MENGUNJUNGI KAPAL JONG DOBO

Selalu ada kejutan saat melakukan camping, seperti pagi ini.

Ketika bangun tidur dan mata masih setengah terbuka, kami melihat para nelayan yang sedang bekerja menangkap ikan.

Mereka tampak asik dengan jalanya di bagian mulut pantai. Dari situ kami mencari tahu apa yang mereka lakukan dan ikut bergabung dengan mereka.

Kami segera ikut nyemplung ke dalam laut, merasakan menangkap ikan bersama para nelayan.

Tidak sulit rasanya berbagi cerita dengan mereka, karena warga flores memang baik hati dan ramah.

Ada yang unik dan bisa diarsipkan pagi ini, yaitu mereka mencari ikan dengan pukat tradisional.

Pukat adalah semacam jaring yang besar untuk menangkap ikan, alat ini dioperasikan secara vertikal dengan menggunakan pelampung di sisi atas dan menggunakan alat berat di bawahnya. Sehingga jaring jaring tersebut melingkari kumpulan ikan dan dapat mencegahnya melarikan diri.

Tangkapan pagi ini bisa digunakan untuk bekal memasak hari ini.

Rasanya sangat puas berhasil mendapatkan ikan dari usaha sendiri.

Kami yang sudah basah, akhirnya melanjutkan berenang dan bermain air bersama.

Sorenya kami menuju ke kapal Jong Dobo yang terkenal dengan legendanya. Kami ingin membuktikan kebenaran kapal yang terkenal itu.

Kami melalui perjalanan yang cukup panjang menuju ke lokasi Jong Dobo, sekitar 45 menit dengan mobil. Namun perjalanan disini cukup bagus dan mulus.

Selain itu sudah ada papan penunjuk arah, sehingga tidak membingungkan.

Sampai di sana kami menunggu cukup lama di mobil karena hujan lebat.

Seusai hujan reda, kami bertemu dengan juru kunci kapal Jong Dobo.

Kami dibukakan pintu oleh juru kunci Jong Dobo yang sudah lengkap berpakaian adat dan diajak masuk ke dalam hutan. Hutan tersebut adalah tempat diletakkannya kapal Jong Dobo.

Di dalam hutan kami diceritakan legenda kapal Jong Dobo.

Cerita kapal Jong Dobo sudah terkenal dari mulut ke mulut. Dulunya kapal ini melakukan sebuah perjalanan, namun dikutuk mengecil kecil karena melanggar beberapa aturan yang mereka buat sendiri, yaitu hukum adat, hukum agama dan hukum alam.

Selalu menarik mendengarkan legenda, selalu ada pesan moral yang disampaikan.

Salah satunya adalah “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, tidak hanya itu kegenda ini juga sarat makna seperti aturan yang sudah dibuat seharusnya ditaati dengan sebaik baiknya.

Hari itu kami mendapatkan pelajaran berharga, tidak hanya untuk perjalanan kali ini, namun untuk kehidupan selanjutnya.

Tidak hanya itu, melihat nelayan yang masih menggunakan pukat tradisional menyadarkan kita pentingnya menjaga ekosistem.

Setelah puas bercengrama di Jong Dobo saatnya kembali ke basecamp.

Ikan tangkapan pagi tadi siap untuk dinikmati!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *