Gerilya di Pacitan

JIKA teman-teman menyukai wisata laut, gua, atau bahkan arkeologi, Kota Pacitan merupakan tempat yang wajib dikunjungi. Kota yang terletak sekitar 108 km timur Yogyakarta, ini memiliki banyak gua yang indah dan tersembunyi di dalam perut bukitan kapur yang melintang. Jejeran tebing yang terjal seakan selalu kokoh melindungi pantai-pantai indah yang sejuk dipandang mata.
Dari Yogyakarta, ke Pacitan dapat ditempuh dalam waktu 3,5 jam lewat rute melalui Wonosari, Pracimantoro, dan Punung. Jika tidak membawa kendaraan sendiri, kita bisa menaiki berbagai armada travel siap mengantar menuju kota Pacitan.

Bagi para penggemar olahraga selancar air atau surfing, pantai-pantai di Pacitan merupakan surga yang siap bercengkrama dengan ragam karakter ombaknya. Spot untuk surfing di daerah bagian paling barat propinsi Jawa Timur ini sudah menjadi tujuan para surfer untuk mengasah keterampilan mereka. Selain menantang untuk berselancar, Pacitan juga dikenal dengan pemandangannya yang bagus, jauh dari keramaian, dan penduduknya yang ramah.

Pantai-pantai yang bisa digunakan berselancar di antaranya, Pantai Teleng Ria, Pancer, Srau, dan Watu Karung. Bagi kamu yang baru ingin belajar surfing, atau sekedar untuk berenang, pantai Teleng Ria adalah jawabannya. Pantai ini lokasinya paling dekat dari pusat kota Pacitan. Di sebelah timurnya terdapat Pantai Pancer, yang juga menjadi incaran para peselancar yang datang dari dalam, maupun luar negeri.

Di pantai ini juga menyediakan tempat untuk menyewakan papan selancar. Bagi pemula, jangan takut untuk bermain ombak di laut selagi masih menaati aturannya. Di pantai ini terdapat life guard tower di mana para penjaga pantai selalu mengawasi dan memastikan keselamatan para wisatawan. Selain untuk surfing, Pantai Teleng Ria juga dilengkapi dengan lapangan untuk camping, arena permainan air untuk anak-anak, hingga penginapan. Ombak di kedua pantai ini tidak terlalu deras, dan cukup untuk sekedar berenang. Di bagian barat Pantai Teleng Ria terdapat pelabuhan kecil tempat para nelayan beraktivitas. Di sana kita bisa melihat para nelayan bekerja dan juga sekaligus melihat hasil tangkapan mereka.

Pantai-Watukarung- Shofie Widyanto (KLiC)


Pantai-Watukarung – Joko Rosna (KliC)

Jika ingin menikmati pemandangan indah pantai, dengan pohon-pohon kelapa yang nyiur melambai, silakan mampir ke Pantai Watu Karung. Pantai yang masih tampak sepi ini memiliki pasir putih yang lembut. Para peselancar pun sangat menyukai tantangan ombak yang cukup tinggi di pantai ini. Pantai lainnya yang panting untuk didatangi adalah Pantai Srau. Bagi para peselancar yang sudah mahir, dan profesional, ombak di pantai ini memang lebih menantang. Mengapa hanya surfer profesional dan berpengalaman yang berani berselancar di Pantai Srau dan Watu Karung ini? karena di kedua pantai ini terdapat banyak karang di dasar lautnya, belum lagi bulu babi dan ubur-ubur yang juga perlu diwaspadai.

perbukitan Pacitan juga tak kalah indahnya. Masih ingat kejadian saat aku nyaris tewas masuk jurang di perbukitan Pacitan? Ya saat itu aku dan teman-teman Endank Soekamti berniat menghadiri pernikahan teman kami, Kiki Pea. Kita menyangka lokasi pernikahannya dekat dari pusat kota Pacitan, karena itu aku dan teman-teman memilih untuk mengendarai motor saja. Ternyata lokasinya masih sangat jauh dari pusat kota, menurut jalan normal, biasanya bisa ditempuh selama dua jam melewati jalan bukit yang berkelok-kelok. Karena saat itu aku lebih percaya pada Google Map, ternyata justru malah tersesat melewatu hutan antah berantah. Bayangkan, lokasi pernikahannya ternyata sempat menjadi tempat persembunyian Jenderal Sudirman di masa perang gerilya. Kebetulan saat itu kakeknya Liz, istrinya Kiki Pea adalah lurah di Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan. Beliau lah yang memberikan tempat persembunyian untuk pasukan gerilya di Sobo Nawangan Pacitan. Di tempat ini sekarang telah didirikan monumen besar dan kawasan bersejarah Jenderal Sudirman yang luas dan bagus. Cukup lama Jenderal Soedirman bersama pengikutnya berada di desa ini, sekitar 107 hari atau 3 bulan, yakni 1 April 1949 sampai 7 Juli 1949. Di tempat inilah berbagai peristiwa penting menandai perjuangan gerilya sang jenderal.

Karena itu, perjalananku yang tersesat di perbukitan Pacitan belum ada apa-apanya dibandingkan perjalanan Sang Jenderal selama tujuh bulan masa perang gerilya. Jenderal Soedirman bersama para pengikutnya melewati 10 kabupaten yang terbentang dari DI Yogyakarta, Jateng dan Jawa Timur dengan panjang rute gerilya mencapai 1.009 km. Perjuangan Jenderal Soedirman dalam menghadapi perang gerilya begitu dramatis, sebab kondisi saat itu dirinya sedang sakit tuberkulosis (TBC). Sehingga paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948, atau sebulan sebelum perang gerilya digelar.

Pacitan juga memiliki komunitas yang fokus berkegiatan di bidang fotografi, KLiC (Komunitas Lensa Indie Pacitan) namanya. Komunitas yang eksis sejak 20 Agustus 2011 ini ada karena kecintaan anggotanya pada fotografi, di dukung dengan banyaknya spot hunting, serta pemandangan indah yang terdapat di sekitar Pacitan, maka KLiC bisa berkembang dengan cepat. Sejauh ini, KLiC sudah mengadakan berbagai Pameran, di antaranya Pameran HUT Kota Pacitan. Komunitas ini terbentuk dari sekedar hobi yang sama, mereka adalah masing-masing individu yang awalnya bertemu melalui jejaring sosial facebook. Selain aktif hunting bersama, komunitas ini selalu siap menjamu para fotografer dari kota lain yang ingin hunting bersama. Nah, jika ada waktu luang, silakan berkunjung di kota yang juga dikenal sebagai seribu satu goa ini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *