JOKI JOKI CILIK

Tradisi Pacoa Jara (pacuan kuda) ini merupakan, salah satu tradisi unik di Sumbawa. Setiap kali diadakan, acara pacu kuda akan diramaikan oleh anak-anak, remaja, dan orang tua. Bukan hanya saat perlombaan, saat latihannya pun arena pacuan kuda sangat ramai.

Seperti latihan yang digelar di Lapangan Kara, desa Lapadi, Dompu ini. Disini digelar latihan setiap hari Minggu. Mulai jam 7 sampai tengah hari.

Saat latihan saja, peserta berdatangan dari Bima, Sumba, Lombok dan daerah lain di luar kabupaten Dompu. Sedangkan saat perlombaan, biasanya berdatangan para peserta dari berbagai kota di Indonesia.

Perlombaan Pacuan kuda skala besar biasanya dilakukan tiga kali setahun.

Kuda kuda lokal Sumbawa biasanya berukuran tidak terlalu besar. Sedangkan kuda dari Sumba berukuran lebih besar. Ada juga yang kuda blasteran antara kuda lokal dan kuda luar negeri.

Untuk menentukan kelas tiap kuda, akan dilihat lewat tinggi kuda dan gigi nya. Jika kuda sudah ompong gigi tengahnya, maka dia harus naik kelas.

Makin unik lagi karena Main Jaran ini jokinya masih kecil kecil. Biasanya berumur 5-12 tahun.

Para joki sudah dilatih sejak mereka usia 4 tahun. Sekali membawa kuda, mereka dibayar Rp 100-200 ribu/putaran. Semakin sering menunggangi kuda dalam satu event balapan, semakin banyak uang yang mereka kumpulkan.

Kalau menang, uang yang mereka dapat pun bertambah. Sesuai dengan kesepakatan dengan pemilik kuda.

Mungkin itu yang membuat mereka semangat untuk menjadi joki. Meskipun risikonya jatuh dan patah tulang. Joki-joki cilik ini berani bawa kuda setinggi 100-150 cm, yang kadang masih lebih tinggi dari sang joki. Untuk naik turun pun mereka masih harus digendong orang tuanya.

Penggunaan joki cilik di Sumbawa bukan hanya karena badan mereka ringan. Namun ada nilai lain sesuai tradisi leluhur masyarakat Dompu. Anak laki-laki harus bisa mengendalikan arah hidupnya dan bertanggung jawab atas semua resiko.

Sebelum bertanding, Joki joki cilik harus menjalani tradisì doa ritual penyatuan roh kuda dengan roh sang joki melalui perantara dukun, atau dalam bahasa setempat disebut Sando.

Tujuan dari Sando untuk menjaga agar joki cilik tidak sampai terjatuh saat balapan.

Mari kita doakan, agar para Joki cilik ini bisa merubah tradisi menjadi prestasi. Bukan enggak mungkin, merek ikut kejuaraan dunia, kan?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *