MENGULIK SASANDO DARI PULAU ROTE

Pagi ini kami disambut oleh matahari pagi di pantai Nembrala.

Sebuah pantai yang menjadi destinasi unggulan pulau Rote.

Pantai Nembrala masih sangat bersih dan memiliki ombak yang tenang.

Kami menikmati pagi hari dengan merasakan masakan dari chef kita, yaitu Trio dengan menu nasi pecel.

Tidak lupa olahan seafood yang kami cari semalam di pantai Nembrala.

Selesai mengisi amunisi dengan sarapan, kami segera beberes basecamp untuk melanjutkan perjalanan.

Kami berpamitan dengan GPS yang sudah menemani perjalanan kami di daerah pantai Nembrala.

Rasanya senang bertemu dengan keluarga baru di Pulau Rote.

Kami segera menuju ke rumah pengrajin Sasando yaitu keluarga Bapak Herman Adolf Ledo.

Lokasinya terletak di Rote Ndao.

Rumah pengrajin Sasando ini berada dipinggir jalan utama, sehingga tidak sulit untuk menemukannya.

Di rumah ini terdapat banyak jenis Sasando dan memiliki variasi ukuran.

Sasando terbuat dari bahan alami yaitu bambu dan daun pohon nira (semacam lontar) kecuali bagian senar dan kawat halusnya.

Berdasarkan struktur nada, sasando dapat dibedakan menjadi dua jenis.

Pertama, sasando gong dengan sistem nada pentatonik memiliki dua belas dawai. Sasando jenis ini biasanya hanya bisa digunakan untuk memainkan lagu-lagu tradisional masyarakat di Pulau Rote.

Kedua adalah sasando biola. Sasando ini memiliki sistem nada diatonik dengan jumlah dawai mencapai 48 buah. Kelebihan dari sasando ini terletak pada jenis lagu yang bisa dimainkannya lebih bervariasi.

Cara memaikannyapun unik, yaitu dengan dipetik menggunakan kedua tangan dengan arah yang berlawanan.

Di tempat ini kami melihat langsung pertunjukan sasando yang indah dilengkapi dengan syair syair dari Pulau Rote.

Uniknya lagi, pemain sasando biasanya menggunakan Topi Ti’i Langga sebagai aksesoris saat perform.

Di rumah inilah salah satu budaya di Indonesia terus dilestarikan.

Semoga terus lestari dan tetap menjadi Ikon Pulau Rote!

Sore yang cerah adalah waktu yang tepat untuk merasakan kenikmatan mandi di alam bebas.

Kami segera menuju ke mata air Oemau yang terkenal dengan kejernihannya.

Kesegaran dari kolam tersebut membuat kita kembali fresh kembali. Apalagi cuaca sore itu sangat panas.

Selesai menikmati keindahan musik dari Pulau Rote dan mata air Oemau, kami menikmati sore di Pantai Batu Termanu.

Batu Termanu sebenarnya merupakan 2 buah bukit berukuran sangat besar yang berada di sebuah tanjung dan di lepas pantai. Dua bongkahan batu besar tersebut yaitu Batu Suelai, yang disebut-sebut berkelamin pria dan Batu Hun berkelamin wanita.

Sore itu kami menikmati senja sambil duduk duduk bersantai di rerumputan hijau yang membentang.

Tidak terasa esok kami sudah harus meninggalkan Pulau Rote, dengan memiliki banyak cerita di dalamnya.

Terimakasih sambutannya Pulau Rote!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *