LOMBOK

Jumat, 22 Maret 2019.

Tim terbangun dari tidurnya dan masih di Kapal Legundi.

Sebagian tim pemburu sunrise sudah kembali dengan foto dan video yang dihasilkan.

Sebagian tim masih terjaga untuk melakukan tugasnya mengedit video.

Suasana diluar kapal berawan dan dan ombak pagi cukup tinggi.

Menunggu kapal sandar, tim merapikan barang barang bawaannya. Sebagian masih mengambil foto dan video untuk mengisi konten.

Kurang lebih pukul 11.00, tim menginjakkan kaki di Pelabuhan Lembar (Lombok).

Perjalanan dilanjutkan menuju Kota Mataram, bertemu Rio (Kamtis Lombok) yang sangat baik karena menyediakan tempat beristirahat.  Tidak lupa makanan khas Lombok, Ayam Taliwang!

Sore yang cerah, tim bergegas ditemani guide lokal yaitu Rio dan Indra menuju Loang Baloq.

Loang Baloq berada tidak jauh, berada di Kota Mataram.

Loang Baloq dalam bahasa Sasak Lombok  artinya Lubang Buaya.

Area ini ditumbuhi sebuah pohon beringin yang memiliki lubang tempat berdiam dirinya sang Buaya yang konon kabarnya berumur ratusan tahun.

Makam Loang Baloq adalah kawasan pemakaman yang didalamnya terdapat makam penyebar islam pertama di Lombok, sehingga banyak dikunjungi peziarah.

Tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Lombok adalah mengikat akar Pohon Beringin sambil mengucapkan janji  atau nadzar mereka.

Sebelum akhirnya diubah dengan mengikat akar pohon yang bergelantungan, masyarakat mengikat  akar di plastik yang mereka temukan sambil mengucap janjinya. Namun hal itu mengakibatkan pohon beringin kehilangan keindahan dan menumpuknya sampah.

Jika pengunjung sudah mengikat akar pohon Beringin sembarari bersumpah ia harus kembali ke tempat itu lagi dan membuka sumpahnya. Menurut juru kunci, akan ada berbagai kesulitan jika tidak kembali melepas ikatan akar.

Hal itu mengakibatkan tim Trip Salam Indonesia tidak jadi mengikat janjinya, karena tim belum memastikan akan kembali lagi atau tidak untuk melepas ikatannya.

Langit semakin sore,

Tim menuju ke Pantai Ampenan yang berada di Lokasi Kota Tua untuk bersantai dan sekedar menikmati kopi.

Tempat ini dulunya adalah pelabuhan pada masa penjajahan, kini berubah fungsi menjadi lokasi  wisata.

Setelah pulang dari mencari konten, saatnya mengerjakan kewajibannya masing masing.

Di kafe milik mas Rio, tim melakukan pekerjaannya masing masing ditemani teman teman dari Lombok yang datang silih berganti.

Malam ini dihabiskan dengan bercengkrama sembari menunggu Kapal menuju ke Poto Tano (Sumbawa).

Semoga selalu sehat!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *