Laut Kita, Ibu Kita

Masyarakat pesisir setiap harinya berinteraksi dengan lautan dan debur ombaknya, karena kedekatannya, tak heran jika lautan dianggap seperti ibu mereka. Dari lautan pula, masyarakat pesisir mendapatkan makanan dan kehidupan lahir batin. Namun alangkah ironisnya ketika hal tersebut dinodai oleh para oknum. Seolah penghormatan terhadap laut sedang dikhianati. Oknum-oknum tersebut dengan teganya menodai lautan dengan sampah, tak sedikit lautan yang diracun, kemudian dirusak. Hal tersebut tak ubahnya seorang anak yang durhaka pada orangtuanya. Kondisi lautan kita saat ini bisa dikatakan tidak mencerminkan cinta dan bakti kita kepada sosok ibu.

Untuk memberikan penyadaran bagi masyarakat, Bentara Budaya dan Harian Kompas menyelenggarakan Eksibisi Jelajah Terumbu Karang bertema ’Laut Kita, Ibu Kita’. Acara ini pertama digelar di Bentara Budaya Jakarta sepanjang 21 – 25 Januari 2018. Pada pembukaan pameran ini, sosok ibu ditampilkan lewat tarian ‘Balabala’. Tarian karya koreografer Eko Supriyanto ini memang mendapat inspirasi dari peran ibu-ibu dalam sebuah keluarga. Sosok ibu selalu hadir dalam proses penyajian ikan di ruang makan keluarga. Sejak ikan dibawa nelayan hingga ke pasar ikan dan disajikan, sosok ibu selalu hadir. Tarian ‘Balabala ini ditarikan lima perempuan dari Halmahera, Maluku Utara. ‘Balabala’ sendiri artinya adalah ‘perempuan yang bangkit’.

Jelajah Koral Teluk Cendrawasih – Penyelam berusaha memotret hiu Paus (Rhincodon typus) yang sedang mencari makanan di sekitar bagan di perairan Kwatisore, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Papua, Selasa (15/7).
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Jelajah Koral Teluk Cendrawasih – Penyelam berusaha memotret hiu Paus (Rhincodon typus) yang sedang mencari makanan di sekitar bagan di perairan Kwatisore, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Papua, Selasa (15/7).
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Lewat pameran dan diskusi yang dibuka untuk umum, semoga mampu mengedukasi masyarakat luas untuk kembali menjadikan laut sebagaimana ibu cantik yang mampu memberikan kehidupan bagi semua. Ada 70 foto dalam 60 frame yang terpilih dari hasil kurasi oleh pewarta foto senior Arbain Rambey. Foto-foto tersebut terpilih dari 1.500 foto yang dihasilkan selama ekspedisi ‘Jelajah Terumbu Karang’. Tidak hanya foto keindahan bawah air yang disajikan dalam pameran ini, tapi juga bagaimana interaksi langsung para nelayan dengan hiu paus di Teluk Cendrawasih, Papua.

Selain itu juga kita bisa melihat bagaimana kehidupan masyarakat Taman Nasional Komodo di NTT yang kesulitan mendapatkan air bersih, hal ini sangat kontras dengan panorama bawah laut yang menjadi destinasi wisata unggulan kawasan ini. Pameran ini juga digelar di Yogyakarta, tepatnya di Bentara Budaya Yogyakarta sepanjang 26 Maret – 1 April 2018. Pameran di Jogja juga menyajikan karya karya para fotografer yang terlibat yakni; Ferganata Indra Riatmoko, Harry Susilo, Heru Sri Kumoro, Ichwan Susanto, Ingki Rinaldi, dan Mohammad Hilmi Faiq.

Proyek ‘Jelajah Terumbu Karang’ ini dilakukan di delapan lokasi yaitu Jailolo, Teluk Cenderawasih, Komodo, Selat Lembeh, Wakatobi, Raja Ampat, Selayar, dan Bali. Dalam penjelajahan di delapan lokasi itu, para fotografer menemukan berbagai keindahan surga bawah laut dan membuat Indonesia layak disebut sebagai pusat segitiga terumbu karang dunia, dengan banyak misteri yang juga masih banyak tersimpan. Akan tetapi, cenderung hanya sebagian masyarakat yang memiliki kepedulian dan kearifan lokal dalam menjaga lautnya dari kerusakan akibat bom maupun penangkapan ikan tak ramah lingkungan lain. (*)

Black Manta yang Dilindungi

Pada awal Maret 2018 aku diundang sebagai pemateri workshop Telkomsel yang pesertanya adalah tim ICT mereka. Sebagaimana perjalanan sebelum-sebelumnya, apalagi ini di Bali, tentu tidak mungkin hanya sekedar bekerja semata. Untuk kesekian kalinya aku kembali menyelami indahnya panorama bawah laut di Nusa Lembongan. Bersama dengan dua wilayah lainnya di Bali Selatan, yaitu Nusa Ceningan dan Nusa Penida, Nusa Lembongan telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan. Untuk menuju ke sana, dari Sanur kita menaiki kapal selama kira-kira 40 menit perjalanan. Untuk berpetualang ke wilayah yang melawati gelombang arus lepas pantai ini, maka hanya kapal bertenaga kuat yang dapat melewatinya.

Pada penyelaman kali ini aku berjumpa dengan ikan black manta. Perairan Bali ini memang menjadi salah satu daerah penyebaran pari manta di Indonesia. Di sini terdapat Manta Point yang berlokasi di sebuah Teluk kecil. Tempat ini sangat disenangi ikan pari manta, terutama untuk mereka membersihkan diri. Ketika sedang melakukan aktivitas membersihkan diri ini, disekitarnya banyak dijumpai ikan yang sedang menunggu raksasa laut ini. Tempat ini memang menjadi salah satu spot favorit para penyelam yang datang ke Lembongan. Namun sayangnya, jika sedang terlalu banyak penyelam, ikan ini justru suka menyingkir dari lokasi tersebut.

Namun alangkah beruntungnya aku, yang berkesempatan untuk bermain dengan Black Manta yang berputar-putar di atas kepalaku. Black manta itu hewan yang langka di antara kawanan manta lainnya. Mereka sangat cerdas, namun kita harus tetap tenang. Jangan pernah bikin mereka kaget, karena meskipun jinak, tetap berhati-hati dengan Black Manta itu sangat penting, karena ada bagian tubuhnya yang sangat tajam dan bisa melukai jika tertusuk.

Saat ini pari manta menjadi jenis biota laut yang terancam punah di wilayah Indonesia. Bahkan sejak 2016 lalu, Ibu Susi Pudjiastuti telah menetapkan Status Perlindungan Penuh Pari Manta lewat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 tahun 2014. Pemerintah juga telah menetapkan dua jenis pari manta, yaitu pari manta karang (Manta alfredi) dan pari manta oseanik (Manta birostris), sebagai ikan yang dilindungi. Lewat aturan tersebut, berarti penangkapan dan perdagangan pari manta serta bagian-bagian tubuhnya sama sekali tidak diperbolehkan.


Menurut catatan, hingga November 2016, Kementerain Kelautan dan Perikanan (KKP), Kepolisian Republik Indonesia, dan Bea Cukai telah melakukan 35 kali operasi penangkapan terhadap pelaku perdagangan insang dan produk dari pari manta. Penangkapan tersebut dilakukan di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Makassar, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Padahal meski ikan pari manta dapat mencapai 40 tahun, namun satu ekor ikan pari manta hanya mampu menghasilkan paling banyak 6-8 ekor anakan saja selama hidupnya.

Penurunan populasi pari manta disebabkan oleh degradasi lingkungan, selain itu ancaman utama kepunahannya adalah tingginya permintaan terhadap insang pari manta. Karena itu IUCN (Aturan Internasional Konservasi Alam) secara internasional memasukkan pari manta dalam kategori ‘rentan’. Sementara Konvensi Perdagangan Internasional tentang Spesies Terancam (CITES) memasukkannya dalam Apendiks II yang berarti ikan pari manta belum terancam punah, tetapi bisa punah jika perdagangannya tidak terkontrol. Karena itu dengan cara masing-masing, kita memang harus sama-sama ikut melestarikan biota laut yang terancam punah ini.

Kedatanganku di Nusa Lembongan memang sudah yang ke sekian kalinya. Namun kali ini ada beberapa hal baru yang aku temui di sini. Kehidupan penduduk pulau Nusa Lembongan ternyata menjadi daya tarik tersendiri. Sembari menikmati keindahan alamnya, kita bisa berinteraksi dan melihat aktivitas penduduknya. Sebagai pulau yang ukurannya kecil, Nusa Lembongan memiliki banyak penghuni. Namun pada malam hari, aku merasakan bagaimana sulitnya mencari warung makan yang buka. Di pulau ini kita bisa menyewa sepeda motor dengan mudah. Karena tempatnya aman, parkir motor pun bisa dimana saja. Dengan sepeda motor sewaan, aku, Bagus, dan Deka sempat berjalan-jalan melaju ke arah perbukitan melintasi Desa Lembongan.

Pastinya Nusa Lembongan menawarkan atraksi keanekaragaman spesies ikan dilindungi. Semuanya bercampur dengan lingkungan karang laut yang menakjubkan dari segi bentuk, ukuran, hingga warna. Selain pari manta, di sini kita juga bisa diving bersama ikan mola-mola. (*)

Menyelam di Donggala, Orang Lokal Dilarang Masuk?

Donggala adalah salah satu destinasi wisata di Sulawesi Tengah. Di sana ada satu tempat yang sangat indah dan masih tergolong asri, Pantai Tanjung Karang namanya. Pantai ini begitu indah, airnya yang jernih, ditambah dengan pesisir pantai yang luas dan pasir putih yang sangat halus membuat kita betah berlama-lama di sini.

Pantai ini sering digunakan oleh para penyelam untuk melihat dan menikmati keindahan bawah lautnya. Pantai Tanjung Karang memang sudah menjadi pesona tersendiri bagi penyelam, baik dari dalam maupun luar negeri.

Setelah delapan tahun, akhirnya aku kembali lagi ke pantai yang jaraknya memakan waktu sekitar 40 menit dari kota Palu ini. Di Tanjung Karang, aku menyelam bersama Dedy, yang merupakan guru diving pertamaku. Kini Mas Dedy memiliki dan mengelola Dive Center sendiri. Di Tanjung Karang kami juga sempat melakulan wreck dive, yakni menyelam di bangkai kapal yang lama karam di lautan.

Ada dua spot kapal karam (wrecks) di sini. Yang satu kedalamannya 50m dikenal dengan nama Gili Raja wreck, dan satunya lagi yang berkedalaman 30m dinamai Mutiara wreck. ‘Gili Raja’ adalah nama kapal yang kini beristirahat di kedalaman perairan Tanjung Karang. Lokasinya berada di sebelah selatan pesisir pantai nya. Bunga-bunga karang yang tumbuh di bagian-bagian kapal yang memiliki panjang 80 meter ini menjadi obyek pemandangan yang cantik bagi para penyelam. Belum lagi biota laut yang menjadikan bangkai kapal ini tempat tinggal mereka. Keaneka ragaman dan keunikan bentuk tubuh makhluk-makhluk laut ini memberikan panorama tersendiri.

Bila Gili Raja berada di kedalaman 40 meter, maka ‘wreck’ kapal bernama ‘Mutiara’ berada di kedalaman yang lebih rendah, sekitar 20 meter. Meski tak terlalu dalam, pemandangan indah masih tetap bisa disaksikan di bangkai kapal yang tergolek di jarak 2 Km dari bibir pantai ini.

Di Pantai Tanjung Karang kita bisa menemukan warna-warni kehidupan terumbu karang yang alami dengan ikan-ikan hias dan biota laut lainnya di sekitarnya. Di Pantai ini terdapat 17 gugus terumbu karang di radius sekitar 20 kilometer. Gugusan terumbu karang terdekat dengan bibir pantai bernama House Reef yang hanya berjarak dua meter dari bibir pantai. Selain House Reef, Gugusan terumbu karang yang dapat kamu nikmati di Pantai Tanjung Karang adalah Rocky Point, Natural Reef, Irmis Block, Anchor Reef, Green Wall dan juga Alex Point.

Aku juga sempat bertemu Sotong dan mengikuti petualangannya di bawah laut. Sotong adalah hewan laut dari ordo Sepiida. Mereka termasuk kelas Cephalopoda, yang juga di dalamnya termasuk cumi-cumi, octopodes, dan nautiluses. Sotong memiliki cangkang internal yang unik, atau cuttlebone, dan oleh karena itu sotong juga sering disebut sebagai cuttlefish. Tetapi, walaupun namanya ikan, sotong bukanlah ikan melainkan moluska.

Di wilayah Pantai Tanjung Karang juga banyak dijumpai para wisatawan dari mancenegara, baik sekedar berkunjung untuk menikmati pantai dan wisata bawah laut, bahkan ada juga tinggal menetap di sana. Anehnya, di Dive Center milik orang asing di sana, ada aturan yang tidak fair. Terlihat ada praktik monopoli dimana wilayah yang sudah dikuasai pihak asing ini mencoba mengeksploitasi potensi wisatanya. Di sana ada aturan ‘orang lokal dilarang masuk’ yang cukup mengganggu.

Di DOES episode 569, aku bercerita dan membeberkan fakta yang terjadi di Donggala, di antaranya bagaimana orang lokal jadi terpinggirkan, dan adanya oknum warga lokal yang membuat rusak kekayaan bawah laut di sana. Video tersebut tentunya memancing komentar yang beragam dari penonton, ada yang marah, kecewa, dan ada juga yang menyemangati dan mencoba memberikan solusi.

Seperti komentar yang diberikan Sholahuddin misalnya, ia mencoba untuk urun rembug lewat delapan point, di antaranya agar masyarakat di sana membuat paguyuban, lalu dari paguyuban operator/ pemilik kapal melakukan patungan untuk mooring bouy di titik-titik yang disepakati untuk angkering di bouy. Mooring buoy adalah tambat apung yang digunakan untuk tambatan kapal, dan sebagai marka untuk menjatuhkan jangkar. Selanjutnya adalah membuat larangan membuang jangkar, dan angkering dilakukan di tali bouy yang sudah ada. Ia mengatakan bahwa di Karimun Jawa sudah menerapkan ini. Movement ini menurutnya harus berasal dari bawah (operator kapal/pemilik) jika ingin hasil yang efektif, bukan dari instasi pemerintah dan lain-lain, karena nggak akan rasa memiliki dan ujung2nya bouynya bisa dicuri. Untuk menerapkan ini harus dibuat aturan main yang berlandaskan sustainability.

Komentar lainnya datang dari Bani Irsyad yang menyampaikan undeg-unegnya agar isu ini diviralkan di medsos lain selain youtube. Lalu mention berjamaah ke Bu Menteri Susi. Sedangkan Nadia Mirakusuma menceritakan pengalamannya kalau dia pernah membahas resort itu kepada pakdenya yang kebetulan pernah menjabat sebagai Sekertaris Menteri Kelautan mendampingi Bu Susi, dan sekarang menjabat sebagai Dirjen Kelautan. Perempuan asal Surabaya ini mengatakan bahwa jajaran di kementerian sudah mendengar kabar tersebut. Saat ini mereka sedang menyelidiki sebelum menindaklanjuti. Nadia berharap agar warga lokal bisa berjaya di tanah mereka sendiri.

Sementara itu seseorang berisnisial DIZ berujar kalau seharusnya memang ada edukasi ke penduduk lokal. ia mengaku pernah ngobrol dengan penduduk lokal sekitar Tebing Breksi, Yogyakarta. Dulu juga banyak sekali pertentangan antara pengelola tebing dan penduduk. Tapi dengan edukasi manfaat bisa dilakukan sampai hari ini. Dan penduduk bisa merasakannya.

Ini yang aku harapkan dari DOES, semua bisa berbuat sesuatu sesuai kapasitasnya masing-masing, agar perubahan ke arah yang lebih baik bisa terus terjadi. (*)

Menyelam Di Pulau Anak Krakatau

Anak Krakatau masih menjadi primadona bagi para wisatawan baik mancanegara, maupun domestik. Anak Krakatau menawarkan pemandangan yang tidak kalah menarik dibanding lokasi wisata lainnya. Dahulu Krakatau merupakan kepulauan berupa pegunungan vulkanik aktif yang berada di Selat Sunda, antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Gunung Krakatau sudah ada sejak zaman purba dan pernah mengalami letusan besar tahun 1883. 

Sebagai gunung berapi, di kawasan pulau Anak Krakatau tidak hanya bisa untuk mendaki dan tetapi juga menjadi spot untuk menyelam. Menyelam di Pulau Krakatau sangat menarik, karena pastinya ada pengalaman baru dengan mengeksplorasi pengaruh vulkanik ke bawah air. Sebagai gunung berapi yang masih aktif, kita juga bisa menikmati sensasi air hangat ketika menyelam di pulau ini.

Pada 22 Juni 2017 lalu, aku dan teman-teman melakukan diving tour ke pulau Krakatau. Di sana banyak pulau-pulau berbatu di bawah gunung berapi. Suasana alam sekitar sangat teduh dengan pepohonan yang hijau menyegarkan mata. Matahari saat itu sangat bersahabat sekali, sinarnya membuat pemandangan semakin indah di mata. Rawa dan airnya pun cukup tenang, dan membuat kami bisa bersantai menikmati alam.

Di kedalaman air, bisa terlihat tumbuh terumbu karang baru di beberapa tempat, penyu hijau juga sering terlihat di sekitar pulau. Terumbu karang tersebut sangat beraneka ragam, mulai dari karang keras hingga yang lunak atau soft corals. Aktivitas gunung api yang masih aktif dikhawatirkan mengganggu pertubuhan biota laut, termasuk terumbu karang. Namun ternyata, di sejumlah tempat, terumbu karang di sekitar pulau anak Krakatau ini sudah mulai tumbuh adn terlihat cantik
Batu-batu besar yang ada dasar laut, juga mulai ditumbuhi oleh soft corals. Bukan itu saja, ikan-ikan dan hewan laut lain juga sangat banyak di sekitar pulau ini.

Bukan hanya di sekitar Anak Krakatau saja. Perairan di sekitar Pulau Panjang juga memiliki terumbu karang yang baru tumbuh dan banyak batu-batu besar di dasar laut. Di sela batu-batu inilah soft coral banyak tumbuh. Anak Gunung Krakatau termasuk wilayah yang dilindungi, dan semoga saja keindahan bawah lautnya bisa bertahan.

Letusan Gunung Krakatau purba yang terjadi pada ratusan ribu tahun lalu telah menghancurkan dan menenggelamkan 2/3 bagian krakatau purba. Akibat letusan tersebut, menyisakan tiga pulau, yaitu Pulau Rakata, Pulang Panjang, dan Pulau Sertung.

Aku sangat menikmati pemandangan bawah laut di gunung paling berbahaya di dunia ini. Termasuk gelembung-gelembung yang terdapat di bawah laut. Gelembung udara tersebut muncul dari dasar batu. Dari kedalaman sekitar dua meter, gelembung-geleumbung udara ini naik ke permukaan. Di bagian bawahnya terasa panas, dan menandakan aktivitas gunung api di bawah lapisan bumi masih terjadi. (*)

Menyelam di Nusa Penida

Ada berapa nama hewan yang disebut berulang-ulang yang kamu ketahui? Kura-kura, kunang-kunang, kupu-kupu, laba-laba, undur-undur, ubur-ubur, cumi-cumi, ada lagi? Ya, lumba-lumba, kali ini aku akan sedikit bercertita tentang satu di antara mamalia laut yang bersahabat dengan manusia. Biasanya kita menyaksikan lumba-lumba hanya di kebun binatang, akuarium, atau bahkan cuma dari film film. Namun bagaimana rasanya melihat lumba-lumba melesat dan menari di laut lepas yang menjadi habitat asli mereka. Pada 9 September 2017, aku berada di Nusa Penida, yang merupakan Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Kawasan ini menjadi salah satu tujuan pariwisata yang memiliki keanekaragaman hayati laut. Kecamatan Nusa Penida memiliki tiga pulau utama yaitu Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan yang semuanya dikelilingi oleh terumbu karang tepi (fringing reef) dengan luas 1600 hektar. Kecamatan Nusa Penida, yang berada di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali ini memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Wilayah ini termasuk dalam segitiga terumbu karang dunia (the global coral triangle) yang saat ini menjadi prioritas dunia untuk dilestarikan.

Di sini kita juga bisa melihat kawanan lumba-lumba yang sedang bermain. Melihat dari dekat ketika mereka berenang riang gembira merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan dan tidak akan pernah terlupakan.
Di berbagai daerah di beberapa negara, Lumba-Lumba, Ikan Paus, dan mamalia laut lainnya menjadi hewan buruan. Meski menuai kritik dari banyak kalangan, tradisi masyarakat berburu mamalia laut di beberapa daerah, diberi izin oleh lembaga konservasi dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Aktivitas kultural ini juga diakui sebagai tradisi secara internasional. Pastinya aku ke sini bukan untuk berburu lumba-lumba, namun hanya untuk mengenal lebih dekat dengan melihat aktivitas mereka di alam bebas.

Di wilayah ini terdapat zona perikanan berkelanjutan yang diperuntukkan agar nelayan Nusa Penida tetap dapat menangkap ikan, tentunya dengan alat tangkap dan cara-cara yang ramah lingkungan. Menangkap ikan dengan cara merusak seperti bom dan potasium-sianida dilarang digunakan di dalam KKP Nusa Penida. Sementara zona lainnya juga berperan dalam melindungi terumbu karang, hutan bakau dan padang lamun yang merupakan ekosistem penting pesisir, dimana ikan dan biota laut lainnya bereproduksi, bertelur, berlindung dan mencari makan di dalamnnya. Jika ekosistem ini rusak maka ikan akan semakin berkurang dan akan berdampak pada nelayan Nusa Penida. KKP Nusa Penida relatif mudah untuk dicapai karena letaknya tidak lebih dari 15 mil laut dari pulau utama Bali. Banyak terdapat sarana tranportasi setiap harinya yang mengantar penumpang dari dan ke kecamatan Nusa Penida baik pada pagi, siang dan sore hari.

Selain lumba-lumba, ada lagi hewan laut yang namanya disebut berulang-ulang, namanya ikan Mola-mola. Di bawah perairan yang biru jernih dengan beragam bentuk terumbu karang berwarna-warni, di lautan Nusa Penida terdapat satu jenis ikan langka ini. Ikan mola-mola bentuknya unik, bulat pipih dengan sirip menjulang ke atas dan ke bawah. Ukuran ikan Mola-mola cukup besar, dengan bobot badan dapat menyentuh angka 1.000 kg. Ikan Mola-mola dewasa, diameter tubuhnya bisa mencapai 3-4 meter. Ikan Mola-mola biasanya mudah ditemui dari jarak dekat setiap bulan Juli-November setiap tahunnya. Makanan utama Mola-Mola adalah Ubur-Ubur.

Mola-mola juga dikenal dengan sebutan ocean sunfish, atau ikan yang gemar mencari sinar matahari. Setelah lama menyelam, ikan ini akan berenang mendekati permukaan laut untuk berjemur. Mola-mola tidak akan bisa hidup di bawah suhu 12 derajat Celcius. Mereka sangat gemar berjemur karena memang alergi air dingin. Setelah menyelam hingga kedalaman 600 meter, ikan ini berjemur dengan cara naik ke permukaan air laut yang tidak terlalu dalam, lalu berjemur sambil tiduran.

Selain berfungsi untuk menghangatkan tubuh, berjemur sangat penting bagi mola-mola. Di kulitnya, terdapat parasit yang otomatis harus dihilangkan. Dengan berjemur, ikan-ikan terumbu karang akan mendekat dan memakan parasit tersebut. Sementara, burung-burung laut yang datang mengerubuti akan mematuk parasit itu.

Meski tubuhnya besar, namun mola-mola menghadapi sejumlah ancaman akibat ulah manusia. Pertama, ia sering tersangkut baling-baling kapal cepat karena gerakan renangnya yang lambat. Kedua, ia seringkali melahap sampah plastik mirip ubur-ubur yang bertebaran di laut. Ketiga adalah perburuan mola-mola masih terjadi karena dianggap sebagai makanan lezat, meski sudah ada pelarangan oleh Uni Eropa. Bahaya lainnya, rusaknya terumbu karang akibat pengeboman ikan tentunya berpengaruh bagi kehidupan mola-mola.

Karena langkanya jenis ikan ini, maka banyak para penyelam yang sengaja datang ke Bali hanya untuk melihat Mola-Mola, namun sayangnya karena antusias mereka yang tinggi, keselamatan ketika menyelam pun kurang diutamakan. (*)

Misteri Danau Seran

Di sela-sela Soekamti Day yang digelar di Banjarmasin, Aku, Deka, dan Isa menyempatkan piknik ke sebuah tempat yang baru-baru ini menjadi destinasi wisata masyarakat Banjarbaru dan Banjarmasin. Tempat bernama Danau Seran tersebut terletak di Jalan Danau Seran Guntung Manggis Landasan Ulin Banjarbaru. Di kawasan Kalimantan Tengah, danau ini memang belum sepopuler dua objek wisata lainnya, seperti Pulau Kembang dan Pasar Terapung. Danau Seran terletak tidak jauh dari pusat kota Banjarbaru tepatnya berada di Jalan Guntung Manggis, tidak jauh dari bandara Syamsudin Noor serta lokasinya ditengah komplek perkampungan.

Di danau seluas 10 hektar ini kita bisa menikmati udara yang sejuk, serta hijaunya alam sekitar. Destinasi Wisata di sini memang tidak terlalu besar, cukup merogoh kocek sebesar Rp 10 ribu per orang jika ingin berkeliling dan menyeberangi danau dengan perahu kecil yang tersedia di sana. Tepat di tengah danau terdapat sebuah pulau kecil dengan pohon yang tinggi, cocok untuk bersantai melepaskan penat. Di danau ini juga disediakan ayunan jaring untuk bersantai dan ada juga beberapa tempat duduk. Di danau ini kita bisa berenang bahkan menyelam, namun sayangnya aku tidak membawa persiapan untuk menyelam. Aku pun segera terjun untuk merasakan sensasi kesegaran air di danau ini. Sialnya, sebelum terjun SD card ku yang berisi lumayan banyak data, terlempar ke danau, lalu hanyut.

Keesokan harinya aku membeli kacamata renang snorkel di toko terdekat, dan kembali ke Danau Seran. Menyelam di danau ini merupakan sensasi tersendiri. Selain warna airnya yang sangat jernih kehijauan, jika melihat ke kedalaman maka akan nampak sekali rerumputan yang tumbuh di dasar danau. Aku pun berusaha keras mencari SD card yang hilang, namun karena lumpur yang tebal di dasar danau dengan kedalaman mencapai 30 meter ini, mencari barang sekecil itu bagaikan mencari jarum di dalam jerami

Dalam hidup memang tidak ada yang kebetulan. Tak berapa lama setelah aku menyelam, tiba-tiba datang Tim SAR yang ternyata sedang latihan menangani bencana. “Wah, masih ada harapan nih, pikirku,” Para anggota SAR yang ramah itu pun tak sungkan membantuku untuk menemukan SD card.

Ada beberapa materi latihan SAR, yaitu beberapa kejadian yang sering dijumpai, misalnya pertolongan terhadap korban tenggelam, evakuasi penumpang kapal, penyeberangan lewat air, dll. Lokasinya yang luas, air yang jernih dengan kedalaman yang ideal sangat pas sebagai tempat dilakukannya beragam teknis dan menu aksi latihan penyelematan bencana banjir. Namun, apa mau dikata, dengan segala upaya SD cardku pun tidak berhasil ditemukan.

Sebenarnya, danau ini adalah sebuh danau yang terbentuk dari aktifitas tambang Intan PT. Galuh Cempaka. Karena sudah terlalu lama ditinggalkan akhirnya terbengkalai, lalu diambil alih oleh alam dan dipoles oleh waktu, serta berganti menjadi destinasi wisata yang indah. Bekas-bekas galian tambang yang terbengkalai menjadikan tempat ini digenangi air dan menjelma menjadi danau. Meski indah dan memikat, namun bekas galian tambang ini juga harus diwaspadai, karena sudah ada beberapa tragedi di danau ini. Keesokan harinya aku baru tahu dari komentar di sosial mediaku, bahwa di danau tersebut juga ada buayanya. Untung saja aku dan Deka selamat ketika menyelam.

Buaya adalah pemburu di perairan tenang. Danau seakan-akan sudah menjadi rumahnya. Buaya sangat mahir bermain petak umpet. Tumbuh-tumbuhan rawa menjadi pelindung untuknya. Buaya pemburu yang tidak berisik dia mendekati mangsanya dengan pelan-pelan. Air yang tadinya tenang tiba-tiba menyeruak dan kalian sudah berada di terkaman buaya. Karena itu jika ke sebuah danau, jangan berenang di luar area yang sudah ditentukan atau di area sungai atau danau dimana sering didapati kemunculan buaya. Dan terutama, jangan memasuki daerah perairan yang airnya keruh pada senja atau malam hari dimana sangat sulit untuk melihat dan binatang sedang aktif berburu.

Buaya sangat pandai menyembunyikan dirinya di air, seringkali yang nampak hanya mata dan hidungnya saja atau tenggelam seutuhnya. Buaya sering menyerang orang-orang yang berada di tepian sungai. Buaya dapat membuat serangan sangat cepat dan tiba-tiba. Apalagi di dalam air, buaya lebih cepat dibandingkan manusia. Jadi sebaiknya jagalah jarak sejauh mungkin dari mereka.

Beruntung, setelah berkunjung ke Banjarbaru ini, aku mendapatkan banyak pengalaman, mulai makanan yang sangat lezat, juga mendapat banyak teman baru, termasuk para anggota SAR. Selain selalu waspada, dan tak berlebihan, jika berkunjung ke Danau Seran, jangan lupa untuk menjaga kebersihan lingkungan. Jangan pernah buang sampah sembarangan, dan yang paling penting jangan pernah membuang SD card sembarangan. (*)