Killthedj dan Pertanian

Kamu pasti kenal siapa Marzuki Mohamad kan? Ditengah kesibukannya sebagai rapper dan berbagai aktivitas seni budaya, pria yang dikenal dengan nama Killthedj kini memiliki kegiatan lain yang jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Menjadi Petani memang sudah menjadi keinginan sejak lama dari seorang Marzuki. Pendiri Jogja Hip Hop Foundation ini juga aktif membangun desa kelahirannya di kawasan Prambanan. Ia berpikir untuk mengelola tanah dan rumah orangtuanya yang sudah tidak dihuni selama beberapa tahun. “Tinggal di desa lebih santai, sepi dan bisa kenal dengan banyak masyarakat,” katanya.

Ia berujar bahwa akan sia-sia jika pulang kampung jika tidak melakukan aktivitas berupa aksi nyata di masyarakat. Karenanya dengan modal secukupnya, pria yang akrab disapa Juki ini membuat aksi pertanian dengan pemuda di kampungnya. Sebelum melancarkan usahanya, ia dan kawan-kawannya melakukan studi banding ke beberapa daerah yang maju pertaniannya seperti, Kulonprogo, dan Salatiga. Setelahnya mereka menyewa tanah kas desa dan merekrut beberapa pemuda yang berusia dibawah 25 tahun. Di antara mereka ada yang sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan, karyawan toko, mantan pelayan di diskotik, hingga para pelajar SMA. Juki dan pemuda desanya menggarap berbagai sayuran, palawija, padi, hingga kolam ikan. “Tujuannya bukan pada hasil, tapi bagaimana belajar bercocok tanam dengan baik,” tegas rapper kelahiran Klaten, 21 Februari 1975 ini.

Ke 12 pemuda yang bercocok tanam bersama Juki menyiapkan 30 kantung polybag di rumahnya masing-masing. Hal ini, menurutnya untuk melakukan kedaulatan pangan di rumah masing-masing. Meski ide tersebut belum bisa dijalankan sepenuhnya, namun minimal bisa menumbuhkan kesadaran, dan menutupi kebutuhan sehari-hari. “untuk beberapa bumbu, kini kami tidak harus beli lagi setiap harinya,” ungkap rapper yang bersama JHF telah dua kali melakukan tur di Amerika Serikat ini.

Juki menceritakan sebagai contoh, dari 10 polybag dalam dua minggu bisa menghasilkan 2kg sawi. Namun jika dikalikan 12 orang, jumlah tersebut bisa menghasilkan sesuatu. Ketika panen, mereka pun menjualnya langsung ke pasar Prambanan. Sejak kecil, pencipta lagu ‘Jogja Istimewa’ ini memang sudah dekat dengan dunia pertanian. Bersama bapaknya ia seringkali ikut ke sawah untuk mencabuti rumput liar. Juki kecil juga kerap diberi tugas untuk menyiram tanaman, menggiring air untuk arus irigasi, dan membantu ketika panen. Di tengah kesibukan padatnya jadwal aktivitas kebudayaan, Marzuki selalu akan menyempatkan diri mengurus pertanian di desanya yang memang sudah mengalir di darahnya sejak kecil. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *