Sm*nh

Sm*nh terdiri dari Afgandoz, Alitalit Jabang Bayi, Doni Salah Paham, dan Rony Muyapa. Penampilan mereka selalu sukses membuat penonton tebahak-bahak selama mereka unjuk gigi. Fengan gaya boyband ‘nyeleneh’ mereka kerap membawakan lagu ‘Sayang Bilang Sayang’ (Pentaboys), kemudian medley ‘Goodbye’ (Air Supply) – ‘Jangan Ada Dusta’, dan tak ketinggalan dengan aksi heboh mereka menyanyikan ‘Dilema’ (Cherrybell).

Sm*nh berdiri ketika Hari Valentine di acara Jazz Mben Senen, Nama tersebut adalah plesetan dari Smash yang saat itu sedang naik daun. Meski mengaku boysband, Konsep Sm*nh adalah anti lipsync. “Kita emang benci lihat di tv, boysband yang pentas bisanya lipsing, ya dengan itu, kita para pemuda bermuka pas-pasan dan suara minimalis, mencoba memparodikan boysband,” ujar Gandoz. (*)

Bravesboy

 

Perjalanan band Ska Reggae asal Yogyakarta ini berawal dari sebuah proyek iseng iseng berhadiah. Embrio asal muasal Bravesboy berawal dari sebuah grup reggae modern bernama Waton Gayenk. Sebelumnya Waton Gayenk ini sempat melanglangbuana di seputaran pensi di sekolah-sekolah, bahkan di acara-acara punk di Yogyakarta. Karena terbatasnya waktu dari masing masing personil, band reggae ini pun vakum. Setelah sekian lama stagnan, Bimo sang juru vokal Waton Gayenk, dan Nazad sang penabuh jimbe/perkusi yang tak bisa berlama-lama jauh dengan musik, mereka pun kembali berkarya membuat suatu proyek bernama Bravesboy ini.

Dengan nama Bravesboy, yang artinya ‘pria pemberani, jantan’ mereka mengaku menjadi termotivasi. Mereka berharap ke depannya selalu berani menghadapi kondisi apapun, berani miskin, berani kaya, berani susah, berani senang, berani gagal,dan berani sukses, istilahnya rekoso rapopo, nek kere ra kaget, nek sugeh kroso.

Musik Bravesboy bernuansa reggae, ska, modern yang berbalut aroma hip-hop. Lirik lagu mereka renyah, sederhana, dan kadang jenaka. ‘Bravers’ sebutan untuk penggemar mereka, selalu meramaikan dimana pun Bravesboy tampil. (*)

Sekelebat Punk…..

oleh Kiki Pea

Bagi kebanyakan masyarakat, Punk dianggap sebagai gerombolan remaja yang senantiasa membuat onar, memainkan musik yang keras, cepat, dan penyanyinya berteriak-teriak tidak jelas. Dengan gaya berpakaian yang urakan, dan jauh dari kesan anak baik-baik, masyarakat awam seringkali menarik kesimpulan bahwa punk adalah segerombolan anak muda yang berperilaku kriminal. Didukung dengan hingar bingar musik dengan lirik berisi kecaman-kecaman pemberontakan mengakibatkan miringnya persepsi masyarakat mengenai punk.

Banyak yang menganggap bahwa punk adalah aliran musik semata. Menurut para pengusungnya, punk bukanlah aliran musik atau gaya fashion belaka, tetapi ia adalah ‘sikap’ yang lahir dari sifat memberontak terhadap ketidakpuasan yang ada di sekitar, entah itu politik, sosial, ekonomi, bahkan terhadap bentuk keteraturan yang telah mapan. Rasa tidak puas hati dan kemarahan inilah yang diekspresikan lewat musik dan gaya berpakaian mereka.

Lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik mereka menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran, serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.

Sejak awal 1970-an, musik punk sudah berkembang di Amerika, munculnya band-band seperti The Ramones, New York Dolls, MC5, Iggy Pop & The Stooges menandai awal munculnya genre punk generasi pertama. Di era yang sama, pertumbuhan punk begitu meluas dikalangan anak-anak muda di Inggris. Kala itu para remaja di Britania mencari media bagi mereka untuk memberontak karena keadaan ekonomi yang payah. Pada masa inilah revolusi punk bermula, para punks tersebut mayoritas berasal dari remaja-remaja working class yang marah terhadap perekonomian dan sistem sosial yang menindas.

Di era tersebutlah muncul band-band seperti, The Sex Pistols, The Clash, The Damned, dan sederet nama lainnya. Kehadiran The Sex Pistols di permukaan menjadi begitu kontroversial sekali karena attitude dan keberanian mereka menentang Kerajaan Inggris.

Punk setelah tahun 70-an ditandai dengan kembali berpindahnya aktivitas punk dari Inggris ke Amerika. Di sanalah scene-scene punk begitu menjamur. Mesikup tidak secara keseluruhan, bentuk pemberontakan telah mengalami banyak perubahan. Pada generasi ini cukup sulit untuk melihat punk semata-mata dengan penandaan imaji seperti fashion, bahkan musik yang hingar bingar. Punk seolah-olah merubah strategi pemberontakan mereka menjadi sebuah gaya hidup tandingan.

Punk di generasi kedua ini memfokuskan pada isu-isu dan aktivitas independen yang lebih politis daripada generasi sebelumnya. Isu-isu seperti feminisme, gender, pemberdayaan komunitas, anti rasisme, anti perang, independensi dan lain-lain merupakan isu komunal yang beredar di antara komunitas punk dalam rangka melawan informasi dari budaya arus utama.

Apa makna Punk buat kalian? (*)

Menyelam Di Pulau Anak Krakatau

Anak Krakatau masih menjadi primadona bagi para wisatawan baik mancanegara, maupun domestik. Anak Krakatau menawarkan pemandangan yang tidak kalah menarik dibanding lokasi wisata lainnya. Dahulu Krakatau merupakan kepulauan berupa pegunungan vulkanik aktif yang berada di Selat Sunda, antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Gunung Krakatau sudah ada sejak zaman purba dan pernah mengalami letusan besar tahun 1883. 

Sebagai gunung berapi, di kawasan pulau Anak Krakatau tidak hanya bisa untuk mendaki dan tetapi juga menjadi spot untuk menyelam. Menyelam di Pulau Krakatau sangat menarik, karena pastinya ada pengalaman baru dengan mengeksplorasi pengaruh vulkanik ke bawah air. Sebagai gunung berapi yang masih aktif, kita juga bisa menikmati sensasi air hangat ketika menyelam di pulau ini.

Pada 22 Juni 2017 lalu, aku dan teman-teman melakukan diving tour ke pulau Krakatau. Di sana banyak pulau-pulau berbatu di bawah gunung berapi. Suasana alam sekitar sangat teduh dengan pepohonan yang hijau menyegarkan mata. Matahari saat itu sangat bersahabat sekali, sinarnya membuat pemandangan semakin indah di mata. Rawa dan airnya pun cukup tenang, dan membuat kami bisa bersantai menikmati alam.

Di kedalaman air, bisa terlihat tumbuh terumbu karang baru di beberapa tempat, penyu hijau juga sering terlihat di sekitar pulau. Terumbu karang tersebut sangat beraneka ragam, mulai dari karang keras hingga yang lunak atau soft corals. Aktivitas gunung api yang masih aktif dikhawatirkan mengganggu pertubuhan biota laut, termasuk terumbu karang. Namun ternyata, di sejumlah tempat, terumbu karang di sekitar pulau anak Krakatau ini sudah mulai tumbuh adn terlihat cantik
Batu-batu besar yang ada dasar laut, juga mulai ditumbuhi oleh soft corals. Bukan itu saja, ikan-ikan dan hewan laut lain juga sangat banyak di sekitar pulau ini.

Bukan hanya di sekitar Anak Krakatau saja. Perairan di sekitar Pulau Panjang juga memiliki terumbu karang yang baru tumbuh dan banyak batu-batu besar di dasar laut. Di sela batu-batu inilah soft coral banyak tumbuh. Anak Gunung Krakatau termasuk wilayah yang dilindungi, dan semoga saja keindahan bawah lautnya bisa bertahan.

Letusan Gunung Krakatau purba yang terjadi pada ratusan ribu tahun lalu telah menghancurkan dan menenggelamkan 2/3 bagian krakatau purba. Akibat letusan tersebut, menyisakan tiga pulau, yaitu Pulau Rakata, Pulang Panjang, dan Pulau Sertung.

Aku sangat menikmati pemandangan bawah laut di gunung paling berbahaya di dunia ini. Termasuk gelembung-gelembung yang terdapat di bawah laut. Gelembung udara tersebut muncul dari dasar batu. Dari kedalaman sekitar dua meter, gelembung-geleumbung udara ini naik ke permukaan. Di bagian bawahnya terasa panas, dan menandakan aktivitas gunung api di bawah lapisan bumi masih terjadi. (*)

Terbuka dan Transparan

Adakah yang belum tahu bahwa setiap tanggal 28 September, seluruh dunia memperingati ‘The International Right To Know Day’ alias ‘Hari Hak untuk Tahu Sedunia’. Gagasan dari perayaan ini adalah menyadarkan masyarakat bahwa mereka memiliki hak dan kebebasan dalam mengakses informasi publik. Aku pernah diundang oleh Kominfo sebagai pembicara di Seminar Nasional KOMTIF 2017. KOMTIF (Komunikasi Kreatif) merupakan acara tahunan yang diadakan KOMMIK (Korps Mahasiswa Manajemen Informasi dan Komunikasi) Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta. Tujuan mendasar dengan diadakannya KOMTIF yaitu untuk mengembangkan skill dan keterampilan di bidang komunikasi. Tahun 2016 KOMTIF mengangkat tema “Facing The New Communication Culture With New Media”. Pada tahun ini KOMTIF hadir kembali, dengan mengusung bidang komunikasi dan kebudayaan.

Pada era digital ini kawula muda memegang peranan vital dalam meneruskan kebudayaan. Perlu banyak wadah untuk mendongkrak semangat muda berbudaya. KOMTIF 2017 mengangkat tema “Membangun Karakter Pemuda dengan Budaya di Era Digital”. Sebagai negara demokrasi, Indonesia turut mendukung hak publik akan informasi. Sejarah keterbukaan informasi publik di Indonesia dimulai sejak reformasi 1998.  Ketika itu seluruh elemen masyarakat menuntut pemerintah agar lebih transparan dan melibatkan warga dalam pengambilan kebijakan, perencanaan dan pengawasan pembangunan.

Hari Hak untuk Tahu Sedunia merupakan momentum bagi badan publik, untuk membuka diri dalam memberikan informasi publik. Perlu dicatata bahwa memperoleh informasi dijamin oleh konstitusi, sesuai dengan Pasal 28F dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengatur hak setiap orang untuk memperoleh dan menyampaikan informasi. Karena itu, Hak atas informasi yang terbuka menjadi pembuka jalan bagi terjaminnya pelaksanaan hak-hak asasi lainnya, seperti hak atas pendidikan, hak untuk hidup sejahtera, hak untuk hidup aman, dan hak warga negara lainnya.

Hari Hak Untuk Tahu Sedunia ini mulai diperingati secara internasional sejak 28 September 2002 di Sofia, Bulgaria. Seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang pesat serta potensi pemanfaatannya secara luas, membuka peluang masyarakat untuk mengakses dan memberdayakan informasi secara cepat dan akurat. Di pemerintahan, pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi juga bisa meningkatkan efisiensi dan transparansi penyelenggaraan pemerintahan. Dalam hal ini pemerintah juga harus dapat menyediakan informasi yang menjadi kebutuhan setiap orang bagi pengembangan pribadi dan lingkungan sosialnya

Keterbukaan informasi publik merupakan sarana dalam mengoptimalkan pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan Badan Publik lainnya dan segala sesuatu yang berakibat pada kepentingan publik. Tata Kelola Informasi Publik sesuai dengan ketentuan yang berlaku diperlukan untuk mengelola informasi publik yang dihasilkan oleh Badan Publik yang merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan masyarakat informasi. Sedangkan untuk menyelenggarakan pemerintahan yang baik (good governance) dan meningkatkan layanan publik yang efektif dan efisien diperlukan adanya ketersediaan informasi publik, kebijakan dan strategi pengembangan e-government.

Seiring majunya perkembangan teknologi dan informasi, ketertutupan badan publik khususnya penyelenggara negara sudah tak relevan dengan tuntutan zaman. Ketertutupan hanya akan menghambat kemajuan serta melemahkan daya saing masyarakat dalam persaingan global. Bayangkan, dengan fasilitas internet, kita bisa melihat ragam kehidupan teman-teman kita di belahan dunia lain. Misalnya lewat blog, dan yang paling populer adalah vlog. Kita juga bisa bercakap-cakap dengan kawan baru dari berbagai dunia, tanpa kesulitan masalah bahasa. Jika zaman sudah semakin terbuka, maka badan publik penyelenggara negara sudah seharusnya ikut terbuka dan transparan. (*) Continue reading “Terbuka dan Transparan”

Mengonversi Energi di Dieng

Sebenarnya sudah cukup lama aku menggeluti dunia fotografi, namun baru belakangan ini aku tergila-gila lagi dengan medium seni yang satu ini. Street photography adalah salah satu jenis fotografi yang aku suka. Karena itu aku mulai mempraktikkan street photography dengan berjalan-jalan ke berbagai daerah. Kali ini aku melancong ke kawasan Dieng, Wonosobo. Salah satu lokasi untuk berburu foto adalah bukit batu Pandang, kawasan ini masing sangat bersih dan terawat. Batu Pandang Dieng juga dikenal dengan nama Bukit Batu Pandang Telaga Warna atau Batu Ratapan Angin.

Di sini kita bisa melihat pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari atas ketinggian. Batu Pandang Dieng mulai terkenal setelah tersebarnya foto kawasan tersebut di berbagai media massa. Kemudian bukit ini selalu didatangi wisatawan dari berbagai daerah. Salah satu kekuatan fotografi adalah membuat Kawasan Batu Pandang yang sebelumnya hanya semak belukar kemudian menjadi aset wisata yang bermanfaat bagi banyak orang. Selain kekuatan fotografi, salah satu berkembangnya tempat ini ialah karena ‘Power of Social Media’.

Kawasan Dieng juga kaya akan mitos dan legenda karena itu dikenal juga dengan Gunung Tempat Bersemayamnya Para Dewa. Berdasarkan dari Catatan Prasasti Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, sekitar abad ke 8 masehi, Dieng merupakan Pusat Pendidikan dan Pusat Peribadatan Masyarakat Hindu Kuno di Tanah Jawa. Hingga kini Dieng masih terselimuti kabut misteri, salah satunya adalah Taman Wisata Alam Telaga Warna yang memiliki Filisofi Tatanan Pesan Moral Jawa yang Sangat Adi Luhung,

Konon Katanya, Telaga Warna ini adalah Salah Satu Tempat Mandinya Dewi Nawang Wulan (7 Bidadari), ini adalah mitos yang cukup populer di masyarakat Dieng. Bagaikan Sebuah Perjalanan Manusia Mencari Makna Hidup, Tempat ini dijadikan sebagai tempat pembentukan karakter manusia, sehingga, di setiap sudut tempat ini mempunyai filosofi sendiri.

Warna air yang ada di Telaga Warna melambangkan lima unsur manusia atau disebut juga ”Sedulur Papat Kalima Pancer ” yang berarti bahwa kita manusia yang terlahir dari kandungan seorang ”ibu” yang kelak akan menjalani kehidupan yang intinya kita harus ingat kepada ”Sang Pencipta”. Perjalanan selanjutnya adalah sebuah cermin besar yaitu Telaga Pengilon yang berarti ”Cermin” untuk kita melihat sisi baik dan buruknya sifat yang ada dalam menjalani kehidupan

Perjalanan selanjutnya adalah menuju Batu Tulis yang berarti kita manusia harus memiliki Pedoman hidup, lalu dilanjutkan lagi menuju Goa Semar yang di depan Goa tersebut terdapat sebuah nama ”Eyang Sabdo Jati” yang artinya kita harus mencari Kesempurnaan Sejati dengan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Dilanjutkan lagi menuju Goa Sumur yang di dalamnya terdapat sebuah mata air yang dinamakan masyarakat setempat dengan nama  ” Tirta Perwita Sari” yang berarti Mata Air Kehidupan, di depan goa tersebut juga terdapat sebuah papan nama yaitu Eyang Kumala Sari yang berarti “Carilah pendamping hidupmu secantik batu permata yang indah tiada duanya dan utama yang penuh cinta dan kasih sayang dan patuh terhadap orang tua.”

Yang terakhir adalah Goa Jaran yang dalam bahasa Jawa berarti Kuda. Di depan Goa tersebut terdapat papan nama ” Resi Kendali Seto ”yang berarti” manusia yang bisa mengendalikan hawa nafsunya. Mitos lainnya di goa ini adalah, dahulu ada seekor kuda yang masuk ke dalam goa tersebut, setelah beberapa lama di dalam, akhirnya kuda tersebut keluar dan dalam keadaan bunting. Nah, loh…. kira-kira siapa tuh yang menghamili kuda itu?

Lokasi lain yang aku datangi adalah Kawah Sikijang yang menjadi wisata unggulan di Dieng Plateau. Kawah Sikidang merupakan cekungan berisi kawah yang timbul karena aktivitas Gunung Berapi di Dataran TInggi Dieng. Kawah Sikidang adalah kawah yang paling jelas terlihat di kawasan itu. Di sekitarnya terdapat beberapa kawah yang bentuknya hanya kecil serta terdapat beberapa kawah yang sudah mati. Kawah-kawah yang kecil ini selalu berpindah pindah seperti kidang (kijang). Karena itu warga sekitar juga menamai kawah ini dengan Kawah Sikidang.

Fotografi merupakan salah satu passion yang aku punya, aku selalu mencoba mengonversi energi yang telah diberikannya, sesuai dengan hukum kekekalan energi yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk energi lain. (*)

Menyelam di Nusa Penida

Ada berapa nama hewan yang disebut berulang-ulang yang kamu ketahui? Kura-kura, kunang-kunang, kupu-kupu, laba-laba, undur-undur, ubur-ubur, cumi-cumi, ada lagi? Ya, lumba-lumba, kali ini aku akan sedikit bercertita tentang satu di antara mamalia laut yang bersahabat dengan manusia. Biasanya kita menyaksikan lumba-lumba hanya di kebun binatang, akuarium, atau bahkan cuma dari film film. Namun bagaimana rasanya melihat lumba-lumba melesat dan menari di laut lepas yang menjadi habitat asli mereka. Pada 9 September 2017, aku berada di Nusa Penida, yang merupakan Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Kawasan ini menjadi salah satu tujuan pariwisata yang memiliki keanekaragaman hayati laut. Kecamatan Nusa Penida memiliki tiga pulau utama yaitu Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan yang semuanya dikelilingi oleh terumbu karang tepi (fringing reef) dengan luas 1600 hektar. Kecamatan Nusa Penida, yang berada di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali ini memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Wilayah ini termasuk dalam segitiga terumbu karang dunia (the global coral triangle) yang saat ini menjadi prioritas dunia untuk dilestarikan.

Di sini kita juga bisa melihat kawanan lumba-lumba yang sedang bermain. Melihat dari dekat ketika mereka berenang riang gembira merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan dan tidak akan pernah terlupakan.
Di berbagai daerah di beberapa negara, Lumba-Lumba, Ikan Paus, dan mamalia laut lainnya menjadi hewan buruan. Meski menuai kritik dari banyak kalangan, tradisi masyarakat berburu mamalia laut di beberapa daerah, diberi izin oleh lembaga konservasi dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Aktivitas kultural ini juga diakui sebagai tradisi secara internasional. Pastinya aku ke sini bukan untuk berburu lumba-lumba, namun hanya untuk mengenal lebih dekat dengan melihat aktivitas mereka di alam bebas.

Di wilayah ini terdapat zona perikanan berkelanjutan yang diperuntukkan agar nelayan Nusa Penida tetap dapat menangkap ikan, tentunya dengan alat tangkap dan cara-cara yang ramah lingkungan. Menangkap ikan dengan cara merusak seperti bom dan potasium-sianida dilarang digunakan di dalam KKP Nusa Penida. Sementara zona lainnya juga berperan dalam melindungi terumbu karang, hutan bakau dan padang lamun yang merupakan ekosistem penting pesisir, dimana ikan dan biota laut lainnya bereproduksi, bertelur, berlindung dan mencari makan di dalamnnya. Jika ekosistem ini rusak maka ikan akan semakin berkurang dan akan berdampak pada nelayan Nusa Penida. KKP Nusa Penida relatif mudah untuk dicapai karena letaknya tidak lebih dari 15 mil laut dari pulau utama Bali. Banyak terdapat sarana tranportasi setiap harinya yang mengantar penumpang dari dan ke kecamatan Nusa Penida baik pada pagi, siang dan sore hari.

Selain lumba-lumba, ada lagi hewan laut yang namanya disebut berulang-ulang, namanya ikan Mola-mola. Di bawah perairan yang biru jernih dengan beragam bentuk terumbu karang berwarna-warni, di lautan Nusa Penida terdapat satu jenis ikan langka ini. Ikan mola-mola bentuknya unik, bulat pipih dengan sirip menjulang ke atas dan ke bawah. Ukuran ikan Mola-mola cukup besar, dengan bobot badan dapat menyentuh angka 1.000 kg. Ikan Mola-mola dewasa, diameter tubuhnya bisa mencapai 3-4 meter. Ikan Mola-mola biasanya mudah ditemui dari jarak dekat setiap bulan Juli-November setiap tahunnya. Makanan utama Mola-Mola adalah Ubur-Ubur.

Mola-mola juga dikenal dengan sebutan ocean sunfish, atau ikan yang gemar mencari sinar matahari. Setelah lama menyelam, ikan ini akan berenang mendekati permukaan laut untuk berjemur. Mola-mola tidak akan bisa hidup di bawah suhu 12 derajat Celcius. Mereka sangat gemar berjemur karena memang alergi air dingin. Setelah menyelam hingga kedalaman 600 meter, ikan ini berjemur dengan cara naik ke permukaan air laut yang tidak terlalu dalam, lalu berjemur sambil tiduran.

Selain berfungsi untuk menghangatkan tubuh, berjemur sangat penting bagi mola-mola. Di kulitnya, terdapat parasit yang otomatis harus dihilangkan. Dengan berjemur, ikan-ikan terumbu karang akan mendekat dan memakan parasit tersebut. Sementara, burung-burung laut yang datang mengerubuti akan mematuk parasit itu.

Meski tubuhnya besar, namun mola-mola menghadapi sejumlah ancaman akibat ulah manusia. Pertama, ia sering tersangkut baling-baling kapal cepat karena gerakan renangnya yang lambat. Kedua, ia seringkali melahap sampah plastik mirip ubur-ubur yang bertebaran di laut. Ketiga adalah perburuan mola-mola masih terjadi karena dianggap sebagai makanan lezat, meski sudah ada pelarangan oleh Uni Eropa. Bahaya lainnya, rusaknya terumbu karang akibat pengeboman ikan tentunya berpengaruh bagi kehidupan mola-mola.

Karena langkanya jenis ikan ini, maka banyak para penyelam yang sengaja datang ke Bali hanya untuk melihat Mola-Mola, namun sayangnya karena antusias mereka yang tinggi, keselamatan ketika menyelam pun kurang diutamakan. (*)

Misteri Danau Seran

Di sela-sela Soekamti Day yang digelar di Banjarmasin, Aku, Deka, dan Isa menyempatkan piknik ke sebuah tempat yang baru-baru ini menjadi destinasi wisata masyarakat Banjarbaru dan Banjarmasin. Tempat bernama Danau Seran tersebut terletak di Jalan Danau Seran Guntung Manggis Landasan Ulin Banjarbaru. Di kawasan Kalimantan Tengah, danau ini memang belum sepopuler dua objek wisata lainnya, seperti Pulau Kembang dan Pasar Terapung. Danau Seran terletak tidak jauh dari pusat kota Banjarbaru tepatnya berada di Jalan Guntung Manggis, tidak jauh dari bandara Syamsudin Noor serta lokasinya ditengah komplek perkampungan.

Di danau seluas 10 hektar ini kita bisa menikmati udara yang sejuk, serta hijaunya alam sekitar. Destinasi Wisata di sini memang tidak terlalu besar, cukup merogoh kocek sebesar Rp 10 ribu per orang jika ingin berkeliling dan menyeberangi danau dengan perahu kecil yang tersedia di sana. Tepat di tengah danau terdapat sebuah pulau kecil dengan pohon yang tinggi, cocok untuk bersantai melepaskan penat. Di danau ini juga disediakan ayunan jaring untuk bersantai dan ada juga beberapa tempat duduk. Di danau ini kita bisa berenang bahkan menyelam, namun sayangnya aku tidak membawa persiapan untuk menyelam. Aku pun segera terjun untuk merasakan sensasi kesegaran air di danau ini. Sialnya, sebelum terjun SD card ku yang berisi lumayan banyak data, terlempar ke danau, lalu hanyut.

Keesokan harinya aku membeli kacamata renang snorkel di toko terdekat, dan kembali ke Danau Seran. Menyelam di danau ini merupakan sensasi tersendiri. Selain warna airnya yang sangat jernih kehijauan, jika melihat ke kedalaman maka akan nampak sekali rerumputan yang tumbuh di dasar danau. Aku pun berusaha keras mencari SD card yang hilang, namun karena lumpur yang tebal di dasar danau dengan kedalaman mencapai 30 meter ini, mencari barang sekecil itu bagaikan mencari jarum di dalam jerami

Dalam hidup memang tidak ada yang kebetulan. Tak berapa lama setelah aku menyelam, tiba-tiba datang Tim SAR yang ternyata sedang latihan menangani bencana. “Wah, masih ada harapan nih, pikirku,” Para anggota SAR yang ramah itu pun tak sungkan membantuku untuk menemukan SD card.

Ada beberapa materi latihan SAR, yaitu beberapa kejadian yang sering dijumpai, misalnya pertolongan terhadap korban tenggelam, evakuasi penumpang kapal, penyeberangan lewat air, dll. Lokasinya yang luas, air yang jernih dengan kedalaman yang ideal sangat pas sebagai tempat dilakukannya beragam teknis dan menu aksi latihan penyelematan bencana banjir. Namun, apa mau dikata, dengan segala upaya SD cardku pun tidak berhasil ditemukan.

Sebenarnya, danau ini adalah sebuh danau yang terbentuk dari aktifitas tambang Intan PT. Galuh Cempaka. Karena sudah terlalu lama ditinggalkan akhirnya terbengkalai, lalu diambil alih oleh alam dan dipoles oleh waktu, serta berganti menjadi destinasi wisata yang indah. Bekas-bekas galian tambang yang terbengkalai menjadikan tempat ini digenangi air dan menjelma menjadi danau. Meski indah dan memikat, namun bekas galian tambang ini juga harus diwaspadai, karena sudah ada beberapa tragedi di danau ini. Keesokan harinya aku baru tahu dari komentar di sosial mediaku, bahwa di danau tersebut juga ada buayanya. Untung saja aku dan Deka selamat ketika menyelam.

Buaya adalah pemburu di perairan tenang. Danau seakan-akan sudah menjadi rumahnya. Buaya sangat mahir bermain petak umpet. Tumbuh-tumbuhan rawa menjadi pelindung untuknya. Buaya pemburu yang tidak berisik dia mendekati mangsanya dengan pelan-pelan. Air yang tadinya tenang tiba-tiba menyeruak dan kalian sudah berada di terkaman buaya. Karena itu jika ke sebuah danau, jangan berenang di luar area yang sudah ditentukan atau di area sungai atau danau dimana sering didapati kemunculan buaya. Dan terutama, jangan memasuki daerah perairan yang airnya keruh pada senja atau malam hari dimana sangat sulit untuk melihat dan binatang sedang aktif berburu.

Buaya sangat pandai menyembunyikan dirinya di air, seringkali yang nampak hanya mata dan hidungnya saja atau tenggelam seutuhnya. Buaya sering menyerang orang-orang yang berada di tepian sungai. Buaya dapat membuat serangan sangat cepat dan tiba-tiba. Apalagi di dalam air, buaya lebih cepat dibandingkan manusia. Jadi sebaiknya jagalah jarak sejauh mungkin dari mereka.

Beruntung, setelah berkunjung ke Banjarbaru ini, aku mendapatkan banyak pengalaman, mulai makanan yang sangat lezat, juga mendapat banyak teman baru, termasuk para anggota SAR. Selain selalu waspada, dan tak berlebihan, jika berkunjung ke Danau Seran, jangan lupa untuk menjaga kebersihan lingkungan. Jangan pernah buang sampah sembarangan, dan yang paling penting jangan pernah membuang SD card sembarangan. (*)

Ketika Bermain Band adalah Aib

Setelah lulus SMP, aku kabur dari asrama dengan mengendarai motor bersama temanku. Tujuanku adalah Yogyakarta. Meski tidak didukung kedua orangtuaku, keputusanku untuk sekolah jurusan musik di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta sudah bulat. Keinginan orangtua agar aku kuliah sebagaimana kedua kakakku, membuatku tertekan. Bagiku musik lebih menyenangkan, karenanya aku tetap ingin melanjutkan ke sekolah musik. Aku memilih Jogja, karena belum ada bayangan tentang Jakarta, kota yang aku tahu saat itu hanya Surabaya, Solo, dan Jogja. Pengetahuanku akan musik sangat minim, musik yang aku tahu hanyalah musik yang didapat di Gereja.

Di SMM aku ingin mendalami bass, namun yang ada di sana adalah jurusan contra bass, terpaksa aku harus menerimanya. “yang penting bisa belajar dasar-dasar bass,” pikirku.
Namun kenyataan berbeda dari yang kubayangkan. Seorang guru menyarankanku, tepatnya ‘memaksa’ agar aku mengambil jurusan alat tiup. Alasannya sungguh nggak masuk akal. Dia bilang bahwa aku lebih cocok main alat tiup, “bibir kamu tebal, kamu punya bakat ke sana, dan nama kamu itu cocok dengan nama pemain terompet handal, Eric Awuy,” kata sang guru mencoba meyakinkanku.

Aku akan bercerita sedikit tentang Eric Awuy, dia adalah trompetis kelahiran Swiss. Eric belajar bermusik sejak dini di bimbing oleh ibunya, Paule Awuy, asal Kanada, yang seorang pianis dan pedagog musik. Diusia 5 tahun, alat musik flute sudah bisa ia mainkan dengan mahir. Ia juga sering bermain bersama orkestra-orkestra lain, seperti National Arts Center, Quebec Symphony Orchestra dan World Youth Orchestra Eric memilih tinggal di Indonesia bermula saat menengok ayahnya yang sakit pada 1995. Di Indonesia, Eric terikat kontrak dengan Twilite Orchestra, dan di tunjuk sebagai tanaga pendidik serta sebagai konduktor Twilite Youth Orchestra). Selain itu ia juga mengajar di Sekolah Musik Amadeus.

“Aku tidak ingin seperti Eric Awuy, aku ingin mempelajari bass!” batinku saat itu. Namun guruku itu menolakmentah-mentah keinginanku, “Saya lebih paham soal musik, sekarang kamu ambil salah satu moushtok itu,” katanya sambil menunjuk beberapa trompet di sana. “Sekarang coba kamu tiup dan mainkan dengan hatimu, dengan perasaanmu!” Beberapa kali aku tiup, tapi nggak bunyi juga, namun setelah guruku mengajarkannya, akhirnya aku bisa membunyikan trompet.

Aku sangat patah hati karena tidak jadi belajar bass, tapi justru dipaksa pindah ke alat musik tiup. Di SMM, ternyata aku merasa salah jurusan. Pilihanku kabur ke Jogja ternyata terpatahkan, karena dalam bayanganku sekolah musik itu adalah sekolah nge-band. Namun setelah melihat teman-teman di sekolahku, dan diberi tahu sosok Eric Awuy, ternyata sekolah musik di SMM adalah untuk belajar orkestra, bukan jadi anak band. Aku tinggal satu kost bersama beberapa temanku, Anton, Agus, dan Puput, semuanya menyukai musik, tapi nggak ada satu pun yang membentuk band, karena aliran mereka adalah musik klasik. Aku tidak pernah menceritakan keluhanku pada mereka, karena malu. Saat itu adalah aib jika siswa SMM hanya bermain band.

Namun aku berpikir bahwa masih banyak impian yang bisa didapat di SMM, meskipun harus belajar alat musik yang tidak aku senangi. Dengan banyaknya alat musik di sekolah,aku berusaha mendapatkan banyak ilmu tentang musik, kebudayaan, dan lainnya.

Suatu ketika aku pernah mencoba protes di sekolah. Aku menganggap keputusan guru tersebut adalah sebuah sistem yang salah. Bagaimana mungkin seorang guru bisa menentukan masa depan muridnya hanya dilihat dari kacamata pribadi, tanpa ada kesempatan untuk berdialog dengan muridnya. Namun aku tidak punya banyak pilihan lain, NEM (nilai kelulusan)-ku pas-pasan, aku juga merasa nggak punya kemahiran lain selain musik, belum lagi rasa gengsi pada teman-teman dan terutama keluargaku. Bagaimana malunya aku jika harus pulang dan bilang kalau selama ini aku salah belajar di sekolah musik.
Sebenarnya ini bukan salah sekolahannya, namun hanya satu oknum guru yang menentukan alat musik apa yang harus aku dalami. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah mempelajari musik secara teori, meski aku sering bertanya dalam hati, apa untungnya sekolah jika yang didapat hanyalah teori?

Satu hal yang harus aku pecahkan adalah bisa tetap nge-band, meski semua teman-teman di sekolah memainkan musik klasik. Aku mencoba bergabung dengan beberapa kelompok dan komunitas di sekolah, namun tidak ada satu pun grup band yang aku impikan di sana. Tapi aku tetap yakin kalau kalau tetep tinggal di Jogja bisa mendapatkan banyak ilmu tentang musik, aku merasa duniaku ada di sini dan takdirku ada di kota ini. (*)

Sowan Ke Ibu Soekamti

Ibu Soekamti adalah sosok penting di balik nama Endank Soekamti. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia dan juga Wali Kelasku semasa belajar di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta. Di SMM aku diluluskan dengan tidak hormat alias Drop Out.
Sebagai guru, ibu Soekamti adalah sosok yang dibesarkan dari lingkungan disiplin yang penuh dengan aturan dan tata krama. Setelah lulus dari IKIP, beliau diangkat menjadi guru dan ditempatkan di SMM. Sebagai seorang guru, tentunya beliau harus menerapkan ilmu juga berikut kedisiplinan lainnya. Sedangkan siswa-siswa di Sekolah Musik tersebut terkenal dengan sifatnya yang ingin ‘bebas’, sehingga untuk menanamkan kedisiplinan di sekolah, Bu Kamti perlu banyak usaha.
Setelah belasan tahun menyandang nama Endank Soekamti, aku belum pernah sowan dengan sang pemilik asli nama Soekamti tersebut. Menjelang perilisan album ‘Salam Indonesia’, aku sengaja mengunjungi Ibu Soekamti dan memperkenalkan para personel Endank Soekamti.

Nomer hp Bu Kamti aku dapat dari grup WA alumni SMM. Meski beberapa kali sempat nyasar, tidak terlalu sulit menemukan rumah beliau, semua tetangga mengenal sosoknya. Bu Kamti sudah lama pensiun, tepatnya 2011 lalu beliau sudah tidak lagi mengajar di SMM. Selama 35 tahun mengajar, sudah ribuan murid yang diajarinya, dan tentunya masing-masing menyimpan kenangan tersendiri. 

Setelah puluhan tahun lamanya, aku sempat kaget ketika pertama kali bertemu, ternyata sosok Bu Kamti tidak seperti yang aku bayangkan. Beliau sangat ramah dan terlihat cantik. Setelah bersalaman dan dipersilakan duduk, aku menanyakan kesibukan beliau saat ini. Dengan santai, Bu Kamti menceritakan kesibukannya, saat ini ia hanya di rumah saja sebagai MC (momong cucu). Dari tiga orang anak, Bu Kamti dikaruniai tiga cucu yang tinggal di rumahnya, dan  dua cucu lainnya. Satu di antara cucu Bu Kamti merupakan lulusan SMM jurusan biola.

Dengan jujur, Bu Kamti mengaku lupa denganku sewaktu di sekolah dulu. Maklum, sudah 35 tahun mengajar tentunya sudah ribuan murid yang ia didik, dan sulit mengingatnya satu persatu. Mungkin Bu Kamti lupa karena selama di sekolah kepalaku selalu gundul, maklum saat itu aku masih jadi skinhead, hehe.

Perbincangan semakin cair ketika Bu Kamti bercerita bahwa suatu ketika ia disodori majalah oleh Pak Wardani yang juga guru di SMM, “ibu sudah baca ini?” Di majalah yang terbit skala nasional tersebut ditulis tentang sosok Endang dan Soekamti. Keduanya kontras, jika Endang adalah sosok yang halus, baik, dan ramah, Soekamti sebaliknya, galak. Belum lagi ada tetangganya yang mendengar di radio yang menceritakan asal muasal nama band Endank Soekamti.
“Lha, ibu nggak tahu, bahkan sampai dikomentari tetangga yang bilang, kalau ngajar jangan galak-galak, bu!” katanya.

Sontak aku pun mati gaya mendengarkan ceritanya tersebut, untungnya Dory segera memberikan tanggapan, “wawancara itu hanya main-main kok, bu, hehehe.” katanya dan aku segera mengiyakan pernyataannya sambil senyam-senyum.
“Ya saya kaget, kok Erix bisa begitu  ya, tapi nggak apa-apa lah, saya doakan semoga jadi orang besar”. ujar Bu Kamti melegakan perasaanku. 

Kami pun lanjut berbincang-bincang tentang kenangan semasa sekolah di SMM. Seperti yang diakui Bu Kamti, dulu aku termasuk siswa yang rajin di sekolah, bahkan ruang praktek musik sudah seperti kos-kosan, kita makan dan tidur pun di sana, tapi kalau pas masuk kelas malah selalu terlambat. Satu-satunya guru yang ingin menerapkan disiplin di sekolah ya cuma Bu Kamti. Tapi dasar sekolah seni di zamannya, anak-anak susah diatur, apalagi seperti yang dikatakan Bu Kamti, mata pelajaran Bahasa Indonesia dan lainnya di luar pelajaran musik itu dipandang sebelah mata. Siswa saat itu selalu pilih-pilih mata pelajaran. Selama puluhan tahun mengajar di SMM ia selalu bertemu murid yang hampir sejenis, ingin bebas. Bayangkan yang daftar masuk ke sana ada ratusan siswa, tapi yang lulus mungkin hanya puluhan. ;p

“kalau guru lain bisa santai mengikuti alur siswanya, nah kalau di mata saya nggak bisa seperti itu, umumnya siswa di sekolah musik sudah menganggap dirinya calon seniman, padahal kalau bagi saya yang penting harus menurut aturan yang ada, nah Erix ini termasuk yang suka menentang aturan,” katanya.

“Siapa yang mampu datang ke sekolah tepat jam 7 pagi? Biasanya setiap jam kemudian murid-murid baru berdatangan, sampai hampir bubar setengah 9, baru kelas penuh, dan besoknya seperti itu lagi, hampir terjadi setiap hari,” kenangnya. 
“Sebenarnya dulu itu saya galaknya seperti apa sih,” tanya beliau. Aku pun tidak bisa menjawab karena memang banyak hal yang terlupakan di saat-saat sekolah dulu.
“Ya kalau begitu saya mohon diikhlaskan kalau dulunya galak, tapi kalau nggak galak mungkin sekarang Erix cuma jadi musisi biasa aja,” ujarnya lalu kami semua pun tertawa.

Beliau mengaku pernah menonton Endank Soekamti di televisi tapi tidak mengenali Erix itu yang mana. Bu Kamti juga bercerita kalau sempat dipanggil sebuah stasiun televisi nasional untuk menjadi narasumber, tapi kebetulan saat itu beliau berhalangan hadir, karena sedang kurang sehat.

Lalu kami bercerita banyak hal, di antaranya beliau masih sering bertemu beberapa murid-muridnya, mereka juga kerap mampir ke rumah beliau. Aku juga sempat menceritakan tentang DOES University dan minta doanya dari beliau.
Setelah lulus dari IKIP, Bu Kamti melamar pekerjaan untuk menjadi guru. Ketika proses wawancara, ia mendapat penempatan di Semin, Gunungkidul. Ia juga mendapat tawaran lain, bagaimana kalau mengajar di Bantul? Mengajar di Semin yang ini bisa berjalan kaki, juga bisa naik sepeda. Semin yang dimaksud ternyata Sekolah Musik Indonesia, sebelum bernama SMM. Ia pun penasaran, dan sorenya langsung melihat lokasi sekolah tersebut. Sekolah Musik Indonesia saat itu dikelola langsung dari pemerintah pusat di Jakarta, dan ketika Bu Kamti mulai mengajar di sana tahun 1976, sekolah tersebut kemudian ditarik Kanwil Yogyakarta.
Selama dua tahun pertama mengajar, Bu Kamti tidak diberi tugas apapun. Ia tidak diberi pekerjaan oleh kepala sekolah di sana. “Ya, dua tahun hanya datang, duduk, dan absen. Akhirnya saya sampai lapor ke Kanwil, dan katanya yang penting ikuti aturan yang ada di SMM,” ujarnya 

Setelah Kanwil mulai turun tangan, beliau baru diberi tugas mengajar. Bu Soekamti mengajar di sana hingga beliau pensiun, sungguh pengabdian yang luar biasa untuk dunia pendidikan.
Di akhir perbincangan, beliau melontarkan arti di balik nama Soekamti yang diberikan orangtuanya. Hal tersebut membuatku kaget dan merasa beruntung, sebab selama ini ternyata aku sendiri tidak tahu. Ia mengatakan bahwa, SU artinya ‘indah’, KAM berarti ‘datang’, dan TI adalah nama Jawa untuk perempuan. Bu Kamti mempunyai saudara kandung laki-laki yang bernama Soekamto. Maka Soekamti artinya adalah ‘Kedatangan Yang Membawa Keindahan’.
Saat ini di masa pensiunnya, beliau ingin hidup santai. Sebelumnya ia sempat dipanggil lagi oleh SMM untuk kembali mengajar, namun ia sudah tidak berkenan. Terimakasih Bu Soekamti, engkau adalah inspirasi bagi kita semua. (*)