Menyelam di Donggala, Orang Lokal Dilarang Masuk?

Donggala adalah salah satu destinasi wisata di Sulawesi Tengah. Di sana ada satu tempat yang sangat indah dan masih tergolong asri, Pantai Tanjung Karang namanya. Pantai ini begitu indah, airnya yang jernih, ditambah dengan pesisir pantai yang luas dan pasir putih yang sangat halus membuat kita betah berlama-lama di sini.

Pantai ini sering digunakan oleh para penyelam untuk melihat dan menikmati keindahan bawah lautnya. Pantai Tanjung Karang memang sudah menjadi pesona tersendiri bagi penyelam, baik dari dalam maupun luar negeri.

Setelah delapan tahun, akhirnya aku kembali lagi ke pantai yang jaraknya memakan waktu sekitar 40 menit dari kota Palu ini. Di Tanjung Karang, aku menyelam bersama Dedy, yang merupakan guru diving pertamaku. Kini Mas Dedy memiliki dan mengelola Dive Center sendiri. Di Tanjung Karang kami juga sempat melakulan wreck dive, yakni menyelam di bangkai kapal yang lama karam di lautan.

Ada dua spot kapal karam (wrecks) di sini. Yang satu kedalamannya 50m dikenal dengan nama Gili Raja wreck, dan satunya lagi yang berkedalaman 30m dinamai Mutiara wreck. ‘Gili Raja’ adalah nama kapal yang kini beristirahat di kedalaman perairan Tanjung Karang. Lokasinya berada di sebelah selatan pesisir pantai nya. Bunga-bunga karang yang tumbuh di bagian-bagian kapal yang memiliki panjang 80 meter ini menjadi obyek pemandangan yang cantik bagi para penyelam. Belum lagi biota laut yang menjadikan bangkai kapal ini tempat tinggal mereka. Keaneka ragaman dan keunikan bentuk tubuh makhluk-makhluk laut ini memberikan panorama tersendiri.

Bila Gili Raja berada di kedalaman 40 meter, maka ‘wreck’ kapal bernama ‘Mutiara’ berada di kedalaman yang lebih rendah, sekitar 20 meter. Meski tak terlalu dalam, pemandangan indah masih tetap bisa disaksikan di bangkai kapal yang tergolek di jarak 2 Km dari bibir pantai ini.

Di Pantai Tanjung Karang kita bisa menemukan warna-warni kehidupan terumbu karang yang alami dengan ikan-ikan hias dan biota laut lainnya di sekitarnya. Di Pantai ini terdapat 17 gugus terumbu karang di radius sekitar 20 kilometer. Gugusan terumbu karang terdekat dengan bibir pantai bernama House Reef yang hanya berjarak dua meter dari bibir pantai. Selain House Reef, Gugusan terumbu karang yang dapat kamu nikmati di Pantai Tanjung Karang adalah Rocky Point, Natural Reef, Irmis Block, Anchor Reef, Green Wall dan juga Alex Point.

Aku juga sempat bertemu Sotong dan mengikuti petualangannya di bawah laut. Sotong adalah hewan laut dari ordo Sepiida. Mereka termasuk kelas Cephalopoda, yang juga di dalamnya termasuk cumi-cumi, octopodes, dan nautiluses. Sotong memiliki cangkang internal yang unik, atau cuttlebone, dan oleh karena itu sotong juga sering disebut sebagai cuttlefish. Tetapi, walaupun namanya ikan, sotong bukanlah ikan melainkan moluska.

Di wilayah Pantai Tanjung Karang juga banyak dijumpai para wisatawan dari mancenegara, baik sekedar berkunjung untuk menikmati pantai dan wisata bawah laut, bahkan ada juga tinggal menetap di sana. Anehnya, di Dive Center milik orang asing di sana, ada aturan yang tidak fair. Terlihat ada praktik monopoli dimana wilayah yang sudah dikuasai pihak asing ini mencoba mengeksploitasi potensi wisatanya. Di sana ada aturan ‘orang lokal dilarang masuk’ yang cukup mengganggu.

Di DOES episode 569, aku bercerita dan membeberkan fakta yang terjadi di Donggala, di antaranya bagaimana orang lokal jadi terpinggirkan, dan adanya oknum warga lokal yang membuat rusak kekayaan bawah laut di sana. Video tersebut tentunya memancing komentar yang beragam dari penonton, ada yang marah, kecewa, dan ada juga yang menyemangati dan mencoba memberikan solusi.

Seperti komentar yang diberikan Sholahuddin misalnya, ia mencoba untuk urun rembug lewat delapan point, di antaranya agar masyarakat di sana membuat paguyuban, lalu dari paguyuban operator/ pemilik kapal melakukan patungan untuk mooring bouy di titik-titik yang disepakati untuk angkering di bouy. Mooring buoy adalah tambat apung yang digunakan untuk tambatan kapal, dan sebagai marka untuk menjatuhkan jangkar. Selanjutnya adalah membuat larangan membuang jangkar, dan angkering dilakukan di tali bouy yang sudah ada. Ia mengatakan bahwa di Karimun Jawa sudah menerapkan ini. Movement ini menurutnya harus berasal dari bawah (operator kapal/pemilik) jika ingin hasil yang efektif, bukan dari instasi pemerintah dan lain-lain, karena nggak akan rasa memiliki dan ujung2nya bouynya bisa dicuri. Untuk menerapkan ini harus dibuat aturan main yang berlandaskan sustainability.

Komentar lainnya datang dari Bani Irsyad yang menyampaikan undeg-unegnya agar isu ini diviralkan di medsos lain selain youtube. Lalu mention berjamaah ke Bu Menteri Susi. Sedangkan Nadia Mirakusuma menceritakan pengalamannya kalau dia pernah membahas resort itu kepada pakdenya yang kebetulan pernah menjabat sebagai Sekertaris Menteri Kelautan mendampingi Bu Susi, dan sekarang menjabat sebagai Dirjen Kelautan. Perempuan asal Surabaya ini mengatakan bahwa jajaran di kementerian sudah mendengar kabar tersebut. Saat ini mereka sedang menyelidiki sebelum menindaklanjuti. Nadia berharap agar warga lokal bisa berjaya di tanah mereka sendiri.

Sementara itu seseorang berisnisial DIZ berujar kalau seharusnya memang ada edukasi ke penduduk lokal. ia mengaku pernah ngobrol dengan penduduk lokal sekitar Tebing Breksi, Yogyakarta. Dulu juga banyak sekali pertentangan antara pengelola tebing dan penduduk. Tapi dengan edukasi manfaat bisa dilakukan sampai hari ini. Dan penduduk bisa merasakannya.

Ini yang aku harapkan dari DOES, semua bisa berbuat sesuatu sesuai kapasitasnya masing-masing, agar perubahan ke arah yang lebih baik bisa terus terjadi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *