Keselarasan Kehidupan Beragama di Pura Ulun Danu Bratan

Di tepi barat laut Danau Bratan di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali terdapat sebuah Pura suci umat Hindu yang sangat terkenal di pulau Bali. Danau Bratan juga dikenal sebagai danau “gunung suci”, kawasan ini sangat subur dan beriklim sangat dingin, letak berada pada ketinggian 1.200 meter. Pura suci tersebut bernama Pura Ulun Danu Bratan atau Bratan Pura. Pura ini merupakan sebuah candi air besar yang ada di Bali.Pura Ulun Danu Bratan merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu, dewi air, danau, dan sungai sebagai pemberi kesuburan. Pura ini berfungsi untuk memuja kebesaran Tuhan untuk memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia, dan untuk keseimbangan alam semesta. Pura Ulun Danu Bratan dibangun sekitar awal dari abad ke-17.

Sejarah pura Ulun Danu Bratan ini dapat diketahui berdasarkan data arkeologi dan sejarah yang terdapat pada lontar babad Mengwi. Berdasarkan data yang terdapat di halaman depan Pura Ulun Danu, di sini terdapat peninggalan benda-benda bersejarah seperti sebuah sarkofagus batu dan papan batu yang diperkirakan telah ada sejak zaman megalitikum, sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Kedua artefak tersebut sampai sekarang diletakkan di halaman teras Pura Ulun Danu. Diperkirakan lokasi di Pura Ulun Danu Bratan ini telah digunakan sebagai tempat untuk mengadakan ritual sejak jaman tradisi megalitikum.

Selain didedikasikan untuk Siwa dan istrinya Parwati, Buddha pun memiliki tempat dalam kuil dewa Hindu ini. Komplek Pura Ulun Danu Bratan terdiri dari lima Pura dan satu buah Stupa Buddha. Pura Penataran Agung dapat dilihat ketika melewati Candi Bentar yang memiliki gerbang terpisah menuju Bratan. Pura ini berfungsi untuk memuja kebesaran Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Tri Purusha Siwa yaitu Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa untuk memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia, dan untuk keseimbangan alam semesta.

Di dalam Pura Dalem Purwa terdapat tiga pelinggih utama yaitu Pelinggih Dalem Purwa sebagai tempat untuk memuja Dewi Durga dan Dewa Rudra yang dipuja sebagai sumber kemakmuran, Bale Murda Manik atau Bale Pemaruman sebagai tempat untuk parum/rapat/diskusi, dan Bale Panjang sebagai tempat untuk meletakkan sarana persembahan upacara. Pelinggih yang ada di pura ini menghadap ke arah timur yang terletak ditepi selatan Danau Bratan.

 

Pura Taman Beji berfungsi untuk melakukan upacara Ngebejiang, yakni ritual penyucian sarana upacara, dan untuk memohon Tirta atau air suci. di Pura Taman Beji ini juga berfungsi sebagai tempat untuk Melasti bagi masyarakat sekitar dan penduduk setempat. Melasti adalah Upacara pembersihan dan penyucian oleh umat Hindu di Bali

Pura Lingga Petak sering disebut dengan Pura Ulun Danu Bratan. Gambar Pura ini juga terdapat pada lembaran uang kertas pecahan Rp. 50,000. Di dalam Pura Lingga Petak ini terdapat sebuah sumur suci dan keramat yang menyimpan Tirta Ulun Danu, Air Suci Ulun Danu. Di pura ini juga terdapat sebuah Lingga yang berwarna putih yang diapit oleh batu merah dan batu hitam. Pura Lingga Petak ini dipercaya sebagai sumber utama air kesuburan dari Danau Bratan. Ada dua pelinggih di sini, yaitu pelinggih yang memiliki atap/tumpang sebelas (Pelinggih Meru Tumpang Solas) menghadap ke arah selatan, dan pelinggih yang memiliki tiga tumpang/atap (Pelinggih Meru Tumpang Telu) yang masing-masing pintu nya menghadap ke empat penjuru arah mata angin. Di bawah sebuah pohon beringin besar terdapat Pura Prajapati. Pura ini berfungsi sebagai tempat berstananya Dewi Durga.

Adanya Stupa Budha di kawasan Pura Ulun Danu Bratan ini menandakan keselarasan dalam kehidupan beragama. Stupa Budha ini menghadap ke arah selatan yang berlokasi diluar dari area utama dari komplek Pura Ulun Danu Bratan.

 

Berdasarkan Babad Mengwi, pendiri Kerajaan Mengwi I Gusti Agung Putu telah mendirikan pura yang berada di ujung danau Bratan sebelum beliau mendirikan pura Taman Ayun. Dalam lontar Babad Mengwi tidak dijelaskan kapan tepatnya beliau mendirikan Pura Ulun Danu Beratan, tetapi dijelaskan tentang pendirian pura Taman Ayun dan upacaranya pada hari Anggara Kliwon Medangsia, tahun Çaka 1556 (tahun 1634 setelah Masehi). Berdasarkan dari deskripsi Babad Mengwi tersebut diketahui pura Ulun Danu Bratan didirikan sebelum tahun Saka 1556 oleh I Gusti Agung Putu. Sejak pendirian pura tersebut, kerajaan Mengwi menjadi tenteram dan sejahtera dan masyarakat pun menjuluki beliau “I Gusti Agung Sakti”.

 

Pemandangan yang sangat menakjubkan adalah saat air danau Bratan ini sedang pasang, maka pura Ulun Danu akan terlihat seperti mengambang di atas air. (*)

One Reply to “Keselarasan Kehidupan Beragama di Pura Ulun Danu Bratan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *