Mengonversi Energi di Dieng

Sebenarnya sudah cukup lama aku menggeluti dunia fotografi, namun baru belakangan ini aku tergila-gila lagi dengan medium seni yang satu ini. Street photography adalah salah satu jenis fotografi yang aku suka. Karena itu aku mulai mempraktikkan street photography dengan berjalan-jalan ke berbagai daerah. Kali ini aku melancong ke kawasan Dieng, Wonosobo. Salah satu lokasi untuk berburu foto adalah bukit batu Pandang, kawasan ini masing sangat bersih dan terawat. Batu Pandang Dieng juga dikenal dengan nama Bukit Batu Pandang Telaga Warna atau Batu Ratapan Angin.

Di sini kita bisa melihat pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari atas ketinggian. Batu Pandang Dieng mulai terkenal setelah tersebarnya foto kawasan tersebut di berbagai media massa. Kemudian bukit ini selalu didatangi wisatawan dari berbagai daerah. Salah satu kekuatan fotografi adalah membuat Kawasan Batu Pandang yang sebelumnya hanya semak belukar kemudian menjadi aset wisata yang bermanfaat bagi banyak orang. Selain kekuatan fotografi, salah satu berkembangnya tempat ini ialah karena ‘Power of Social Media’.

Kawasan Dieng juga kaya akan mitos dan legenda karena itu dikenal juga dengan Gunung Tempat Bersemayamnya Para Dewa. Berdasarkan dari Catatan Prasasti Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, sekitar abad ke 8 masehi, Dieng merupakan Pusat Pendidikan dan Pusat Peribadatan Masyarakat Hindu Kuno di Tanah Jawa. Hingga kini Dieng masih terselimuti kabut misteri, salah satunya adalah Taman Wisata Alam Telaga Warna yang memiliki Filisofi Tatanan Pesan Moral Jawa yang Sangat Adi Luhung,

Konon Katanya, Telaga Warna ini adalah Salah Satu Tempat Mandinya Dewi Nawang Wulan (7 Bidadari), ini adalah mitos yang cukup populer di masyarakat Dieng. Bagaikan Sebuah Perjalanan Manusia Mencari Makna Hidup, Tempat ini dijadikan sebagai tempat pembentukan karakter manusia, sehingga, di setiap sudut tempat ini mempunyai filosofi sendiri.

Warna air yang ada di Telaga Warna melambangkan lima unsur manusia atau disebut juga ”Sedulur Papat Kalima Pancer ” yang berarti bahwa kita manusia yang terlahir dari kandungan seorang ”ibu” yang kelak akan menjalani kehidupan yang intinya kita harus ingat kepada ”Sang Pencipta”. Perjalanan selanjutnya adalah sebuah cermin besar yaitu Telaga Pengilon yang berarti ”Cermin” untuk kita melihat sisi baik dan buruknya sifat yang ada dalam menjalani kehidupan

Perjalanan selanjutnya adalah menuju Batu Tulis yang berarti kita manusia harus memiliki Pedoman hidup, lalu dilanjutkan lagi menuju Goa Semar yang di depan Goa tersebut terdapat sebuah nama ”Eyang Sabdo Jati” yang artinya kita harus mencari Kesempurnaan Sejati dengan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Dilanjutkan lagi menuju Goa Sumur yang di dalamnya terdapat sebuah mata air yang dinamakan masyarakat setempat dengan nama  ” Tirta Perwita Sari” yang berarti Mata Air Kehidupan, di depan goa tersebut juga terdapat sebuah papan nama yaitu Eyang Kumala Sari yang berarti “Carilah pendamping hidupmu secantik batu permata yang indah tiada duanya dan utama yang penuh cinta dan kasih sayang dan patuh terhadap orang tua.”

Yang terakhir adalah Goa Jaran yang dalam bahasa Jawa berarti Kuda. Di depan Goa tersebut terdapat papan nama ” Resi Kendali Seto ”yang berarti” manusia yang bisa mengendalikan hawa nafsunya. Mitos lainnya di goa ini adalah, dahulu ada seekor kuda yang masuk ke dalam goa tersebut, setelah beberapa lama di dalam, akhirnya kuda tersebut keluar dan dalam keadaan bunting. Nah, loh…. kira-kira siapa tuh yang menghamili kuda itu?

Lokasi lain yang aku datangi adalah Kawah Sikijang yang menjadi wisata unggulan di Dieng Plateau. Kawah Sikidang merupakan cekungan berisi kawah yang timbul karena aktivitas Gunung Berapi di Dataran TInggi Dieng. Kawah Sikidang adalah kawah yang paling jelas terlihat di kawasan itu. Di sekitarnya terdapat beberapa kawah yang bentuknya hanya kecil serta terdapat beberapa kawah yang sudah mati. Kawah-kawah yang kecil ini selalu berpindah pindah seperti kidang (kijang). Karena itu warga sekitar juga menamai kawah ini dengan Kawah Sikidang.

Fotografi merupakan salah satu passion yang aku punya, aku selalu mencoba mengonversi energi yang telah diberikannya, sesuai dengan hukum kekekalan energi yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk energi lain. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *