Dokumenter Lebih Relevan

Setelah bergelut dengan film fiksi beserta visual effect-nya, aku tertarik untuk mendalami dokumenter. Ternyata aku lebih ‘enjoy’ dengan dokumenter yang kontennya memang diolah dari realitas. Kepuasannya pun berbeda karena ada manfaat yang lebih untuk band. “Aku rasa karya dokumenter lebih relevan dan ini yang dibutuhkan anak band, bukan visual effect”.

Karena itu tahun 2012 aku mulai membuat terobosan di album ‘Angka 8’ dengan menyuguhkan proses pembuatan album tersebut selama satu bulan dalam bentuk web series yang bisa disaksikan lewat YouTube. Web series ini banyak mendapat respon positif, dan penonton yang mencapai ribuan viewer di setiap episodenya. Web series ini juga bisa lebih mendekatkan Endank Soekamti dengan penikmatnya. Hal ini menjadi materi promo yang efektif.

Sewaktu pembuatan web series ‘Angka 8’ aku menggunakan kamera Canon 5D. Sejak album ini, selain bermusik Endank Soekamti juga produktif membuat film, baik itu film panjang maupun film-film pendek yang dipublish di media sosial. Hal tersebut dilakukan karena sebagai band, sejak dulu Endank Soekamti membutuhkan media untuk menyampaikan dan mempublikasikan karya-karyanya ke masyarakat.


Band-band seperti Endank Soekamti memang sangat jarang mendapatkan kesempatan untuk tampil di media massa, apalagi di televisi. Makanya lewat web series ini bisa memenuhi kebutuhan Endank Soekamti agar dapat terus bertahan, berkembang, dan berkarya lebih baik lagi. Pembuatan film akhirnya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan Endank Soekamti sebagai sebuah band. Tradisi ini terus berkembang di setiap pembuatan album Endank Soekamti selanjutnya.

Kecuali untuk album ‘Salam Indonesia’ yang direkam di lautan Papua tanpa sinyal yang layak untuk mengunggah video, setiap web series ini tayang setiap hari bertepatan dengan waktu sahur. Untuk produksi rekaman biasanya dilakukan jam sembilan pagi sampai malam. Hari itu juga langsung proses editing, dan diunggah pas waktu sahur.

Setelah album ‘Soekamti Day’ yang direkam di Gili Sudak, Lombok, aku mulai tertantang untuk terus membuat video yang harus aku unggah setiap harinya selama 30 hari. Banyak yang taruhan kalau aku nggak bakal sanggup melakukannya. Bahkan istriku sendiri berani menjanjikan sebuah laptop baru jika web series ini bisa tayang dan konsisten selama 30 hari. Akhirnya, aku menang dan berhasil mendapatkan macbook baru untuk mengerjakan Diary Of Erix Soekamti (DOES), yang kini sudah lebih 600 episode.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *