Moke: Simbol Adat, Pergaulan dan Persaudaraan Masyarakat Flores

Hampir seperti Pohon Kelapa, dari ujung satu hingga ke ujung yang lain dari pohon Enau (palem) dan Siwalan (lontar) bisa kita manfaatkan. Satu di antaranya untuk membuat minuman tradisional yang disebut Moke, yang kalau di Jawa biasa dikenal dengan legen. Moke adalah minuman khas dari Flores yang biasa dikonsumsi sehari-hari oleh banyak kalangan. Moke dipercaya memiliki khasiat menyehatkan dan menghangatkan tubuh.

Banyak masyarakat di Desa Legelapu, Kecamatan Aimere, NTT membuat moke sebagai mata pencarian pokok. Satu di antaranya adalah Hasper, pria yang berusia hampir 50 tahun ini telah membuat moke sejak beberapa generasi silam. Proses pembuatannya masih tradisional yang diwariskan secara turun temurun dan masih dilakukan sampai sekarang.

Moke sendiri ada dua jenis, yang pertama moke putih yang ketika baru diturunkan dari pohon rasanya manis, dan setelah di fermentasi selama 2-3 hari, rasanya menjadi kecut. Jenis yang kedua adalah moke arak yang dibuat dari moke putih yang difermentasi, kemudian dimasak, dan disuling untuk diambil kadar alkoholnya. Dengan melakukan penyulingan akan menghasilkan moke berkualitas no 1 dengan kadar alkohol paling tinggi.

Setelah dimasak dengan tungku dan kayu bakar, alkohol yang sifatnya lebih ringan dari air akan cepat menguap. Uap bening itulah yang kemudian disebut Sopi. Semakin panjang bambunya, maka akan semakin kuat kadar alkoholnya. Selain sopi, masih banyak varian minuman lain yang diolah menggunakan campuran rempah, jahe, dll.

Moke sangat mudah ditemui, mulai di berbagai sudut kota hingga di pelosok desa. Harganya berbeda tiap level, untuk yang terendah level/kelas 3 per botol sedang harganya Rp.10.000, kelas 2 Rp.25.000, kelas 1 Rp. 50.000, dan kelas super Rp. 100.000. Anak muda di Aimere memiliki tradisi minum moke, terutama ketika berkumpul atau menjamu teman yang datang. Di sini tidak ada moke yang dioplos dengan minuman lain, semua murni dari pohonnya.

Moke dengan kualitas terbaik biasa disebut BM atau bakar menyala. Moke ini biasanya disajikan pada acara-acara adat. untuk pembuka forum-forum adat, moke dan sopi juga biasa disajikan. Setelah berumur 17 tahun, seseorang boleh minum moke dan diberikan hak bersuara mengutarakan pendapatnya dalam forum-forum adat.

Semua upacara dari pemerintahan seperti pelantikan kepala desa, hingga acara rumahan; kawinan, sunatan, dll selalu ada moke. Hal ini sudah jadi tradisi wajib. Pada setiap acara biasanya sudah sudah ada seksi penanggung jawab moke.

Selain menjadi syarat wajib upacara adat, minuman tradisional warisan leluhur ini mempunyai khasiat yang berbanding terbalik dengan ‘image’nya, yaitu mengobati bayi. Mereka biasa memberi bayi yang sakit atau rewel dengan tiga tetes moke, lalu mengolesi perutnya dengan sopi.

 

Sebuah tradisi yang diwariskan memang bukan tanpa alasan. Namun tradisi itu akan terputus dengan sendirinya jika tidak disepakati, sedangkan kesepakatan terjadi karena diangap benar. Itulah inti kebudayaan. Di luar fungsi dan tujuannya, sebenarnya adalah penyalahgunaan belaka. Para pembuat moke dan sopi di Aimere Flores ini berharap sekali agar ada aturan Perda, seperti Bali dengan araknya.

Moke adalah simbol adat, persaudaraan dan pergaulan bagi masyarakat Flores. Jika moke dan sopi menghilang, maka upacara adat juga pasti menghilang, aset budaya pun berkurang. Di saat itulah identitas kita akan mudah tergantikan dengan budaya asing.

Moke dan Sopi adalah aset Indonesia, Warisan asli bangsa Indonesia.

Salam Indonesia! (*)

 

2 Replies to “Moke: Simbol Adat, Pergaulan dan Persaudaraan Masyarakat Flores”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *