Sangkakala

Sangkakala adalah sebuah band yang setia mengusung musik heavy metal sejak berdirinya Oktober 2005 lalu. Grup cadas yang beranggotakan Baron Capulet Araruna a.k.a Hendra “Blankon” Priyadhani (Vocal), Rudy “Atjeh “ Dharmawan (Bass), Ikbal S Lubis (Gitar), dan Riono Tanggul Nusantara a.k.a Tatsoy (drum) ini memang berlatar belakang seni rupa dan musik, maka tak heran jika mereka sangat terampil memadukan kedua unsur disiplin tersebut.

Dengan musik cadas yang dipadukan dandanan ala glam rock, rambut mullet, sepatu hi-top, hingga celana ketat bermotif ular, macan, atau berwarna mencolok ini maka jadilah Sangkakala sebagai “No Wave Bantul Heavy Metal”.
Bentuk visual penampilan Sangkakala sevara totalitas mengacu pada zaman keemasan glam metal era 80an.

Tidak hanya itu, dengan kesadaran penuh mereka membuat bentuk-bentuk visual lainnya seperti, banner dan percikan kembang api yang meriah. Sebagai grup musik, mereka pernah beberapa kali menggelar pameran yang menyajikan karya visual dan audio visual. Beragam artwork, t-shirt, poster, banner, hingga komik yang mereka produksi secara sendiri. (*)

FSTVLST

‘Almost Rock Barely Art’, adalah genre yang merupakan hasil penemuan dari proses cukup panjang sebuah band bernama FSTVLST. Istilah ini adalah sebuah kesimpulan terhadap apapun yang mereka karyakan dalam band ini. Farid Stevy sang frontmant mejelaskan bahwa istilah yang kurang lebih diartikan dengan ‘Hampir Rock Nyaris Seni’, memang ‘abu-abu’, namun begitulah bentuk kecurigaan mereka, yang entah beralasan atau tidak, mengalir hampir deras dan berdenyut nyaris kencang pada nadi FSTVLST.

FSTVLST merupakan kelanjutan dari sebuah band bernama Jenny yang dibentuk 2003 di kampus seni rupa ISI Yogyakarta, kini mereka adalah Roby Setiawan (gitar), Human Movid Arifin (bass), Danish Wisnu Nugraha (drum) dan Farid Stevy Asta (vokal), mereka juga dibantu Rio Faridino (Keyboard).

FSTVLST sendiri menyimpulkan bahwa album mereka ‘Hits dan Kitsch’ adalah anak haram dari perkawinan, antara selera dan kepentingan-kepentingan. Hasil perkawinan ini bisa berwujud sangat indah dan menularkan kebahagiaan, namun juga bisa menjadi kebusukan tak tertolong yang menyebar menggerogoti menebar ketidakbaikan.(*)

Havinhell

 

Havinhell terbentuk dari UKM band di sebuah universitas swasta di Jakarta. Awalnya mereka adalah lima personil wanita yang setelah hampir dua tahun berjalan, masing-masing personil mempunyai kesibukan sendiri dengan kuliah, dan pekerjaannya masing-masing. Namun hanyalah seorang ladyrocker bernama Ika Zidane yang tetap mempertahankan band ini.

Setelah meneruskan kuliahnya di Yogyakarta dan mengembangkan skill, Ika melanjutkan karier bermusiknya. Berkat bantuan dari para musisi di Yogya, Havinhell terbentuk lagi November 2009. Dengan formasi baru Ajenk (gitaris) dan Ranie (drum) mereka membawakan genre sweet punk. September 2011 lalu Ranie mengundurkan diri dari Havinhell. kemudian hingga saat ini Havinhell di bantu oleh drummer bernama Aries Hermawan, Drummer yang akrab disapa Ebo ini juga merupakan drummer dari The Viper X.

Kata Havinhell merupakan gabungan dari ‘Heaven in Hell’ yang berarti Surga di dalam Neraka. Dalam sebuah kehidupan pasti tak luput dari permasalahan, “diumpamakan seperti didalam neraka, tapi kita harus berani menghadapi masalah-masalah itu dengan penuh keyakinan, dan terus semangat maka kita akan merasakan ketenangan seperti di dalam surga,” kata mereka.

Havinhell kerap memperkenalkan musiknya dengan istilah “Sweet Punk”, yaitu riungan Punk Rock yang manis, dan  tidak terlalu memekakkan telinga. (*)

LaQuena

LaQuena adalah band asal Yogyakarta yang frontlinernya seorang perempuan. Secara harfiah nama ini berasal dari bahasa latin kuno yang berarti ‘Tari (Spirit) kemenangan’. Harapan mereka menggunakan nama ini adalah memenangkan diri sendiri untuk tidak pernah menyerah dalam segala hal. Nama LaQuena dicetuskan oleh Adhe Yotolembah (Canonball ) dengan konsep musik yang memiliki semangat tak lekang oleh jaman.

Di awal berdirinya, LaQuena adalah proyek konspirasi dari lima orang sahabat, yaitu Julia Candra, Sandy Tanarius , Adhe Yotolembah, dan Rachmad Ibrahim. Mereka sepakat membentuk grup musik dengan frontliner seorang perempuan yang juga sekaligus gitaris. Pilihan musik mereka adalah kombinasi energi ritmik dan distorsi.

Seiring perjalanan, personel LaQuena pun berubah total, hanya Julia Candra (Vokal /Gitar) yang tersisa dan ‘ladyrocker’ ini dibantu oleh Garry Mailangkay (Gitar), Agib Tanjung (Bass), dan Alvian Vinuria (Drum). Menurut Julia, musik LaQuena adalah kombinasi harmoni lirik, ritmik, dan elemen distorsi yang disajikan sebagai bagian dari pesan proses kehidupan dan emosi yang bercampur di antaranya, ambisi, idealisme, motivasi, cinta, amarah, semangat, dan ungkapan kejujuran.

Benang merah lagu-lagu LaQuena adalah semangat menjalani proses kehidupan secara utuh, dan berjuang tidak kenal menyerah. Banyak band dengan kelebihanya masing-masing mereka jadikan panutan, “kami tidak hanya mengamati musikalitasnya saja, melainkan bagaimana pesan lagu mereka bisa diterima dan dihargai,” ucap Julia.

Dari sebuah percobaan dan pencarian jati diri band, elemen musik LaQuena adalah perwujudan semangat dari apa yang mereka tuliskan dalam lirik lagu. Pada lagu ‘Dibawah Hujan’ yang diciptakan Dory Soekamti (Gitaris Endank Soekamti), berusaha mengajak orang untuk selalu yakin dan memperjuangkan mimpinya dengan mengalahkan semua rintangan. Menurut LaQuena, musik bukanlah sekedar pelan atau keras, namun bagaimana yang disampaikan, punya emosi yang sesuai dengan irama yang dimainkan. (*)

D.P.M.B

D.P.M.B adalah akronim dari ‘Dua Petaka Membawa Bencana’. Grup yang dibentuk Oktober 2007 ini terdiri dari dua rhyme maker Alex a.k.a Donnero dan Mamok a.k.a M2MX. Mereka mengawali karir di kancah hip hop dengan single pertama berjudul ‘Microphone Attack’. Di pertengahan tahun 2007 D.P.M.B menembus Indonesian Hip Hop Chart dengan single pertama mereka “Microphone Attack” Lagu tersebut menjadi sangat influental di Skena Hip Hop Yogyakarta. Di tahun 2008, lagu lainnya yang berjudul “Gatholoco” masuk dalam album kompilasi Poetry Battle #2, lagu tersebut disadur dari susunan puisi sastrawan Goenawan Mohamad. Tahun 2010 single D.P.M.B featuring ROTRA berjudul “Lets Begin” berhasil menduduki chart nomor satu TOP JIGGO di HipHopindo(dot)net.

Kiprah duo rapper ini di kancah musik dan terutama subkultur Hip Hop memang sudah terbukti memiliki taringnya sendiri. Tahun 2011 D.P.M.B berkolaborasi dengan Band Hardcore asal Yogyakarta Serigala Malam, mereka menggabungkan nuansa Hip Hop dan Hardcore di lagu yang berjudul “Boyz In Da Hood”, lagu tersebut juga menjadi salah satu materi baru di album Serigala Malam “Hibernate In Harder Pain”.

Tahun 2013, single D.P.M.B berjudul “Oldschool Always Good” featuring Boys Got No Brain (Pesta Rap) masuk dalam album kompilasi Soundtrack Film “King Of Rock City”. D.P.M.B kembali merilis single berjudul TEAM ARMAGEDDON, single yang berkolaborasi dengan Heruwa (frontman Dubyouth dan Shaggydog) ini di produseri oleh Balance NgilazBeat. Lagu ini juga turut meramaikan album kompilasi lintas genre #Doggybarks yang di rilis pertengahan Agustus 2014 lalu, album kompilasi tersebut di produksi oleh Doggyhouse Records. (*)

Monrever

band rock asal Yogyakarta ini masih eksis sejak para personelnya masih duduk di bangku SMP. Sekelompok remaja yang kini beranjak dewasa ini sepakat untuk menyalurkan hobi mereka bermain musik. Sebagian dari mereka bahkan menempuh pendidikan formal di bidang musik

Nama Monrever berasal dari bahasa Perancis yaitu Mon: aku, Rever: impian, Nama Monrever berarti ‘Impianku’. Meski para pendengar bisa dengan leluasa mendeskripsikan musik yang mereka mainkan, namun secara garis besar mereka memainkan musik rock.

Keseriusan mereka bermusik pun direpresentasikan via album rekaman dan beberapa album kompilasi. di antaranya, kompilasi Asian Beat (Yamaha/2005), kompilasi soundburst (coca cola/2010) dimana mereka tampil sebagai juara 1 tingkat nasional, dan full album bertajuk ‘Everything Is Music’ (2009).

BAND Modern Rock asal Yogyakarta, Monrever memang kerap memainkan rock yang ‘keras’, Mereka adalah Danang (vokal), Atenk (vokal), Novan Gembel (gitar), Rendra (bass), Yuan (keyboard), Romello (biola), dan Jexx (drum). (*)

Fayrush

DIAMBIL dari kata “rush” yang berarti meroket dan melesat dan “fay” yang berarti tajam, band bernama Fayrush ini ingin “melesat tajam” dalam menyampaikan pesan lewat karya-karya mereka. Band yang terbentuk sejak 2010 ini bergenre Pop Kreatif. Mereka adalah M.a. Rifai P (vocal/gitar), Aji Norontoko (gitar), Daniel Wicaksono An (bass), dan Didan Bahana Patria (drum). (*)

Medium


Dengan mengusung musik yang mereka sebut ‘Alternative Pop’, Medium Band terus membentuk karakter mereka. Pada album ‘Soundbox Compilation vol #1’,  Medium menyuguhkan lagu berjudul ‘Bahagia Bersama’. Lagu ini bercerita tentang pengharapan kebahagian yang bisa diraih bersama, meski dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Band yang resmi dibentuk pada 3 Februari 2009 ini beranggotakan, Kakung Triadmojo (vokal/gitar), Fajar Alami (gitar), Yuliawan Dwi Saputra (gitar), Vicki Unggul Bramantyo (Keyboard), dan Gustiyansyah (drum). Akhir 2011 lalu, Medium Band merilis album pertama mereka yang bertajuk “Indah Pada Saatnya”. Album tersebut bermaterikan delapan lagu dengan single “Bebas (bernyanyilah)”. (*)

Sm*nh

Sm*nh terdiri dari Afgandoz, Alitalit Jabang Bayi, Doni Salah Paham, dan Rony Muyapa. Penampilan mereka selalu sukses membuat penonton tebahak-bahak selama mereka unjuk gigi. Fengan gaya boyband ‘nyeleneh’ mereka kerap membawakan lagu ‘Sayang Bilang Sayang’ (Pentaboys), kemudian medley ‘Goodbye’ (Air Supply) – ‘Jangan Ada Dusta’, dan tak ketinggalan dengan aksi heboh mereka menyanyikan ‘Dilema’ (Cherrybell).

Sm*nh berdiri ketika Hari Valentine di acara Jazz Mben Senen, Nama tersebut adalah plesetan dari Smash yang saat itu sedang naik daun. Meski mengaku boysband, Konsep Sm*nh adalah anti lipsync. “Kita emang benci lihat di tv, boysband yang pentas bisanya lipsing, ya dengan itu, kita para pemuda bermuka pas-pasan dan suara minimalis, mencoba memparodikan boysband,” ujar Gandoz. (*)

Bravesboy

 

Perjalanan band Ska Reggae asal Yogyakarta ini berawal dari sebuah proyek iseng iseng berhadiah. Embrio asal muasal Bravesboy berawal dari sebuah grup reggae modern bernama Waton Gayenk. Sebelumnya Waton Gayenk ini sempat melanglangbuana di seputaran pensi di sekolah-sekolah, bahkan di acara-acara punk di Yogyakarta. Karena terbatasnya waktu dari masing masing personil, band reggae ini pun vakum. Setelah sekian lama stagnan, Bimo sang juru vokal Waton Gayenk, dan Nazad sang penabuh jimbe/perkusi yang tak bisa berlama-lama jauh dengan musik, mereka pun kembali berkarya membuat suatu proyek bernama Bravesboy ini.

Dengan nama Bravesboy, yang artinya ‘pria pemberani, jantan’ mereka mengaku menjadi termotivasi. Mereka berharap ke depannya selalu berani menghadapi kondisi apapun, berani miskin, berani kaya, berani susah, berani senang, berani gagal,dan berani sukses, istilahnya rekoso rapopo, nek kere ra kaget, nek sugeh kroso.

Musik Bravesboy bernuansa reggae, ska, modern yang berbalut aroma hip-hop. Lirik lagu mereka renyah, sederhana, dan kadang jenaka. ‘Bravers’ sebutan untuk penggemar mereka, selalu meramaikan dimana pun Bravesboy tampil. (*)