Menyelami Kekayaan Kita lewat www.SalamIndonesia.id

Sepanjang bulan puasa nanti rencananya aku bakal melakukan trip Salam Indonesia. Program ini juga sekaligus untuk membuat ensiklopedia budaya dan pesona alam Indonesia. Perjalanan ini nantinya akan dimulai dari Jogja hingga ke Sumba, Nusa Tenggara Timur. Rute yang bakal didatangi nantinya berdasarkan kontribusi dari teman-teman semua. Teman-teman bisa memberi informasi apapun, soal budaya, tempat-tempat menarik dan aset daerah yang harus diekspos keberadaannya lewat www.salamindonesia.id.

Supaya nantinya teman-teman di seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia bisa mengetahui apa saja kekayaan yang dimiliki Indonesia yang ada di daerah kita masing-masing. Karena kalau sampai kita sendiri tidak tahu, bagaimana kita bisa menikmati kekayaan yang melimpah ini. Semua informasi yang masuk akan diseleksi dan dikurasi dahulu. Kita akan sama-sama mengulik sisi mana yang akan dieksplorasi.

Informasi yang dibutuhkan adalah aset daerah yang mungkin belum tereksplor lebih mendalam. Dalam setiap perjalanan ini nantinya juga akan melibatkan teman-teman sebagai warga sekitar alias Akamsi (Anak Kampung Sini). Karena akamsi akan lebih mengetahui secara detail. Kita bakal menculik kalian untuk menemani berjalan-jalan.

Sewaktu berada di Sumatera Barat, aku mencoba memembuat simulasinya. Bersama teman-teman dan ditemani Akamsi, mereka pergi ke Padang Mangateh atau yang juga dikenal dengan nama Padang Mengatas. Tempat menarik berupa peternakan seluas 280 hektar ini terletak di atas bukit, tepatnya di Kabupaten Lima Puluh Kota, Kota Payakumbuh.  Padang Mangateh juga dijuluki sebagai New Zealand versi Indonesia karena pemandangan savana luas layaknya padang rumput Australia dan Selandia Baru. Lengkap dengan panorama berbukit-bukit dan sapi yang sangat banyak.

Nah, penasaran dengan kelanjutan ceritanya, ayo sama-sama berbagi informasi di www.salamindonesia.id.(*)

Rumah Adat dan Tenun Suku Sasak

Ciri khas arsitektur Suku Sasak terlihat di setiap bangunan di desa ini seperti; masjid, rumah, lumbung padi dan tempat pertemuan umum yang dindingnya menggunakan pagar anyaman dari bambu dan tiang terbuat dari kayu, dengan atap yang terbuat dari alang-alang kering. Enaknya bangunan ini adalah bisa menyejukkan saat cuaca panas terik dan bakal terasa hangat di malam harinya. Ada beberapa bagian di dalam rumah adat Desa Sade, di antaranya ada ‘Bale Dalam’ yang di bagian depannya untuk tidur anak laki-laki dan orang tua mereka. Tempat ini sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu dan tempat makan. Dapur mereka pun masih memasak menggunakan tungku. Di sebelahnya terdapat kamar anak perempuan yang sekaligus juga menjadi tempat melahirkan. Hingga sekarang masyarakat Sade mempercayakan kelahiran bayi mereka pada dukun beranak, jika tidak bisa diatasi, mereka baru membawanya ke bidan.

Kaum pria Desa Sade kebanyakan adalah petani. Karena tidak ada sistem irigasi, panen hanya dapat dilakukan sekali dalam setahun. Mereka mengandalkan musim hujan sebagai perairannya. Hasil panen berupa padi dan palawija kemudian disimpan di dalam bangunan kecil. Lumbung Padi mereka di sebut Lumbung Pare, untuk mengambilnya menggunakan tangga yang terbuat dari bambu dan agar datang keberkahan, hanya kaum perempuan yang boleh mengambil makanan dari lumbung tersebut.

Pulau Lombok juga memiliki kain tenun sendiri yaitu tenun khas suku Sasak. Para perajin tenun 100% masih mempertahankan peralatan serba tradisional, mulai alat memintal benang hingga penenunan. Benangnya terbuat dari kapas, dan pewarnanya dari daun-daunan. Kualitas tenun pun sangat baik dengan kerapatan benang yang padat. Namun harga tenun Sasak lebih mahal karena proses produksi pengerjaannya yang memakan waktu cukup lama. Pengerjaan sehelai kain berukuran 60 x 200 cm memakan 2-4 minggu, bergantung pada kerumitan motif.

Kira-kira satu bulan hanya bisa menyelesaikan satu kain tenun. Kain yang ditenun secara manual ini memiliki beragam motif dengan harga mulai dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Sejak usia 8-9 tahun, anak gadis mereka sudah diajarkan menenun, dan jika belum bisa menenun, anak gadis di Desa Sade belum diijinkan untuk menikah.

Desa Sade terletak sekitar delapan km, hanya dengan memakan waktu sekitar 20 menit perjalanan dari Bandara International Lombok. Jika ingin berwisata ke Pantai Seger dan Tanjung Aan, jangan lupa singgah ke Desa ini. (*)

Belajar Menjaga Keutuhan Budaya di Desa Sade

Pulau Lombok menjadi tempat terakhir Road Show dan Media Tour ‘Salam Indonesia’ yang digelar sepanjang Januari 2018 lalu. Setelah aktivitas yang cukup padat, rombongan Endank Soekamti diajak berjalan-jalan menikmati indahnya alam, keagunan budaya, dan kearifan lokal setempat. Salah satu tempat yang sangat membuatku terkesan adalah berkunjung ke Desa Sade. Negeri kita memiliki kekayaan budaya yang sangat beraneka ragam. Keberadaan Desa Sade di Pulau Lombok ini merupakan salah satu budaya tradisional yang masih lestari.

Desa Tradisional ini merupakan sebuah perkampungan Sasak, yang merupakan suku asli Pulau Lombok. Desa Sade berada di wilayah bagian selatan Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kehidupan keseharian masyarakat di sini masih sangat kental dan memegang teguh adat tradisi Sasak tempo dulu. Aku melihat sendiri bagaimana rumah adat khas Sasak yang berdiri kokoh dan masih terawat dengan baik.

Dalam bahasa jawa kuno. Sade diambil dari kata ‘Noer Sade’ yang berarti cahaya. Kampung ini berdiri sejak 1079 masehi, dan sejak 1975 wisatawan mulai banyak masuk ke kampung ini. Desa seluas 5,5 Hektar ini, memiliki  rumah tradisional sejumlah 150 dan setiap rumah terdiri dari satu kepala keluarga, dengan jumlah penduduk sekitar 700 orang. Semua penduduk di sini masih satu keturunan, mereka melakukan perkawinan antar saudara. Bentuk pintu rumah-rumah mereka sangat pendek, mirip dengan rumah-rumah di jawa, agar bisa saling menghormati, karena kalau masuk rumah kita diharuskan menunduk biar nggak kejedot pintu. Sebelumnya penduduk Desa Sade menganut Islam Wektu Telu, dan sekarang mereka sepenuhnya memeluk Islam.

Masyarakat Sade sangat menjaga keutuhan budaya dan pola hidup yang diwarisakan leluhur mereka. Bentuk bangunan, adat istiadat, tarian, musik, busana, hingga penggunaan perlatan keseharian mereka masih sama seperti hampir seribu tahun yang silam. Desa Sade terletak di perbukitan tanah liat, yang jarak gundukan antar bangunannya sangat rapat, dan tersusun rapi ke atas. Setiap bangunannya dihubungkan dengan jalan setapak. Bangunan rumahnya sangat tradisional. Atapnya dari ijuk, tiang atapnya memakai bambu tanpa paku, tembok dari anyaman bambu, dan langsung beralaskan tanah. Lantai rumah mereka pun terbuat dari tanah liat yang di campur dengan sedikit sekam padi.

Hal yang paling unik di sana adalah penggunaan kotoran kerbau yang dipercaya dapat mengusir serangga sekaligus menangkal serangan magis yang ditujukan pada penghuni rumah. Setiap upacara adat di waktu-waktu tertentu, lantai rumah tersebut digosok dengan kotoran kerbau yang dicampur dengan sedikit air. Setelah kering, lantai tersebut disapu dan digosok dengan batu. Selain untuk menangkal serangan magis, penggunaan kotoran kerbau juga berfungsi untuk membersihkan lantai dari debu, dan membuat lantai lebih halus dan kuat. Mungkin karena zaman dulu belum ada semen, maka masyarakat Sasak Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah mereka. Meski menggunakan bahan organik berupa ‘tai kebo’, aku nggak mencium baunya. Masyarakat Sade memang keren! (*)