Belajar Musik Sejak Dini

Belajar musik secara intensif akan mempengaruhi kecerdasan dan kepribadian. Perlu diketahui bermusik itu tidak hanya bermain seperti akrobat atau ilmu ketangkasan lainnya. Musik itu menggerakkan otak kanan dan otak kiri. Bermain musik sangat berguna untuk kecerdasan anak.

Plato pernah mengatakan bahwa ilmu setelah agama adalah musik. Karena belajar musik itu mengajarkan sosialiasi bagi anak. Sebenarnya sangat aneh kalau ada orangtua yang melarang anaknya bermain musik. karena scara psikologis, musik mengajarkan anak untuk tampil dan melatih kepercayaan diri.

Selain dikenal sebagai gitaris Dharma For Music, Kenny Prehara adalah seorang pengajar musik. Menurtnya seorang anak bisa mulai bermain musik sejak usia sedini mungkin. Namun mereka memang agak sulit untuk main instrumen tertentu seperti, gitar dan drum. Ini karena kapasitas fisiknya, anak-anak usia dini cenderung diajarkan main piano. Kalau disuruh main drum kakinya belum sampai, untuk main gitar, siku dan tangan belum sampai.

Namun untuk usia lima tahun, anak-anak sudah bisa belajar drum dan gitar. Untuk belajar musik, secara teori sangat berhubungan dengan matematika. Agak sulit kalau belum bisa matematika. Karena dimulai dengan hitungan dan ketukan harga nada.

Pertama yang diajarkan adalah pengenalan instrumen. Anak-anak dikenalkan dengan anatomi gitar dan lainnya.  Kemudian belajar teknik dasar permainan, bagaimana cara stem gitar, dan mengenal tuts piano.

Kemudian anak-anak diajari untuk menguasai lagu. Mereka diarahkan untuj memainkan lagu- lagu sederhana. Ini juga menyesuaikan dengan kesukaan dan kemauan murid, tugas guru hanya mengarahkan sesuai kemampuan si murid. Jika anak les privat atau belajar di sekolah musik, otomatis anak tersebut akan menguasai pelajaran seni musik yang diajarkan di sekolahnya. Tanpa disadari, industri musik akan dipakai terus menerus. Kini karir di musik sangat terbuka. Kita tidak hanya jadi pemain musik, tapi masih banyak karir seperti, penulis buku, sound engineering, analis, dan kritikus musik.

Semua orang bisa main musik, jangan pernah ragu untuk bisa main musik. kesuksesan di musik bukan hanya karena bakat dan keberuntungan, tapi terjadi karena kerja keras. Bakat dan keberuntungan hanya beberapa persen. (*)

Swastiastu

Bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November 2017, lahir putraku yang ketiga, kuberi dia nama Swastiastu. Kelahirannya juga menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga besar Endank Soekamti, yang sehari sebelumnya secara resmi meluncurkan album ke 8 ‘Salam Indonesia’.
Swastiastu akan menjadi teman belajar, bermain, dan tumbuh kembang bersama kedua kakaknya GodBlessYou (Goku) dan Barakkallah (Barak). Swastastu terdiri dari kata-kata Sansekerta: SU + ASTI + ASTU, Su artinya baik, Asti artinya adalah, Astu artinya mudah-mudahan.
Jadi Swastiastu ialah “Semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Tuhan YME”. Swastiastu juga merupakan salam pembuka yang biasa diberikan oleh orang Bali kepada seseorang yang ditemuinya.

Kamus Bahasa Bali Kata “Swastyastu” berasal dari kata suasti, yang berarti selamat, menjadi suastiastu yang berarti semoga selamat. Sedangkan menurut kamus Jawa Kuna-Indonesia “Swasti” berarti kesejahteraan, nasib baik, sukses; hidup, semoga terjadilah. Sedangkan “astu” yaitu: Semoga terjadi, terjadilah. Maka “Swastiastu” berarti semoga terjadilah nasib baik, sungguh sejahtera. (*)

 

Barakallah

Berbeda dengan kakaknya, anak keduaku Barakallah cukup rewel dan agak susah dibilangin tentang suatu hal. Jika Goku jarang sekali terserang penyakit, Barak justru kebalikannya, di usianya yang menginjak tiga tahun, dia pernah diserang berbagai penyakit dan harus dirawat di rumah sakit. Barak pernah terserang demam berdarah, kekurangan cairan, dan terkena virus.

Barak lahir 5 Mei 2014 di rumah sakit yang sama, juga dengan dokter kandungan yang sama dengan Goku. Dia sangat mengidolakan kakaknya, apapun yang Goku punya, dia juga harus punya. Sejak kecil dia sangat dimanja, oleh ibunya, juga kakaknya. Namun perlahan beberapa sifatnya akan aku ‘recovery’ saat ia sudah punya adik lagi.

Ketika Barak lahir, aku sudah mainan video, karena itu banyak sekali dokumentasi kesehariannya. Bahkan ketika akan lahiran, dan aku tahu bahwa istriku akan menjalani operasi caesar untuk kedua kalinya, aku memasang kamera dan menitipkannya pada suster. Aku memproyeksikan anak-anakku bakal jadi orang besar nantinya, maka dari itu dari kecil sudah disiapkan dokumentasi kesehariannya. Meski lebih lengkap dokumentasinya, namun foto Barak kalah banyak dengan Goku, karena Barak sangat susah untuk difoto.

Jujur, aku banyak sekali melewatkan perkembangan Barak. Pertama ketika ia bisa berjalan untuk pertama kalinya, aku sedang berada di Lombok untuk rekaman album ke7 Endank Soekamti, saat itu aku juga kehilangan momen lain, yaitu ketika Goku untuk pertama kalinya bisa berbahasa Inggris, padahal sebelumnya aku belum pernah dengar dia ngomong pakai bahasa Inggris.

