luar biasa. Selanjutnya mari kita Explore Pulau Sumbawa!

 

LOMBOK

Jumat, 22 Maret 2019.

Tim terbangun dari tidurnya dan masih di Kapal Legundi.

Sebagian tim pemburu sunrise sudah kembali dengan foto dan video yang dihasilkan.

Sebagian tim masih terjaga untuk melakukan tugasnya mengedit video.

Suasana diluar kapal berawan dan dan ombak pagi cukup tinggi.

Menunggu kapal sandar, tim merapikan barang barang bawaannya. Sebagian masih mengambil foto dan video untuk mengisi konten.

Kurang lebih pukul 11.00, tim menginjakkan kaki di Pelabuhan Lembar (Lombok).

Perjalanan dilanjutkan menuju Kota Mataram, bertemu Rio (Kamtis Lombok) yang sangat baik karena menyediakan tempat beristirahat.  Tidak lupa makanan khas Lombok, Ayam Taliwang!

Sore yang cerah, tim bergegas ditemani guide lokal yaitu Rio dan Indra menuju Loang Baloq.

Loang Baloq berada tidak jauh, berada di Kota Mataram.

Loang Baloq dalam bahasa Sasak Lombok  artinya Lubang Buaya.

Area ini ditumbuhi sebuah pohon beringin yang memiliki lubang tempat berdiam dirinya sang Buaya yang konon kabarnya berumur ratusan tahun.

Makam Loang Baloq adalah kawasan pemakaman yang didalamnya terdapat makam penyebar islam pertama di Lombok, sehingga banyak dikunjungi peziarah.

Tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Lombok adalah mengikat akar Pohon Beringin sambil mengucapkan janji  atau nadzar mereka.

Sebelum akhirnya diubah dengan mengikat akar pohon yang bergelantungan, masyarakat mengikat  akar di plastik yang mereka temukan sambil mengucap janjinya. Namun hal itu mengakibatkan pohon beringin kehilangan keindahan dan menumpuknya sampah.

Jika pengunjung sudah mengikat akar pohon Beringin sembarari bersumpah ia harus kembali ke tempat itu lagi dan membuka sumpahnya. Menurut juru kunci, akan ada berbagai kesulitan jika tidak kembali melepas ikatan akar.

Hal itu mengakibatkan tim Trip Salam Indonesia tidak jadi mengikat janjinya, karena tim belum memastikan akan kembali lagi atau tidak untuk melepas ikatannya.

Langit semakin sore,

Tim menuju ke Pantai Ampenan yang berada di Lokasi Kota Tua untuk bersantai dan sekedar menikmati kopi.

Tempat ini dulunya adalah pelabuhan pada masa penjajahan, kini berubah fungsi menjadi lokasi  wisata.

Setelah pulang dari mencari konten, saatnya mengerjakan kewajibannya masing masing.

Di kafe milik mas Rio, tim melakukan pekerjaannya masing masing ditemani teman teman dari Lombok yang datang silih berganti.

Malam ini dihabiskan dengan bercengkrama sembari menunggu Kapal menuju ke Poto Tano (Sumbawa).

Semoga selalu sehat!

 

Kapal Legundi Karya Anak Negeri

21 Maret 2019.

Pemandangan matahari terbit di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur.

Mata yang kelelahan pelan pelan terbuka, Erix segera menyiapkan drone untuk mencari sunrise. Beberapa tim masih tertidur di teras coffe shop seperti backpacker ala ala Eropa. Semalam tim trip salam Indonesia menjadikan tempat ini sebagai work place, untuk mengerjakan editan dan tulisan untuk di upload hari ini.

Trio dan Tia, mencari cara untuk membangunkan tim dengan mencari sarapan melewati jembatan Kenjeran yang kini bagus, bersih dan megah.

Matahari pagi menemani pencarian sarapan hari ini, menu rawon dan pecel khas Surabaya. Sarapan sudah tersedia, seluruh tim dibangunkan dengan dalih “sarapan sudah datang”.

Pagi ini tim bagi tugas, mobil 1 menuju Pelabuhan Perak untuk membeli tiket menuju Pelabuhan Lembar Lombok. Mobil 2 dan 3 menuju ke Ace Hardware untuk melengkapi berbagai keperluan dan salon mobil. Memperbaiki sistem kelistrikan di mobil yang menjadi kebutuhan primer, karena tim sedikit rewel soal ini.

Pukul 12.00 seluruh mobil sudah berkumpul di Pintu Masuk Terminal Jamrud, Tanjung Perak.

Tampak Perahu Legundi yang megah sudah menunggu.

Setelah masuk ke dalam kapal, tim yang sebelumnya mengunderestimate kapal ini, sedikit tercengang. Tidak disangka kapal Legundi sangat bersih. Bayang bayang 20 jam di kapal tidak lagi menjadi hal yang menakutkan.

Tim segera mencari tempat duduk yang nyaman,  ada televisi, cafetaria, KM yang cukup bersih dan dipinjamkan matras untuk tidur. Dan hal yang lebih menyenangkan adalah internet masih tetap bisa jalan, walaupun terkadang suka hilang-hilangan. Dan tempat ini lagi-lagi diubah menjadi work place.

Tugas upload malam ini aman.

Moment menunggu tujuan dijadikan sebagai area mengisi konten.

Isa dan Soba masih mengedit video, Ferdi Deka Cemot dan Erix hunting foto dan video, Tia dan Teguh berkeliling mencari bahan tulisan, Nafi dan Yance menggunakan waktunya untuk istirahat.

Ada yang menarik dari Kapal Legundi, kapal ini baru berumur 4 tahun.

Memudahkan masyarakat Lombok dan Jawa dalam berkegiatan. Kapal Legundi cukup bisa diapresiasi karena hampir keseluruhan karya anak negeri kecuali mesin. Desainnya dibuat mahasiswa ITS, sedangkan badan kapal dibuat di Bandung. Hal ini cukup membanggakan!

Tim berganti gantian istirahat dan menjaga barang.

Sebagian tertidur dan sebagaian melakukan kewajiban.

Setidaknya semua tim bisa tidur maksimal, karena tenaga ini masih harus dipersiapkan untuk hari hari ke depan.

Selamat datang Lombok, kemana lagi kita?

Madura Punya Cerita

19 Maret 2019. Pagi ini, cuaca tidak seburuk hari kemarin.
Cuaca cerah yang sudah ditunggu-tunggu oleh tim Trip Salam Indonesia, akhirnya datang.


Niat untuk kembali ke Madura sudah bulat. Saatnya tancap gas melewati jembatan Suramadu menuju pulau yang terkenal dengan sate-nya.

Suramadu berdiri megah di atas selat madura, merupakan jembatan terpanjang di Indonesia. Jembatan ini memudahkan akses pulau Madura dan Jawa.


Kali ini tim Trip Salam Indonesia mencari tukang cukur madura yang terkenal menyebar di seluruh pelosok Indonesia. Tidak sulit menemukan mereka di kanan kiri jalan. Ini saatnya tim membuktikan kehebatan cukur rambut Madura dibandingkan dengan barbershop di kota kota.


Perbedaan keduanya hanyalah berbagai alat canggih yang tidak dimiliki oleh tukang cukur rambut Madura. Namun untuk keahlian cukurnya, jangan diragukan. Terbukti Erix mencukur rambutnya dan tampak lebih fresh.


Sore harinya, seluruh tim menuju ke Arosbaya. Tempat ini direkomendasikan oleh warga lokal yang siap menemani berkeliling Madura. Arosbaya adalah bukit kapur yang berlokasi di daerah Bangkalan Madura, menariknya adalah lokasi ini masih sangat privat!


Arosbaya merupakan tebing tinggi menjulang berwarna coklat dan goa goa bekas penambang membuat bentuk berundak. Tanaman tanaman hijau membuat pemandangan semakin cantik dengan warnanya yang kontras. Ditemani berbagai kolam air yang memancarkan warna kehijauan, serta para warga bekerja untuk mata pencaharian.

Mereka bekerja sebagai penambang batu kapur. Dan menyebut bahwabatu kapur ini lebih kuat dari Batu Bata dan menjadi bahan baku rumah-rumah di Madura.


Menjelang malam, tim Trip Salam Indonesia memutuskan untuk camping. Walaupun hujan mengguyur Bangkalan, Madura.

Seluruh tim trip salam Indonesia membangun tenda pertamanya dengan antusias. Ini adalah camping pertama yang dilakukan tim Trip Salam Indonesia di alam terbuka.

Ditemani masakan yang masih hangat, ngobrol, bersantai, hujan dan tidak lupa yang semakin seru adalah “punglinya”!

Sangat disayangkan memang, saat meminta izin lokasi tim sudah membayar sesuai dengan perjanjian, dan kali ini tim dimintai lagi dengan dalih uang keamanan.

Tidak ada pilihan lain selain membayar, karena situasi malam itu juga tidak akan terbayar.

Tim istirahat karena lelah seharian agar esok bisa melanjutkan perjalanan yang lebih menantang.

#ArsipTSI “ISTANA PURBA” Arosbaya

Bukit kapur Arosbaya terletak di sisi utara pulau Madura. Tepatnya di salah satu kecamatan di daerah Kabupaten Bangkalan yang terletak 16 km dari ibukota Kabupaten Bangkalan.

Bukit kapur ini menjadi sumber mata pencarian sebagian masyarakat Arosbaya.

Mereka menambang bongkahan bata kapur yang di klaim lebih kuat dari batu bata merah.

Dan menjadi bahan bangunan utama rumah-rumah di Madura. Secara alami, Bukit kapur ini menjelma menjadi gerbang dan dinding raksasa yang membuat kita serasa memasuki sebuah reruntuhan istana purba.

Secara alami, Bukit kapur ini menjelma menjadi gerbang dan dinding raksasa yang membuat kita serasa memasuki sebuah reruntuhan istana purba.

Di sini kita akan bertemu beberapa bekas tambang Batu Kapur. Corak pahatan alami itu cukup indah.

Besar kemungkinan tidak disadari oleh penambang, bahwa secara tidak langsung mereka menciptakan obyek wisata alam yang cukup bagus dan patut diperhitungkan.

Tidak hanya itu, tumbuhan tumbuhan liar membuat Arosbaya semakin indah, perpaduan warna hijau dan coklat di tambah ada beberapa kolam yang memancarkan air berwarna hijau.

Apalagi saat musim panas, terobosan terobosan sinar matahari menerobos dinding dinding gua.

Goa goa yang berada di dalam bukit Arosbaya ini, serasa menjadi ruang yang hangat untuk dinikmati bersama para sahabat.

Akses menuju bukit Arosbaya cukup mudah, bisa menggunakan roda dua dan mobil. Untuk parkir mobil dikenakan tarif sebesar Rp 20 ribu, sedangkan motor dikenai Rp 3 ribu. Kemudian, untuk tiket masuk per orangnya dipatok Rp 10 ribu.

Arosbaya mungkin belum seterkenal bukit Jaddih di Bangkalan, Madura atau Tebing Breksi di Jogja. Tapi lokasi ini mulai dikenal oleh beberapa pemburu foto digunakan untuk hunting foto, wisata kelaurga atau prewedding. Tak heran jika lokasi ini mulai ada warung-warung yang berdiri.

Saat ini Arosbaya masih merupakan lahan private, namun sepertinya pemda setempat mulai melirik untuk mengolah potensi wisata Arosbaya. Semoga siapapun yang mengelola, Arosbaya bisa tetap memberi manfaat bagi masyarakat sekitarnya, dan juga tetap terjaga keindahannya.

Salam Indonesia!

#ArsipTSI “Manusia Pasir Sumenep”

Kampung di pesisir utara pulau Madura ini memiliki sebuah tradisi turun temurun yang sangat unik.

Mereka terbiasa untuk bermain, duduk duduk hingga tidur di atas pasir pantai.

Dulunya memang rumah mereka berlantaikan pasir pantai.

Tapi sekarang ini, saat rumah mereka sudah mengadaptasi hunian modern, warga kampung pasir tetap tak bisa lepas dari pasir.

Setiap rumah di kampung ini, pasti memiliki sebuah bak pasir di teras rumahnya.

Biasanya mereka bercengkerama, bersenda gurau bersama keluarga dan teman-teman disitu.

Bukan hanya di teras rumah, tapi pasir itu juga ada di kamar tidur mereka.

Bahkan menurut pengakuan warga, kalaupun mereka membeli kasur, itu hanya pajangan.

Mereka tetap akan tidur di atas pasir. Bahkan anak-anak kampung pasir, dibuat dan dilahirkan di atas pasir itu.

Setelah kita perhatikan, ternyata pasir yang ada di bak itu berbeda dengan pasir yang di lingkungan rumah.

Pasirnya lebih halus, dan tidak sulit untuk dibersikan dari badan. Pasir itu biasanya mereka ambil sendiri dari pantai.

atau ada juga yang menjual jasa mengambilkan pasir pantai itu dengan harga 20ribu per karung.
Pasir itu pun mendapat perlakuan khusus. Setiap hari pasir itu dibersihkan dengan cara diayak.

Warga kampung pasir percaya bahwa tidur beralaskan pasir ini bisa jadi obat bagi tubuh merekat, terutama untuk penyakit tulang seperti rematik.

Memang belum ada penelitian khusus tentang ini, namun bisa jadi karena pasir yang kita tiduri itu, akan menyesuaikan dengan tubuh kita.

Ikatan warga dengan pasir ini sangat kuat, bahkan jika mereka pergi keluar negeri pun, biasanya mereka membawa pasir dari rumah mereka.

Itulah Kampung Pasir, Madura. Salah satu kampung dengan budaya yang unik di Indonesia.

Salam Indonesia.

Manusia Pasir Sumenep

Arosbaya memberikan sensasi private camping di tengah tebing tinggi.

Dan saat tim trip salam Indonesia terbangun di pagi hari, tim mendapatkan hadiah pemandangan keindahan tebing tebing yang berhias sinaran matahari.

Beberapa tim trip salam Indonesia tidak kuasa menahan diri untuk melakukan hunting foto dan video. Mini moto yang dibawa jauh jauh dari Yogyakarta menjadi properti foto dan video pagi ini.

Erix yang baru saja kehilangan drone kesayangannya, hari ini tampak bergembira bermain dengan drone barunya sekaligus mengabadikan Arosbaya dari ketinggian.

Setelah berkegiatan, seluruh tim sudah disediakan sarapan oleh Trio, chef terbaik dari tim Trip Salam Indonesia dengan menu nasi goreng kornet. Rasanya sedikit kecut namun tidak ada pilihan lain.

Di tengah tebing dengan udara segar, bercengkrama dengan sahabat menjadi moment yang menyenangkan, karena setelah itu tim harus melanjutkan menuju perjalanan selanjutnya.

Sinar matahari yang hangat membuat tim Trip Salam Indonesia bersemangat melanjutkan destinasi selanjutnya.

Setelah berpamitan, berfoto bersama dan mengisi dahaga dengan es degan, tim Trip Salam Indonesia melanjutkan perjalanan dari daerah Bangkalan menuju Sumenep.

Perjalanan  kurang lebih 4 jam disuguhi perjalanan dengan pemandangan yang cukup indah, namun sebagian dari tim tertidur karena kelelahan, terutama Soba dan Isa sangat terlelap karena lelah mengedit video yang harus di upload hari ini.

Sore harinya, tim Trip Salam Indonesia sampai di destinasi Wisata Kampung Pasir, tepatnya di Desa Legung Timur, Pesisir Lebak Sumenep Madura.

Tim trip Salam Indonesia menemui sebuah tradisi yang unik turun temurun. Mereka terbiasa untuk bermain, duduk-duduk hingga tidur di atas pasir pantai.

Tapi sekarang ini, saat rumah mereka sudah mengadaptasi hunian modern, warga kampung pasir tetap tak bisa lepas dari pasir. Setiap rumah dan berbagai kegiatan seperti tidur, bercengrama, melahirkan semua dilakukan di atas pasir, tak heran jika di sebut Wisata Kampung Pasir.

Warga kampung pasir percaya bahwa tidur beralaskan pasir bisa jadi obat bagi tubuh merekat, terutama untuk penyakit tulang seperti rematik.

Setelah berkeliling di Kampung Wisata Pasir, tim trip salam Indonesia menikmati keindahan pantai Lombang dan mendapatkan sunset pertama selama 3 hari perjalanan Trip Salam Indonesia.

Selanjutnya, tim trip Salam Indonesia kembali ke Surabaya.

Kemana destinasi selanjutnya?

 

#ArsipTSI “Cukur Rambut Madura”

Sembilan belas Maret 2019, Trip Salam Indonesia melanjutkan perjalanan melewati jembatan Suramadu menuju Pulau Madura.


Mendengar nama Pulau Madura, pasti yang terbesit dipikiran  adalah Sate!

Namun jangan salah, disinilah tempat ditemukannya para tukang cukur rambut yang legendaris dan menyebar di seluruh pelosok Indonesia, Pangkas rambut Madura!


Salah satu foto tertua tentang pangkas rambut Madura yang merantau di Jakarta, tercatat dibuat tahun 1911.


Dulunya mereka buka praktek di bawah pohon-pohon rindang, bermodal kursi dan cermin.


Pangkas rambut sendiri merupakan sebuah tradisi lazim bagi pria di berbagai belahan dunia, dengan cerita latar belakang yang berbeda beda.

Jika di eropa pangkas rambut merupakan pencitraan diri sebagai sosok terhormat, di asia tenggara pangkas rambut dilakukan saat orang sedang bersedih, atau sering disebut buang sial.

Setelah ajaran Islam masuk, pangkas rambut juga menggambarkan kepatuhan terhadap ajaran agama. Dimana ada salah satu langkah dalam haji yang mewajibkan memangkas rambut yang disebut dengan Tahallul.

Di masa Pangeran Diponegoro, potongan rambut digunakan untuk membedakan para pejuang dari orang-orang yang membelok ke pihak penjajah.

Karena tidak tiap orang bisa mencukur rambut, maka menjelmalah ia jadi profesi dan bisnis. Dan bisnis ini terus berkembang hingga sekarang. Hingga sekarang pangkas rambut Madura masih banyak beredar, bahkan punya perkumpulan yang anggotanya mencapai ribuan.

Ditengah maraknya barbershop modern, pangkas rambut Madura masih jadi pilihan banyak orang.

Secara teknis, pangkas rambut madura tak ada bedanya dengan barbershop modern. Malah tak jarang pijatan mereka lebih mantap. Apalagi harga juga lebih murah.


Dan yang paling penting, ini adalah budaya dari masyarakat Madura yang jadi kebutuhan penting para pria pria ganteng di Indonesia.

Tim Trip Salam Indonesia mengarsipkan pangkas rambut Madura menjadi arsip Indonesia.

Salam Indonesia!