Kampung Adat di Sumba

Kota Waingapu adalah ibukota dari Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Waingapu sendiri merupakan kota terbesar di Pulau Sumba. Waingapu kota yang panas yang penduduknya tidak terlalu padat. Hal ini bisa dilihat dari jarak yang saling berjauhan antara rumah satu dengan yang lain.

Bukan hanya keindahan alamnya, Sumba juga memiliki keunikan budaya tersendiri. Adat dan budaya tersebut tetap lestari ditengah pesatnya perkembangan zaman. Ada banyak kampung adat yang tersebar dari Barat hingga Ke timur Pulau Sumba, NTT. Mulai dari Kampung Tambahak, Prainatang, Kampung Watumbaka, Praiyawang, Kampung Kawangu, Umabara, dll.

Jika ingin mengenal dan mempelajari langsung keagungan budaya yang ada di sini, bisa datang langsung ke kampung-kampung adat tersebut. Di dekat Kota Waingapu, tepatnya di kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera ada sebuah kampung adat bernama Kampung Raja.

Kini di Kampung Raja Prailiu masih tersisa beberapa rumah adat. Di kampung ini Tim Trip Salam Indonesia mampir ke rumah Mama Raja Margaretha. Tampak pohon besar yang dihiasi rahang babi dan rangkaian tulang belulang di halaman rumahnya. Beberapa kuburan batu di sekitarnya tidak membuat kesan yang angker, tapi justru membuat rasa kagum akan luhurnya kebudayaan bangsa kita.

Dengan fasihnya, Mama bercerita banyak tentang adat-isitiadat di Kampung Raja. Oleh Mama Raja Margaretha, Erix Soekamti diberi cinderamata berupa kain tenun ikat kepala Papa Raja yang bernama Tiara atau Tamelingu. Ada beberapa jenis kain tenun yang terdapat di Sumba, yakni hinggi (selimut), lau (sarung), tiara (ikat kepala), dan tamelingu (tudung kepala).

Kaum perempuan di Sumba Timur memang mempunyai keahlian membuat kain tenun. Secara turun-temurun mereka masa belajar dengan ketekunan yang tinggi. Proses pembuatannya pun tidak instan, mereka belajar selama bertahun-tahun dari lingkungan keluarganya hingga bisa menghasilkan sehelai kain yang bermutu.

Waktu yang tidak sebentar ini diperlukan karena dalam membuat kain Sumba harus memiliki intuisi dan daya imajinasi yang tinggi. Proses tersebut dilakukan secara bertahap, dimulai dan tahap pengadaan bahan baku, pengaturan lungsi, pembuatan ragam hias, pemberian warna dan menenun.

Dari Kampung Raja, Tim Trip Salam Indonesia menuju Kampung Rende. Selama perjalanan ke kampung adat tersebut tampak savana dan bukit kering yang membentang luas. Di antara pemandangan Savana dan perbukitan tersebut, terlihat juga rombongan hewan ternak seperti, sapi, kuda, dan domba yang merumput hingga ke tepi jalan.

Jarak Kampung Rende sekitar satu jam setengah dari kota Wangaipu. Selain mengeksplorasi rumah adat, tim juga melihat proses pembuatan tenun Sumba Timur. Di Desa ini Tim Trip Salam Indonesia bertemu dengan Mama Rambu Intan, yang merupakan Mama Raja Rende.

Rumah adat di Desa ini sudah sangat tua, dipercaya rumah terseut dibangun sejak 200 tahun silam. Selain rumah adat juga ada kubur batu dari para bangsawan Rende. Di beberapa bangunan tersebut ada satu rumah bernuansa joglo, Mama bercerita bahwa Kakek Raja dahulu berteman dekat dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Mama Rambu Intan juga bercerita tentang tradisi masyarakat Sumba yang menguburkan orang yang meninggal di halaman depan rumah mereka. Ada satu kubur batu yang berukuran sangat besar. Batu penyusun kuburan ini berasal dari bukit di sekitar Rende, beratnya kurang lebih satu ton.

Di atas kubur batu tersebut ada semacam menara dari batu yang dipahat. Pahatan tersebut merupakan beragam simbol para bangsawan Rende. Batu tersebut bergambar macam-macam hewan, di antaranya; kuda, kura kura, buaya, dan burung kakatua. Masing-masing simbol ini memiliki arti sendiri.

Di Desa Rende terdapat sebuah rumah dengan dinding dari kulit kerbau dan terdapat tanduk kerbau yang sangat besar di depannya. Rumah tersebut adalah rumah raja terakhir kerajan Rende.

Salam Indonesia! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *