Selamat Jalan Made Navicula & Afi

Senin (26/3/2018) musik Indonesia berduka, kabar duka tersebut datang dari personel band grup band Navicula, Made Indra Dwi Putra. Setelah tiga hari dirawat di ruang perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, musisi Bali ini meninggal dunia. Made Indra menghembuskan nafas terakhir pada pukul 18.25. Made menyusul kekasihnya Afiriana Dewi yang meninggal sesaat setelah kecelakaan di Jalan Raya Sakah, Sukawati, Gianyar pada Sabtu (24/3/2018) dini hari. Sebelumnya dua sejoli ini mengalami kecelakaan di Jalan Raya Sakah, Ubud, Gianyar. Menurut berita, sebelum meninggal dan selama masa pemulihan, Made telah ditangani sejumlah tim dan ahli bedah syaraf. Mulai dari bedah ortopedi, bedah torax, bedah umum dan Anestesi. Rencana Made untuk menikahi Afi pun pupus. Sebelumnya Made telah datang ke rumah keluarga Afi di Godean Yogyakarta.

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu setiap ke Jogja, Navicula selalu singgah bahkan menginap di Basecamp Endank Soekamti. Mereka bisa menghabiskan waktu seminggu untuk beberapa gigs di Jogja. Awal perkenalanku dengan mereka dari Nymphea Band yang juga berasa dari Bali. Mereka juga kerap menginap di basecamp Endank Soekamti. Saat itu kami menempati sebuah rumah kontrakan di dekat kawasan Casagrande Yogyakarta.

Di Jogja, kita pasti senang-senang terus, mereka bahkan ikut siaran di Radio Soekamti, biasanya kita berdiskusi seputar musik, dan kehidupan. Selain siaran, kita juga kerap bermain Play Station, dan Made salah satu yang paling hobi main game sepakbola tersebut. Navicula adalah band yang sangat ‘enjoy’ dengan rutinitasnya, mereka sangat menikmati kehidupan tur dan jalan-jalan di Jogja.

Sewaktu mendengar berita kepergian Made dan pacarnya Afi karena kecelakaan, aku sangat sedih dan terpukul sekali. Meski termasuk sudah jarang ketemu, hubunganku dengan Made sangat dekat. Mungkin karena sama-sama bassist, jadi ada hubungan emosional tersendiri. Sewaktu bertemu di Jogja, Made juga sempat curhat soal hubungannya dengan Afi yang merupakan anak Jogja. Kami bercanda soal budaya dan gaya anak muda di Jogja. Pada tahun 2013 Afi juga membantu video klip Endank Soekamti ‘Aku Gak Pulang’. Di video klip yang syutingnya dilakukan di rumah Athonk (seniman Tatto dan tokoh Rockabilly Jogja) itu, Afi tampil sebagai cameo.

Sehari setelah kecelakaan, saat Made dalam masa-masa kritisnya, aku sempat Whatsapp Robi Navicula. Aku dan teman-teman di Endank Soekamti turut berduka dan mendoakan agar Made bisa selamat dan kembali pulih. Aku juga berkata pada Robi kalau ada konser Navicula yang sudah terlanjut terikat kontrak, aku bersedia menjadi bassit mereka, menggantikan sampai Made kembali pulih. Aku rasa saat itu baru hal tersebut yang bisa kulakukan dan kubantu sebagai sahabat dan solidaritas sesama musisi.

Endank Soekamti dan Navicula juga sering manggung bareng, terutama di Bali. Tapi sayangnya belakangan ini kita jarang berjejeran waktunya, jadi justru malah mulai jarang bertemu di backstage. Bagiku Navicula adalah band yang apik banget. Liriknya bagus, tajam, dan aksi sosialnya sangat nyata. Mereka adalah band yang sangat fokus dengan apa yang mereka perjuangkan, bukan cuma pencitraan.

Misalnya saat konser musik Lockstock 2 di Stadion Maguwoharjo Sleman, Yogyakata, pada 2013 silam. Karena muncul berita negatif soal acara tersebut, Navicula malah dipuji-puji publik jejaring sosial Twitter. Mereka sangat berjiwa besar untuk terus tampil meski bayarannya gak jelas. Navicula tetap konser dan menyuarakan apa yang mereka perjuangkan. (*)

‘Tetaplah di Sini’ Bersama GIE

Band asal Jogja, Gie meluncurkan single terbaru berjudul ‘Tetaplah di Sini’. Ini menjadi single keempat yang mereka luncurkan setelah dua single sebelumnya. Gie juga telah merilis satu mini album di tahun 2015, serta satu karya tunggal lainnya di 2016. Lewat ‘Tetaplah di Sini’, Gie menggali lebih dalam tentang sebuah kenyataan, yang nampaknya menjadi suatu hal yang sangat menyakitkan bagi mereka yang belum siap untuk menghadapinya. Bagaimana jika kenyataan itu berhadapan langsung dengan perasaan, dimana segala hal yang sangat sensitif tersimpan dengan sangat rapi di sana.

Lewat ‘Tetaplah di Sini’, band yang beranggotakan Wimar (vokal), Gatra (gitar), Denny (bass), Kaka (keyboard), dan Subangkit (drum) ini mengajak para pendengar untuk menyadari lebih dalam mengenai kekuatan perasaan yang selama ini mungkin belum mereka sadari. Menurut Gatra penulis lagu, karya ini bercerita tentang sebuah malam yang diharapkan dapat menjadi penguat keyakinan untuk menghadapi kenyataan. Ia ingin menggambarkan bagaimana jika sebuah hubungan dihadapkan pada kondisi demikian, yang diharapkan ialah persiapan untuk saling menguatkan satu sama lain agar kenyataan tak menjadi menakutkan.

Gatra melanjutkan “Bahwa kebahagiaan bukanlah perkara waktu, tempat atau kebersamaan, melainkan apa-apa yang ditanam dan dirawat baik dalam pikiran. Karena kita hidup dalam kenyataan, dimana yang terjadi benar-benar terjadi walau pun itu adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Kita tidak hidup layaknya seperti di negeri harapan, yang mana segala sesuatunya kerap dikemas dengan indah dan menyenangkan,” kata Gatra lebih memperjelas pesan dari karya yang ia proses bersama dengan teman-temannya di Gie. (*)

Menurut bassist Gie, Denny ‘Tetaplah di Sini’ tidak hanya menjadi sebuah karya yang memiliki arti sangat mendalam, namun dari segi musikalitas, materi ini menjadi wajah baru Gie yang sebenarnya. ‘Tetaplah di Sini’ menjadi representasi para personil Gie pada musik yang selama ini menginspirasi mereka.

“Musik yang digubah dalam single ini menurut kami tidak terkesan dipaksakan untuk mengikuti arus musik tertentu. Bisa dibilang ‘Tetaplah di Sini’ merupakan karya yang lebih jujur melebihi karya-karya yang pernah kami ciptakan sebelumnya,” papar Denny.

Dalam proses penggarapan single terbarunya ini, Gie melibatkan beberapa pihak yang ikut terjun secara langsung. Beberapa di antaranya seperti Jogja Audio School yang menjadi tempat mereka untuk merekam karya tersebut, juga Rumah Rekam yang menjadi ruang bagi Gie melakukan proses finishing untuk lagu ‘Tetaplah di Sini’.

Gie juga melibatkan Regga Hendarto untuk pengerjaan cover art dari single ini. “kami mau kasih bocoran, bahwa single ini bisa dibilang sebagai materi pembuka dari album penuh kami yang rencananya siap dirilis dalam waktu dekat,” tambah Wimar.

Sanders Hates Chicken Bagikan Gratis 10.000 keping CD ‘Drama Dunia’

Sanders Hates Chicken (SHC) adalah sebuah proyek musik senang-senang yang begitu serius. Bagaimana tidak serius, mereka cukup produktif membuat lagu, dan baru saja menelurkan album penuh bertajuk ‘Drama Dunia’. Judul album Sanders Hates Chicken ini diambil dari satu lagu mereka di album ini.

Album ini dirilis sebanyak 10.000 keping CD, dan dibagikan secara gratis. Menurut vokalis Arman Harjo album ini adalah sebagai bentuk rasa syukur SHC kepada teman-teman yang sudah mendukung dan menyemangati selama ini. “Rasanya ini semua kecil dibanding apa yang telah kami terima dari teman teman sekalian,” katanya.

Hal ini, lanjutnya, sekaligus merupakan upaya untuk mengabadikan nama SHC setidaknya di 10.000 ingatan. “Sebelum CD punah makan kami bagikan gratis untuk semua mungkin 20 atau 50 tahun mendatang, album kami bisa menjadi barang langka bernilai tinggi. Album ‘Drama Dunia’ ini juga bisa diunduh secara gratis di kanal SHC.

Artwork album ‘Drama Dunia’ berupa visual seorang anak yang sedang bermain piano di bawah pohon besar yang kering. Ia bermain piano di tengah hujan badai yang berlokasi di areal pemakaman. Menurut vokalis Arman Harjo, Ini mengandung makna bahwa pada situasi terburuk apapun jiwa jiwa yang senantiasa bersyukur dan berserah pada Tuhan akan menemukan keindahan sekalipun itu teramat sulit. “Untuk itu manusia menciptakan sebuah kata “harapan” ujarnya. Artwork album ini dibuat oleh seniman Danur Rahrakai, sosok misterius yang juga membuat atwork untuk beberapa band luar maupun dalam negeri.

Lagu ‘Drama Dunia’ memiliki makna yang cukup dalam. Dimulai dari perjalanan spiritual Arman mencari makna hidup. Ia melihat setiap orang berjuang mati matian untuk mengejar segala sesuatu yang sejatinya hanya untuk ditinggalkan. Sebut saja sebagai pencarian kebahagiaan yang semakin diburu seolah olah kebahagiaan itu menjauh. Lalu disimpulakan bahwa hidup ini hanyalah drama. “Maka yang sebaik baiknya dilakukan adalah kita memerankan lakon kita dengan sepenuh hati,” tegas Arman.

Lagu ‘Bye Bye’ cukup sakral untuk SHC, lagu ini bercerita tentang persahabatan dan perpisahan yang pernah dialami oleh semua orang ketika beranjak dewasa. Satu persatu sahabat dan kita sendiri punya kehidupan lain. Mulai berkeluarga, sibuk dengan pekerjaan, dan sebagainya. Maka hal-hal kecil dan sederhana bersama teman teman adalah peristiwa yang paling dirindukan. Untuk kebanyakan kita masa remaja adalah masa masa paling indah dan paling liar dengan kenangan indah tentang persahabatan.

Lagu lainnya ‘Gila’ SHC berkolaborasi dengan MC Fira Sasmita yang bernyanyi dengan suara seraknya yang syahdu. Ini merupakan lagu patah hati yang cukup lugu dan jujur. Arman menjelaskan bahwa dalam hal apapun kita bisa menjadi ahli jika melakukan sesuatu secara konsisten. Contohnya orang yang rajin berlatih gitar, atau memasak lambat laun akan menjadi handal. “Namun tidak untuk urusan asmara. Kita akan cenderung menjadi semakin bodoh karena logika tidak bekerja pada saat-saat ini terjadi,” jelasnya. (*)

LastElise merilis album kedua ‘Memorabilia’

Band alternatif dari Yogyakarta, LastElise merilis album keduanya yang berjudul ‘Memorabilia’. Album ini merupakan hasil kontemplasi setelah 10 tahun berkarya dan mencoba berbagai hal dalam musikalitas. Menurut sang frontman, Uya “Memorabilia” diambil sebagai simbol bahwa setiap kepingan proses kehidupan memiliki nilai dinamis terkait rentang usia, namun menyeluruh pada satu proses. Dan setiap lagu merupakan potret fragmentasi dari proses pengalaman individu dalam kehidupan.

“Metempsychosis” salah satunya, lagu ini terinspirasi dari cerita tentang reinkarnasi dan jurnal sains tentang perpindahan energi untuk membentuk individu dalam kandungan. Sampai pada lagu terakhir “Masa”, tentang kembalinya individu ke alam euforia atau nirwana di mana semua indah & damai.

Band yang berdiri pada 12 September 2006 ini telah melalui banyak proses musikal dan format, yang akhirnya membuat Uya (Surya) selaku frontman, memutuskan menggunakan konsep kolaboratif & eksperimental. Konsep ini akhirnya membawa LastElise pada bentuk yang sangat luwes sebagai proyek musikal.

Pada album ‘Memorabilia’, LastElise lebih mengedepankan tentang keutuhan konsep album, berdasar pengembangan cara berproses dari album pertama, jadi workshop materi yang cukup lama & sound design yang diambil untuk mewakili tiap komposisi yang ada di album ‘Memorabilia’ cukup memusingkan. Proses kolaboratif masih terjadi di sini, dengan beberapa orang yang ikut mengisi bagian di album ini.

Target dari album ini, lanjut Uya, adalah paradigma yang berbeda tentang cara menyikapi sebuah album, bahwa menurut kami, sebuah album bukan sekedar kumpulan komposisi yang dijadikan satu, yang mungkin sering terjadi beberapa tahun belakangan, melainkan sebuah kontemplasi tentang tema besar yang melingkupi keseluruhan materi yang ada. “Sehingga tiap repertoar memiliki makna seni sebagaimana musik seharusnya”. (*)

Broken Rose Luncurkan album kedua “A Glimpse Of Glory”

Broken Rose adalah; Agung (Guitars), Jojo (Vocal), Sindhu (Bass), Affan (Lead Guitars), Dian (Drums). Meski saat ini personil dan crew mereka dipisahkan jarak, namun Broken Rose selalu berusaha menyebarkan karya mereka di kota masing-masing. BR dibentuk pada 2011 silam, dan setelah lebih tiga tahun, akhirnya menelurkan album kedua mereka “A Glimpse Of Glory”. Album ini berisi 10 track, irama bernuansa chicano punk bisa dirasakan di tembang-tembang: We’ve Really Had Enough, Brock and Rosey, Langgam Suara Terkekang, Light Up The Sky, 98, A Glimpse Of Glory, Catch Me When I Fall, Bittersweet Symphony, Let The Rain Wash Away The Pain, dan Bad Boys Blues.

Album kedua Broken Rose ini memiliki konsep yang sangat berbeda dari album perdana “Blood, Sweat, and Tears”. Pada album pertama, menurut frontman Broken Rose Jojo, ada beberapa lagu yang berbeda karakteristik dengan lagu-lagu lainnya. Baik itu dari segi penulisan lirik atau aransemen lagunya. Sementara di album ini, semua lagu dikonsep secara lebih matang.

Untuk kover Album “A Glimpse of Glory” dikerjakan oleh seniman Jogja, Helly Mursito dari Kerja Keras Kulture. Sebagai seniman, Helly KKK juga telah membuat beberapa artwork untuk musisi terkenal seperti; Superman Is Dead dan Dubyouth.

“A Glimpse of Glory” direkam di Bajink Studio, Magelang, sebuah home recording studio milik kawan mereka yang bernama Syarif. Kini Bajink studio sudah tidak beroperasi lagi karena Syarif ingin lebih fokus ke hobi dan pekerjaan barunya. Ketika proses rekaman sudah 50% Broken Rose berembug dengan Bajink Studio dengan keputusan bahwa ini adalah proyek terakhir Bajink Studio. Materi yang tersisa langsung dikebut, bolak-balik Jogja-Magelang setiap minggunya hingga album ini rampung.

Broken Rose mendistribusikan album ini secara mandiri. Selain bertemu langsung, untuk mendapatkan CD album dan merchandise juga bisa melalui online. Broken Rose juga bekerja sama dengan sejumlah pihak seperti iTunes, Spotify, Joox, dan lain-lain. “Jadi selain rilis fisik, pendengar juga bisa memiliki album-album Broken Rose secara eksklusif di gadget masing-masing.  Bicara target sih gak muluk-muluk. Yang penting CD/merchandise laku terjual, penjualan online juga lancar dan orang-orang juga bisa mendengarkan karya-karya kami,” ujar Jojo.

Saat ini beberapa personil dan crew Broken Rose memiliki pekerjaan masing-masing. Di antara mereka ada yang rutin bermain akustikan di sejumlah cafe, ada juga yang punya proyek band yang kerap tampil di acara-acara sepakbola. “Tapi kalau ada panggilan tugas (Broken Rose) pas weekend, kami akan berkumpul,” ujar Jojo. (*)

DEATH VOMIT Tampil di Ansan We Rock, Seoul

Sejak didirikan pada tahun 1995 di Yogyakarta, DEATH VOMIT telah menjajaki di segala penjuru negeri. Kiprah mereka tidak hanya berhenti di kancah nasional, beberapa kali DEATH VOMIT tampil dalam pementasan di luar negeri, antara lain di beberapa kota di Australia, Jepang, Malaysia dan Vietnam. 

November ini DEATH VOMIT kembali menjalani pentas internasional di Korea Selatan. Beberapa waktu yang lalu manajemen DEATH VOMIT sempat dihubungi penyelenggara Vermin Majesty dari Korea Selatan untuk tampil dalam konser ekslusif di Ansan, sebuah kota yang tidak jauh dari Soul, Korea Selatan. Bagi DEATH VOMIT, ini merupakan kesempatan terbaik untuk bisa menunjukkan pada dunia, bahwa Indonesia memiliki potensi yang patut diperhitungkan. Selain tentu saja mengenalkan Indonesia.

Sebenarnya DEATH VOMIT telah memiliki jadwal penampilan di Korea Selatan lebih awal, yakni pada tanggal 17 Oktober 2017 untuk tampil bersama Devourment, sebuah band slamming death metal asal Texas, USA bertempat di Club Crack, Seoul, namun karena alasan tehnis masalah Visa yang belum bisa keluar, terpaksa tidak dapat bergabung di konser tersebut. Sebagai gantinya DEATH VOMIT akan tampil secara spesial di Ansan We Rock, dan satu panggung dengan band-band Korea Selatan, Formal Apathy dan Doxology. 

DEATH VOMIT telah membuktikan sebagai salah satu pionir death metal Indonesia, yang  sejak awal telah memainkan musik Death Metal hingga sekarang. Tanpa terasa tahun ini adalah tiga tahun sejak album “Forging A Legacy” diluncurkan pada tahun 2014. Album tersebut merupakan album ketiga DEATH VOMIT yang telah beredar luas di Indonesia dan beberapa negara lain termasuk Amerika Serikat (USA). Album Forging A Legacy beredar dalam bentuk CD (compact disc), kaset maupun vinyl (piringan hitam). Dalam beberapa kesempatan baru-baru ini, telah dinyatakan bahwa di tahun 2017 ini band yang digawangi; Sofyan Hadi – Vocal / Guitar Oki Haribowo – Bass / Vocal Roy Agus – Drums ini mulai melakukan penggarapan materi untuk album baru yang diharapkan paling lambat tahun depan sudah dapat dirilis dan didengarkan masyarakat metal di Indonesia maupun dunia. 

Di tengah kegiatan mengumpulkan materi untuk album baru tersebut, beberapa kali DEATH VOMIT masih sempat menjalani beberapa konser di Indonesia, diantaranya adalah sebagai headliner acara Selatan Beringas di Kudus dan terakhir tampil sebagai salah satu band pembuka konser Dream Theater di perhelatan musik internasional JogjaROCKarta di Stadion Kridosono Yogyakarta. Di konser musik fenomenal tersebut DEATH VOMIT tambil menggandeng beberapa musisi Jogja untuk berkolaborasi, yaitu dengan para musisi yang tergabung dalam komunitas Drummer Guyub YK serta salah satu gitaris andalan Yogyakarta dan Indonesia, Eross Candra dari Sheila on 7.  (*)

‘Tembus Pandang’ album ke-4 Frau

Frau kembali meluncurkan mini albumnya yang ke-4. Album berjudul Tembus Pandang ini dirilis di Ruang MES 56, 23 November 2017. Mini album ini merupakan kolaborasi yang dimulai pada tahun 2015, antara Frau dengan Restu Ratnaningtyas, seniman yang dikenal atas keindahannya melukis dengan cat air. Sebelumnya Frau merilis album ke 3 yang berjudul Parasite Lottery dalam format piringan hitam 7” pada tahun 2016 lalu. Album ke-4 kali ini dikemas dalam bentuk cakram padat dan didistribusikan oleh Sbatu Records. Label rekaman yang dimiliki oleh Frau sendiri.
Lagu-lagu dalam mini album Tembus Pandang ini pertama kali dipentaskan pada 3 April 2015, saat Frau dipertemukan dengan Restu Ratnaningtyas di konser rutin kolaborasi musk-senirupa bertajuk Lelagu di Kedai Kebun Forum. Acara yang saat itu sudah sebelas kali diselenggarakan, biasanya menampilkan kolaborasi-kolaborasi yang menitikberatkan respon visual perupa atas bebunyian musisi.
Frau dan Restu pun memutuskan memaruh kewajiban tersebut: Restu merespon tiga lagu Frau, Frau merespon tiga gambar Restu. Proses kolaborasi alih-media selalu membutuhkan ‘lensa’; ‘lensa’ yang selalu bersifat tembus pandang. Kolaborasi tersebut kemudian menghasilkan 4 lagu yang disajikan dalam mini album ini

Indonesian Surf Rock Band

oleh: Kiki Pea
Surf rock adalah subgenre dari musik rock yang identik dengan kultur selancar air. Musik ini sangat populer di Selatan California dari tahun 1962 sampai 1964. Pada perkembangannya ada dua warna musik ini, yang pertama adalah ‘instrumental surf’, yang identik dengan gitar elektrik dengan reverb amat kental yang dimainkan untuk membangkitkan suara ombak, jenis ini dipelopori oleh Dick Dale & The Del-Tones. Yang kedua adalah ‘vocal surf’, yang mengadopsi irama berselancar dengan harmonisasi vokal dan diiringi irama Rock & Roll ala Chuck Berry, The Beach Boys adalah pelopor jenis ini.
Di Indonesia, Surf Rock merupakan jenis musik yang jarang dibawakan. Namun, sejak tahun 2000an, tercatat beberapa nama band yang memainkan Surf Rock, yang pertama adalah The Southern Beach Terror. Tahun 2007 mereka merekam pertunjukan live di Joe’s Garage, Yogyakarta. Rekaman berisi empat track ini direkam hanya dengan menggunakan tape-recorder. The Southern Beach Terror memainkan surf-rock dengan edge punk ala band-band surf era 90-an, juga konseptual dengan mengangkat tema-tema Deathrock/Splatter-Movie/Psychobilly/Cult B-movie*. Bagi penggemar musik-musik 60’s surf-rock, 50’s rock n roll/garage, band asal Yogyakarta ini adalah sesuatu yang menyegarkan. Namun sayang, karena kesibukan masing-masing personelnya, saat ini The Southern Beach Terror sudah tidak lagi aktif di kancah musik bawah tanah.
Di Bandung terdapat satu nama yang sering muncul dalam line up acara-acara musik independen, adalah The Panturas yang juga tercatat pernah menjadi pengisi panggung acara berskala Internasional yang diadakan di Jakarta, We The Fest. Band yang yang dibentuk di penghujung tahun 2015 ini beranggotakan Rizal (gitar), Kuya (drum), dan Gogon (bass), dan Abyan (vokal dan gitar). Keempatnya merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Band ini diinspirasi dari The Ventures, band asal Amerika. Nama The Panturas identik dengan pantai utara. Dari The Ventures diplesetkan jadi The Panturas, biar lebih terasa lokal.
Beertubes adalah nama lain yang turut meramaikan jagad surf rock lokal. Desember 2015 lalu, band ini telah merilis album penuh berjudul “Nevermind The Sea, We Play Surf”. Beertubes adalah Rully (Drum), Ionk (Gitar), Rony (Bass) – Additional. Nama Beertubes itu sendiri berasal dari kata Beer Tubes yaitu alat penyaji minum Bir yg biasa disebut “Tower”. Personel band ini berdomisili di Bandung dan Bali.
Di Bogor yang notabene adalah kota hujan, justru melahirkan grup instrumental surf-rock bernama The Mentawais. Grup yang dibentuk pada tahun 2015 ini  merupakan kwartet yang terdiri dari Andre Varian (Drums), Bena Waketversa (Bass), Muhammad Arifyandi (Guitar), serta Umar Bawahab (Guitar). Selama kurun dua tahun perjalanannya, mereka memutuskan untuk tidak melakukan pertunjukan sama sekali dan lebih fokus di studio untuk merekam materi-materi lagu. Pada tahun 2017, berkerja sama dengan Hujan! Rekords dan Kick it Records, The Mentawais merilis debut mini album mereka yang diberi judul Surfin’ Java dalam format kaset pita. Direkam di Fake Hero Studio Bogor dan diproduseri langsung oleh The Mentawais, keseluruhan materi pada debut mini album Surfin’ Java memiliki nuansa 60’s surf style instrumental tradisional.
Menurut The Mentawais, mini album Surfin’ Java banyak terinspirasi dari spot surfing Batu Karas di Pangandaran, Jawa Barat yang masih terdapat banyak surfer yang menggunakan longboard dan mengingatkan akan era keemasan 60’s California beach scene di pantai barat Amerika. (*)

Sekelebat Punk…..

oleh Kiki Pea

Bagi kebanyakan masyarakat, Punk dianggap sebagai gerombolan remaja yang senantiasa membuat onar, memainkan musik yang keras, cepat, dan penyanyinya berteriak-teriak tidak jelas. Dengan gaya berpakaian yang urakan, dan jauh dari kesan anak baik-baik, masyarakat awam seringkali menarik kesimpulan bahwa punk adalah segerombolan anak muda yang berperilaku kriminal. Didukung dengan hingar bingar musik dengan lirik berisi kecaman-kecaman pemberontakan mengakibatkan miringnya persepsi masyarakat mengenai punk.

Banyak yang menganggap bahwa punk adalah aliran musik semata. Menurut para pengusungnya, punk bukanlah aliran musik atau gaya fashion belaka, tetapi ia adalah ‘sikap’ yang lahir dari sifat memberontak terhadap ketidakpuasan yang ada di sekitar, entah itu politik, sosial, ekonomi, bahkan terhadap bentuk keteraturan yang telah mapan. Rasa tidak puas hati dan kemarahan inilah yang diekspresikan lewat musik dan gaya berpakaian mereka.

Lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik mereka menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran, serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.

Sejak awal 1970-an, musik punk sudah berkembang di Amerika, munculnya band-band seperti The Ramones, New York Dolls, MC5, Iggy Pop & The Stooges menandai awal munculnya genre punk generasi pertama. Di era yang sama, pertumbuhan punk begitu meluas dikalangan anak-anak muda di Inggris. Kala itu para remaja di Britania mencari media bagi mereka untuk memberontak karena keadaan ekonomi yang payah. Pada masa inilah revolusi punk bermula, para punks tersebut mayoritas berasal dari remaja-remaja working class yang marah terhadap perekonomian dan sistem sosial yang menindas.

Di era tersebutlah muncul band-band seperti, The Sex Pistols, The Clash, The Damned, dan sederet nama lainnya. Kehadiran The Sex Pistols di permukaan menjadi begitu kontroversial sekali karena attitude dan keberanian mereka menentang Kerajaan Inggris.

Punk setelah tahun 70-an ditandai dengan kembali berpindahnya aktivitas punk dari Inggris ke Amerika. Di sanalah scene-scene punk begitu menjamur. Mesikup tidak secara keseluruhan, bentuk pemberontakan telah mengalami banyak perubahan. Pada generasi ini cukup sulit untuk melihat punk semata-mata dengan penandaan imaji seperti fashion, bahkan musik yang hingar bingar. Punk seolah-olah merubah strategi pemberontakan mereka menjadi sebuah gaya hidup tandingan.

Punk di generasi kedua ini memfokuskan pada isu-isu dan aktivitas independen yang lebih politis daripada generasi sebelumnya. Isu-isu seperti feminisme, gender, pemberdayaan komunitas, anti rasisme, anti perang, independensi dan lain-lain merupakan isu komunal yang beredar di antara komunitas punk dalam rangka melawan informasi dari budaya arus utama.

Apa makna Punk buat kalian? (*)