Kamu Suka yang Mana, Gudeg Basah atau Gudeg Kering?

Sebagaimana Endank Soekamti, Gudeg dan Bakpia adalah aset Yogyakarta. Gudeg adalah makanan khas yang paling terkenal, dan telah menjadi ikon kuliner khas Yogyakarta. Di hampir tiap sudut kota Jogja, kita akan sangat mudah menemui penjual makanan dengan bahan utama gori (nangka muda) ini. Rasa gudeg yang manis dan gurih ini karena memasaknya dicampur dengan gula aren. Makan gudeg biasanya dipadupadankan dengan berbagai macam lauk pelengkap seperti; krecek, telur, ayam, tempe dan tahu bacem.

Jika biasa makan gudeg, kita pasti tahu kalau secara umum makanan ini ada dua jenis, yakni gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg basah disajikan dengan kuah santan yang gurih dan ‘nyemek’ (agak becek) dan biasanya banyak diburu untuk menu sarapan pagi. Sedangkan gudeg kering dimasak dalam waktu yang lebih lama sampai kuahnya kering dan warnanya coklat pekat.

Aku lebih suka gudeg basah daripada yang kering, karena lebih enak kalau ada kuah-kuahnya becek gitu. Aku memang nggak punya tempat langganan makan gudeg, tapi yang jadi favoritku adalah warung-warung gudeg yang ada di pinggir jalan, terutama yang berjualan di malam hari. Karena nggak makan nasi, jadi biasanya aku hanya pesan gudeg (gori)nya saja, sayap ayam, telur, dan krecek, itu pasti.

Menurutku gudeg itu sudah menjadi industri, dan hampir jarang rumah-rumah yang kutemui memasak gudeg untuk menu sehari-hari di dapur keluarga mereka. Menjadi industri karena saking identiknya dengan Yogyakarta, para turis dan wisatawan selalu berburu gudeg dan membawanya pulang untuk dijadikan buah tangan. Tempat makan gudeg yang paling terkenal di Jogja adalah sentra gudeg Wijilan.

Selain terkenal. kawasan ini juga bersejarah, karena letaknya yang berada di sebelah timur Alun Alun Utara, tepatnya di selatan Plengkung Tarunasura atau dikenal dengan Plengkung Wijilan. Di Jalan Wijilan ini berjejer warung-warung yang menjajakan gudeg. Menurut cerita, kawasan ini awalnya hanya ada satu penjual gudeg, yaitu Warung Gudeg Ibu Slamet, beliaulah yang  pertama kali merintis warung gudeg, tepatnya pada zaman pendudukan Jepang, tahun 1942.

Setelah Warung Gudeg Ibu Slamet, beberapa waktu kemudian di Wijilan tambah dua warung lagi, yakni Warung Gudeg Campur Sari yang sudah tutup sejak tahun 80an, dan Warung Gudeg Ibu Djuwariah yang saat ini dikenal dengan Gudeg Yu Djum. Di era 90an, muncul Warung Gudeg Bu Lies, dan hingga saat ini banyak bermunculan warung gudeg lainnya di daerah Wijilan. Karena banyaknya warung gudeg di sana, dan letaknya berdekatan dengan lokasi wisata Kraton Yogyakarta, maka Jalan Wijilan dijadikan sentra gudeg untuk para turis.

Kita cerita sedikit tentang sejarah gudeg di Yogyakarta yang muncul bersamaan dengan pembangunan kerajaan Mataram di alas Mentaok yang kini bernama Kotagede. Pada abad ke-16, para prajurit Kerajaan Mataram membuka hutan belantara untuk membangun peradabannya, kebetulan di hutan tersebut, ada banyak pohon nangka, melinjo, dan kelapanya. 

Pohon- pohon tersebut kemudian ditebang, dan banyaknya nangka, melinjo dan kelapa menginspirasi orang-orang saat itu untuk membuat makanan dari bahan-bahan tersebut. Karena jumlah pekerja yang sangat banyak, untuk memenuhi makanan mereka, nangka muda yang dimasak jumlahnya juga sangat banyak. Untuk mengaduknya yang dalam bahasa Jawa disebut ‘hangudeg’ harus menggunakan alat menyerupai dayung perahu. Dari proses mengaduk (hangudeg) inilah makananan tersebut disebut gudeg. Bisa dibilang gudeg tercipta dari ketidak sengajaan para prajurit Mataram. Ketenarannya pun dimulai dari keluarga para prajurit mataram, hingga melebar ke masyarakat luas.

Nah, kalau sedang ke Jogja dan naik pesawat, perjalanan kamu terburu-buru hingga tidak sempat mampir ke sentra gudeg Wijilan, kamu bisa mampir ke Gudeg Rahayu yang letaknya di dekat bandara Adisucipto. Di sana ada menu gudeg basah dengan paduan rasa pedas dan gurih.
Selain gudeg, di sana juga menjual aneka makanan oleh-oleh khas Jogja, di antaranya sudah pasti bakpia.

Gudeg & Bakpia Pathok Rahayu ini punya dua cabang, pusatnya ada di Jalan Solo Km 10 Yogyakarta (timur traffic light Bandara Adisucipto), dan cabangnya di Jalan Laksda Adisucipto Km 7,5, Tambak Bayan, Yogyakarta. Gudeg ini juga cocok sebagai menu nasi box untuk berbagai acara, kalau oleh-oleh biasanya yang paling sering diburu adalah gudeg besek/kendil dan gudeg kalengan. Nah, kalian suka yang mana, gudeg basah atau kering? Itu sih soal selera. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *