Laut Kita, Ibu Kita

Masyarakat pesisir setiap harinya berinteraksi dengan lautan dan debur ombaknya, karena kedekatannya, tak heran jika lautan dianggap seperti ibu mereka. Dari lautan pula, masyarakat pesisir mendapatkan makanan dan kehidupan lahir batin. Namun alangkah ironisnya ketika hal tersebut dinodai oleh para oknum. Seolah penghormatan terhadap laut sedang dikhianati. Oknum-oknum tersebut dengan teganya menodai lautan dengan sampah, tak sedikit lautan yang diracun, kemudian dirusak. Hal tersebut tak ubahnya seorang anak yang durhaka pada orangtuanya. Kondisi lautan kita saat ini bisa dikatakan tidak mencerminkan cinta dan bakti kita kepada sosok ibu.

Untuk memberikan penyadaran bagi masyarakat, Bentara Budaya dan Harian Kompas menyelenggarakan Eksibisi Jelajah Terumbu Karang bertema ’Laut Kita, Ibu Kita’. Acara ini pertama digelar di Bentara Budaya Jakarta sepanjang 21 – 25 Januari 2018. Pada pembukaan pameran ini, sosok ibu ditampilkan lewat tarian ‘Balabala’. Tarian karya koreografer Eko Supriyanto ini memang mendapat inspirasi dari peran ibu-ibu dalam sebuah keluarga. Sosok ibu selalu hadir dalam proses penyajian ikan di ruang makan keluarga. Sejak ikan dibawa nelayan hingga ke pasar ikan dan disajikan, sosok ibu selalu hadir. Tarian ‘Balabala ini ditarikan lima perempuan dari Halmahera, Maluku Utara. ‘Balabala’ sendiri artinya adalah ‘perempuan yang bangkit’.

Jelajah Koral Teluk Cendrawasih – Penyelam berusaha memotret hiu Paus (Rhincodon typus) yang sedang mencari makanan di sekitar bagan di perairan Kwatisore, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Papua, Selasa (15/7).
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Jelajah Koral Teluk Cendrawasih – Penyelam berusaha memotret hiu Paus (Rhincodon typus) yang sedang mencari makanan di sekitar bagan di perairan Kwatisore, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Papua, Selasa (15/7).
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Lewat pameran dan diskusi yang dibuka untuk umum, semoga mampu mengedukasi masyarakat luas untuk kembali menjadikan laut sebagaimana ibu cantik yang mampu memberikan kehidupan bagi semua. Ada 70 foto dalam 60 frame yang terpilih dari hasil kurasi oleh pewarta foto senior Arbain Rambey. Foto-foto tersebut terpilih dari 1.500 foto yang dihasilkan selama ekspedisi ‘Jelajah Terumbu Karang’. Tidak hanya foto keindahan bawah air yang disajikan dalam pameran ini, tapi juga bagaimana interaksi langsung para nelayan dengan hiu paus di Teluk Cendrawasih, Papua.

Selain itu juga kita bisa melihat bagaimana kehidupan masyarakat Taman Nasional Komodo di NTT yang kesulitan mendapatkan air bersih, hal ini sangat kontras dengan panorama bawah laut yang menjadi destinasi wisata unggulan kawasan ini. Pameran ini juga digelar di Yogyakarta, tepatnya di Bentara Budaya Yogyakarta sepanjang 26 Maret – 1 April 2018. Pameran di Jogja juga menyajikan karya karya para fotografer yang terlibat yakni; Ferganata Indra Riatmoko, Harry Susilo, Heru Sri Kumoro, Ichwan Susanto, Ingki Rinaldi, dan Mohammad Hilmi Faiq.

Proyek ‘Jelajah Terumbu Karang’ ini dilakukan di delapan lokasi yaitu Jailolo, Teluk Cenderawasih, Komodo, Selat Lembeh, Wakatobi, Raja Ampat, Selayar, dan Bali. Dalam penjelajahan di delapan lokasi itu, para fotografer menemukan berbagai keindahan surga bawah laut dan membuat Indonesia layak disebut sebagai pusat segitiga terumbu karang dunia, dengan banyak misteri yang juga masih banyak tersimpan. Akan tetapi, cenderung hanya sebagian masyarakat yang memiliki kepedulian dan kearifan lokal dalam menjaga lautnya dari kerusakan akibat bom maupun penangkapan ikan tak ramah lingkungan lain. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *