Semrawutnya Sampah Visual

Di kota-kota besar fenomena sampah visual memang kerap terjadi, begitu juga di Yogyakarta. Sampah visual tersebut di antaranya iklan di luar ruang yang notabene milik publik. Bentuk Sampah Visual pun bisa bermacam-macam, di antaranya papan iklan, baik yang bersifat komersil maupun tidak. Ada juga yang berbentuk pamflet liar yang ditempel di tembok, tiang listrik, dan dengan ukuran yang lebih besar yaitu spanduk, baliho, dan sebagainya.

Belum lagi masalah tersebut diperparah dengan banyak papan iklan yang sudah habis masanya, namun masih juga terpajang hingga terkadang membuat suasana kota menjadi kotor. Ketika hal itu semakin dibiarkan, maka tidak mustahil kalau lama-kelamaan semua ruang publik akan didominasi oleh sampah visual.

Sampah visual ini memang sangat mengganggu, dan menurutku nggak cuma pamflet, poster, spanduk dan baliho, tapi juga instalasi listrik yang membuat ruwet pemandangan kota. Contohnya di kawasan tugu, meski gak banyak baliho dan spanduk, karena kabel yang semrawut kita mau motret yang bagus kan jadi susah, lha padahal tugu itu kan ikonnya Yogyakarta.
Menyikapi sampah visual sebaiknya nggak cuma fokus sama baliho dan teman-temannya, tapi juga infrastruktur kotanya.

Forum diskusi tentang fenomena ini telah banyak digelar, bahkan hasilnya banyak juga inisiatif dari warga untuk membersihkan sampah visual ini. Sumbo Tinarbuko adalah salah satu orang yang cukup aktif menyuarakan hal ini. Selain dosen di ISI Yogyakarta, beliau juga seorang penulis, dan aktif di gerakan Reresik Sampah Visual. Pada sebuah diskusi “Iklan, Sampah Visual, dan Tata Ruang Kota”, di Bentara Budaya Yogyakarta, Sumbo banyak mengemukakan tentang ruang-ruang publik Yogyakarta yang dirampas. Mengapa ‘dirampas’ karena ruang tersebut dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk tujuan kepentingannya yang bermacam-macam, mulai kepentingan ekonomi, hingga politik.

Di antara contoh yang dikemukakan Sumbo adalah saat menjelang pemilihan umum, dimana partai politik melakukan aksinya dengan memasang spanduk, baliho, dan lainnya di hampir setiap sudut kota. Ia juga mempresentasikan bagaimana Jembatan Janti seringkali berganti warna sesuai merk provider telekomunikasi tertentu yang beriklan di sana. “Bahkan jika tidak diawasi, mungkin empat sisi tugu akan berwarna-warni merah, kuning, biru sesuai merk-merk tersebut,” tambahnya.

Ia juga mengritisi janji Walikota Yogyakarta yang belum terwujud. Walikota pernah menjanjikan bahwa kawasan-kawasan di antaranya, Jl Diponegoro, Jl Solo, dan Jl Sudirman akan menjadi kawasan bebas sampah visual, “namun sampai saat ini, bukannya berkurang, malah semakin bertambah banyak,” tegas Sumbo.

Memang sudah sepatutnya bahwa ruang publik harus tetap menjadi milik publik, dan tidak diprivatisasi oleh pihak tertentu. Semoga hal ini bisa menjadi kesadaran bersama, dan semboyan “Yogyakarta Berhati Nyaman” bukan hanya sekedar slogan.

Menurut pengamatanku kurang lebih 25 persen musik sampah visual itu dihasilkan dari promo acara musik, misalnya di Perempatan Ringroad Kentungan, Spanduk dan Baliho ada di tiap sudut, dan pasti ada acara musiknya. Tapi kalau acara musik kan memakai baliho yang paten sesuai tempatnya, yang nyatanya memang ada disediakan tempatnya oleh pemerintah. Masalahnya adalah banyak acara yang sudah kadaluarsa tapi iklannya belum juga diturunkan. Sedangkan sampah visual dari kampanye politik itu ada juga yang tidak memakai spot yang disediakan. Mereka bikin sendiri spanduknya, dan bahkan pernah beberapa kali terjadi memasang di tempat ilegal, seperti di bangunan cagar budaya.

Masih adanya sampah visual ini menurutku juga menjadi bukti bahwa iklan konvensional masih dipakai. Namun kita sebagai band (Endank Soekamti) sudah tidak pernah bersentuhan lagi. Dulu kan pernah zamannya promosi acara konser pakai flyer, dan poster, tapi sekarang semuanya sudah beralih ke digital. Semua bentuk promosi yang dibuat sendiri oleh musisi sudah didigitalisasi. Lewat promo digital kan bisa lebih irit, nggak nyampah dan lebih efektif, informasinya bisa langsung sampai ke komunitasnya sendiri. 

Menurutku sampah visual di Kota Jogja termasuk parah dibanding kota lain, apalagi aku suka motret, jadi bisa merasakan banget keruwetannya. Buat terima kasih untuk teman-teman yang sudah melakukan aksi nyata membersihkan kota dari sampah visual. Itu adalah hal terbaik yang bisa dilakukan masyarakat. (*)

Ingatanku Tentang Gempa 2006

GEMPA bumi yang terjadi 2006 silam cukup berdampak yang luar biasa bagi Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Ketika sebagian besar masyarakat hendak bersiap memulai aktivitas, Sabtu, 27 Mei 2006 sekitar pukul 05.55 WIB, tiba-tiba dikejutkan oleh guncangan yang memporak-porandakan isi Kota Jogja, Bantul dan sebagian wilayah Sleman serta beberapa daerah di Jawa Tengah Selatan.

Saat itu hampir semua orang terkecoh, jika gempa bumi adalah akibat Gunung Merapi yang sedang mengalami peningkatan aktivitas. Terlebih gempa tersebut terjadi berbarengan dengan munculnya asap tebal dari Puncak Merapi. Gempa bumi 2006 lalu ini termasuk gempa bumi tektonik dengan kekuatan 5,9 skala Richter (SR) dan berlangsung selama 57 detik. Pusat gempa terjadi pada 8,03 derajat Lintang Selatan dan 110,32 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 11,3 kilometer yang mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan setidaknya 6.000 korban jiwa.

Peristiwa ini tentunya sudah menjadi ingatan masyarakat yang terkena dampaknya. Hampir setiap tanggal tersebut, sebagian besar Timeline sosial media menceritakan ulang pengalaman mereka akan peristiwa yang tentunya bukan semata-mata akibat dosa manusia, seperti yang sering diteriakkan sebagian warganet dengan melayangkan ayat-ayat tertentu.

Melalui akun twitter, aku juga pernah berkicau tentang detik-detik saat menjelang peristiwa alam tersebut. Begini kicauanku saat itu di akun @ErixSoekamti, May 27, 2012:

Hari ini #6thnGempaYK sehari sebelumnya saya berantem sama pacar. Saat itu Endank Soekamti & crew semuanya tinggal dalam satu atap dengan status masih bujang. Satu jam sebelum gempa saya maen Playstasion bareng Rintho Aribowo (salah satu kru ES), Ari Soekamti bobok lebih awal, dan Dory Soekamti pergi ke warnet depan.

Karena mata mulai pedas, saya meninggalkan Rintho yang sedang asik bermain PS dengan stick balap yang baru saya beli. Tiba-tiba….. 05.55 Vibration Stick PS balap yang dimainkan Rintho bergetar menjadi 5.9 skala richter. Dia kemudian lari dan teriaak …….ERIX!!!

Entah apa yang terbersik dikepala Rintho dari beberapa teman di beskem, hanya nama saya yang terucap dari mulutnya *PrekBgt

Sebuah gitar Bass dikamar membangunkan saya dengan tidak senonoh. Ia yg berdiri angkuh di sebelah saya tiba-tiba terjatuh tepat dikepala. Lambat laun secara slow motion, saya mulai terbangun dan keluar, semuanya bergoyang… Melangkahpun susah.

Disaat keluar, saya menyaksikan banyak warga panik. mata saya nggak mau libur dan tak kuasa untuk terus melihat kost-kostan putri di ujung jalan. Tiba-tiba pandangan pun berubah fokus tatkala seseorang datang dengan senyum, berjalan pulang dari warnet… Dialah Dory Soekamti.

Dengan senyumnya, Dory bercerita tentang apa yang terjadi saat asik masyuk menikmati donlotan video mesum dilantai 2. “ASU!! Lagi enak-enak kok monitornya goyang semua, dari lantai dua semua user Rama Net pada lari rebutan satu pintu,” ujarnya.

Setelah semuanya mulai reda dan dianggap sudah aman, kami kembali masuk rumah. Ehh.. Ari Soekamti baru bangun 🙂 *KlupaanBangunin “pagi ”

Semua terjadi sangat cepat dan semua masih santai, masih ketawa ketiwi dan saling bercerita tentang apa yang dialami. Karena masih ngantuk.. Sayapun tidur kembali… Begitu juga dengan yang lain 🙂 zzzzz..Zzz..Zz

Sejenak terlelap, gempa itu datang lagi!! Seperti belum puas menghajar kami, kali ini mereka datang lagi dengan ditemani isu tsunami. saya berusaha menelpon keluarga dan mantan pacar 🙂 berharap gempa ini mampu menggetarkan hatinya untuk kembali kepelukan saya.

Beskem Endank Soekamti jauh dari jalan raya, listrik mati. Kami benar-benar nggak tahu apa yang terjadi.

Jam menunjukan pukul 2, muncul inisiatif mencari berita lewat gelombang radio Hp, lalu kami menemukan Sonora fm.Semuanya menjadi sangat serius buat kami ketika kaget mendengar info radio Sonora mengatakan bahwa korban sangat begitu banyak.

Karena ngantuk dan lapar setelah manggung di Jakarta dan berlanjut di Solo, Erix mengaku mulai susah mengingat! 🙂 “Saya nggak mau cerita yang sedih-sedih,”

***
Peristiwa gempa bumi 2006 mampu menjadi sebuah pembelajaran kehidupan bagi masyarakat, dimana dengan begitu, masyarakat dapat hidup selaras di wilayah rawan gempa. Semoga ke depannya Jogja selalu baik-baik saja, dan warganya semakin berhati nyaman. (*) 

Radio Tak Akan Pernah Mati

Sebagai media massa, radio memiliki karakteristik yang unik dan khas, meski tentunya mempunyai keunggulan dan kelemahannya sendiri. Sebagai media massa. radio menawarkan keintiman, karena penyiar menyampaikan pesannya secara personal. Walaupun radio itu didengar oleh orang banyak, sapaan penyiar yang khas seolah ditujukan kepada diri pendengar secara seorang diri, seakan-akan berada di sekitarnya. Sehingga radio bisa menjadi ”teman” di kala seseorang sedang sedih ataupun gembira.

Karena aku termasuk yang kurang hobi membaca, maka aku lebih suka mendengarkan radio untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Radio itu mampu menciptakan theater of mind, dimana perasaan kita bisa terhanyut saat mendengarkan apa yang sedang disiarkan. Selain itu, radio juga mampu melibatkan dan merangsang imajinasi, dan memiliki kemampuan untuk mengilhami dan memotivasi pedengarnya.

Di era awal karir Endank Soekamti, kita selalu mengirimkan lagu ke radio-radio, bahkan merikuesnya sendiri agar lagu tersebut bisa diputar, beruntung jika bisa menapaki tangga lagu. Radio juga bisa menjadi penentu mana lagu yang bagus atau tidak, mana yang laku di pasaran atau tidak. Namun akibat industri yang belum sehat, seringkali stasiun radio memutar lagu yang itu-itu saja. Karena itu dengan inisiatif penuh, aku sempat mendirikan Radio Soekamti, stasiun radio yang diperuntukan bagi band dan musisi yang lagu-lagunya sulit masuk ke radio arus utama. Radio ini dikelola oleh komunitas, dan karena bisa diakses secara online, radio ini diperuntukan untuk para pecinta musik dimanapun berada.

Setiap setelah rilis album, Endank Soekamti selalu menggelar promo dan media tour ke berbagai kota, dan yang paling banyak disambangi adalah radio. Pada rangkaian Media Tour dan Road Show ‘Salam Indonesia’ sepanjang Januari 2018, Endank Soekamti mengunjungi banyak stasiun radio di sepanjang Pulau Jawa-Bali-Lombok. Dari sekian banyak stasiun radio, kita juga bertemu beragam karakter dan gaya para penyiarnya.

Menjadi seorang penyiar bukanlah hal yang mudah, karena tidak hanya harus bermodal suara indah. Namun, seorang penyiar juga perlu belajar dan bekerja keras untuk menjadi profesional di bidangnya. Modal utama lainnya menjadi penyiar adalah memiliki wawasan, sense of music, dan sense of humor. Penyiar adalah ujung tombak sebuah radio, karena berinteraksi langsung dengan pendengar.

Agar tidak monoton, penyiar harus berwawasan luas. Penyiar radio yang berwawasan luas, tak akan kehabisan kata-kata untuk berbicara. Karena itu siarannya akan lebih hidup, dinamis, dan berisi. Tugas penyiar bukan hanya mutar lagu-lagu, tapi mesti paham juga tentang jenis musik, alat musik, dan artisnya. Biasanya kan jika ada band yang akan berkunjung untuk talk show, pasti mengirimkan pers rilis terlebih dahulu, dan itu yang sebelumnya harus dibaca dan dipelajari dulu oleh si penyiar.

Radio juga identik dengan hiburan, karena itu penyiar radio idealnya juga harus humoris, dan mampu menghibur pendengarnya. Lewat tayangan DOES, aku beberapa kali mengritik para penyiar radio yang terkadang kurang menguasai topik pembicaraan dari sebuah wawancara. Padahal kan itu tadi, seorang penyiar adalah ujung tombak sebuah radio.

Sebagai band, Endank Soekamti mendukung potensi yang dimiliki radio, di antaranya dengan media tour, dan secara ekslusif mengirimkan singelnya ke radio-radio, sebelum lagu tersebut beredar edisi digital dan fisiknya.

Sebagai barometer musik, radio juga seharusnya memiliki sebuah music store sendiri. Ini adalah ide dan terobosan yang bisa diperhatikan, karena sudah seharusnya radio dan music store itu bisa bersinergi. Band dan musisi bisa menjual produknya, baik album ataupun merchandisenya ke radio tersebut. Jika ini berlangsung secara masif, aku yakin radio bakal berumur panjang dijamin media massa lainnya, meski aku juga percaya bahwa selama manusia masih memiliki telinga untuk mendengar, maka radio tidak akan pernah mati.(*)

Ketika Bermain Band adalah Aib

Setelah lulus SMP, aku kabur dari asrama dengan mengendarai motor bersama temanku. Tujuanku adalah Yogyakarta. Meski tidak didukung kedua orangtuaku, keputusanku untuk sekolah jurusan musik di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta sudah bulat. Keinginan orangtua agar aku kuliah sebagaimana kedua kakakku, membuatku tertekan. Bagiku musik lebih menyenangkan, karenanya aku tetap ingin melanjutkan ke sekolah musik. Aku memilih Jogja, karena belum ada bayangan tentang Jakarta, kota yang aku tahu saat itu hanya Surabaya, Solo, dan Jogja. Pengetahuanku akan musik sangat minim, musik yang aku tahu hanyalah musik yang didapat di Gereja.

Di SMM aku ingin mendalami bass, namun yang ada di sana adalah jurusan contra bass, terpaksa aku harus menerimanya. “yang penting bisa belajar dasar-dasar bass,” pikirku.
Namun kenyataan berbeda dari yang kubayangkan. Seorang guru menyarankanku, tepatnya ‘memaksa’ agar aku mengambil jurusan alat tiup. Alasannya sungguh nggak masuk akal. Dia bilang bahwa aku lebih cocok main alat tiup, “bibir kamu tebal, kamu punya bakat ke sana, dan nama kamu itu cocok dengan nama pemain terompet handal, Eric Awuy,” kata sang guru mencoba meyakinkanku.

Aku akan bercerita sedikit tentang Eric Awuy, dia adalah trompetis kelahiran Swiss. Eric belajar bermusik sejak dini di bimbing oleh ibunya, Paule Awuy, asal Kanada, yang seorang pianis dan pedagog musik. Diusia 5 tahun, alat musik flute sudah bisa ia mainkan dengan mahir. Ia juga sering bermain bersama orkestra-orkestra lain, seperti National Arts Center, Quebec Symphony Orchestra dan World Youth Orchestra Eric memilih tinggal di Indonesia bermula saat menengok ayahnya yang sakit pada 1995. Di Indonesia, Eric terikat kontrak dengan Twilite Orchestra, dan di tunjuk sebagai tanaga pendidik serta sebagai konduktor Twilite Youth Orchestra). Selain itu ia juga mengajar di Sekolah Musik Amadeus.

“Aku tidak ingin seperti Eric Awuy, aku ingin mempelajari bass!” batinku saat itu. Namun guruku itu menolakmentah-mentah keinginanku, “Saya lebih paham soal musik, sekarang kamu ambil salah satu moushtok itu,” katanya sambil menunjuk beberapa trompet di sana. “Sekarang coba kamu tiup dan mainkan dengan hatimu, dengan perasaanmu!” Beberapa kali aku tiup, tapi nggak bunyi juga, namun setelah guruku mengajarkannya, akhirnya aku bisa membunyikan trompet.

Aku sangat patah hati karena tidak jadi belajar bass, tapi justru dipaksa pindah ke alat musik tiup. Di SMM, ternyata aku merasa salah jurusan. Pilihanku kabur ke Jogja ternyata terpatahkan, karena dalam bayanganku sekolah musik itu adalah sekolah nge-band. Namun setelah melihat teman-teman di sekolahku, dan diberi tahu sosok Eric Awuy, ternyata sekolah musik di SMM adalah untuk belajar orkestra, bukan jadi anak band. Aku tinggal satu kost bersama beberapa temanku, Anton, Agus, dan Puput, semuanya menyukai musik, tapi nggak ada satu pun yang membentuk band, karena aliran mereka adalah musik klasik. Aku tidak pernah menceritakan keluhanku pada mereka, karena malu. Saat itu adalah aib jika siswa SMM hanya bermain band.

Namun aku berpikir bahwa masih banyak impian yang bisa didapat di SMM, meskipun harus belajar alat musik yang tidak aku senangi. Dengan banyaknya alat musik di sekolah,aku berusaha mendapatkan banyak ilmu tentang musik, kebudayaan, dan lainnya.

Suatu ketika aku pernah mencoba protes di sekolah. Aku menganggap keputusan guru tersebut adalah sebuah sistem yang salah. Bagaimana mungkin seorang guru bisa menentukan masa depan muridnya hanya dilihat dari kacamata pribadi, tanpa ada kesempatan untuk berdialog dengan muridnya. Namun aku tidak punya banyak pilihan lain, NEM (nilai kelulusan)-ku pas-pasan, aku juga merasa nggak punya kemahiran lain selain musik, belum lagi rasa gengsi pada teman-teman dan terutama keluargaku. Bagaimana malunya aku jika harus pulang dan bilang kalau selama ini aku salah belajar di sekolah musik.
Sebenarnya ini bukan salah sekolahannya, namun hanya satu oknum guru yang menentukan alat musik apa yang harus aku dalami. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah mempelajari musik secara teori, meski aku sering bertanya dalam hati, apa untungnya sekolah jika yang didapat hanyalah teori?

Satu hal yang harus aku pecahkan adalah bisa tetap nge-band, meski semua teman-teman di sekolah memainkan musik klasik. Aku mencoba bergabung dengan beberapa kelompok dan komunitas di sekolah, namun tidak ada satu pun grup band yang aku impikan di sana. Tapi aku tetap yakin kalau kalau tetep tinggal di Jogja bisa mendapatkan banyak ilmu tentang musik, aku merasa duniaku ada di sini dan takdirku ada di kota ini. (*)