Godblessyou

Anak pertamaku Godblessyou lahir 16 April 2008. Awalnya aku ingin proses persalinan secara normal, namun karena kelahirannya terlambat sebelas hari, dan air ketubannya sudah hijau, untuk urusan ini keinginanku pun tidak kekeuh seperti biasanya, Goku harus dilahirkan lewat operasi caesar. Hal yang kurasakan saat itu adalah tidak tega melihat ibunya, karena hal beban yang ditanggung ketika punya anak bukanlah pada sembilan bulan mengandung, namun seumur hidup anak itu.

“Selamat pak, anak bapak sudah lahir!” aku langsung kaget ketika mendengar ucapan dokter yang mengurus persalinan anak pertamaku. Yang lebih mengagetkan lagi adalah raut muka anakku tampak sangar sekali persis kayak petinju, antagonis banget. Seketika aku langsung teringat dosa-dosa yang pernah kulakukan. Untungnya raut sangar di muka Goku itu lama-lama menghilang.

Tidak ada ritual dan selebrasi khusus untuk merayakan kelahiran anak pertamaku, namun sesuai adat dan tradisi Islam Jawa, kami melakukan aqiqah dan prosesi memotong atau mencukur rambut bayi. Aqiqah adalah sembelihan yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang bayi, sedangkan tradisi cukur rambut adalah hal berguna yang dipercaya untuk membuka lubang pori-pori yang ada di kepala. Ini juga dipercaya bisa bermanfaat untuk menguatkan indera penglihatan, penciuman dan pendengaran si bayi.

Semakin besar sifat Goku makin terlihat. Dia jauh lebih friendly daripada bapaknya. Goku juga cepat sekali beradaptasi, mempelajari, dan mengeksplorasi hal-hal yang dia suka. Awalnya aku pikir Goku sangat minat dengan musik, sewaktu belum punya gigi, ia sudah mahir bernyanyi ‘Long Live My Family’ dan vokalnya itu sama sekali nggak fals. Sejak kecil, sudah banyak hal yang ia coba, mulai dari; yoyo, menggambar, membuat animasi, robotik, skateboard, dia juga bisa berenang dan sama sekali nggak takut dengan air. Namun yang paling bikin aku kaget adalah ketika dia bisa berbahasa Inggris. Lha, padahal bapaknya aja nggak lancar bahasa Inggris, kok bisa?

Goku itu paling senang nonton tutorial, lalu sharing apapun yang dia dapat saat itu. Dia juga bisa nge-rap, ‘free style’, referensinya dia dapat dari video games. Itulah hebatnya, anak kecil bisa ‘free style’ tanpa ada beban, bisa bisa nge-rap dengan gaya yang ‘los’ banget. Lucunya lagi, kalau lagi nge-rap Goku bisa kehilangan konsentrasi jika akan memuntahkan kata-kata ‘kotor’. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *