Gerilya di Pacitan

JIKA teman-teman menyukai wisata laut, gua, atau bahkan arkeologi, Kota Pacitan merupakan tempat yang wajib dikunjungi. Kota yang terletak sekitar 108 km timur Yogyakarta, ini memiliki banyak gua yang indah dan tersembunyi di dalam perut bukitan kapur yang melintang. Jejeran tebing yang terjal seakan selalu kokoh melindungi pantai-pantai indah yang sejuk dipandang mata.
Dari Yogyakarta, ke Pacitan dapat ditempuh dalam waktu 3,5 jam lewat rute melalui Wonosari, Pracimantoro, dan Punung. Jika tidak membawa kendaraan sendiri, kita bisa menaiki berbagai armada travel siap mengantar menuju kota Pacitan.

Bagi para penggemar olahraga selancar air atau surfing, pantai-pantai di Pacitan merupakan surga yang siap bercengkrama dengan ragam karakter ombaknya. Spot untuk surfing di daerah bagian paling barat propinsi Jawa Timur ini sudah menjadi tujuan para surfer untuk mengasah keterampilan mereka. Selain menantang untuk berselancar, Pacitan juga dikenal dengan pemandangannya yang bagus, jauh dari keramaian, dan penduduknya yang ramah.

Pantai-pantai yang bisa digunakan berselancar di antaranya, Pantai Teleng Ria, Pancer, Srau, dan Watu Karung. Bagi kamu yang baru ingin belajar surfing, atau sekedar untuk berenang, pantai Teleng Ria adalah jawabannya. Pantai ini lokasinya paling dekat dari pusat kota Pacitan. Di sebelah timurnya terdapat Pantai Pancer, yang juga menjadi incaran para peselancar yang datang dari dalam, maupun luar negeri.

Di pantai ini juga menyediakan tempat untuk menyewakan papan selancar. Bagi pemula, jangan takut untuk bermain ombak di laut selagi masih menaati aturannya. Di pantai ini terdapat life guard tower di mana para penjaga pantai selalu mengawasi dan memastikan keselamatan para wisatawan. Selain untuk surfing, Pantai Teleng Ria juga dilengkapi dengan lapangan untuk camping, arena permainan air untuk anak-anak, hingga penginapan. Ombak di kedua pantai ini tidak terlalu deras, dan cukup untuk sekedar berenang. Di bagian barat Pantai Teleng Ria terdapat pelabuhan kecil tempat para nelayan beraktivitas. Di sana kita bisa melihat para nelayan bekerja dan juga sekaligus melihat hasil tangkapan mereka.

Pantai-Watukarung- Shofie Widyanto (KLiC)


Pantai-Watukarung – Joko Rosna (KliC)

Jika ingin menikmati pemandangan indah pantai, dengan pohon-pohon kelapa yang nyiur melambai, silakan mampir ke Pantai Watu Karung. Pantai yang masih tampak sepi ini memiliki pasir putih yang lembut. Para peselancar pun sangat menyukai tantangan ombak yang cukup tinggi di pantai ini. Pantai lainnya yang panting untuk didatangi adalah Pantai Srau. Bagi para peselancar yang sudah mahir, dan profesional, ombak di pantai ini memang lebih menantang. Mengapa hanya surfer profesional dan berpengalaman yang berani berselancar di Pantai Srau dan Watu Karung ini? karena di kedua pantai ini terdapat banyak karang di dasar lautnya, belum lagi bulu babi dan ubur-ubur yang juga perlu diwaspadai.

perbukitan Pacitan juga tak kalah indahnya. Masih ingat kejadian saat aku nyaris tewas masuk jurang di perbukitan Pacitan? Ya saat itu aku dan teman-teman Endank Soekamti berniat menghadiri pernikahan teman kami, Kiki Pea. Kita menyangka lokasi pernikahannya dekat dari pusat kota Pacitan, karena itu aku dan teman-teman memilih untuk mengendarai motor saja. Ternyata lokasinya masih sangat jauh dari pusat kota, menurut jalan normal, biasanya bisa ditempuh selama dua jam melewati jalan bukit yang berkelok-kelok. Karena saat itu aku lebih percaya pada Google Map, ternyata justru malah tersesat melewatu hutan antah berantah. Bayangkan, lokasi pernikahannya ternyata sempat menjadi tempat persembunyian Jenderal Sudirman di masa perang gerilya. Kebetulan saat itu kakeknya Liz, istrinya Kiki Pea adalah lurah di Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan. Beliau lah yang memberikan tempat persembunyian untuk pasukan gerilya di Sobo Nawangan Pacitan. Di tempat ini sekarang telah didirikan monumen besar dan kawasan bersejarah Jenderal Sudirman yang luas dan bagus. Cukup lama Jenderal Soedirman bersama pengikutnya berada di desa ini, sekitar 107 hari atau 3 bulan, yakni 1 April 1949 sampai 7 Juli 1949. Di tempat inilah berbagai peristiwa penting menandai perjuangan gerilya sang jenderal.

Karena itu, perjalananku yang tersesat di perbukitan Pacitan belum ada apa-apanya dibandingkan perjalanan Sang Jenderal selama tujuh bulan masa perang gerilya. Jenderal Soedirman bersama para pengikutnya melewati 10 kabupaten yang terbentang dari DI Yogyakarta, Jateng dan Jawa Timur dengan panjang rute gerilya mencapai 1.009 km. Perjuangan Jenderal Soedirman dalam menghadapi perang gerilya begitu dramatis, sebab kondisi saat itu dirinya sedang sakit tuberkulosis (TBC). Sehingga paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948, atau sebulan sebelum perang gerilya digelar.

Pacitan juga memiliki komunitas yang fokus berkegiatan di bidang fotografi, KLiC (Komunitas Lensa Indie Pacitan) namanya. Komunitas yang eksis sejak 20 Agustus 2011 ini ada karena kecintaan anggotanya pada fotografi, di dukung dengan banyaknya spot hunting, serta pemandangan indah yang terdapat di sekitar Pacitan, maka KLiC bisa berkembang dengan cepat. Sejauh ini, KLiC sudah mengadakan berbagai Pameran, di antaranya Pameran HUT Kota Pacitan. Komunitas ini terbentuk dari sekedar hobi yang sama, mereka adalah masing-masing individu yang awalnya bertemu melalui jejaring sosial facebook. Selain aktif hunting bersama, komunitas ini selalu siap menjamu para fotografer dari kota lain yang ingin hunting bersama. Nah, jika ada waktu luang, silakan berkunjung di kota yang juga dikenal sebagai seribu satu goa ini. (*)

Menyelami Kekayaan Kita lewat www.SalamIndonesia.id

Sepanjang bulan puasa nanti rencananya aku bakal melakukan trip Salam Indonesia. Program ini juga sekaligus untuk membuat ensiklopedia budaya dan pesona alam Indonesia. Perjalanan ini nantinya akan dimulai dari Jogja hingga ke Sumba, Nusa Tenggara Timur. Rute yang bakal didatangi nantinya berdasarkan kontribusi dari teman-teman semua. Teman-teman bisa memberi informasi apapun, soal budaya, tempat-tempat menarik dan aset daerah yang harus diekspos keberadaannya lewat www.salamindonesia.id.

Supaya nantinya teman-teman di seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia bisa mengetahui apa saja kekayaan yang dimiliki Indonesia yang ada di daerah kita masing-masing. Karena kalau sampai kita sendiri tidak tahu, bagaimana kita bisa menikmati kekayaan yang melimpah ini. Semua informasi yang masuk akan diseleksi dan dikurasi dahulu. Kita akan sama-sama mengulik sisi mana yang akan dieksplorasi.

Informasi yang dibutuhkan adalah aset daerah yang mungkin belum tereksplor lebih mendalam. Dalam setiap perjalanan ini nantinya juga akan melibatkan teman-teman sebagai warga sekitar alias Akamsi (Anak Kampung Sini). Karena akamsi akan lebih mengetahui secara detail. Kita bakal menculik kalian untuk menemani berjalan-jalan.

Sewaktu berada di Sumatera Barat, aku mencoba memembuat simulasinya. Bersama teman-teman dan ditemani Akamsi, mereka pergi ke Padang Mangateh atau yang juga dikenal dengan nama Padang Mengatas. Tempat menarik berupa peternakan seluas 280 hektar ini terletak di atas bukit, tepatnya di Kabupaten Lima Puluh Kota, Kota Payakumbuh.  Padang Mangateh juga dijuluki sebagai New Zealand versi Indonesia karena pemandangan savana luas layaknya padang rumput Australia dan Selandia Baru. Lengkap dengan panorama berbukit-bukit dan sapi yang sangat banyak.

Nah, penasaran dengan kelanjutan ceritanya, ayo sama-sama berbagi informasi di www.salamindonesia.id.(*)

Laut Kita, Ibu Kita

Masyarakat pesisir setiap harinya berinteraksi dengan lautan dan debur ombaknya, karena kedekatannya, tak heran jika lautan dianggap seperti ibu mereka. Dari lautan pula, masyarakat pesisir mendapatkan makanan dan kehidupan lahir batin. Namun alangkah ironisnya ketika hal tersebut dinodai oleh para oknum. Seolah penghormatan terhadap laut sedang dikhianati. Oknum-oknum tersebut dengan teganya menodai lautan dengan sampah, tak sedikit lautan yang diracun, kemudian dirusak. Hal tersebut tak ubahnya seorang anak yang durhaka pada orangtuanya. Kondisi lautan kita saat ini bisa dikatakan tidak mencerminkan cinta dan bakti kita kepada sosok ibu.

Untuk memberikan penyadaran bagi masyarakat, Bentara Budaya dan Harian Kompas menyelenggarakan Eksibisi Jelajah Terumbu Karang bertema ’Laut Kita, Ibu Kita’. Acara ini pertama digelar di Bentara Budaya Jakarta sepanjang 21 – 25 Januari 2018. Pada pembukaan pameran ini, sosok ibu ditampilkan lewat tarian ‘Balabala’. Tarian karya koreografer Eko Supriyanto ini memang mendapat inspirasi dari peran ibu-ibu dalam sebuah keluarga. Sosok ibu selalu hadir dalam proses penyajian ikan di ruang makan keluarga. Sejak ikan dibawa nelayan hingga ke pasar ikan dan disajikan, sosok ibu selalu hadir. Tarian ‘Balabala ini ditarikan lima perempuan dari Halmahera, Maluku Utara. ‘Balabala’ sendiri artinya adalah ‘perempuan yang bangkit’.

Jelajah Koral Teluk Cendrawasih – Penyelam berusaha memotret hiu Paus (Rhincodon typus) yang sedang mencari makanan di sekitar bagan di perairan Kwatisore, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Papua, Selasa (15/7).
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Jelajah Koral Teluk Cendrawasih – Penyelam berusaha memotret hiu Paus (Rhincodon typus) yang sedang mencari makanan di sekitar bagan di perairan Kwatisore, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Papua, Selasa (15/7).
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Lewat pameran dan diskusi yang dibuka untuk umum, semoga mampu mengedukasi masyarakat luas untuk kembali menjadikan laut sebagaimana ibu cantik yang mampu memberikan kehidupan bagi semua. Ada 70 foto dalam 60 frame yang terpilih dari hasil kurasi oleh pewarta foto senior Arbain Rambey. Foto-foto tersebut terpilih dari 1.500 foto yang dihasilkan selama ekspedisi ‘Jelajah Terumbu Karang’. Tidak hanya foto keindahan bawah air yang disajikan dalam pameran ini, tapi juga bagaimana interaksi langsung para nelayan dengan hiu paus di Teluk Cendrawasih, Papua.

Selain itu juga kita bisa melihat bagaimana kehidupan masyarakat Taman Nasional Komodo di NTT yang kesulitan mendapatkan air bersih, hal ini sangat kontras dengan panorama bawah laut yang menjadi destinasi wisata unggulan kawasan ini. Pameran ini juga digelar di Yogyakarta, tepatnya di Bentara Budaya Yogyakarta sepanjang 26 Maret – 1 April 2018. Pameran di Jogja juga menyajikan karya karya para fotografer yang terlibat yakni; Ferganata Indra Riatmoko, Harry Susilo, Heru Sri Kumoro, Ichwan Susanto, Ingki Rinaldi, dan Mohammad Hilmi Faiq.

Proyek ‘Jelajah Terumbu Karang’ ini dilakukan di delapan lokasi yaitu Jailolo, Teluk Cenderawasih, Komodo, Selat Lembeh, Wakatobi, Raja Ampat, Selayar, dan Bali. Dalam penjelajahan di delapan lokasi itu, para fotografer menemukan berbagai keindahan surga bawah laut dan membuat Indonesia layak disebut sebagai pusat segitiga terumbu karang dunia, dengan banyak misteri yang juga masih banyak tersimpan. Akan tetapi, cenderung hanya sebagian masyarakat yang memiliki kepedulian dan kearifan lokal dalam menjaga lautnya dari kerusakan akibat bom maupun penangkapan ikan tak ramah lingkungan lain. (*)

Berburu Kuliner di Danau Toba

Saat Soekamti Day di Pematang Siantar, Sumatera Utara, aku menyempatkan diri buat plesiran ke Danau Toba. Jarak Danau Toba memakan waktu satu jam perjalanan dari hotel tempatku menginap. Danau Toba merupakan danau terluas di Indonesia. Perairan yang berlokasi di Sumatera Utara ini memiliki panjang sekitar 100 kilometer dan lebar 30 kilometer. 

Danau Toba terletak di pegunungan Bukit Barisan. Luasnya 1.145 kilometer persegi yang menjadikannya danau terluas tidak hanya se Indonesia tapi juga se-Asia Tenggara. Luas Danau Toba lebih besar dari Singapura. Danau ini terbentuk karena letusan gunung berapi yang memuntahkan 2.800 km kubik material letusan, sehingga membuat kawah yang lambat laun dipenuhi air menjadi danau. Pilihan berwisata di sini ada dua, kita mau sekedar cuci mata atau sekalian menikmati airnya. Kita bisa berenang dan menaiki kapal mengelilingi danau. Tapi kalau hanya ingin cuci mata, kita harus menaiki bukit agar bisa menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya.

Di tengah Danau Toba terdapat pulau bernama Samosir yang memiliki beberapa desa dengan wisata alam luar biasa, seperti pegunungan dan air terjun. Di sana aku dan teman-teman berusaha mencari makanan khas Danau Toba, namun yang didapat tidak banyak, mungkin karena waktu plesiran yang sangat terbatas. Aku juga sempat bertanya kepada warga sekitar, apa makanan khas di sini, hamper semua menjawab ‘tidak ada’. Ya sama seperti di daerah lain, makanan yang tersedia adalah masakan padang, dan jualan mie instan. Tapi ada makanan khas yakni ikan bakar, terutama ikan nila.

Menu yang pertama kali kita dapatkan adalah martabak mesir. Kamu tahu apa bedanya martabak mesir dengan martabak telur? Keduanya sepintas nampak sama, padahal kenyataannya sangat berbeda. Persamaan kedua martabak ini adalah penampakannya, yakni adonan terigu yang diberi isian, kemudian dilipat-lipat sambal digoreng. Tekstur kulitnya renyah dan kecoklatan. Luarnya boleh sama, tapi kalau soal rasa, kita bakal langsung bisa membedakannya. Isian martabak telur dan martabak mesir itu berbeda, terutama daging yang ada pada martabak mesir dimasak dengan bumbu rempah yang banyak. Sebagaimana rendang dan gulai, bumbu rempahnya sangat beragam. Belum lagi ada tambahan variasi seperti jamur atau bawang bombay. Yang jelas, martabak mesir isinya lebih variatif daripada martabak telur biasa.


Menu lainnya yang memiliki cita rasa tinggi adalah Mie Gomak adalah makanan khas Toba Samosir khususnya kota Balige. Berbeda dengan lainnya, mie ini berukuran besar seperti pasta. Kuahnya mengandung berbagai macam rempah, andaliman, dan berbumbu cabai. Tidak hanya menyajikan air danau yang asri, di Danau Toba juga terdapat warung makan dengan menu Na Tinombur atau ikan bakar, sangat dianjurkan untuk kalian yang memiliki selera pedas. Salah satu masakan khas Batak yadalah Arsik. Menu ini biasanya paling banyak digunakan pada saat acara adat. Arsik merupakan makanan berbahandasar ikan seperti ikan mas, nila dan ikan mujair yang ditangkap langsung dari Danau Toba. Rasa dan aroma yang khas, dikarenakan proses memasaknya menggunakan andaliman sejenis rempah. Makanya menu ini rasanya pedas dan hangat.

Nah, kalau ingin merasakan sushi ala Batak, kita bisa mencoba Naniura. Bahan dasar ikan mas, nila, dan mujair ini tidak dimasak, digoreng ataupun direbus. Tapi karena bumbunya yang cadas, ikan mentah ini bakal lebih enak rasanya. Ketika berwisata, yang ditawarkan oleh sebuah tempat bukan sekedar pemandangan dan kulinernya saja, tapi juga ‘pengalamannya’. Seperti menaiki kapal kecil, makan ikan setempat. Memang perlu waktu yang cukup lama untuk melihat potensi yang ada di sebuah tempat wisata. (*)

River Tubing di Pringgasela

Di Indonesia ada banyak sungai panjang yang mengalir sampai puluhan kilometer, karena itu banyak tempat bagus dan sempurna untuk melakukan River Tubing. Tubing adalah meluncur bebas di sungai dengan menggunakan ban dalam. Kegiatan yang menyerupai rafting ini merupakan olahraga air yang banyak diminati penyuka olahraga yang menantang. River Tubing ini mirip dengan olahraga rafting, namun yang membedakannya adalah penggunaan ban karet sebagai pengganti perahu karet yang digunakan ketika Rafting. Jika kita Rafting menggunakan dayung, maka untuk menyusuri sungai, River Tubing cukup menggunakan kedua tangan.

Di Indonesia ada beberapa spot menarik untuk melakukan River Tubing, di antaranya; Cukang Taneuh atau yang dikenal grand canyon Pangandaran Jawa Barat, beberapa spot di Bali, Jawa Timur tepatnya kota Batu Malang, di Yogyakarta tepatnya di gua Pindul, Gunung Kidul, selain itu masih banyak tempat lainnya untuk melakukan olahraga air yang menantang ini. Pada intinya lokasi bermain Rafting juga bisa digunakan untuk bermain River Tubing.

Jika diibaratkan sebuah toko, untuk urusan destinasi wisata, Pulau Lombok merupakan toko serba ada. Di sana terdapat segala macam objek wisata. Mau ke gunung, ke pantai, kegiatan budaya, hingga wisata tubing semuanya oke. Sebagai penyuka olahraga ekstrim, aku dan teman-teman, termasuk Dory Soekamti melakukan River Tubing di Sungai Mencerit yang berlokasi di Desa Pringgasela, Lombok Timur. Lokasi tubing pemacu adrenalin itu ini merupakan sebuah sungai panjang yang sangat jernih.

Kita dapat menikmati tubing sepanjang dua kilometer selama dua jam. Selain itu yang lebih menantang adalah sebuah gua yang harus kita lalui di tengah perjalanan. Terowongan itu panjangnya 50 meter hingga 100 meter. Ada banyak spot yang menarik selama dalam perjalanan. Namun, sebelum menuju sungai Mencerit kita harus menempuh perjalanan menaiki mobil dan menyusuri jalan sepanjang hampir satu jam. Jalan yang dilewati pun tidak terlalu mudah, agak sedikit ‘off road’ lah.

Sesampainya di sungai, sebelum meluncur kita harus latihan dulu, dua tiga kali untuk menyesuaikan posisi ban dan pegangannya agar tidak mudah terbalik. Teman-teman yang lain mudah untuk penyesuaian, lha tapi giliranku ternyata sulit juga beradaptasi, karena postur tubuhku. Karena itu posisi riding terpaksa aku kustom sesuai dengan kebutuhan dan kenyamananku sendiri. Posisi ban sengaja aku balik dimana letak pegangannya ada di depanku, sedangkan normalnya pegangan tersebut ada di kanan kiri kita. Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, aku pun meluncur cepat….Let’s go!!

Ternyata arus sungai deras sekali sehingga aku berada di posisi paling depan tanpa seseorang pun, termasuk guidenya. Pegangan ban pun nyaris lepas, hal itu sangat berbahaya sebab jika kehilangan ban, gimana caranya aku pulang? Setelah berhasil mengendalikan arus sungai, sambil menunggu teman-teman aku mencari tempat ‘parkir’ yang aman. Sama seperti diving, jika tidak ingin terkena arus, kita harus sembunyi di balik batu.

Setelah bertemu dengan rombongan yang lain, kita sempat berhenti sejenak melihat pemandangan alam yang menyejukan mata. Melihat area persawahan dari tengah sungai sungguh merasakan betapa permainya negeri kita Indonesia. Selanjutnya adalah sungai kedua, kali ini arusnya lebih tenang dan airnya lebih dingin.

Setelah itu kita memasuki terowongan sebuah gua, ada dua terowongan yang bernama virgin, nah bisa dibayangkan bentuknya kayak apa? Nah yang kedua namanya ‘dark cave’ sesuai namanya, gua ini cukup gelap, belum lagi di sana sebelumnya banyak laba-laba, tokek, dan kawan-kawannya. Kita berempat masuk ke gua tersebut, aku ada di paling depan, di belakangku Dory, Rio, dan Wisnu.

Selain gelap, gua ini sangat sempit dan nggak mungkin bisa balik ke belakang. “gludaakk” tiba-tiba aku terbalik dan tersumbat. Dory pun segera berusaha untuk turun dari band agar tidak menekan posisiku, air pun semakin tinggi dan kita terjebak di gua dengan ketinggian 30 meter saja. Hingga kemudian salah satu guide datang membawa lampu penerang. Namanya juga petualangan, pasti ada saja tantangan dan hal menegangkan yang terjadi.

Karena itu agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika ingin melakukan River Tubing. Pertama tinggalkan barang berharga di loker atau di tempat penitipan yang disediakan. Karena jika nekat membawanya, kita bisa saja kehilangan barang-barang berharga karena arus air sungai bisa menelannya. Misalnya saja kunci kendaraan, jam tangan, handphone, itu mudah terlepas ketika berada di sungai yang mengalir deras. Namun jika kita ingin membawa kamera dan barang lainnya, pastikan membawa ‘housing underwater’ atau wadah tahan air yang khusus dirancang untuk melindungi barang-barang tersebut. Penting juga untuk mengenakan peralatan keselamatan seperti; helm, life jacket, dan decker. Meski sedang berada di atas sungai dengan limpahan air di kanan dan kiri, namun ada baiknya kita membawa air minum sendiri. Sebab kita akan berada di bawah sinar matahari dan mudah terkena dehidrasi.

Olahraga air River Tubing ini masih awam terdengar dikalangan masyarakat modern, namun olahraga ini sangat bagus untuk pembentukan karakter pasalnya, jika olahraga rafting bisa menampung enam orang dalam satu perahu, maka rasa takut dan tegang ketika melewati aliran sungai yang deras dapat diredam, namun pada water tubing semua tantangan dan rintangan yang ada harus dihadapi sendiri.

Kita juga tidak perlu khawatir, sebab ditemani oleh banyak instruktur terlatih yang akan menjaga sepanjang pertualangan. Salut untuk anak muda Desa Pringgasela yang tergabung di JBB Adventure. Mereka mengelola semua secara swadaya. Jika kalian ada di Lombok, dan penasaran mau Tubing di sana, langsung saja hubungi 082147460729 atau ke instagram @jbbadventure. (*)

Black Manta yang Dilindungi

Pada awal Maret 2018 aku diundang sebagai pemateri workshop Telkomsel yang pesertanya adalah tim ICT mereka. Sebagaimana perjalanan sebelum-sebelumnya, apalagi ini di Bali, tentu tidak mungkin hanya sekedar bekerja semata. Untuk kesekian kalinya aku kembali menyelami indahnya panorama bawah laut di Nusa Lembongan. Bersama dengan dua wilayah lainnya di Bali Selatan, yaitu Nusa Ceningan dan Nusa Penida, Nusa Lembongan telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan. Untuk menuju ke sana, dari Sanur kita menaiki kapal selama kira-kira 40 menit perjalanan. Untuk berpetualang ke wilayah yang melawati gelombang arus lepas pantai ini, maka hanya kapal bertenaga kuat yang dapat melewatinya.

Pada penyelaman kali ini aku berjumpa dengan ikan black manta. Perairan Bali ini memang menjadi salah satu daerah penyebaran pari manta di Indonesia. Di sini terdapat Manta Point yang berlokasi di sebuah Teluk kecil. Tempat ini sangat disenangi ikan pari manta, terutama untuk mereka membersihkan diri. Ketika sedang melakukan aktivitas membersihkan diri ini, disekitarnya banyak dijumpai ikan yang sedang menunggu raksasa laut ini. Tempat ini memang menjadi salah satu spot favorit para penyelam yang datang ke Lembongan. Namun sayangnya, jika sedang terlalu banyak penyelam, ikan ini justru suka menyingkir dari lokasi tersebut.

Namun alangkah beruntungnya aku, yang berkesempatan untuk bermain dengan Black Manta yang berputar-putar di atas kepalaku. Black manta itu hewan yang langka di antara kawanan manta lainnya. Mereka sangat cerdas, namun kita harus tetap tenang. Jangan pernah bikin mereka kaget, karena meskipun jinak, tetap berhati-hati dengan Black Manta itu sangat penting, karena ada bagian tubuhnya yang sangat tajam dan bisa melukai jika tertusuk.

Saat ini pari manta menjadi jenis biota laut yang terancam punah di wilayah Indonesia. Bahkan sejak 2016 lalu, Ibu Susi Pudjiastuti telah menetapkan Status Perlindungan Penuh Pari Manta lewat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 tahun 2014. Pemerintah juga telah menetapkan dua jenis pari manta, yaitu pari manta karang (Manta alfredi) dan pari manta oseanik (Manta birostris), sebagai ikan yang dilindungi. Lewat aturan tersebut, berarti penangkapan dan perdagangan pari manta serta bagian-bagian tubuhnya sama sekali tidak diperbolehkan.


Menurut catatan, hingga November 2016, Kementerain Kelautan dan Perikanan (KKP), Kepolisian Republik Indonesia, dan Bea Cukai telah melakukan 35 kali operasi penangkapan terhadap pelaku perdagangan insang dan produk dari pari manta. Penangkapan tersebut dilakukan di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Makassar, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Padahal meski ikan pari manta dapat mencapai 40 tahun, namun satu ekor ikan pari manta hanya mampu menghasilkan paling banyak 6-8 ekor anakan saja selama hidupnya.

Penurunan populasi pari manta disebabkan oleh degradasi lingkungan, selain itu ancaman utama kepunahannya adalah tingginya permintaan terhadap insang pari manta. Karena itu IUCN (Aturan Internasional Konservasi Alam) secara internasional memasukkan pari manta dalam kategori ‘rentan’. Sementara Konvensi Perdagangan Internasional tentang Spesies Terancam (CITES) memasukkannya dalam Apendiks II yang berarti ikan pari manta belum terancam punah, tetapi bisa punah jika perdagangannya tidak terkontrol. Karena itu dengan cara masing-masing, kita memang harus sama-sama ikut melestarikan biota laut yang terancam punah ini.

Kedatanganku di Nusa Lembongan memang sudah yang ke sekian kalinya. Namun kali ini ada beberapa hal baru yang aku temui di sini. Kehidupan penduduk pulau Nusa Lembongan ternyata menjadi daya tarik tersendiri. Sembari menikmati keindahan alamnya, kita bisa berinteraksi dan melihat aktivitas penduduknya. Sebagai pulau yang ukurannya kecil, Nusa Lembongan memiliki banyak penghuni. Namun pada malam hari, aku merasakan bagaimana sulitnya mencari warung makan yang buka. Di pulau ini kita bisa menyewa sepeda motor dengan mudah. Karena tempatnya aman, parkir motor pun bisa dimana saja. Dengan sepeda motor sewaan, aku, Bagus, dan Deka sempat berjalan-jalan melaju ke arah perbukitan melintasi Desa Lembongan.

Pastinya Nusa Lembongan menawarkan atraksi keanekaragaman spesies ikan dilindungi. Semuanya bercampur dengan lingkungan karang laut yang menakjubkan dari segi bentuk, ukuran, hingga warna. Selain pari manta, di sini kita juga bisa diving bersama ikan mola-mola. (*)

Mengonversi Energi di Dieng

Sebenarnya sudah cukup lama aku menggeluti dunia fotografi, namun baru belakangan ini aku tergila-gila lagi dengan medium seni yang satu ini. Street photography adalah salah satu jenis fotografi yang aku suka. Karena itu aku mulai mempraktikkan street photography dengan berjalan-jalan ke berbagai daerah. Kali ini aku melancong ke kawasan Dieng, Wonosobo. Salah satu lokasi untuk berburu foto adalah bukit batu Pandang, kawasan ini masing sangat bersih dan terawat. Batu Pandang Dieng juga dikenal dengan nama Bukit Batu Pandang Telaga Warna atau Batu Ratapan Angin.

Di sini kita bisa melihat pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari atas ketinggian. Batu Pandang Dieng mulai terkenal setelah tersebarnya foto kawasan tersebut di berbagai media massa. Kemudian bukit ini selalu didatangi wisatawan dari berbagai daerah. Salah satu kekuatan fotografi adalah membuat Kawasan Batu Pandang yang sebelumnya hanya semak belukar kemudian menjadi aset wisata yang bermanfaat bagi banyak orang. Selain kekuatan fotografi, salah satu berkembangnya tempat ini ialah karena ‘Power of Social Media’.

Kawasan Dieng juga kaya akan mitos dan legenda karena itu dikenal juga dengan Gunung Tempat Bersemayamnya Para Dewa. Berdasarkan dari Catatan Prasasti Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, sekitar abad ke 8 masehi, Dieng merupakan Pusat Pendidikan dan Pusat Peribadatan Masyarakat Hindu Kuno di Tanah Jawa. Hingga kini Dieng masih terselimuti kabut misteri, salah satunya adalah Taman Wisata Alam Telaga Warna yang memiliki Filisofi Tatanan Pesan Moral Jawa yang Sangat Adi Luhung,

Konon Katanya, Telaga Warna ini adalah Salah Satu Tempat Mandinya Dewi Nawang Wulan (7 Bidadari), ini adalah mitos yang cukup populer di masyarakat Dieng. Bagaikan Sebuah Perjalanan Manusia Mencari Makna Hidup, Tempat ini dijadikan sebagai tempat pembentukan karakter manusia, sehingga, di setiap sudut tempat ini mempunyai filosofi sendiri.

Warna air yang ada di Telaga Warna melambangkan lima unsur manusia atau disebut juga ”Sedulur Papat Kalima Pancer ” yang berarti bahwa kita manusia yang terlahir dari kandungan seorang ”ibu” yang kelak akan menjalani kehidupan yang intinya kita harus ingat kepada ”Sang Pencipta”. Perjalanan selanjutnya adalah sebuah cermin besar yaitu Telaga Pengilon yang berarti ”Cermin” untuk kita melihat sisi baik dan buruknya sifat yang ada dalam menjalani kehidupan

Perjalanan selanjutnya adalah menuju Batu Tulis yang berarti kita manusia harus memiliki Pedoman hidup, lalu dilanjutkan lagi menuju Goa Semar yang di depan Goa tersebut terdapat sebuah nama ”Eyang Sabdo Jati” yang artinya kita harus mencari Kesempurnaan Sejati dengan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Dilanjutkan lagi menuju Goa Sumur yang di dalamnya terdapat sebuah mata air yang dinamakan masyarakat setempat dengan nama  ” Tirta Perwita Sari” yang berarti Mata Air Kehidupan, di depan goa tersebut juga terdapat sebuah papan nama yaitu Eyang Kumala Sari yang berarti “Carilah pendamping hidupmu secantik batu permata yang indah tiada duanya dan utama yang penuh cinta dan kasih sayang dan patuh terhadap orang tua.”

Yang terakhir adalah Goa Jaran yang dalam bahasa Jawa berarti Kuda. Di depan Goa tersebut terdapat papan nama ” Resi Kendali Seto ”yang berarti” manusia yang bisa mengendalikan hawa nafsunya. Mitos lainnya di goa ini adalah, dahulu ada seekor kuda yang masuk ke dalam goa tersebut, setelah beberapa lama di dalam, akhirnya kuda tersebut keluar dan dalam keadaan bunting. Nah, loh…. kira-kira siapa tuh yang menghamili kuda itu?

Lokasi lain yang aku datangi adalah Kawah Sikijang yang menjadi wisata unggulan di Dieng Plateau. Kawah Sikidang merupakan cekungan berisi kawah yang timbul karena aktivitas Gunung Berapi di Dataran TInggi Dieng. Kawah Sikidang adalah kawah yang paling jelas terlihat di kawasan itu. Di sekitarnya terdapat beberapa kawah yang bentuknya hanya kecil serta terdapat beberapa kawah yang sudah mati. Kawah-kawah yang kecil ini selalu berpindah pindah seperti kidang (kijang). Karena itu warga sekitar juga menamai kawah ini dengan Kawah Sikidang.

Fotografi merupakan salah satu passion yang aku punya, aku selalu mencoba mengonversi energi yang telah diberikannya, sesuai dengan hukum kekekalan energi yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk energi lain. (*)