GIE

Gie terbentuk pada 20 Februari 2011, mereka bertemu di suatu organisasi kampus, UKM Musik UMY. Awalnya beranggotakan enam orang dengan mengusung genre “Jazz Oplosan”, tapi mulai tahun 2013 sedikit mengalami perombakan personil karena vokalis pertama (Firman Faisal) memutuskan untuk melanjutkan pendidikan kedokterannya, sedangkan gitaris dua (Vais Al Qirani) hijrah dan menetap di luar kota.

Genre yang diusung Gie adalah dengan mengambil unsur blues untuk dikombinasikan dengan berbagai jenis musik, sesuai kegemaran masing-masing personil. Karya yang mereka lahirkan keluar begitu saja, dengan tujuan memberikan kebebasan kepada audiens untuk memberi gambaran terhadap jenis musiknya. Nama Gie terinspirasi dari sosok pemuda yang memperjuangkan keyakinannya dalam memandang sesuatu, Soe Hok Gie. Gie sendiri ingin menyeimbangkan antara idealisme dalam bermusik dengan suguhan musik yang dapat dinikmati oleh khalayak, hal ini mengacu pada istilah “Keseimbangan Kompromis” yang dikemukakan oleh John Storey. (*)

Sanders Hates Chicken

SHC berawal pada 11 November 2011 di Selatan Yogyakarta, adalah dua orang sahabat lama yakni, Arman Harjo dan Tbonk Weimpy sepakat untuk membentuk sebuah band. Awalnya mereka menggunakan nama The Sanders, yang kemudian berubah menjadi Sanders Hates Chicken. Keduanya lalu mulai mengajak teman-teman yang lain seperti, Wedha Tama, Alvian Vinuria, Tama Mahdi dan Terakhir Raya Buwono.

Lalu mereka mulai merekam 3 lagu demo pertamanya dengan semangat menggebu-gebu layaknya remaja belasan tahun yang baru jatuh cinta. Ini berlanjut hingga merekam puluhan lagu yang diunggah dan disebarkan gratis di portal music online seperti reverbnation dan soundcloud. Mereka pun terbersit ide untuk memilih beberapa lagu untuk dijadikan full album yang diberi tajuk Drama Dunia. Sebanyak 15 lagu akhirnya dipilih sebagai materi di album ini.

Sanders Hates Chicken pada mulanya tidak mempunyai arti  dan filosofis yang mendalam. Nama ini sering dikaitkan dengan sarkasme tentang restoran waralaba Ayam goreng paling terkenal. Kebetulan pada saat awal band ini dibentuk, restoran tersebut menjadi wadah baru para musisi tanah air untuk menjual albumnya. “Sebenarnya kami justru mengabil spirit dari Sang Colonel Harland Sanders dalam berjuang hidup, dan tetap semangat berusaha walaupun pada saat restoranya dibuka, beliau telah berusia 65 tahun,” jelas Arman.

Di masa-masa awal SHC ingin membuat band dengan genre Pop-punk, namun karena kebebasan yang berlebihan dari setiap personilnya, maka yang terjadi adalah semakin melenceng dari konsep awal, SHC menjadi band rock dengan rap, dan hentakan drum yang liar. Harmoni vocal yang ramai dipadukan dengan suara gitar yang meraung raung dan syntheseizer dominan di setiap lagu. Mereka menyebutnya dengan istilah ‘Rap Rock Alternative’. (*)

Last Elise

Band yang berdiri pada 12 September 2006 ini telah melalui banyak proses musikal dan format, yang akhirnya membuat Uya (Surya) selaku frontman, memutuskan menggunakan konsep kolaboratif & eksperimental. Konsep ini akhirnya membawa LastElise pada bentuk yang sangat luwes sebagai proyek musikal.

Sebagian besar warna musik yang diusung LastElise bernuansa ambient & psychedelic, serta pengaruh musik alternative rock 90-an. Meski awal mula terbentuk sebagai trio, tapi album pertama LastElise berisi beberapa nomor kolaboratif, misalnya “Diskusi 4×4” adalah lagu yang direkam secara live dan dengan format double bass player (feat. Punjul Wahyu), menurut Uya lagu ini akan selalu berbeda ketika dibawakan secara ‘live’, karena sangat terbuka untuk instrumen lain, misal saxophone, perkusi atau lainnya. (*)

DEATH VOMIT

DEATH VOMIT telah meluncurkan tiga studio album dan satu live konser album dalam bentuk video (DVD). Album perdana „Eternally Deprecated‟, dirilis pada tanggal 24 November 1999 DEATH VOMIT Korean Tour 2017 dengan label mereka sendiri Demented Mind Records. Album tersebut kemudian dirilis ulang oleh sebuah label asal Bandung yang bernama Extreme Souls Production (ESP). DEATH VOMIT merekam album ke dua bertitel „The Prophecy‟ di bawah label Rottrevore Records, Jakarta pada bulan Mei 2006. 

Pada tanggal 19 Juni 2008 mereka mengadakan live performance yang direkam dalam format DVD bertitel „Flames of Hate‟ di bawah label yang sama (Rottrevore). Dengan personel Sofyan Hadi (gitar/ vokal), Oki Haribowo (bass) dan Roy Agus (drum). Pada tahun 2014 DEATH VOMIT meluncurkan album “Forging A Legacy”, sebuah album yang diluncurkan dengan jeda waktu yang cukup panjang dari album sebelumnya, yakni setelah 8 tahun pasca dilincurkan album sebelumnya pada tahun 2006 (The Prophecy). 

Album tersebut resmi diluncurkan pada tanggal 25 Agustus 2014 dirilis dan diedarkan oleh Armstretch Records berisi 9 lagu. Istimewanya dua lagu di album tersebut mendapat sentuhan bengis seorang gitaris kawakan dari Amerika Serikat yaitu Dennis Munoz, seorang gitaris dari band metal lawas, Solstice. DEATH VOMIT menjadi salah satu band yang sangat berpengaruh terhadap dunia musik di Indonesia. Pembuktian selama lebih 20 tahun atas eksistensi dan konsistensi dalam bermusik patut diberikan apresiasi tersendiri, terlebih komitmen untuk tetap berkarya di jalurnya adalah salah satu yang patut diberi applause. 

Di Indonesia sendiri DEATH VOMIT telah memiliki jutaan penggemar yang loyal, hal tersebut bisa dibuktikan dengan selalu padatnya penonton di setiap konsernya. (*)

The Sailors

Sejak 2014 lalu, nama The Sailor and The Waves (TSATW) menjadi band yang ikut andil meramaikan hingar bingar dunia musik di Yogyakarta. Lewat musik-musik bernuansa punk dan surf, TSATW hadir menghibur skena musik Yogyakarta. Band ini diprakarsai oleh Dana (gitar), Duta (drum), dan Freddie (bass). Namun beberapa tahun sejak mereka bermain musik bersama, tepatnya di tahun 2016, Freddie yang sebelumnya menjaga keutuhan dendang dalam karya-karya TSATW memutuskan hengkang dari band karena beberapa alasan. Walau begitu, sisa personel TSATW tak patah arang untuk tetap bermusik, lalu merekrut Tian untuk mengisi kekosongan. Sejak formasi itu, band ini tetap bertahan sampai pada akhirnya mereka mumutuskan untuk mengganti nama menjadi The Sailors.
Menurut Dana, peralihan nama dari TSATW menjadi The Sailors, karena nama sebelumnya dibentuk ketika mereka masih bersama Freddie. Dana dan Duta merasa kurang bijak jika tetap mempertahankan nama tersebut. Selain itu, nama ini terlalu panjang untuk diingat dan disebutkan. “Biasanya kawan-kawan hanya menyebut Sailor atau Sailor Waves saja untuk menyebut kami. Maka dari itu kami mantap mengganti nama The Sailor And The Wave
Selain terjadi perubahan pada nama, konsep musik dari The Sailors pun mereka akui mengalami sedikit evolusi dari bentuk musik yang pernah diusung sebelumnya. Sajian musik yang akan mereka tawarkan di waktu mendatang tetap memiliki benang merah, terutama dengan masih adanya kisah lika-liku mahasiswa, yang mereka coba siratkan melalui berbagai analogi. “Musik kami yang semula keras dan menghentak dalam irama surfpunk, kini kami berikan sentuhan progresi chord bluesjazz yang dikemas dalam nuansa surf retro. (*)

ROKET

Sekira 2013 lalu, Agib dan Fendee mengajak Kiki Pea untuk membentuk band dengan nuansa Punk Rock 70an. Kala itu beberapa kali Kiki diajak sebagai penyanyi tamu untuk band mereka NYK Guns. Namun rencana tersebut ternyata hanya di atas awang-awang, karena kemudian Agib memilih bekerja sebagai wartawan penuh waktu di ibu kota dan nyaris meninggalkan semua aktivitas bermusiknya.

Bertahun-tahun berlalu, Agib kembali ke Jogja, lantas menghubungi Kiki dan Fendee, serta menggaet Tutoet sebagai penggebuk drum. Wacana band ini akhirnya menjadi nyata setelah keempat lelaki paruh baya ini melakukan sesi latihan untuk perdana di Gegana MUSIC Studio.

ROKET ialah proyek musik senang-senang yang personelnya masih bermusik di band mereka masing-masing. Selain aktif sebagai pencabik bass di grup utamanya Alterego Jogja, Agib juga aktif di beberapa sesi proyek musik lainnya, seperti Momo dan Parabiru. Ia juga masih bekerja sebagai wartawan penuh waktu di Jogja.

Sementara itu Fendee selain menjadi pelatih anjing ras juga masih bermain distorsi bersama RochesterMusic. Tutoet yang merupakan drumer untuk Everlong Indonesia ini juga bekerja sebagai buruh audio. Sedangkan Kiki masih menggelinjang bersama band Rockabilly-nya Kiki & The Klan – K.K.K sembari bekerja sebagai jurnalis partikelir. (*)

ZUES


JENIS musik yang bertempo cepat dan agresif menjadi pilihan band asal Yogyakarta ini. Sejak berdirinya pada 2002 silam, empat lelaki paruh baya ini setia mengusung Thrash Metal. Band cadas bernama Zues ini digawangi oleh Nuza (vocal/rhythm guitar), Diar (lead guitar), Ian (bass), dan Dekky (drums). Sejak awal eksistensinya, Zues memiliki idealisme untuk menjadi seperti terusan strategis yang menghubungkan dua benua, karena itu para trasher ini bermimpi untuk menjadi pembuka terusan pintu gerbang metal Indonesia kepada dunia.

Pada 2005 lalu Zues merilis album ‘Buka Mata – Buka Telinga’ produksi Masterboot Records lewat distribusi Reswara. Di antara tembang-tembang andalan mereka adalah ‘Hantam’, sangat macho memang, karena lagu ini bercerita tentang sikap kelelakian yang timbul ketika batasan harga dirinya dilanggar. Nomor lainnya ‘Jahanam’ berteriak tentang keresahan masyarakat dan serangan baliknya terhadap lingkungan premanisme yang mengganggu. Lagu ‘Semua Ternoda’ adalah sebuah paradoksial tentang sumber daya alam yang dikonsumsi dalam keadaan yang sudah tidak lagi murni.

Lewat ‘Heavy and Thrash Metal’, Zues merasa lebih mendapat mood, ekspresif dan groovy ketika bermain musik. Sebagaimana para pionir Trash Metal di negeri barat sana, lagu-lagu yang diciptakan Zues pun mengusung lirik tentang masalah-masalah sosial berdasarkan kejadian sekitar. Jika di para influence mereka bercerita tentang perang, wabah penyakit, atau bahkan kematian, lewat lagu, Zues juga mengunggah motivasi tentang dunia lelaki yang jantan, hingga personifikasi ekspresi diri. (*)

Hang Out

KARENA ingin melepas kepenatan di band sebelumnya masing-masing, sekelompok pemuda ini berkumpul, dan karena merasa cocok satu sama lain, mereka pun berlanjut meresmikan band bernama Hang Out. Ukie Junx (vocal/bass), Rangga (guitar/vocal), dan Avrie Adhi (Drum) adalah teman lama yang sering nongkrong bareng di sebuah scene punk Yogyakarta, dan seringkali mengadakan jam session. Hang Out berdiri sejak 1 Maret 2007, sebelumnya kedua personel lama Bayu (drum), dan Ibeng (bass) mengundurkan diri dan digantikan personel yang masih utuh hingga sekarang.

“Semua manusia butuh ber hang out untuk sekedar melepas kepenatan, di band ini kami berharap mampu melepas kepenatan kami, untuk mencipta karya untuk melepas penat para pendengar musik kami,” ungkap Ukie menjelaskan konsep bermusik bandnya.

Juni 2012 lalu, Hang Out merilis album penuh pertama mereka ‘A Better New Life’. Album tersebut merupakan sebuah pembuktian dan bentuk eksistensi sebuah band. Mereka mempertahankan genre musik yang dimainkan, yaitu ‘Melodic Punk’. Konsep album ‘A Better New Life’ menggambarkan jati diri Hang Out yang masih berdiri, dan terus memacu semangat untuk menghasilkan karya yang lebih baik. (*)

NYK Guns

Karena kegilaannya pada Guns N’ Roses, sekelompok musisi di Yogyakarta membuat ‘Tribute Band’ yang khusus memainkan lagu-lagu band asal Amerika Serikat ini. Tidak hanya wilayah audio yang mereka kulik dengan baik, namun visual di atas panggung juga ditiru oleh band bernama NYK Guns ini.

NYK Guns awalnya dibentuk untuk mengisi event ‘Rockagila’, sebuah pentas tribute band-band lawas. “Right band in the right place”, pada acara yang digagas Nuza ‘Zues’ dan radio pamityang2an ini NYK Guns dapat sambutan luar biasa dari audiens yang notabene penikmat musik rock lawas. Karenanya mereka sepakat memutuskan untuk melanjutkan NYK Guns sebagai wadah bersenang-senang dan mengekspresikan kecintaan terhadap Guns N’ Roses.

Tidak ada ide yang benar-benar besar dibalik NYK Guns, kecuali bersenang-senang dan bernostalgia. Hingga kini, NYK Guns tidak ada rencana untuk membuat karyanya sendiri. Mereka masing-masing memang sudah punya tempat untuk berekspresi dengan karya sendiri. Karena kesibukan para personelnya, NYK Guns pun kerap bergonta-ganti personel, tentunya tanpa meninggalkan karakter GNR yang sudah menjadi pakem mereka.

Menurut Tomo Widayat (gitaris) menjadi Tribute band intinya adalah bermain drama sesuai dengan kemampuan sendiri. Ia dan teman-temannya mengaku tidak berbeda dengan anak-anak kecil yang menggemari Power Rangers. Anak-anak itu membeli baju mereka dan bermain seolah-olah mereka adalah anggota Power Rangers yang membasmi kejahatan di muka bumi. “kami juga begitu, menggemari Guns N’ Roses, memainkan karya mereka, berpakaian, dan bergaya layaknya mereka. Seolah-olah kami adalah Gn’R yang pernah hadir mengguncang dunia. (*)