Tidak Harus Jadi Pintar, Tapi Pastikan Mereka Jadi Orang Baik

Hal pertama yang aku ajarkan pada anak-anaku adalah perbedaan antara baik dan buruk. Aku selalu berusaha mengenalkan kalau ini baik, dan itu buruk. Contohnya, bagaimana cara memanggil orang tua, cara bicara yang sejajar, cara makan, dan sebagainya. Selain itu yang lebih penting pada anak laki-laki adalah mengajarkannya bagaimana sikap dan cara memperlakukan perempuan, dan bisa mengalah dengan teman.

Anak-anak seusia Goku memang seharusnya diberikan kebebasan menggeluti apa yang dia suka. Sebagai orangtua, jangan pernah memaksakan kehendak agar anak-anak bisa memenuhi keinginan orangtuanya. Aku sangat nggak setuju dengan orangtua yang ‘hyper parenting’. Aku pernah melihat sendiri orangtua seperti ini ketika menjadi juri lomba anak di sebuah mal di Solo.

Orangtua yang ‘hyper parenting’ ini biasanya merasa tidak puas dengan karir atau segala hal yang mereka peroleh, sehingga mereka melampiaskannya pada anak-anak mereka. Orangtua mesti tahu bahwa memaksakan kehendak adalah hal yang tidak baik. Dampaknya bisa berakibat sangat fatal bagi anak-anak, baik secara psikologis maupun secara fisik.

Pada dasarnya, setiap anak-anak memiliki jiwa yang bebas. Anak-anak juga dapat berkembang dengan baik karena mereka memiliki kebebasan dalam bereksperimen, bereksplorasi, berpendapat, dan lainnya.

Proses ini memang seharusnya mereka lalui dalam kehidupan, agar anak dapat memaksimalkan potensinya, dan mengasah kecerdasan mereka dalam masa tumbuh kembang. Sebuah impian dan cita-cita seorang anak bisa selalu berubah. Namun orangtua jangan khawatir apakah bakat yang sedang ditekuninya bisa menjadi kariernya di masa depan.

Yang penting adalah jangan pernah memaksakan kehendak untuk sama seperti orangtua, dan bisa membimbing semua bakat minat dan potensi yang memang sudah di anugerahkan-Nya.

“Aku gak pernah ngajarin jadi pintar, tapi memastikan mereka jadi orang baik”