Musik Telaga Murni, Bangkit Karena Orang Kesurupan

Lombok Timur memiliki banyak potensi sumberdaya alam mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, dan pariwisata. Selain itu wilayah ini juga memiliki kekayaan seni dan budaya yang luar biasa. Sejak zaman dahulu masyarakat Benyer mengenal kesenian yang disebut Musik Telaga Murni. Benyer adalah sebuah dusun yang terletak di ujung timur pulau Lombok, tepatnya di Desa Telaga Waru Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Musik Telaga Murni ini sempat hilang dan tenggelam, karena tidak ada generasi penerus yang mendengar dan mengenal alat-alat musik ini dalam kurun waktu yang sangat lama.

 Untuk mendengar langsung bagaimana musik ini dimainkan, Tim Trip Salam Indonesia datang ke Dusun Benyer. Desanya sepi dan cukup lenggang, kami pun masuk ke dalam gang, hingga bertemu rumah sederhana. Rumah tersebut merupakan sebuah sanggar seni. Lembaga Seni Menduli Selayar merupakan tersebut fokus pada pengelolaan kebudayaan berupa pengembangan dan pelestarian kesenian tradisional. Di sanggar tersebut sudah ada tiga orang yang menunggu Tim Trip Salam Indonesia, satu di antaranya Bapak Rihin. Setelah dipersilakan duduk di teras, Bapak Rihin yang lahir di Benyer pada tahun 1966 bercerita tentang musik tradisional daerahnya. Beliau merupakan merupakan generasi penerus Musik Telaga Murni.

Beliau menjelaskan bahwa sebutan Musik Telaga Murni diambil dari nama sebuah telaga yang ada di Dusun Benyer. Sumber mata air Telaga Murni itu dikenal dengan nama Pamualan Benyer. Mata air ini sering digunakan untuk acara-acara ritual adat, seperti acara Perkawinan, Khitanan, Otonan (potong rambut), hingga Besuq Beras (cuci beras). Masyarakat meyakini bahwa sumber mata air tersebut dapat memberikan kehidupan serta kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya. Saat acara-acara tersebut Musik Telaga Murni digunakan sebagai pengiringnya.

Setelah lama tenggelam dan tidak terdengar di masyarakat, Musik Telaga Murni pun mulai bangkit. Kebangkitan kembalinya musik ini tidak biasa, karena dimulai dengan adanya orang Kebangru’an (kerasukan roh leluhur). orang kesurupan tersebut minta diiringi Musik Telaga Murni. Melalui proses kebangru’an inilah Musik Telaga Murni lahir kembali dengan nama Kebangru’an. Sejak peristiwa kerasukan tersebut Musik Tradisional Kebangru’an mulai dikenal oleh generasi selanjutnya. Kini sudah ada generasi penerus yang belajar memainkan kembali alat-alat musik yang telah lama ditinggalkan. Tujuannya agar Musik Tradisional Kebangru’an dapat dikembangkan dan dilestarikan.

Menurut sejarah, musik tradisional ini dibawa oleh para saudagar yang berasal dari Timur Tengah. Mereka banyak yang mendatangi Pulau Lombok sambil menyebarkan agama Islam. Penyebaran ajaran-ajaran tauhid sebagai syiar agama Islam dengan cara menghibur lewat kesenian berupa syair-syair Islami yang dipadukan dengan alat-alat musik ini dianggap lebih mudah. Para saudagar tersebut mulai berdatangan pada abad ke XIV saat jalur perdagangan mulai ramai menghubungkan seluruh wilayah kepulauan Nusantara.

Dalam setiap proses pementasan dan ritual Musik Kebangru’an ini, para pemusik berusaha untuk selalu merekam kembali syair, tembang, dan gending yang bertemakan dakwah agama Islam maupun nilai-nilai kebudayaan. Penampilan grup musik ini terdiri dari beberapa instrumen; vokal (nyair dan hikayat), biola, mandolin, gambus, kendang, rincik, gidur, gong dan suling. Karena datang mendadak, para pemain musik ini sedang tidak lengkap. Akhirnya Tim Trip Salam Indonesia menikmati sajian Musik Kebangru’an yang dimainkan hanya dengan lima personel. Mereka bernyanyi, menembangkan syair, dan memainkan alunan musik bersama-sama.

 

Salam Indonesia. (*) 

One Reply to “Musik Telaga Murni, Bangkit Karena Orang Kesurupan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *