Menyelam di Nusa Penida

Ada berapa nama hewan yang disebut berulang-ulang yang kamu ketahui? Kura-kura, kunang-kunang, kupu-kupu, laba-laba, undur-undur, ubur-ubur, cumi-cumi, ada lagi? Ya, lumba-lumba, kali ini aku akan sedikit bercertita tentang satu di antara mamalia laut yang bersahabat dengan manusia. Biasanya kita menyaksikan lumba-lumba hanya di kebun binatang, akuarium, atau bahkan cuma dari film film. Namun bagaimana rasanya melihat lumba-lumba melesat dan menari di laut lepas yang menjadi habitat asli mereka. Pada 9 September 2017, aku berada di Nusa Penida, yang merupakan Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Kawasan ini menjadi salah satu tujuan pariwisata yang memiliki keanekaragaman hayati laut. Kecamatan Nusa Penida memiliki tiga pulau utama yaitu Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan yang semuanya dikelilingi oleh terumbu karang tepi (fringing reef) dengan luas 1600 hektar. Kecamatan Nusa Penida, yang berada di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali ini memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Wilayah ini termasuk dalam segitiga terumbu karang dunia (the global coral triangle) yang saat ini menjadi prioritas dunia untuk dilestarikan.

Di sini kita juga bisa melihat kawanan lumba-lumba yang sedang bermain. Melihat dari dekat ketika mereka berenang riang gembira merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan dan tidak akan pernah terlupakan.
Di berbagai daerah di beberapa negara, Lumba-Lumba, Ikan Paus, dan mamalia laut lainnya menjadi hewan buruan. Meski menuai kritik dari banyak kalangan, tradisi masyarakat berburu mamalia laut di beberapa daerah, diberi izin oleh lembaga konservasi dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Aktivitas kultural ini juga diakui sebagai tradisi secara internasional. Pastinya aku ke sini bukan untuk berburu lumba-lumba, namun hanya untuk mengenal lebih dekat dengan melihat aktivitas mereka di alam bebas.

Di wilayah ini terdapat zona perikanan berkelanjutan yang diperuntukkan agar nelayan Nusa Penida tetap dapat menangkap ikan, tentunya dengan alat tangkap dan cara-cara yang ramah lingkungan. Menangkap ikan dengan cara merusak seperti bom dan potasium-sianida dilarang digunakan di dalam KKP Nusa Penida. Sementara zona lainnya juga berperan dalam melindungi terumbu karang, hutan bakau dan padang lamun yang merupakan ekosistem penting pesisir, dimana ikan dan biota laut lainnya bereproduksi, bertelur, berlindung dan mencari makan di dalamnnya. Jika ekosistem ini rusak maka ikan akan semakin berkurang dan akan berdampak pada nelayan Nusa Penida. KKP Nusa Penida relatif mudah untuk dicapai karena letaknya tidak lebih dari 15 mil laut dari pulau utama Bali. Banyak terdapat sarana tranportasi setiap harinya yang mengantar penumpang dari dan ke kecamatan Nusa Penida baik pada pagi, siang dan sore hari.

Selain lumba-lumba, ada lagi hewan laut yang namanya disebut berulang-ulang, namanya ikan Mola-mola. Di bawah perairan yang biru jernih dengan beragam bentuk terumbu karang berwarna-warni, di lautan Nusa Penida terdapat satu jenis ikan langka ini. Ikan mola-mola bentuknya unik, bulat pipih dengan sirip menjulang ke atas dan ke bawah. Ukuran ikan Mola-mola cukup besar, dengan bobot badan dapat menyentuh angka 1.000 kg. Ikan Mola-mola dewasa, diameter tubuhnya bisa mencapai 3-4 meter. Ikan Mola-mola biasanya mudah ditemui dari jarak dekat setiap bulan Juli-November setiap tahunnya. Makanan utama Mola-Mola adalah Ubur-Ubur.

Mola-mola juga dikenal dengan sebutan ocean sunfish, atau ikan yang gemar mencari sinar matahari. Setelah lama menyelam, ikan ini akan berenang mendekati permukaan laut untuk berjemur. Mola-mola tidak akan bisa hidup di bawah suhu 12 derajat Celcius. Mereka sangat gemar berjemur karena memang alergi air dingin. Setelah menyelam hingga kedalaman 600 meter, ikan ini berjemur dengan cara naik ke permukaan air laut yang tidak terlalu dalam, lalu berjemur sambil tiduran.

Selain berfungsi untuk menghangatkan tubuh, berjemur sangat penting bagi mola-mola. Di kulitnya, terdapat parasit yang otomatis harus dihilangkan. Dengan berjemur, ikan-ikan terumbu karang akan mendekat dan memakan parasit tersebut. Sementara, burung-burung laut yang datang mengerubuti akan mematuk parasit itu.

Meski tubuhnya besar, namun mola-mola menghadapi sejumlah ancaman akibat ulah manusia. Pertama, ia sering tersangkut baling-baling kapal cepat karena gerakan renangnya yang lambat. Kedua, ia seringkali melahap sampah plastik mirip ubur-ubur yang bertebaran di laut. Ketiga adalah perburuan mola-mola masih terjadi karena dianggap sebagai makanan lezat, meski sudah ada pelarangan oleh Uni Eropa. Bahaya lainnya, rusaknya terumbu karang akibat pengeboman ikan tentunya berpengaruh bagi kehidupan mola-mola.

Karena langkanya jenis ikan ini, maka banyak para penyelam yang sengaja datang ke Bali hanya untuk melihat Mola-Mola, namun sayangnya karena antusias mereka yang tinggi, keselamatan ketika menyelam pun kurang diutamakan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *