Komodo Saudara Kita

 

 

Di ujung paling barat Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat Pulau Komodo. Di Pulau inilah ribuan hewan yang menyerupai kadal raksasa ini hidup dan berkembang biak dengan baik. Selain dikenal sebagai habitat asli hewan komodo, di pulau ini juga terdapat Suku Modo, yang lebih dikenal dengan sebutan ‘orang komodo’. Mereka sudah mendiami Pulau Komodo sejak dahulu kala, uniknya lagi, mereka terbiasa hidup berdampingan dengan hewan yang dijuluki ‘cucu naga’ tersebut.

Tim Trip Salam Indonesia menemui seorang legenda lokal bernama Alfonsus Hana. Ia merupakan seorang guru pertama yang mengajar di Pulau Komodo. Pak Alfonsus yang dikenal dengan nama Guru Sus inilah, yang melalui mimpinya, telah menemukan mata air di Gunung Kelimutu, di sana terdapat danau yang memiliki tiga warna. Mata air temuannya tersebut kemudian mampu mengairi seluruh pegunungan. Guru Sus tinggal di Pulau Komodo dan sangat dihormati. Meskipun seorang pendatang, ia mampu berbahasa modo, bahasa asli yang menyerupai bahasa Manggarai. Di Pulau ini terdapat banyak suku, di antaranya Sumba, dan Bugis. Orang Komodo bisa berbahasa semua suku, namun tidak ada orang luar yang bisa berbahasa komodo kecuali Guru Sus ini.

Guru Sus juga bercerita bahwa ia sempat bertemu dengan Suku Komodo yang asli, sebelum mereka punah. Menurutnya Suku asli Komodo memiliki telinga yang besar dan agak lancip, mereka juga memiliki hidung yang besar. Suku Komodo satu-satunya yang ia temui punah karena proses melahirkan yang sangat mengerikan. Pada zaman dulu, jika akan melahirkan, para wanita menyadari dan siap meninggal dunia karena proses persalinan yang tragis. Bayangkan setiap melahirkan anak, sang ibu harus rela mati karena dibelah perutnya. Sementara itu sang bapak diharuskan bersemedi ke hutan sepanjang proses kelahiran dan kematian tersebut.

Hingga pada suatu ketika ada seorang dari suku Sumba yang terdampar di sana. Ia mencoba membantu sebuah proses persalinan, dan akhirnya berhasil menyelamatkan anak dan ibunya. Ketika sang suami pulang dari semedi, betapa merasa senangnya ia mendapati anaknya lahir dan istrinya tetap selamat. Ia pun bersyukur sambil menangis haru. Sejak itulah di sana diadakan perayaan. Suku Sumba pun dianggap sebagai pahlawan dan dipersilakan tinggal di sana. Hingga saat ini teknik persalinan masyarakat Komodo sudah berjalan normal.

Banyak versi cerita mengenai legenda Pulau Komodo. Kepada Tim Trip Salam Indonesia, Guru Sus bercerita bahwa zaman dahulu ada seorang raja yang memiliki dua anak. Karena cenderung pilih kasih, akhirnya salah satu anak merasa kurang diperhatikan, dan dipandang sebelah mata. Anak yang berjenis kelamin perempuan tersebut kemudian lebih memilih untuk mengasingkan diri di hutan, hingga akhirnya berubah menjadi komodo. Hutan itupun kemudian dinamakan Pulau Komodo.

Ada beberapa cerita yang membuktikan komodo tersebut merupakan saudara orang Flores. Sebagian masyarakat percaya bahwa jika komodo disakiti, atau dipukul kepalanya, maka yang memukul akan merasakan rasa sakit yang sama. Bukan hanya itu, satu orang di antara mereka bakal dirasuki arwah komodo untuk menjadi mediator. Ia akan kesurupan, dan bicara dengan bahasa Komodo, yang artinya “kenapa kamu pukul kepalaku?”, kemudian yang memukul akan minta maaf, tapi jika komodo mau memaafkan, maka ia akan sembuh, dan jika tidak, maka ia bakal mengalami sakit terus menerus.

