Indonesian Surf Rock Band

oleh: Kiki Pea
Surf rock adalah subgenre dari musik rock yang identik dengan kultur selancar air. Musik ini sangat populer di Selatan California dari tahun 1962 sampai 1964. Pada perkembangannya ada dua warna musik ini, yang pertama adalah ‘instrumental surf’, yang identik dengan gitar elektrik dengan reverb amat kental yang dimainkan untuk membangkitkan suara ombak, jenis ini dipelopori oleh Dick Dale & The Del-Tones. Yang kedua adalah ‘vocal surf’, yang mengadopsi irama berselancar dengan harmonisasi vokal dan diiringi irama Rock & Roll ala Chuck Berry, The Beach Boys adalah pelopor jenis ini.
Di Indonesia, Surf Rock merupakan jenis musik yang jarang dibawakan. Namun, sejak tahun 2000an, tercatat beberapa nama band yang memainkan Surf Rock, yang pertama adalah The Southern Beach Terror. Tahun 2007 mereka merekam pertunjukan live di Joe’s Garage, Yogyakarta. Rekaman berisi empat track ini direkam hanya dengan menggunakan tape-recorder. The Southern Beach Terror memainkan surf-rock dengan edge punk ala band-band surf era 90-an, juga konseptual dengan mengangkat tema-tema Deathrock/Splatter-Movie/Psychobilly/Cult B-movie*. Bagi penggemar musik-musik 60’s surf-rock, 50’s rock n roll/garage, band asal Yogyakarta ini adalah sesuatu yang menyegarkan. Namun sayang, karena kesibukan masing-masing personelnya, saat ini The Southern Beach Terror sudah tidak lagi aktif di kancah musik bawah tanah.
Di Bandung terdapat satu nama yang sering muncul dalam line up acara-acara musik independen, adalah The Panturas yang juga tercatat pernah menjadi pengisi panggung acara berskala Internasional yang diadakan di Jakarta, We The Fest. Band yang yang dibentuk di penghujung tahun 2015 ini beranggotakan Rizal (gitar), Kuya (drum), dan Gogon (bass), dan Abyan (vokal dan gitar). Keempatnya merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Band ini diinspirasi dari The Ventures, band asal Amerika. Nama The Panturas identik dengan pantai utara. Dari The Ventures diplesetkan jadi The Panturas, biar lebih terasa lokal.
Beertubes adalah nama lain yang turut meramaikan jagad surf rock lokal. Desember 2015 lalu, band ini telah merilis album penuh berjudul “Nevermind The Sea, We Play Surf”. Beertubes adalah Rully (Drum), Ionk (Gitar), Rony (Bass) – Additional. Nama Beertubes itu sendiri berasal dari kata Beer Tubes yaitu alat penyaji minum Bir yg biasa disebut “Tower”. Personel band ini berdomisili di Bandung dan Bali.
Di Bogor yang notabene adalah kota hujan, justru melahirkan grup instrumental surf-rock bernama The Mentawais. Grup yang dibentuk pada tahun 2015 ini  merupakan kwartet yang terdiri dari Andre Varian (Drums), Bena Waketversa (Bass), Muhammad Arifyandi (Guitar), serta Umar Bawahab (Guitar). Selama kurun dua tahun perjalanannya, mereka memutuskan untuk tidak melakukan pertunjukan sama sekali dan lebih fokus di studio untuk merekam materi-materi lagu. Pada tahun 2017, berkerja sama dengan Hujan! Rekords dan Kick it Records, The Mentawais merilis debut mini album mereka yang diberi judul Surfin’ Java dalam format kaset pita. Direkam di Fake Hero Studio Bogor dan diproduseri langsung oleh The Mentawais, keseluruhan materi pada debut mini album Surfin’ Java memiliki nuansa 60’s surf style instrumental tradisional.
Menurut The Mentawais, mini album Surfin’ Java banyak terinspirasi dari spot surfing Batu Karas di Pangandaran, Jawa Barat yang masih terdapat banyak surfer yang menggunakan longboard dan mengingatkan akan era keemasan 60’s California beach scene di pantai barat Amerika. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *