Semrawutnya Sampah Visual

Di kota-kota besar fenomena sampah visual memang kerap terjadi, begitu juga di Yogyakarta. Sampah visual tersebut di antaranya iklan di luar ruang yang notabene milik publik. Bentuk Sampah Visual pun bisa bermacam-macam, di antaranya papan iklan, baik yang bersifat komersil maupun tidak. Ada juga yang berbentuk pamflet liar yang ditempel di tembok, tiang listrik, dan dengan ukuran yang lebih besar yaitu spanduk, baliho, dan sebagainya.

Belum lagi masalah tersebut diperparah dengan banyak papan iklan yang sudah habis masanya, namun masih juga terpajang hingga terkadang membuat suasana kota menjadi kotor. Ketika hal itu semakin dibiarkan, maka tidak mustahil kalau lama-kelamaan semua ruang publik akan didominasi oleh sampah visual.

Sampah visual ini memang sangat mengganggu, dan menurutku nggak cuma pamflet, poster, spanduk dan baliho, tapi juga instalasi listrik yang membuat ruwet pemandangan kota. Contohnya di kawasan tugu, meski gak banyak baliho dan spanduk, karena kabel yang semrawut kita mau motret yang bagus kan jadi susah, lha padahal tugu itu kan ikonnya Yogyakarta.
Menyikapi sampah visual sebaiknya nggak cuma fokus sama baliho dan teman-temannya, tapi juga infrastruktur kotanya.

Forum diskusi tentang fenomena ini telah banyak digelar, bahkan hasilnya banyak juga inisiatif dari warga untuk membersihkan sampah visual ini. Sumbo Tinarbuko adalah salah satu orang yang cukup aktif menyuarakan hal ini. Selain dosen di ISI Yogyakarta, beliau juga seorang penulis, dan aktif di gerakan Reresik Sampah Visual. Pada sebuah diskusi “Iklan, Sampah Visual, dan Tata Ruang Kota”, di Bentara Budaya Yogyakarta, Sumbo banyak mengemukakan tentang ruang-ruang publik Yogyakarta yang dirampas. Mengapa ‘dirampas’ karena ruang tersebut dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk tujuan kepentingannya yang bermacam-macam, mulai kepentingan ekonomi, hingga politik.

Di antara contoh yang dikemukakan Sumbo adalah saat menjelang pemilihan umum, dimana partai politik melakukan aksinya dengan memasang spanduk, baliho, dan lainnya di hampir setiap sudut kota. Ia juga mempresentasikan bagaimana Jembatan Janti seringkali berganti warna sesuai merk provider telekomunikasi tertentu yang beriklan di sana. “Bahkan jika tidak diawasi, mungkin empat sisi tugu akan berwarna-warni merah, kuning, biru sesuai merk-merk tersebut,” tambahnya.

Ia juga mengritisi janji Walikota Yogyakarta yang belum terwujud. Walikota pernah menjanjikan bahwa kawasan-kawasan di antaranya, Jl Diponegoro, Jl Solo, dan Jl Sudirman akan menjadi kawasan bebas sampah visual, “namun sampai saat ini, bukannya berkurang, malah semakin bertambah banyak,” tegas Sumbo.

Memang sudah sepatutnya bahwa ruang publik harus tetap menjadi milik publik, dan tidak diprivatisasi oleh pihak tertentu. Semoga hal ini bisa menjadi kesadaran bersama, dan semboyan “Yogyakarta Berhati Nyaman” bukan hanya sekedar slogan.

Menurut pengamatanku kurang lebih 25 persen musik sampah visual itu dihasilkan dari promo acara musik, misalnya di Perempatan Ringroad Kentungan, Spanduk dan Baliho ada di tiap sudut, dan pasti ada acara musiknya. Tapi kalau acara musik kan memakai baliho yang paten sesuai tempatnya, yang nyatanya memang ada disediakan tempatnya oleh pemerintah. Masalahnya adalah banyak acara yang sudah kadaluarsa tapi iklannya belum juga diturunkan. Sedangkan sampah visual dari kampanye politik itu ada juga yang tidak memakai spot yang disediakan. Mereka bikin sendiri spanduknya, dan bahkan pernah beberapa kali terjadi memasang di tempat ilegal, seperti di bangunan cagar budaya.

Masih adanya sampah visual ini menurutku juga menjadi bukti bahwa iklan konvensional masih dipakai. Namun kita sebagai band (Endank Soekamti) sudah tidak pernah bersentuhan lagi. Dulu kan pernah zamannya promosi acara konser pakai flyer, dan poster, tapi sekarang semuanya sudah beralih ke digital. Semua bentuk promosi yang dibuat sendiri oleh musisi sudah didigitalisasi. Lewat promo digital kan bisa lebih irit, nggak nyampah dan lebih efektif, informasinya bisa langsung sampai ke komunitasnya sendiri. 

Menurutku sampah visual di Kota Jogja termasuk parah dibanding kota lain, apalagi aku suka motret, jadi bisa merasakan banget keruwetannya. Buat terima kasih untuk teman-teman yang sudah melakukan aksi nyata membersihkan kota dari sampah visual. Itu adalah hal terbaik yang bisa dilakukan masyarakat. (*)

Ingatanku Tentang Gempa 2006

GEMPA bumi yang terjadi 2006 silam cukup berdampak yang luar biasa bagi Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Ketika sebagian besar masyarakat hendak bersiap memulai aktivitas, Sabtu, 27 Mei 2006 sekitar pukul 05.55 WIB, tiba-tiba dikejutkan oleh guncangan yang memporak-porandakan isi Kota Jogja, Bantul dan sebagian wilayah Sleman serta beberapa daerah di Jawa Tengah Selatan.

Saat itu hampir semua orang terkecoh, jika gempa bumi adalah akibat Gunung Merapi yang sedang mengalami peningkatan aktivitas. Terlebih gempa tersebut terjadi berbarengan dengan munculnya asap tebal dari Puncak Merapi. Gempa bumi 2006 lalu ini termasuk gempa bumi tektonik dengan kekuatan 5,9 skala Richter (SR) dan berlangsung selama 57 detik. Pusat gempa terjadi pada 8,03 derajat Lintang Selatan dan 110,32 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 11,3 kilometer yang mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan setidaknya 6.000 korban jiwa.

Peristiwa ini tentunya sudah menjadi ingatan masyarakat yang terkena dampaknya. Hampir setiap tanggal tersebut, sebagian besar Timeline sosial media menceritakan ulang pengalaman mereka akan peristiwa yang tentunya bukan semata-mata akibat dosa manusia, seperti yang sering diteriakkan sebagian warganet dengan melayangkan ayat-ayat tertentu.

Melalui akun twitter, aku juga pernah berkicau tentang detik-detik saat menjelang peristiwa alam tersebut. Begini kicauanku saat itu di akun @ErixSoekamti, May 27, 2012:

Hari ini #6thnGempaYK sehari sebelumnya saya berantem sama pacar. Saat itu Endank Soekamti & crew semuanya tinggal dalam satu atap dengan status masih bujang. Satu jam sebelum gempa saya maen Playstasion bareng Rintho Aribowo (salah satu kru ES), Ari Soekamti bobok lebih awal, dan Dory Soekamti pergi ke warnet depan.

Karena mata mulai pedas, saya meninggalkan Rintho yang sedang asik bermain PS dengan stick balap yang baru saya beli. Tiba-tiba….. 05.55 Vibration Stick PS balap yang dimainkan Rintho bergetar menjadi 5.9 skala richter. Dia kemudian lari dan teriaak …….ERIX!!!

Entah apa yang terbersik dikepala Rintho dari beberapa teman di beskem, hanya nama saya yang terucap dari mulutnya *PrekBgt

Sebuah gitar Bass dikamar membangunkan saya dengan tidak senonoh. Ia yg berdiri angkuh di sebelah saya tiba-tiba terjatuh tepat dikepala. Lambat laun secara slow motion, saya mulai terbangun dan keluar, semuanya bergoyang… Melangkahpun susah.

Disaat keluar, saya menyaksikan banyak warga panik. mata saya nggak mau libur dan tak kuasa untuk terus melihat kost-kostan putri di ujung jalan. Tiba-tiba pandangan pun berubah fokus tatkala seseorang datang dengan senyum, berjalan pulang dari warnet… Dialah Dory Soekamti.

Dengan senyumnya, Dory bercerita tentang apa yang terjadi saat asik masyuk menikmati donlotan video mesum dilantai 2. “ASU!! Lagi enak-enak kok monitornya goyang semua, dari lantai dua semua user Rama Net pada lari rebutan satu pintu,” ujarnya.

Setelah semuanya mulai reda dan dianggap sudah aman, kami kembali masuk rumah. Ehh.. Ari Soekamti baru bangun 🙂 *KlupaanBangunin “pagi ”

Semua terjadi sangat cepat dan semua masih santai, masih ketawa ketiwi dan saling bercerita tentang apa yang dialami. Karena masih ngantuk.. Sayapun tidur kembali… Begitu juga dengan yang lain 🙂 zzzzz..Zzz..Zz

Sejenak terlelap, gempa itu datang lagi!! Seperti belum puas menghajar kami, kali ini mereka datang lagi dengan ditemani isu tsunami. saya berusaha menelpon keluarga dan mantan pacar 🙂 berharap gempa ini mampu menggetarkan hatinya untuk kembali kepelukan saya.

Beskem Endank Soekamti jauh dari jalan raya, listrik mati. Kami benar-benar nggak tahu apa yang terjadi.

Jam menunjukan pukul 2, muncul inisiatif mencari berita lewat gelombang radio Hp, lalu kami menemukan Sonora fm.Semuanya menjadi sangat serius buat kami ketika kaget mendengar info radio Sonora mengatakan bahwa korban sangat begitu banyak.

Karena ngantuk dan lapar setelah manggung di Jakarta dan berlanjut di Solo, Erix mengaku mulai susah mengingat! 🙂 “Saya nggak mau cerita yang sedih-sedih,”

***
Peristiwa gempa bumi 2006 mampu menjadi sebuah pembelajaran kehidupan bagi masyarakat, dimana dengan begitu, masyarakat dapat hidup selaras di wilayah rawan gempa. Semoga ke depannya Jogja selalu baik-baik saja, dan warganya semakin berhati nyaman. (*) 

Killthedj dan Pertanian

Kamu pasti kenal siapa Marzuki Mohamad kan? Ditengah kesibukannya sebagai rapper dan berbagai aktivitas seni budaya, pria yang dikenal dengan nama Killthedj kini memiliki kegiatan lain yang jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Menjadi Petani memang sudah menjadi keinginan sejak lama dari seorang Marzuki. Pendiri Jogja Hip Hop Foundation ini juga aktif membangun desa kelahirannya di kawasan Prambanan. Ia berpikir untuk mengelola tanah dan rumah orangtuanya yang sudah tidak dihuni selama beberapa tahun. “Tinggal di desa lebih santai, sepi dan bisa kenal dengan banyak masyarakat,” katanya.

Ia berujar bahwa akan sia-sia jika pulang kampung jika tidak melakukan aktivitas berupa aksi nyata di masyarakat. Karenanya dengan modal secukupnya, pria yang akrab disapa Juki ini membuat aksi pertanian dengan pemuda di kampungnya. Sebelum melancarkan usahanya, ia dan kawan-kawannya melakukan studi banding ke beberapa daerah yang maju pertaniannya seperti, Kulonprogo, dan Salatiga. Setelahnya mereka menyewa tanah kas desa dan merekrut beberapa pemuda yang berusia dibawah 25 tahun. Di antara mereka ada yang sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan, karyawan toko, mantan pelayan di diskotik, hingga para pelajar SMA. Juki dan pemuda desanya menggarap berbagai sayuran, palawija, padi, hingga kolam ikan. “Tujuannya bukan pada hasil, tapi bagaimana belajar bercocok tanam dengan baik,” tegas rapper kelahiran Klaten, 21 Februari 1975 ini.

Ke 12 pemuda yang bercocok tanam bersama Juki menyiapkan 30 kantung polybag di rumahnya masing-masing. Hal ini, menurutnya untuk melakukan kedaulatan pangan di rumah masing-masing. Meski ide tersebut belum bisa dijalankan sepenuhnya, namun minimal bisa menumbuhkan kesadaran, dan menutupi kebutuhan sehari-hari. “untuk beberapa bumbu, kini kami tidak harus beli lagi setiap harinya,” ungkap rapper yang bersama JHF telah dua kali melakukan tur di Amerika Serikat ini.

Juki menceritakan sebagai contoh, dari 10 polybag dalam dua minggu bisa menghasilkan 2kg sawi. Namun jika dikalikan 12 orang, jumlah tersebut bisa menghasilkan sesuatu. Ketika panen, mereka pun menjualnya langsung ke pasar Prambanan. Sejak kecil, pencipta lagu ‘Jogja Istimewa’ ini memang sudah dekat dengan dunia pertanian. Bersama bapaknya ia seringkali ikut ke sawah untuk mencabuti rumput liar. Juki kecil juga kerap diberi tugas untuk menyiram tanaman, menggiring air untuk arus irigasi, dan membantu ketika panen. Di tengah kesibukan padatnya jadwal aktivitas kebudayaan, Marzuki selalu akan menyempatkan diri mengurus pertanian di desanya yang memang sudah mengalir di darahnya sejak kecil. (*)

Selamat Jalan Made Navicula & Afi

Senin (26/3/2018) musik Indonesia berduka, kabar duka tersebut datang dari personel band grup band Navicula, Made Indra Dwi Putra. Setelah tiga hari dirawat di ruang perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, musisi Bali ini meninggal dunia. Made Indra menghembuskan nafas terakhir pada pukul 18.25. Made menyusul kekasihnya Afiriana Dewi yang meninggal sesaat setelah kecelakaan di Jalan Raya Sakah, Sukawati, Gianyar pada Sabtu (24/3/2018) dini hari. Sebelumnya dua sejoli ini mengalami kecelakaan di Jalan Raya Sakah, Ubud, Gianyar. Menurut berita, sebelum meninggal dan selama masa pemulihan, Made telah ditangani sejumlah tim dan ahli bedah syaraf. Mulai dari bedah ortopedi, bedah torax, bedah umum dan Anestesi. Rencana Made untuk menikahi Afi pun pupus. Sebelumnya Made telah datang ke rumah keluarga Afi di Godean Yogyakarta.

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu setiap ke Jogja, Navicula selalu singgah bahkan menginap di Basecamp Endank Soekamti. Mereka bisa menghabiskan waktu seminggu untuk beberapa gigs di Jogja. Awal perkenalanku dengan mereka dari Nymphea Band yang juga berasa dari Bali. Mereka juga kerap menginap di basecamp Endank Soekamti. Saat itu kami menempati sebuah rumah kontrakan di dekat kawasan Casagrande Yogyakarta.

Di Jogja, kita pasti senang-senang terus, mereka bahkan ikut siaran di Radio Soekamti, biasanya kita berdiskusi seputar musik, dan kehidupan. Selain siaran, kita juga kerap bermain Play Station, dan Made salah satu yang paling hobi main game sepakbola tersebut. Navicula adalah band yang sangat ‘enjoy’ dengan rutinitasnya, mereka sangat menikmati kehidupan tur dan jalan-jalan di Jogja.

Sewaktu mendengar berita kepergian Made dan pacarnya Afi karena kecelakaan, aku sangat sedih dan terpukul sekali. Meski termasuk sudah jarang ketemu, hubunganku dengan Made sangat dekat. Mungkin karena sama-sama bassist, jadi ada hubungan emosional tersendiri. Sewaktu bertemu di Jogja, Made juga sempat curhat soal hubungannya dengan Afi yang merupakan anak Jogja. Kami bercanda soal budaya dan gaya anak muda di Jogja. Pada tahun 2013 Afi juga membantu video klip Endank Soekamti ‘Aku Gak Pulang’. Di video klip yang syutingnya dilakukan di rumah Athonk (seniman Tatto dan tokoh Rockabilly Jogja) itu, Afi tampil sebagai cameo.

Sehari setelah kecelakaan, saat Made dalam masa-masa kritisnya, aku sempat Whatsapp Robi Navicula. Aku dan teman-teman di Endank Soekamti turut berduka dan mendoakan agar Made bisa selamat dan kembali pulih. Aku juga berkata pada Robi kalau ada konser Navicula yang sudah terlanjut terikat kontrak, aku bersedia menjadi bassit mereka, menggantikan sampai Made kembali pulih. Aku rasa saat itu baru hal tersebut yang bisa kulakukan dan kubantu sebagai sahabat dan solidaritas sesama musisi.

Endank Soekamti dan Navicula juga sering manggung bareng, terutama di Bali. Tapi sayangnya belakangan ini kita jarang berjejeran waktunya, jadi justru malah mulai jarang bertemu di backstage. Bagiku Navicula adalah band yang apik banget. Liriknya bagus, tajam, dan aksi sosialnya sangat nyata. Mereka adalah band yang sangat fokus dengan apa yang mereka perjuangkan, bukan cuma pencitraan.

Misalnya saat konser musik Lockstock 2 di Stadion Maguwoharjo Sleman, Yogyakata, pada 2013 silam. Karena muncul berita negatif soal acara tersebut, Navicula malah dipuji-puji publik jejaring sosial Twitter. Mereka sangat berjiwa besar untuk terus tampil meski bayarannya gak jelas. Navicula tetap konser dan menyuarakan apa yang mereka perjuangkan. (*)

Terbuka dan Transparan

Adakah yang belum tahu bahwa setiap tanggal 28 September, seluruh dunia memperingati ‘The International Right To Know Day’ alias ‘Hari Hak untuk Tahu Sedunia’. Gagasan dari perayaan ini adalah menyadarkan masyarakat bahwa mereka memiliki hak dan kebebasan dalam mengakses informasi publik. Aku pernah diundang oleh Kominfo sebagai pembicara di Seminar Nasional KOMTIF 2017. KOMTIF (Komunikasi Kreatif) merupakan acara tahunan yang diadakan KOMMIK (Korps Mahasiswa Manajemen Informasi dan Komunikasi) Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta. Tujuan mendasar dengan diadakannya KOMTIF yaitu untuk mengembangkan skill dan keterampilan di bidang komunikasi. Tahun 2016 KOMTIF mengangkat tema “Facing The New Communication Culture With New Media”. Pada tahun ini KOMTIF hadir kembali, dengan mengusung bidang komunikasi dan kebudayaan.

Pada era digital ini kawula muda memegang peranan vital dalam meneruskan kebudayaan. Perlu banyak wadah untuk mendongkrak semangat muda berbudaya. KOMTIF 2017 mengangkat tema “Membangun Karakter Pemuda dengan Budaya di Era Digital”. Sebagai negara demokrasi, Indonesia turut mendukung hak publik akan informasi. Sejarah keterbukaan informasi publik di Indonesia dimulai sejak reformasi 1998.  Ketika itu seluruh elemen masyarakat menuntut pemerintah agar lebih transparan dan melibatkan warga dalam pengambilan kebijakan, perencanaan dan pengawasan pembangunan.

Hari Hak untuk Tahu Sedunia merupakan momentum bagi badan publik, untuk membuka diri dalam memberikan informasi publik. Perlu dicatata bahwa memperoleh informasi dijamin oleh konstitusi, sesuai dengan Pasal 28F dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengatur hak setiap orang untuk memperoleh dan menyampaikan informasi. Karena itu, Hak atas informasi yang terbuka menjadi pembuka jalan bagi terjaminnya pelaksanaan hak-hak asasi lainnya, seperti hak atas pendidikan, hak untuk hidup sejahtera, hak untuk hidup aman, dan hak warga negara lainnya.

Hari Hak Untuk Tahu Sedunia ini mulai diperingati secara internasional sejak 28 September 2002 di Sofia, Bulgaria. Seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang pesat serta potensi pemanfaatannya secara luas, membuka peluang masyarakat untuk mengakses dan memberdayakan informasi secara cepat dan akurat. Di pemerintahan, pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi juga bisa meningkatkan efisiensi dan transparansi penyelenggaraan pemerintahan. Dalam hal ini pemerintah juga harus dapat menyediakan informasi yang menjadi kebutuhan setiap orang bagi pengembangan pribadi dan lingkungan sosialnya

Keterbukaan informasi publik merupakan sarana dalam mengoptimalkan pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan Badan Publik lainnya dan segala sesuatu yang berakibat pada kepentingan publik. Tata Kelola Informasi Publik sesuai dengan ketentuan yang berlaku diperlukan untuk mengelola informasi publik yang dihasilkan oleh Badan Publik yang merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan masyarakat informasi. Sedangkan untuk menyelenggarakan pemerintahan yang baik (good governance) dan meningkatkan layanan publik yang efektif dan efisien diperlukan adanya ketersediaan informasi publik, kebijakan dan strategi pengembangan e-government.

Seiring majunya perkembangan teknologi dan informasi, ketertutupan badan publik khususnya penyelenggara negara sudah tak relevan dengan tuntutan zaman. Ketertutupan hanya akan menghambat kemajuan serta melemahkan daya saing masyarakat dalam persaingan global. Bayangkan, dengan fasilitas internet, kita bisa melihat ragam kehidupan teman-teman kita di belahan dunia lain. Misalnya lewat blog, dan yang paling populer adalah vlog. Kita juga bisa bercakap-cakap dengan kawan baru dari berbagai dunia, tanpa kesulitan masalah bahasa. Jika zaman sudah semakin terbuka, maka badan publik penyelenggara negara sudah seharusnya ikut terbuka dan transparan. (*) Continue reading “Terbuka dan Transparan”

Sowan Ke Ibu Soekamti

Ibu Soekamti adalah sosok penting di balik nama Endank Soekamti. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia dan juga Wali Kelasku semasa belajar di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta. Di SMM aku diluluskan dengan tidak hormat alias Drop Out.
Sebagai guru, ibu Soekamti adalah sosok yang dibesarkan dari lingkungan disiplin yang penuh dengan aturan dan tata krama. Setelah lulus dari IKIP, beliau diangkat menjadi guru dan ditempatkan di SMM. Sebagai seorang guru, tentunya beliau harus menerapkan ilmu juga berikut kedisiplinan lainnya. Sedangkan siswa-siswa di Sekolah Musik tersebut terkenal dengan sifatnya yang ingin ‘bebas’, sehingga untuk menanamkan kedisiplinan di sekolah, Bu Kamti perlu banyak usaha.
Setelah belasan tahun menyandang nama Endank Soekamti, aku belum pernah sowan dengan sang pemilik asli nama Soekamti tersebut. Menjelang perilisan album ‘Salam Indonesia’, aku sengaja mengunjungi Ibu Soekamti dan memperkenalkan para personel Endank Soekamti.

Nomer hp Bu Kamti aku dapat dari grup WA alumni SMM. Meski beberapa kali sempat nyasar, tidak terlalu sulit menemukan rumah beliau, semua tetangga mengenal sosoknya. Bu Kamti sudah lama pensiun, tepatnya 2011 lalu beliau sudah tidak lagi mengajar di SMM. Selama 35 tahun mengajar, sudah ribuan murid yang diajarinya, dan tentunya masing-masing menyimpan kenangan tersendiri. 

Setelah puluhan tahun lamanya, aku sempat kaget ketika pertama kali bertemu, ternyata sosok Bu Kamti tidak seperti yang aku bayangkan. Beliau sangat ramah dan terlihat cantik. Setelah bersalaman dan dipersilakan duduk, aku menanyakan kesibukan beliau saat ini. Dengan santai, Bu Kamti menceritakan kesibukannya, saat ini ia hanya di rumah saja sebagai MC (momong cucu). Dari tiga orang anak, Bu Kamti dikaruniai tiga cucu yang tinggal di rumahnya, dan  dua cucu lainnya. Satu di antara cucu Bu Kamti merupakan lulusan SMM jurusan biola.

Dengan jujur, Bu Kamti mengaku lupa denganku sewaktu di sekolah dulu. Maklum, sudah 35 tahun mengajar tentunya sudah ribuan murid yang ia didik, dan sulit mengingatnya satu persatu. Mungkin Bu Kamti lupa karena selama di sekolah kepalaku selalu gundul, maklum saat itu aku masih jadi skinhead, hehe.

Perbincangan semakin cair ketika Bu Kamti bercerita bahwa suatu ketika ia disodori majalah oleh Pak Wardani yang juga guru di SMM, “ibu sudah baca ini?” Di majalah yang terbit skala nasional tersebut ditulis tentang sosok Endang dan Soekamti. Keduanya kontras, jika Endang adalah sosok yang halus, baik, dan ramah, Soekamti sebaliknya, galak. Belum lagi ada tetangganya yang mendengar di radio yang menceritakan asal muasal nama band Endank Soekamti.
“Lha, ibu nggak tahu, bahkan sampai dikomentari tetangga yang bilang, kalau ngajar jangan galak-galak, bu!” katanya.

Sontak aku pun mati gaya mendengarkan ceritanya tersebut, untungnya Dory segera memberikan tanggapan, “wawancara itu hanya main-main kok, bu, hehehe.” katanya dan aku segera mengiyakan pernyataannya sambil senyam-senyum.
“Ya saya kaget, kok Erix bisa begitu  ya, tapi nggak apa-apa lah, saya doakan semoga jadi orang besar”. ujar Bu Kamti melegakan perasaanku. 

Kami pun lanjut berbincang-bincang tentang kenangan semasa sekolah di SMM. Seperti yang diakui Bu Kamti, dulu aku termasuk siswa yang rajin di sekolah, bahkan ruang praktek musik sudah seperti kos-kosan, kita makan dan tidur pun di sana, tapi kalau pas masuk kelas malah selalu terlambat. Satu-satunya guru yang ingin menerapkan disiplin di sekolah ya cuma Bu Kamti. Tapi dasar sekolah seni di zamannya, anak-anak susah diatur, apalagi seperti yang dikatakan Bu Kamti, mata pelajaran Bahasa Indonesia dan lainnya di luar pelajaran musik itu dipandang sebelah mata. Siswa saat itu selalu pilih-pilih mata pelajaran. Selama puluhan tahun mengajar di SMM ia selalu bertemu murid yang hampir sejenis, ingin bebas. Bayangkan yang daftar masuk ke sana ada ratusan siswa, tapi yang lulus mungkin hanya puluhan. ;p

“kalau guru lain bisa santai mengikuti alur siswanya, nah kalau di mata saya nggak bisa seperti itu, umumnya siswa di sekolah musik sudah menganggap dirinya calon seniman, padahal kalau bagi saya yang penting harus menurut aturan yang ada, nah Erix ini termasuk yang suka menentang aturan,” katanya.

“Siapa yang mampu datang ke sekolah tepat jam 7 pagi? Biasanya setiap jam kemudian murid-murid baru berdatangan, sampai hampir bubar setengah 9, baru kelas penuh, dan besoknya seperti itu lagi, hampir terjadi setiap hari,” kenangnya. 
“Sebenarnya dulu itu saya galaknya seperti apa sih,” tanya beliau. Aku pun tidak bisa menjawab karena memang banyak hal yang terlupakan di saat-saat sekolah dulu.
“Ya kalau begitu saya mohon diikhlaskan kalau dulunya galak, tapi kalau nggak galak mungkin sekarang Erix cuma jadi musisi biasa aja,” ujarnya lalu kami semua pun tertawa.

Beliau mengaku pernah menonton Endank Soekamti di televisi tapi tidak mengenali Erix itu yang mana. Bu Kamti juga bercerita kalau sempat dipanggil sebuah stasiun televisi nasional untuk menjadi narasumber, tapi kebetulan saat itu beliau berhalangan hadir, karena sedang kurang sehat.

Lalu kami bercerita banyak hal, di antaranya beliau masih sering bertemu beberapa murid-muridnya, mereka juga kerap mampir ke rumah beliau. Aku juga sempat menceritakan tentang DOES University dan minta doanya dari beliau.
Setelah lulus dari IKIP, Bu Kamti melamar pekerjaan untuk menjadi guru. Ketika proses wawancara, ia mendapat penempatan di Semin, Gunungkidul. Ia juga mendapat tawaran lain, bagaimana kalau mengajar di Bantul? Mengajar di Semin yang ini bisa berjalan kaki, juga bisa naik sepeda. Semin yang dimaksud ternyata Sekolah Musik Indonesia, sebelum bernama SMM. Ia pun penasaran, dan sorenya langsung melihat lokasi sekolah tersebut. Sekolah Musik Indonesia saat itu dikelola langsung dari pemerintah pusat di Jakarta, dan ketika Bu Kamti mulai mengajar di sana tahun 1976, sekolah tersebut kemudian ditarik Kanwil Yogyakarta.
Selama dua tahun pertama mengajar, Bu Kamti tidak diberi tugas apapun. Ia tidak diberi pekerjaan oleh kepala sekolah di sana. “Ya, dua tahun hanya datang, duduk, dan absen. Akhirnya saya sampai lapor ke Kanwil, dan katanya yang penting ikuti aturan yang ada di SMM,” ujarnya 

Setelah Kanwil mulai turun tangan, beliau baru diberi tugas mengajar. Bu Soekamti mengajar di sana hingga beliau pensiun, sungguh pengabdian yang luar biasa untuk dunia pendidikan.
Di akhir perbincangan, beliau melontarkan arti di balik nama Soekamti yang diberikan orangtuanya. Hal tersebut membuatku kaget dan merasa beruntung, sebab selama ini ternyata aku sendiri tidak tahu. Ia mengatakan bahwa, SU artinya ‘indah’, KAM berarti ‘datang’, dan TI adalah nama Jawa untuk perempuan. Bu Kamti mempunyai saudara kandung laki-laki yang bernama Soekamto. Maka Soekamti artinya adalah ‘Kedatangan Yang Membawa Keindahan’.
Saat ini di masa pensiunnya, beliau ingin hidup santai. Sebelumnya ia sempat dipanggil lagi oleh SMM untuk kembali mengajar, namun ia sudah tidak berkenan. Terimakasih Bu Soekamti, engkau adalah inspirasi bagi kita semua. (*)

Konser Musik Rock, Kenapa Mesti Rusuh?

Banyak kejadian musisi musisi besar yang dipersulit izin konsernya oleh kepolisian. Hal ini dikarenakan kerap terjadinya kericuhan di sela-sela konser mereka. Kejadian ini juga terjadi pada dua musisi besar tanah air, Iwan Fals dan Slank. Tercatat, sewaktu konser tunggal Iwan Fals di Ancol 2005 silam, sempat terjadi kericuhan. Iwan Fals pun berhasil ‘menjinakan’ penggemarnya dan meredam suasana lewat hentakan lagu ‘Hio’ yang sangat meditatif sebagai penutup.

Kerusuhan bermula ketika lagu ke-17 dari 20 lagu yang dijanjikan Iwan dinyanyikan. Di tengah lagu, tiba-tiba kerumunan massa berlomba keluar dari lokasi mereka dengan cara melompat pagar besi. Jumlah massa yang tak terkendali memaksa pihak berwajib melepas tembakan peringatan. Saat peristiwa tersebut terjadi, tampak batu dan beberapa benda seperti alas kaki bertebangan ke segala arah.

Pecahnya ricuh bermula dari tengah barisan saat semua penggemar asik loncat-loncat dan mengikuti Iwan bernyanyi. Ricuh tersebut memicu ratusan penggemar berupaya lari menyelamatkan diri. Meski beberapa pagar besi sudah berjatuhan, namun penonton tetap tertib menikmati lagu Iwan Fals. Para penggemar Iwan sebanyak kira-kira 40 ribu orang itu pun pulang dengan tertib.
Lain lagi hal yang menimpa Slank, kare

na sering dicekal untuk mengadakan konser, Slank sempat mengunjungi Mahkamah Konstitusi (MK), Sehingga pihak kepolisian memaparkan pertimbangan mereka mencekal Slank. Pertimbangan dari Polda Metro Jaya adalah, pada 2009 konser Slank di Yon Arhanud Tangerang, massa melakukan pengerusakan ruko-ruko yang ada di wilayah Tangerang Kabupaten dan Tangerang Kota banyak ruko yang kacanya hancur.

Konser November 2012 di BSD City Serpong, Polres Tangerang Kabupaten kembali tidak memberikan izin terkait dengan para penonton yang belum bisa tertib. Namun selama tahun 2012 Polda Metro Jaya telah mengizinkan konser Slank di beberapa tempat. Iwan Fals dan Slank sudah seringkali meminta penggemar mereka untuk menghentikan keributan di konser mereka.

Kerusuhan parah juga tercatat di banyak konser kelas dunia. masih ingat Woodstock 1999? Festival yang pertama kali digelar pada 1969 ini, awalnya untuk menyuarakan perdamaian dunia. Namun pada Woodstock ketiga kalinya yang digelar di Kota New York, 22-25 Juli 1999 berlangsung rusuh dan kacau. tercatat sederet band papan atas tampil saat itu, di antaranya Red Hot Chili Peppers, Rage Against the Machine, Korn, dan Limp Bizkit.

Kerusuhan dimulai Sabtu malam, 24 Juli ketika Limp Bizkit beraksi. Banyak berita yang beredar adanya kasus-kasus pelecehan seksual. Ketika Limp Bizkit membawakan lagu “Break Stuff”, kerusuhan semakin menjadi, beberapa penonton mencopot papan pagar membawanya ke tengah kerumunan massa. Bahkan ketika Red Hot Chili Eppers beraksi pun, terlihat api unggun. Mereka membakar pagar, papan kayu, dan benda-benda lainnya sehingga arena konser semakin memanas
Namun memang dari awal konser kondisi dan situasi yang berlangsung di arena konser memang sudah terlihat buruk. Suhu udara yang panas membuat para penonton cepat sekali kehausan dan kerumunan massa yang banyak mengharuskan beberapa orang mengalami sesak nafas.

Konser musik rock and roll terbesar di akhir 60’an setelah Woodstock adalah Altamont free Concert. Selain terbesar, konser ini pun adalah yang paling berdarah. Altamont Free Concert yang berlangsung di California Utara pada 6 Desember 1969, empat bulan setelah Woodstock, dihadiri oleh 300.000 penonton dan diramaikan oleh band ternama saat itu diantaranya: Rolling Stones, Jefferson Airplane dan Grateful Dead (yang batal tampil). Kesalahan terletak pada pihak penyelenggara yang saat itu menggunakan jasa gang motor besar ternama di AS, Hell’s Angel, sebagai keamanan konser. Para penonton yang dipengaruhi oleh obat bius dan alkohol mulai bertingkah seenaknya dan memicu kemarahan para anggota Hell’s Angel yang ada di sekitar panggung. Mereka pun terprovokasi. Ketika The Rolling Stones tampil, salah seorang penonton tertikam dan mendapat luka tusukan dari seorang anggota geng motor tersebut.

Di ranah Subkultur skinhead terdapat kelompok pro-rasis dan anti-rasis. Pergesekan dan persinggungan kedua kelompok ini pernah meledak engakibatkan di konser Punk Riot, tepatnya di San Bernadino, California, 2006 lalu. Seorang skinhead neo-Nazi tewas akibat luka tusukan yang menikamnya. Di luar arena konser, massa yang masih marah semakin membuat kerusuhan, memecahkan kaca-kaca toko dan rumah di sekitar arena konser.
Para pecinta musik rock akhirnya mendapatkan cap sebagai perusuh, hal ini juga dialami Endank Soekamti, bahkan ada kota yang sudah bertahun-tahun tidak mengijinkan Endank Soekamti tampil di sana.

Nyaris lima tahun sudah Endank Soekamti absen dari riuhnya panggung musik di kota Solo. Tercatat terakhir kali Endank Soekamti tampil di Solo adalah Malam minggu, 8 November 2014 silam, tepatnya di Alun-alun Utara Solo.
Saat itu hingar bingar konser yang dihadiri Kamtis dari berbagai penjuru sempat terhenti saat sejumlah Kamtis nekat naik ke pagar pengaman pembatas yang terletak persis di depan panggung. Seketika aparat yang bertugas memukul pentungannya ke arah para Kamtis yang sedang ‘Bercinta Sekuat Tenaga’.

Tidak pakai lama Erix langsung beraksi dan mengendalikan suasana sambil berujar dengan tegas kepada aparat: “Pak, mikrofon saya lebih tajam dari pentungan bapak!”
Seperti yang dicatat di portal Solopos, saat itu sebagian aparat yang sebelumnya berjaga di depan panggung mundur dan memilih berjaga di sekitar panggung.
Endank Soekamti bersama kru panggung selanjutnya mengendalikan situasi. Para Kamtis juga menuruti arahan, Endank Soekamti pun mampu menenangkan Kamtis yang malam itu kemudian berlaku tertib tanpa pengamanan berlebihan dari aparat.

Masih menurut Solopos, “malam itu satu lagi bukti konser musik rock yang kerap dicap urakan dan rusuh bisa berlangsung damai tanpa pengamanan represif”.
Meski berakhir damai, konser tersebut menjadi kali terakhir pertunjukan Endank Soekamti di Solo. Kini, lima tahun berlalu Endank Soekamti akhirnya kembali ke kota tersebut. Bagaimanapun sebagai band asal Yogyakarta, Solo merupakan kakak kandung dari kota dimana Endank Soekamti tumbuh dan besar.
Bagaimana agar musisi favorit bisa terus tampil di kota kesayangan kita? Bagaimana cara membuktikan bahwa konser musik rock yang kerap dicap urakan dan rusuh bisa berlangsung damai tanpa pengamanan represif?
Tuliskan pendapat kalian di kolom komentar. (*)