Ada satu cerita yang terkenal di masyarakat, tentang sebuah keluarga yang memiliki bayi. ketika sang bapak sedang pergi kerja, dan sang ibu pergi ke pasar, tiba-tiba ada komodo masuk ke dalam rumah dan tidur di samping bayi mereka. Ketika pulang, sontak sang bapak kaget melihat komodo yang tidur di sebelah anaknya. Tiba-tiba ada seseorang dari suku Bugis yang pandai silat dan ingin menjadi pahlawan, komodo tersebut dipukulinya, Karena kaget melihat bayi tersebut menangis, si bapak dan komodo tersebut keluar. Setelah dipukul, komodo tersebut lari ke hutan, sedangkan yang memukul langsung sakit seketika, bahkan punggungnya berdarah-darah. Kemudian sang ibu dari bayi tersebut kesurupan dan bicara dengan bahasa komodo, “kenapa kamu memukulku, padahal aku ini sedang menjaga anakmu. Anakmu lagi tidur dan aku jagain, kok malah aku yang digebukin?” orang yang pandai silat tersebut pun meminta maaf, dan setelah dimaafkan sakitnya sembuh seketika.

Cerita selanjutnya adalah tentang dua orang yang masuk ke hutan, dan tiba-tiba kaget melihat ada komodo lewat di hadapannya. Satu di antara mereka spontan melempar batu hingga mengenai mulut komodo. Setelah sekitar lima menit, mulutnya pun berdarah, Si pelempar batu tersebut bernama Haji Salim, dan salah satunya adalah Guru Sus, yang merupakan sahabatnya. Setelah sampai di rumah, Haji Salim kaget bukan main ketika di depan cermin mendapati mulutnya mencong. Tiba-tiba istri beliau kesurupan, ‘Kamu kenapa melempar batu ke mulutku?’ tanyanya dengan bahasa komodo. Ia pun meminta maaf, namun sayang maafnya tidak diterima, dan hingga saat ini mulut Haji Salim pun ‘perot’ alias mencong sebagaimana komodo yang dilempar batu olehnya.

Ada juga cerita tentang anak-anak di sana yang sangat akrab dengan komodo, hingga ketika pertama kali Guru Sus datang mengajar di sana, ia sangat kaget dan takut melihat kedekatan anak-anak tersebut dengan komodo. Dengan riangnya mereka bermain bersama komodo. Sambil anak-anak tersebut tiduran, seekor Komodo menaiki tubuhnya, dan sebagian teman-temannya menarik-narik buntut komodo. Guru Sius pun panik, dan anak kecil tersebut berkata “kenapa pak guru panik? mereka ini kan saudara kita!”

Masyarakat suku komodo dan komodo memang terlihat sangat akrab sekali seperti saudara. Bahkan anak-anak tersebut memberi tips pada Guru Sius, selain tidak usah merasa takut, jika tiba-tiba bertemu komodo, langsung saja bilang “Sebai!” maka seketika komodo tersebut diam. Pada suatu ketika Guru Sus masuk hutan dan semua komodo menurut ketika ia berkata “Sebai!” yang dalam bahasa komodo artinya adalah ‘teman’.

Masyarakat sekarang memang masih percaya, dan ada juga yang sudah tidak percaya lagi dengan kisah-kisah tersebut. Namun bagaimanapun kebenarannya, komodo merupakan saudara kita. Selain menjadi hewan yang paling dilindungi di dunia, komodo juga memiliki kisah kearifan lokal sendiri yang patut dilestarikan. Masyarakat di Pulau Komodo memperlakukan komodo dengan baik, bahkan sudah seperti saudara sendiri. Komodo bebas berkeliaran untuk memangsa babi hutan, rusa serta binatang liar lainnya. Jika ada komodo yang sudah tidak bisa mencari mangsa sendiri, mereka diberi makan oleh saudara mereka, yakni kita, manusia.

“Sebai, Salam Indonesia” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *