Ketika Bermain Band adalah Aib

Setelah lulus SMP, aku kabur dari asrama dengan mengendarai motor bersama temanku. Tujuanku adalah Yogyakarta. Meski tidak didukung kedua orangtuaku, keputusanku untuk sekolah jurusan musik di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta sudah bulat. Keinginan orangtua agar aku kuliah sebagaimana kedua kakakku, membuatku tertekan. Bagiku musik lebih menyenangkan, karenanya aku tetap ingin melanjutkan ke sekolah musik. Aku memilih Jogja, karena belum ada bayangan tentang Jakarta, kota yang aku tahu saat itu hanya Surabaya, Solo, dan Jogja. Pengetahuanku akan musik sangat minim, musik yang aku tahu hanyalah musik yang didapat di Gereja.

Di SMM aku ingin mendalami bass, namun yang ada di sana adalah jurusan contra bass, terpaksa aku harus menerimanya. “yang penting bisa belajar dasar-dasar bass,” pikirku.
Namun kenyataan berbeda dari yang kubayangkan. Seorang guru menyarankanku, tepatnya ‘memaksa’ agar aku mengambil jurusan alat tiup. Alasannya sungguh nggak masuk akal. Dia bilang bahwa aku lebih cocok main alat tiup, “bibir kamu tebal, kamu punya bakat ke sana, dan nama kamu itu cocok dengan nama pemain terompet handal, Eric Awuy,” kata sang guru mencoba meyakinkanku.

Aku akan bercerita sedikit tentang Eric Awuy, dia adalah trompetis kelahiran Swiss. Eric belajar bermusik sejak dini di bimbing oleh ibunya, Paule Awuy, asal Kanada, yang seorang pianis dan pedagog musik. Diusia 5 tahun, alat musik flute sudah bisa ia mainkan dengan mahir. Ia juga sering bermain bersama orkestra-orkestra lain, seperti National Arts Center, Quebec Symphony Orchestra dan World Youth Orchestra Eric memilih tinggal di Indonesia bermula saat menengok ayahnya yang sakit pada 1995. Di Indonesia, Eric terikat kontrak dengan Twilite Orchestra, dan di tunjuk sebagai tanaga pendidik serta sebagai konduktor Twilite Youth Orchestra). Selain itu ia juga mengajar di Sekolah Musik Amadeus.

“Aku tidak ingin seperti Eric Awuy, aku ingin mempelajari bass!” batinku saat itu. Namun guruku itu menolakmentah-mentah keinginanku, “Saya lebih paham soal musik, sekarang kamu ambil salah satu moushtok itu,” katanya sambil menunjuk beberapa trompet di sana. “Sekarang coba kamu tiup dan mainkan dengan hatimu, dengan perasaanmu!” Beberapa kali aku tiup, tapi nggak bunyi juga, namun setelah guruku mengajarkannya, akhirnya aku bisa membunyikan trompet.

Aku sangat patah hati karena tidak jadi belajar bass, tapi justru dipaksa pindah ke alat musik tiup. Di SMM, ternyata aku merasa salah jurusan. Pilihanku kabur ke Jogja ternyata terpatahkan, karena dalam bayanganku sekolah musik itu adalah sekolah nge-band. Namun setelah melihat teman-teman di sekolahku, dan diberi tahu sosok Eric Awuy, ternyata sekolah musik di SMM adalah untuk belajar orkestra, bukan jadi anak band. Aku tinggal satu kost bersama beberapa temanku, Anton, Agus, dan Puput, semuanya menyukai musik, tapi nggak ada satu pun yang membentuk band, karena aliran mereka adalah musik klasik. Aku tidak pernah menceritakan keluhanku pada mereka, karena malu. Saat itu adalah aib jika siswa SMM hanya bermain band.

Namun aku berpikir bahwa masih banyak impian yang bisa didapat di SMM, meskipun harus belajar alat musik yang tidak aku senangi. Dengan banyaknya alat musik di sekolah,aku berusaha mendapatkan banyak ilmu tentang musik, kebudayaan, dan lainnya.

Suatu ketika aku pernah mencoba protes di sekolah. Aku menganggap keputusan guru tersebut adalah sebuah sistem yang salah. Bagaimana mungkin seorang guru bisa menentukan masa depan muridnya hanya dilihat dari kacamata pribadi, tanpa ada kesempatan untuk berdialog dengan muridnya. Namun aku tidak punya banyak pilihan lain, NEM (nilai kelulusan)-ku pas-pasan, aku juga merasa nggak punya kemahiran lain selain musik, belum lagi rasa gengsi pada teman-teman dan terutama keluargaku. Bagaimana malunya aku jika harus pulang dan bilang kalau selama ini aku salah belajar di sekolah musik.
Sebenarnya ini bukan salah sekolahannya, namun hanya satu oknum guru yang menentukan alat musik apa yang harus aku dalami. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah mempelajari musik secara teori, meski aku sering bertanya dalam hati, apa untungnya sekolah jika yang didapat hanyalah teori?

Satu hal yang harus aku pecahkan adalah bisa tetap nge-band, meski semua teman-teman di sekolah memainkan musik klasik. Aku mencoba bergabung dengan beberapa kelompok dan komunitas di sekolah, namun tidak ada satu pun grup band yang aku impikan di sana. Tapi aku tetap yakin kalau kalau tetep tinggal di Jogja bisa mendapatkan banyak ilmu tentang musik, aku merasa duniaku ada di sini dan takdirku ada di kota ini. (*)

One Reply to “Ketika Bermain Band adalah Aib”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *