Sanders Hates Chicken

SHC berawal pada 11 November 2011 di Selatan Yogyakarta, adalah dua orang sahabat lama yakni, Arman Harjo dan Tbonk Weimpy sepakat untuk membentuk sebuah band. Awalnya mereka menggunakan nama The Sanders, yang kemudian berubah menjadi Sanders Hates Chicken. Keduanya lalu mulai mengajak teman-teman yang lain seperti, Wedha Tama, Alvian Vinuria, Tama Mahdi dan Terakhir Raya Buwono.

Lalu mereka mulai merekam 3 lagu demo pertamanya dengan semangat menggebu-gebu layaknya remaja belasan tahun yang baru jatuh cinta. Ini berlanjut hingga merekam puluhan lagu yang diunggah dan disebarkan gratis di portal music online seperti reverbnation dan soundcloud. Mereka pun terbersit ide untuk memilih beberapa lagu untuk dijadikan full album yang diberi tajuk Drama Dunia. Sebanyak 15 lagu akhirnya dipilih sebagai materi di album ini.

Sanders Hates Chicken pada mulanya tidak mempunyai arti  dan filosofis yang mendalam. Nama ini sering dikaitkan dengan sarkasme tentang restoran waralaba Ayam goreng paling terkenal. Kebetulan pada saat awal band ini dibentuk, restoran tersebut menjadi wadah baru para musisi tanah air untuk menjual albumnya. “Sebenarnya kami justru mengabil spirit dari Sang Colonel Harland Sanders dalam berjuang hidup, dan tetap semangat berusaha walaupun pada saat restoranya dibuka, beliau telah berusia 65 tahun,” jelas Arman.

Di masa-masa awal SHC ingin membuat band dengan genre Pop-punk, namun karena kebebasan yang berlebihan dari setiap personilnya, maka yang terjadi adalah semakin melenceng dari konsep awal, SHC menjadi band rock dengan rap, dan hentakan drum yang liar. Harmoni vocal yang ramai dipadukan dengan suara gitar yang meraung raung dan syntheseizer dominan di setiap lagu. Mereka menyebutnya dengan istilah ‘Rap Rock Alternative’. (*)

Sanders Hates Chicken Bagikan Gratis 10.000 keping CD ‘Drama Dunia’

Sanders Hates Chicken (SHC) adalah sebuah proyek musik senang-senang yang begitu serius. Bagaimana tidak serius, mereka cukup produktif membuat lagu, dan baru saja menelurkan album penuh bertajuk ‘Drama Dunia’. Judul album Sanders Hates Chicken ini diambil dari satu lagu mereka di album ini.

Album ini dirilis sebanyak 10.000 keping CD, dan dibagikan secara gratis. Menurut vokalis Arman Harjo album ini adalah sebagai bentuk rasa syukur SHC kepada teman-teman yang sudah mendukung dan menyemangati selama ini. “Rasanya ini semua kecil dibanding apa yang telah kami terima dari teman teman sekalian,” katanya.

Hal ini, lanjutnya, sekaligus merupakan upaya untuk mengabadikan nama SHC setidaknya di 10.000 ingatan. “Sebelum CD punah makan kami bagikan gratis untuk semua mungkin 20 atau 50 tahun mendatang, album kami bisa menjadi barang langka bernilai tinggi. Album ‘Drama Dunia’ ini juga bisa diunduh secara gratis di kanal SHC.

Artwork album ‘Drama Dunia’ berupa visual seorang anak yang sedang bermain piano di bawah pohon besar yang kering. Ia bermain piano di tengah hujan badai yang berlokasi di areal pemakaman. Menurut vokalis Arman Harjo, Ini mengandung makna bahwa pada situasi terburuk apapun jiwa jiwa yang senantiasa bersyukur dan berserah pada Tuhan akan menemukan keindahan sekalipun itu teramat sulit. “Untuk itu manusia menciptakan sebuah kata “harapan” ujarnya. Artwork album ini dibuat oleh seniman Danur Rahrakai, sosok misterius yang juga membuat atwork untuk beberapa band luar maupun dalam negeri.

Lagu ‘Drama Dunia’ memiliki makna yang cukup dalam. Dimulai dari perjalanan spiritual Arman mencari makna hidup. Ia melihat setiap orang berjuang mati matian untuk mengejar segala sesuatu yang sejatinya hanya untuk ditinggalkan. Sebut saja sebagai pencarian kebahagiaan yang semakin diburu seolah olah kebahagiaan itu menjauh. Lalu disimpulakan bahwa hidup ini hanyalah drama. “Maka yang sebaik baiknya dilakukan adalah kita memerankan lakon kita dengan sepenuh hati,” tegas Arman.

Lagu ‘Bye Bye’ cukup sakral untuk SHC, lagu ini bercerita tentang persahabatan dan perpisahan yang pernah dialami oleh semua orang ketika beranjak dewasa. Satu persatu sahabat dan kita sendiri punya kehidupan lain. Mulai berkeluarga, sibuk dengan pekerjaan, dan sebagainya. Maka hal-hal kecil dan sederhana bersama teman teman adalah peristiwa yang paling dirindukan. Untuk kebanyakan kita masa remaja adalah masa masa paling indah dan paling liar dengan kenangan indah tentang persahabatan.

Lagu lainnya ‘Gila’ SHC berkolaborasi dengan MC Fira Sasmita yang bernyanyi dengan suara seraknya yang syahdu. Ini merupakan lagu patah hati yang cukup lugu dan jujur. Arman menjelaskan bahwa dalam hal apapun kita bisa menjadi ahli jika melakukan sesuatu secara konsisten. Contohnya orang yang rajin berlatih gitar, atau memasak lambat laun akan menjadi handal. “Namun tidak untuk urusan asmara. Kita akan cenderung menjadi semakin bodoh karena logika tidak bekerja pada saat-saat ini terjadi,” jelasnya. (*)

Last Elise

Band yang berdiri pada 12 September 2006 ini telah melalui banyak proses musikal dan format, yang akhirnya membuat Uya (Surya) selaku frontman, memutuskan menggunakan konsep kolaboratif & eksperimental. Konsep ini akhirnya membawa LastElise pada bentuk yang sangat luwes sebagai proyek musikal.

Sebagian besar warna musik yang diusung LastElise bernuansa ambient & psychedelic, serta pengaruh musik alternative rock 90-an. Meski awal mula terbentuk sebagai trio, tapi album pertama LastElise berisi beberapa nomor kolaboratif, misalnya “Diskusi 4×4” adalah lagu yang direkam secara live dan dengan format double bass player (feat. Punjul Wahyu), menurut Uya lagu ini akan selalu berbeda ketika dibawakan secara ‘live’, karena sangat terbuka untuk instrumen lain, misal saxophone, perkusi atau lainnya. (*)

Broken Rose Luncurkan album kedua “A Glimpse Of Glory”

Broken Rose adalah; Agung (Guitars), Jojo (Vocal), Sindhu (Bass), Affan (Lead Guitars), Dian (Drums). Meski saat ini personil dan crew mereka dipisahkan jarak, namun Broken Rose selalu berusaha menyebarkan karya mereka di kota masing-masing. BR dibentuk pada 2011 silam, dan setelah lebih tiga tahun, akhirnya menelurkan album kedua mereka “A Glimpse Of Glory”. Album ini berisi 10 track, irama bernuansa chicano punk bisa dirasakan di tembang-tembang: We’ve Really Had Enough, Brock and Rosey, Langgam Suara Terkekang, Light Up The Sky, 98, A Glimpse Of Glory, Catch Me When I Fall, Bittersweet Symphony, Let The Rain Wash Away The Pain, dan Bad Boys Blues.

Album kedua Broken Rose ini memiliki konsep yang sangat berbeda dari album perdana “Blood, Sweat, and Tears”. Pada album pertama, menurut frontman Broken Rose Jojo, ada beberapa lagu yang berbeda karakteristik dengan lagu-lagu lainnya. Baik itu dari segi penulisan lirik atau aransemen lagunya. Sementara di album ini, semua lagu dikonsep secara lebih matang.

Untuk kover Album “A Glimpse of Glory” dikerjakan oleh seniman Jogja, Helly Mursito dari Kerja Keras Kulture. Sebagai seniman, Helly KKK juga telah membuat beberapa artwork untuk musisi terkenal seperti; Superman Is Dead dan Dubyouth.

“A Glimpse of Glory” direkam di Bajink Studio, Magelang, sebuah home recording studio milik kawan mereka yang bernama Syarif. Kini Bajink studio sudah tidak beroperasi lagi karena Syarif ingin lebih fokus ke hobi dan pekerjaan barunya. Ketika proses rekaman sudah 50% Broken Rose berembug dengan Bajink Studio dengan keputusan bahwa ini adalah proyek terakhir Bajink Studio. Materi yang tersisa langsung dikebut, bolak-balik Jogja-Magelang setiap minggunya hingga album ini rampung.

Broken Rose mendistribusikan album ini secara mandiri. Selain bertemu langsung, untuk mendapatkan CD album dan merchandise juga bisa melalui online. Broken Rose juga bekerja sama dengan sejumlah pihak seperti iTunes, Spotify, Joox, dan lain-lain. “Jadi selain rilis fisik, pendengar juga bisa memiliki album-album Broken Rose secara eksklusif di gadget masing-masing.  Bicara target sih gak muluk-muluk. Yang penting CD/merchandise laku terjual, penjualan online juga lancar dan orang-orang juga bisa mendengarkan karya-karya kami,” ujar Jojo.

Saat ini beberapa personil dan crew Broken Rose memiliki pekerjaan masing-masing. Di antara mereka ada yang rutin bermain akustikan di sejumlah cafe, ada juga yang punya proyek band yang kerap tampil di acara-acara sepakbola. “Tapi kalau ada panggilan tugas (Broken Rose) pas weekend, kami akan berkumpul,” ujar Jojo. (*)

DEATH VOMIT

DEATH VOMIT telah meluncurkan tiga studio album dan satu live konser album dalam bentuk video (DVD). Album perdana „Eternally Deprecated‟, dirilis pada tanggal 24 November 1999 DEATH VOMIT Korean Tour 2017 dengan label mereka sendiri Demented Mind Records. Album tersebut kemudian dirilis ulang oleh sebuah label asal Bandung yang bernama Extreme Souls Production (ESP). DEATH VOMIT merekam album ke dua bertitel „The Prophecy‟ di bawah label Rottrevore Records, Jakarta pada bulan Mei 2006. 

Pada tanggal 19 Juni 2008 mereka mengadakan live performance yang direkam dalam format DVD bertitel „Flames of Hate‟ di bawah label yang sama (Rottrevore). Dengan personel Sofyan Hadi (gitar/ vokal), Oki Haribowo (bass) dan Roy Agus (drum). Pada tahun 2014 DEATH VOMIT meluncurkan album “Forging A Legacy”, sebuah album yang diluncurkan dengan jeda waktu yang cukup panjang dari album sebelumnya, yakni setelah 8 tahun pasca dilincurkan album sebelumnya pada tahun 2006 (The Prophecy). 

Album tersebut resmi diluncurkan pada tanggal 25 Agustus 2014 dirilis dan diedarkan oleh Armstretch Records berisi 9 lagu. Istimewanya dua lagu di album tersebut mendapat sentuhan bengis seorang gitaris kawakan dari Amerika Serikat yaitu Dennis Munoz, seorang gitaris dari band metal lawas, Solstice. DEATH VOMIT menjadi salah satu band yang sangat berpengaruh terhadap dunia musik di Indonesia. Pembuktian selama lebih 20 tahun atas eksistensi dan konsistensi dalam bermusik patut diberikan apresiasi tersendiri, terlebih komitmen untuk tetap berkarya di jalurnya adalah salah satu yang patut diberi applause. 

Di Indonesia sendiri DEATH VOMIT telah memiliki jutaan penggemar yang loyal, hal tersebut bisa dibuktikan dengan selalu padatnya penonton di setiap konsernya. (*)

DEATH VOMIT Tampil di Ansan We Rock, Seoul

Sejak didirikan pada tahun 1995 di Yogyakarta, DEATH VOMIT telah menjajaki di segala penjuru negeri. Kiprah mereka tidak hanya berhenti di kancah nasional, beberapa kali DEATH VOMIT tampil dalam pementasan di luar negeri, antara lain di beberapa kota di Australia, Jepang, Malaysia dan Vietnam. 

November ini DEATH VOMIT kembali menjalani pentas internasional di Korea Selatan. Beberapa waktu yang lalu manajemen DEATH VOMIT sempat dihubungi penyelenggara Vermin Majesty dari Korea Selatan untuk tampil dalam konser ekslusif di Ansan, sebuah kota yang tidak jauh dari Soul, Korea Selatan. Bagi DEATH VOMIT, ini merupakan kesempatan terbaik untuk bisa menunjukkan pada dunia, bahwa Indonesia memiliki potensi yang patut diperhitungkan. Selain tentu saja mengenalkan Indonesia.

Sebenarnya DEATH VOMIT telah memiliki jadwal penampilan di Korea Selatan lebih awal, yakni pada tanggal 17 Oktober 2017 untuk tampil bersama Devourment, sebuah band slamming death metal asal Texas, USA bertempat di Club Crack, Seoul, namun karena alasan tehnis masalah Visa yang belum bisa keluar, terpaksa tidak dapat bergabung di konser tersebut. Sebagai gantinya DEATH VOMIT akan tampil secara spesial di Ansan We Rock, dan satu panggung dengan band-band Korea Selatan, Formal Apathy dan Doxology. 

DEATH VOMIT telah membuktikan sebagai salah satu pionir death metal Indonesia, yang  sejak awal telah memainkan musik Death Metal hingga sekarang. Tanpa terasa tahun ini adalah tiga tahun sejak album “Forging A Legacy” diluncurkan pada tahun 2014. Album tersebut merupakan album ketiga DEATH VOMIT yang telah beredar luas di Indonesia dan beberapa negara lain termasuk Amerika Serikat (USA). Album Forging A Legacy beredar dalam bentuk CD (compact disc), kaset maupun vinyl (piringan hitam). Dalam beberapa kesempatan baru-baru ini, telah dinyatakan bahwa di tahun 2017 ini band yang digawangi; Sofyan Hadi – Vocal / Guitar Oki Haribowo – Bass / Vocal Roy Agus – Drums ini mulai melakukan penggarapan materi untuk album baru yang diharapkan paling lambat tahun depan sudah dapat dirilis dan didengarkan masyarakat metal di Indonesia maupun dunia. 

Di tengah kegiatan mengumpulkan materi untuk album baru tersebut, beberapa kali DEATH VOMIT masih sempat menjalani beberapa konser di Indonesia, diantaranya adalah sebagai headliner acara Selatan Beringas di Kudus dan terakhir tampil sebagai salah satu band pembuka konser Dream Theater di perhelatan musik internasional JogjaROCKarta di Stadion Kridosono Yogyakarta. Di konser musik fenomenal tersebut DEATH VOMIT tambil menggandeng beberapa musisi Jogja untuk berkolaborasi, yaitu dengan para musisi yang tergabung dalam komunitas Drummer Guyub YK serta salah satu gitaris andalan Yogyakarta dan Indonesia, Eross Candra dari Sheila on 7.  (*)

‘Tembus Pandang’ album ke-4 Frau

Frau kembali meluncurkan mini albumnya yang ke-4. Album berjudul Tembus Pandang ini dirilis di Ruang MES 56, 23 November 2017. Mini album ini merupakan kolaborasi yang dimulai pada tahun 2015, antara Frau dengan Restu Ratnaningtyas, seniman yang dikenal atas keindahannya melukis dengan cat air. Sebelumnya Frau merilis album ke 3 yang berjudul Parasite Lottery dalam format piringan hitam 7” pada tahun 2016 lalu. Album ke-4 kali ini dikemas dalam bentuk cakram padat dan didistribusikan oleh Sbatu Records. Label rekaman yang dimiliki oleh Frau sendiri.
Lagu-lagu dalam mini album Tembus Pandang ini pertama kali dipentaskan pada 3 April 2015, saat Frau dipertemukan dengan Restu Ratnaningtyas di konser rutin kolaborasi musk-senirupa bertajuk Lelagu di Kedai Kebun Forum. Acara yang saat itu sudah sebelas kali diselenggarakan, biasanya menampilkan kolaborasi-kolaborasi yang menitikberatkan respon visual perupa atas bebunyian musisi.
Frau dan Restu pun memutuskan memaruh kewajiban tersebut: Restu merespon tiga lagu Frau, Frau merespon tiga gambar Restu. Proses kolaborasi alih-media selalu membutuhkan ‘lensa’; ‘lensa’ yang selalu bersifat tembus pandang. Kolaborasi tersebut kemudian menghasilkan 4 lagu yang disajikan dalam mini album ini

The Sailors

Sejak 2014 lalu, nama The Sailor and The Waves (TSATW) menjadi band yang ikut andil meramaikan hingar bingar dunia musik di Yogyakarta. Lewat musik-musik bernuansa punk dan surf, TSATW hadir menghibur skena musik Yogyakarta. Band ini diprakarsai oleh Dana (gitar), Duta (drum), dan Freddie (bass). Namun beberapa tahun sejak mereka bermain musik bersama, tepatnya di tahun 2016, Freddie yang sebelumnya menjaga keutuhan dendang dalam karya-karya TSATW memutuskan hengkang dari band karena beberapa alasan. Walau begitu, sisa personel TSATW tak patah arang untuk tetap bermusik, lalu merekrut Tian untuk mengisi kekosongan. Sejak formasi itu, band ini tetap bertahan sampai pada akhirnya mereka mumutuskan untuk mengganti nama menjadi The Sailors.
Menurut Dana, peralihan nama dari TSATW menjadi The Sailors, karena nama sebelumnya dibentuk ketika mereka masih bersama Freddie. Dana dan Duta merasa kurang bijak jika tetap mempertahankan nama tersebut. Selain itu, nama ini terlalu panjang untuk diingat dan disebutkan. “Biasanya kawan-kawan hanya menyebut Sailor atau Sailor Waves saja untuk menyebut kami. Maka dari itu kami mantap mengganti nama The Sailor And The Wave
Selain terjadi perubahan pada nama, konsep musik dari The Sailors pun mereka akui mengalami sedikit evolusi dari bentuk musik yang pernah diusung sebelumnya. Sajian musik yang akan mereka tawarkan di waktu mendatang tetap memiliki benang merah, terutama dengan masih adanya kisah lika-liku mahasiswa, yang mereka coba siratkan melalui berbagai analogi. “Musik kami yang semula keras dan menghentak dalam irama surfpunk, kini kami berikan sentuhan progresi chord bluesjazz yang dikemas dalam nuansa surf retro. (*)

Indonesian Surf Rock Band

oleh: Kiki Pea
Surf rock adalah subgenre dari musik rock yang identik dengan kultur selancar air. Musik ini sangat populer di Selatan California dari tahun 1962 sampai 1964. Pada perkembangannya ada dua warna musik ini, yang pertama adalah ‘instrumental surf’, yang identik dengan gitar elektrik dengan reverb amat kental yang dimainkan untuk membangkitkan suara ombak, jenis ini dipelopori oleh Dick Dale & The Del-Tones. Yang kedua adalah ‘vocal surf’, yang mengadopsi irama berselancar dengan harmonisasi vokal dan diiringi irama Rock & Roll ala Chuck Berry, The Beach Boys adalah pelopor jenis ini.
Di Indonesia, Surf Rock merupakan jenis musik yang jarang dibawakan. Namun, sejak tahun 2000an, tercatat beberapa nama band yang memainkan Surf Rock, yang pertama adalah The Southern Beach Terror. Tahun 2007 mereka merekam pertunjukan live di Joe’s Garage, Yogyakarta. Rekaman berisi empat track ini direkam hanya dengan menggunakan tape-recorder. The Southern Beach Terror memainkan surf-rock dengan edge punk ala band-band surf era 90-an, juga konseptual dengan mengangkat tema-tema Deathrock/Splatter-Movie/Psychobilly/Cult B-movie*. Bagi penggemar musik-musik 60’s surf-rock, 50’s rock n roll/garage, band asal Yogyakarta ini adalah sesuatu yang menyegarkan. Namun sayang, karena kesibukan masing-masing personelnya, saat ini The Southern Beach Terror sudah tidak lagi aktif di kancah musik bawah tanah.
Di Bandung terdapat satu nama yang sering muncul dalam line up acara-acara musik independen, adalah The Panturas yang juga tercatat pernah menjadi pengisi panggung acara berskala Internasional yang diadakan di Jakarta, We The Fest. Band yang yang dibentuk di penghujung tahun 2015 ini beranggotakan Rizal (gitar), Kuya (drum), dan Gogon (bass), dan Abyan (vokal dan gitar). Keempatnya merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Band ini diinspirasi dari The Ventures, band asal Amerika. Nama The Panturas identik dengan pantai utara. Dari The Ventures diplesetkan jadi The Panturas, biar lebih terasa lokal.
Beertubes adalah nama lain yang turut meramaikan jagad surf rock lokal. Desember 2015 lalu, band ini telah merilis album penuh berjudul “Nevermind The Sea, We Play Surf”. Beertubes adalah Rully (Drum), Ionk (Gitar), Rony (Bass) – Additional. Nama Beertubes itu sendiri berasal dari kata Beer Tubes yaitu alat penyaji minum Bir yg biasa disebut “Tower”. Personel band ini berdomisili di Bandung dan Bali.
Di Bogor yang notabene adalah kota hujan, justru melahirkan grup instrumental surf-rock bernama The Mentawais. Grup yang dibentuk pada tahun 2015 ini  merupakan kwartet yang terdiri dari Andre Varian (Drums), Bena Waketversa (Bass), Muhammad Arifyandi (Guitar), serta Umar Bawahab (Guitar). Selama kurun dua tahun perjalanannya, mereka memutuskan untuk tidak melakukan pertunjukan sama sekali dan lebih fokus di studio untuk merekam materi-materi lagu. Pada tahun 2017, berkerja sama dengan Hujan! Rekords dan Kick it Records, The Mentawais merilis debut mini album mereka yang diberi judul Surfin’ Java dalam format kaset pita. Direkam di Fake Hero Studio Bogor dan diproduseri langsung oleh The Mentawais, keseluruhan materi pada debut mini album Surfin’ Java memiliki nuansa 60’s surf style instrumental tradisional.
Menurut The Mentawais, mini album Surfin’ Java banyak terinspirasi dari spot surfing Batu Karas di Pangandaran, Jawa Barat yang masih terdapat banyak surfer yang menggunakan longboard dan mengingatkan akan era keemasan 60’s California beach scene di pantai barat Amerika. (*)

ROKET

Sekira 2013 lalu, Agib dan Fendee mengajak Kiki Pea untuk membentuk band dengan nuansa Punk Rock 70an. Kala itu beberapa kali Kiki diajak sebagai penyanyi tamu untuk band mereka NYK Guns. Namun rencana tersebut ternyata hanya di atas awang-awang, karena kemudian Agib memilih bekerja sebagai wartawan penuh waktu di ibu kota dan nyaris meninggalkan semua aktivitas bermusiknya.

Bertahun-tahun berlalu, Agib kembali ke Jogja, lantas menghubungi Kiki dan Fendee, serta menggaet Tutoet sebagai penggebuk drum. Wacana band ini akhirnya menjadi nyata setelah keempat lelaki paruh baya ini melakukan sesi latihan untuk perdana di Gegana MUSIC Studio.

ROKET ialah proyek musik senang-senang yang personelnya masih bermusik di band mereka masing-masing. Selain aktif sebagai pencabik bass di grup utamanya Alterego Jogja, Agib juga aktif di beberapa sesi proyek musik lainnya, seperti Momo dan Parabiru. Ia juga masih bekerja sebagai wartawan penuh waktu di Jogja.

Sementara itu Fendee selain menjadi pelatih anjing ras juga masih bermain distorsi bersama RochesterMusic. Tutoet yang merupakan drumer untuk Everlong Indonesia ini juga bekerja sebagai buruh audio. Sedangkan Kiki masih menggelinjang bersama band Rockabilly-nya Kiki & The Klan – K.K.K sembari bekerja sebagai jurnalis partikelir. (*)