Film Layar Lebar Pertama yang Kandas

‘Long Live My Family’ menjadi lagu ajaib yang men-trigger hampir semua kreatifitas yang ada di Endank Soekamti. Bermula dengan belajar visual effect dalam editing video, dan akhirnya sukses membuat video klip sendiri. Dengan modal nekat dan percaya diri, setelah berhasil ngulik-ngulik visual effect, lagu ini kemudian aku kembangkan menjadi film panjang yang mengangkat karakter wayang superhero yang berjudul sama.

Film ini menjadi sekolahku dibawah bimbingan X Code Films, sebuah rumah produksi yang bergerak dibidang Audio-Visual, Advertising, dan Multimedia. Rumah produksi ini memiliki tim kreatif yang didukung oleh pembuat film, kreator, seniman video, dan para kru yang berpengalaman di bidang multimedia.
Bermetamorfosis dari Digital One (D-1) Production yang berdiri tahun 2003, maka  22 Juni 2005 menjadi momentum berdirinya X-CODE films. 

Berangkat dari lima orang pekerja multimedia, kini X-CODE films telah banyak berkarya. Hingga saat ini banyak sekali karya film, TV Program, Video Clip, Iklan TV, dan sebagainya yang telah mereka kerjakan.  Bersama USAID-LGSP mereka memproduksi Film TV ‘Lubang Tak Berujung’, selain itu sebuah Dokudrama berjudul ‘Tetes Embun Harapan’, Features Film berjudul ‘Tunggu Aku di Taman Cinta’, dan sederet Fim dokumenter lainnya sudah mereka produksi.

Belum lagi keterlibatan mereka di sederet film produksi internasional seperti, ‘Eat, Pray, Love’, ‘Java Heat, ‘Amphibious 3D’, dan masih banyak lagi. Selain beberapa Film, X-Code Films juga telah membuat banyak video klip, sebut saja lagu-lagu Shakey Band, Bagaikan, Salman Al Jugjawy (Sakti ex Sheila on 7), Kiki & The Klan, dan sederet video klip lainnya.

Lewat proyek ‘Long Live My Family’ inilah aku baru tahu bahwa di produksi film panjang ternyata tidak mudah, apalagi jika melibatkan divisi dan kru yang cukup banyak. Sebagai sutradara, aku belum berani bilang ‘Cut!’, tahunya cuma ‘Action!’ saja. Hahaha…

Membuat film benar-benar tidak bisa dikerjakan sendirian, apalagi untuk film dengan kualitas untuk diputar di bioskop. Film ini menghabiskan bajet sekitar Rp 70 juta. Meski untuk alat-alat suting sepenuhnya di support oleh X-Code Film, bajet segitu aku habiskan untuk untuk biaya produksi, properti, dan kru.

Sebagai pembuat film anyaran, film ini sangat menghabiskan energi di proses editing. Aku juga mengalami kesulitan di bidang penyutradaraan. Sebulan lebih nggak selesai juga, akhirnya aku ‘eneg’ dan muak sendiri dengan filmnya. Film ini mengalami kegagalan secara teknis, dan akhirnya harus kandas. Film panjang ‘Long Live My Family’ aku vonis sebagai proyek gagal. Kegagalan itulah yang menamparku untuk lebih belajar lagi.

Kegagalan secara teknis ini aku selesaikan dengan refreshing dengan latihan membuat VFX di proyek berjudul ‘Daddy Miss War’. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *