Asrama, SMP, dan Musik Speed

Sejak masuk kelas 1 SMP, aku sudah tinggal di asrama. Aku sendiri tidak tahu apa alasan orangtuaku mengirimku ke asrama, mungkin karena mereka tidak tahan dengan kenakalanku yang tidak pernah mau belajar di sekolah. Kedua orangtuaku tinggal di Klaten, dan mereka mengharuskanku sekolah di SMP Kristen 1 Solo dan tinggal di asrama gereja tersebut. Gereja tersebut menjadi tempat penampungan anak-anak nakal, orang-orang gila, dan keluarga pemilik gereja. Tinggal di asrama, membuat aku harus dibangunkan secara paksa setiap pukul lima pagi. Menurutku hal tersebut adalah hal yang paling membosankan di dunia, apalagi jika harus ditendang-tendang oleh senior di sana. Seringkali aku tertidur saat doa bersama di pagi hari.
“Tuhan tidak pernah tidur, tapi aku butuh tidur, mas!” protesku pada senior asrama.

Setiap hari aku harus mandi pagi dan membersihkan ruangan-ruangan termasuk kandang anjing beserta kotoran-kotorannya. Selain itu yang menjadi kewajibanku adalah mengisi botol air di tiga buah kulkas di kantor lantai empat, kulkas rumah tangga di lantai dua, dan kulkas pengurus gedung sekolah.

Di asrama tersebut juga menjadi tempat pertamaku belajar musik, meskipun musik yang diajarkan 100% musik rohani. Di gereja tersebut juga banyak terdapat band, dan semuanya memainkan musik rohani. Bersama temanku Joy, aku sering mencuri-curi waktu untuk memainkan alat-alat band. Aku belajar bermain gitar dari pacar kakakku, selain itu aku juga sering curi-curi kesempatan untuk bermain drum dan keyboard milik gereja.

Saat itu hampir semua teman-temanku menyukai Slank. Aku pun mulai mengulik karya-karya band asal Potlot tersebut. Suatu ketika aku jalan-jalan ke pasar maling di Solo, dan menemukan kaset Greenday, band yang sedang jadi pembicaraan hangan teman-teman. Aku pun penasaran ingin memainkan musik seperti yang diusung Greenday. Karena kurang wawasan, saat itu aku belum tahu apa itu ‘punk’. Yang aku tahu adalah ‘musik speed’, karena temponya jauh lebih cepat dari apa yang biasa dimainkan di gereja. Saat itu aku hanya punya satu kaset, Greenday.

Karena pihak gereja sudah pasti melarang musik selain tembang-tembang rohani, maka aku dan kawanku sengaja membuat band di luar gereja. Band itu bernama The Poker, dan kami selalu bermain seusai pulang sekolah. Menjadi musisi di gereja merupakan hal yang ekslusif menurutku. Karena itu aku membentuk band sendiri agar bisa berkompetisi, sebab di gereja, siapa yang paling jago, dialah yang jadi personel band inti. Melihat kemampuanku saat itu, rasanya sulit untuk masuk sebagai personel inti, karenanya aku memiliki strategi lain yakni dengan belajar otodidak tentang sound engineering.

Setelah lulus SMP aku ingin melanjutkan ke sekolah musik. Kakakku, Beti Rosalina memberi informasi tentang sekolah musik di Jogja. Layaknya sebuah angin segar, informasi dari kakakku membuat aku semakin tidak betah tinggal di asrama dan ingin fokus mengejar cita-cita di dunia musik. Suatu saat bapakku datang ke asrama, dan saat itulah aku mengungkapkan keinginanku untuk sekolah musik di Jogja.
“Mau jadi apa kamu, le? Sekolah saja yang bener, itu saudaramu yang lain kuliahnya pinter-pinter, mereka nanti pasti kerjanya enak, kok kamu malah mau sekolah musik? Bapak tidak setuju!”

Perkataan bapakku jelas membuatku kecewa. Tidak hanya bapak, tapi orangtua angkatku di gereja juga menghalangiku untuk fokus belajar musik. (*)

Ada Apa Dengan Anak Laki-Laki?

Dari sejak pacaran, aku sudah membayangkan nama anak-anakku kelak. Satu bulan setelah menikah, ternyata istriku mengandung anak pertama. Hal itu sama sekali tidak membuatku bingung, justru aku malah tenang banget ketika langsung dikaruniai anak. Selama mengandung, aku serahkan semua urusan perbelanjaan anak ke istriku, karena dia yang lebih tahu apa saja yang harus diperlukan.

Nama Godblessyou, Barakallah, dan Swastiastu memang sudah ada di benak, jauh sebelum mereka lahir. Awalnya sih dua anak saja cukup, tapi kehendak-Nya ternyata berbeda, aku dikaruniai tiga anak. Nama yang kuberikan memang nama untuk anak laki-laki.

Kenapa laki-laki? bukan karena aku nggak menginginkan anak perempuan, tapi aku merasa nggak mampu menjaga anak perempuan. Mendidik anak perempuan menurutku harus penuh kehalusan, makanya aku nggak ‘pede’ kalau punya anak perempuan. Sedangkan anak laki-laki akan lebih mudah hidup mandiri. Seorang anak kan akan mencontoh bapaknya, lha aku ini nggak layak untuk dicontoh, pokoknya merasa nggak pantes lah. :p (*)

 

 

Konser Musik Rock, Kenapa Mesti Rusuh?

Banyak kejadian musisi musisi besar yang dipersulit izin konsernya oleh kepolisian. Hal ini dikarenakan kerap terjadinya kericuhan di sela-sela konser mereka. Kejadian ini juga terjadi pada dua musisi besar tanah air, Iwan Fals dan Slank. Tercatat, sewaktu konser tunggal Iwan Fals di Ancol 2005 silam, sempat terjadi kericuhan. Iwan Fals pun berhasil ‘menjinakan’ penggemarnya dan meredam suasana lewat hentakan lagu ‘Hio’ yang sangat meditatif sebagai penutup.

Kerusuhan bermula ketika lagu ke-17 dari 20 lagu yang dijanjikan Iwan dinyanyikan. Di tengah lagu, tiba-tiba kerumunan massa berlomba keluar dari lokasi mereka dengan cara melompat pagar besi. Jumlah massa yang tak terkendali memaksa pihak berwajib melepas tembakan peringatan. Saat peristiwa tersebut terjadi, tampak batu dan beberapa benda seperti alas kaki bertebangan ke segala arah.

Pecahnya ricuh bermula dari tengah barisan saat semua penggemar asik loncat-loncat dan mengikuti Iwan bernyanyi. Ricuh tersebut memicu ratusan penggemar berupaya lari menyelamatkan diri. Meski beberapa pagar besi sudah berjatuhan, namun penonton tetap tertib menikmati lagu Iwan Fals. Para penggemar Iwan sebanyak kira-kira 40 ribu orang itu pun pulang dengan tertib.
Lain lagi hal yang menimpa Slank, kare

na sering dicekal untuk mengadakan konser, Slank sempat mengunjungi Mahkamah Konstitusi (MK), Sehingga pihak kepolisian memaparkan pertimbangan mereka mencekal Slank. Pertimbangan dari Polda Metro Jaya adalah, pada 2009 konser Slank di Yon Arhanud Tangerang, massa melakukan pengerusakan ruko-ruko yang ada di wilayah Tangerang Kabupaten dan Tangerang Kota banyak ruko yang kacanya hancur.

Konser November 2012 di BSD City Serpong, Polres Tangerang Kabupaten kembali tidak memberikan izin terkait dengan para penonton yang belum bisa tertib. Namun selama tahun 2012 Polda Metro Jaya telah mengizinkan konser Slank di beberapa tempat. Iwan Fals dan Slank sudah seringkali meminta penggemar mereka untuk menghentikan keributan di konser mereka.

Kerusuhan parah juga tercatat di banyak konser kelas dunia. masih ingat Woodstock 1999? Festival yang pertama kali digelar pada 1969 ini, awalnya untuk menyuarakan perdamaian dunia. Namun pada Woodstock ketiga kalinya yang digelar di Kota New York, 22-25 Juli 1999 berlangsung rusuh dan kacau. tercatat sederet band papan atas tampil saat itu, di antaranya Red Hot Chili Peppers, Rage Against the Machine, Korn, dan Limp Bizkit.

Kerusuhan dimulai Sabtu malam, 24 Juli ketika Limp Bizkit beraksi. Banyak berita yang beredar adanya kasus-kasus pelecehan seksual. Ketika Limp Bizkit membawakan lagu “Break Stuff”, kerusuhan semakin menjadi, beberapa penonton mencopot papan pagar membawanya ke tengah kerumunan massa. Bahkan ketika Red Hot Chili Eppers beraksi pun, terlihat api unggun. Mereka membakar pagar, papan kayu, dan benda-benda lainnya sehingga arena konser semakin memanas
Namun memang dari awal konser kondisi dan situasi yang berlangsung di arena konser memang sudah terlihat buruk. Suhu udara yang panas membuat para penonton cepat sekali kehausan dan kerumunan massa yang banyak mengharuskan beberapa orang mengalami sesak nafas.

Konser musik rock and roll terbesar di akhir 60’an setelah Woodstock adalah Altamont free Concert. Selain terbesar, konser ini pun adalah yang paling berdarah. Altamont Free Concert yang berlangsung di California Utara pada 6 Desember 1969, empat bulan setelah Woodstock, dihadiri oleh 300.000 penonton dan diramaikan oleh band ternama saat itu diantaranya: Rolling Stones, Jefferson Airplane dan Grateful Dead (yang batal tampil). Kesalahan terletak pada pihak penyelenggara yang saat itu menggunakan jasa gang motor besar ternama di AS, Hell’s Angel, sebagai keamanan konser. Para penonton yang dipengaruhi oleh obat bius dan alkohol mulai bertingkah seenaknya dan memicu kemarahan para anggota Hell’s Angel yang ada di sekitar panggung. Mereka pun terprovokasi. Ketika The Rolling Stones tampil, salah seorang penonton tertikam dan mendapat luka tusukan dari seorang anggota geng motor tersebut.

Di ranah Subkultur skinhead terdapat kelompok pro-rasis dan anti-rasis. Pergesekan dan persinggungan kedua kelompok ini pernah meledak engakibatkan di konser Punk Riot, tepatnya di San Bernadino, California, 2006 lalu. Seorang skinhead neo-Nazi tewas akibat luka tusukan yang menikamnya. Di luar arena konser, massa yang masih marah semakin membuat kerusuhan, memecahkan kaca-kaca toko dan rumah di sekitar arena konser.
Para pecinta musik rock akhirnya mendapatkan cap sebagai perusuh, hal ini juga dialami Endank Soekamti, bahkan ada kota yang sudah bertahun-tahun tidak mengijinkan Endank Soekamti tampil di sana.

Nyaris lima tahun sudah Endank Soekamti absen dari riuhnya panggung musik di kota Solo. Tercatat terakhir kali Endank Soekamti tampil di Solo adalah Malam minggu, 8 November 2014 silam, tepatnya di Alun-alun Utara Solo.
Saat itu hingar bingar konser yang dihadiri Kamtis dari berbagai penjuru sempat terhenti saat sejumlah Kamtis nekat naik ke pagar pengaman pembatas yang terletak persis di depan panggung. Seketika aparat yang bertugas memukul pentungannya ke arah para Kamtis yang sedang ‘Bercinta Sekuat Tenaga’.

Tidak pakai lama Erix langsung beraksi dan mengendalikan suasana sambil berujar dengan tegas kepada aparat: “Pak, mikrofon saya lebih tajam dari pentungan bapak!”
Seperti yang dicatat di portal Solopos, saat itu sebagian aparat yang sebelumnya berjaga di depan panggung mundur dan memilih berjaga di sekitar panggung.
Endank Soekamti bersama kru panggung selanjutnya mengendalikan situasi. Para Kamtis juga menuruti arahan, Endank Soekamti pun mampu menenangkan Kamtis yang malam itu kemudian berlaku tertib tanpa pengamanan berlebihan dari aparat.

Masih menurut Solopos, “malam itu satu lagi bukti konser musik rock yang kerap dicap urakan dan rusuh bisa berlangsung damai tanpa pengamanan represif”.
Meski berakhir damai, konser tersebut menjadi kali terakhir pertunjukan Endank Soekamti di Solo. Kini, lima tahun berlalu Endank Soekamti akhirnya kembali ke kota tersebut. Bagaimanapun sebagai band asal Yogyakarta, Solo merupakan kakak kandung dari kota dimana Endank Soekamti tumbuh dan besar.
Bagaimana agar musisi favorit bisa terus tampil di kota kesayangan kita? Bagaimana cara membuktikan bahwa konser musik rock yang kerap dicap urakan dan rusuh bisa berlangsung damai tanpa pengamanan represif?
Tuliskan pendapat kalian di kolom komentar. (*)