Buatku semua momen yang terjadi pada Barak adalah spesial. Selain karena bentuk wajahnya yang lugu, Barak itu anaknya ‘chaos’ banget, apalagi jika dia sudah joget. Dia lebih nggak bisa diam, kalau sedang ke luar rumah, justru aku lebih ketat mengawasi Barak. (*)

Jangan Pernah Mengintimidasi Anak

Aku juga tidak ingin anak terlalu diintimidasi, pernah suatu ketika pengasuhnya menakut-nakuti Goku dengan kecoa, “awas itu ada kecoa!” jika terdengar kalimat tersebut Goku pun ketakutan. Sebagai orangtua, aku harus melakukan ‘recovery’. Berhari-hari aku bermain kecoa sampai Goku tidak takut lagi. Dia juga sempat takut dengan topeng-topeng monster yang ada di basecamp Endank Soekamti.

Karena itu aku selalu mengajaknya bermain dengan topeng-topeng monster tersebut, lalu perlahan aku tanamkan keyakinan bahwa jangan takut dengan topeng-topeng monster itu, “di balik topeng itu kan ada daddy dan teman-teman daddy” kataku sambil memperlihatkannya foto-fotoku dengan monster-monster tersebut.

Aku juga mengajarinya agar tidak takut gelap dengan mengajaknya ’night tour’ di kebun belakang rumah. Dengan bermondalkan lampu senter, aku mengajaknya jalan-jalan. “Gelap itu menyenangkan, kamu bisa mendapat pengalaman dan melihat banyak hal yang teman-temanmu mungkin nggak pernah melihatnya”. Sejak saat itu dia pun tidak pernah takut jika ingin ke dapur atau kamar mandi, meski lampu belum dinyalakan.

Namanya anak-anak sudah pasti banyak hal-hal kurang pantas yang dilakukannya. Pernah suatu ketika aku dan keluarga istriku berziarah ke makam nenek istriku. Di sana ramai sekali dan banyak orang yang sedang nyekar dan berdoa. Tiba-tiba Goku berdiri di atas batu nisan dan teriak “Rise People, Rise!” dan kami semua pun tertawa melihat tingkahnya. (*)

 

Biarkan Anak Mengeksplorasi Kesukaannya

Setelah mengerti ‘baik-buruk’, seorang anak akan bisa melihat potensi yang ada pada dirinya. Aku sebagai orangtua hanya membimbing dan membiarkan anak mengeksplorasi kesukaannya sendiri. Jika kita melakukan hal ini pada anak, kita bisa melihat sendiri ketika ada orangtua yang fokus mengejar satu hal pada anaknya, maka anak tersebut hanya mendapatkan satu hal, itu juga tidak maksimal jika anak mendapat tekanan orangtuanya. Sedangkan jika kita membiarkan anak mengejar keinginannya, ia akan mendapatkan sepuluh hal berbeda yang ia senangi.

Kesalahan yang terdapat pada orangtua, terutama di zaman dulu adalah memfasilitasi hal-hal yang menjadi kekurangan anak. Contohnya, jika anak lemah di mata pelajaran matematika, maka orangtua akan memberi les khusus matematika pada anaknya. Sedangkan aku berbeda, aku justru memfasilitasi apa yang anakku suka.

Di sekolahnya SD Tumbuh, Goku memang bukan anak yang pintar secara akademis. Nilai-nilai di sekolahnya anjlok semua. Bahkan sewaktu di TK Playgroup Mata Air, dia pernah nggak naik kelas. hahaha… Namun di luar itu, Goku banyak kelebihannya. Contohnya, tanpa pernah aku ajari, dia bisa dengan santai bergaya di depan kamera. Di depan kelas, di hadapan guru dan teman-temannya, dia bisa melakukan presentasi dan bercerita tentang Yogyakarta dengan bahasa Inggris, dengan logat ‘Amerika’ pula.

Menurutku standar kecerdasan anak itu berbeda-beda. Untuk anak seusianya, Goku memang telat menguasai baca tulis, namun aku percaya ia akan mau belajar dan menguasai baca tulis jika sudah terdesak dengan keinginannya. Contohnya, Goku itu senang sekali dengan tutorial, nah jika dia nggak bisa baca tulis kan nggak mungkin bisa menikmati tontonan tentang tutorial.

Di sekolahnya, Goku diajari tentang ‘team work’, di sekolahnya dia juga bergaul dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, dia juga bergaul dengan anak-anak penyandang difable. “Goku itu anaknya ngalahan banget sama teman-temannya”.

Aku ingin Goku tumbuh dan besar menjadi anak-anak yang memiliki ‘point of view’ biasa saja, hingga kini Goku hanya baru sekali menonton konser Endank Soekamti. Goku pernah sempat bingung ketika di mal ada orang yang mengajaknya foto bareng. Goku nggak senang diajak foto sama banyak orang, lalu aku menegurnya.
“Goku jadi orang nggak boleh sombong”. kataku.
“Sombong itu apa sih daddy,” dia bertanya balik.

Aku mengajarinya supaya mau kalau diajak foto sama orang, “orang-orang yang ngajak foto itu senang sama Goku, dan Goku juga harus buat mereka senang”. Yang aku ajarkan adalah bagaimana bisa menyenangkan orang, itu yang jadi ‘Gol’nya. (*)

Tidak Harus Jadi Pintar, Tapi Pastikan Mereka Jadi Orang Baik

Hal pertama yang aku ajarkan pada anak-anaku adalah perbedaan antara baik dan buruk. Aku selalu berusaha mengenalkan kalau ini baik, dan itu buruk. Contohnya, bagaimana cara memanggil orang tua, cara bicara yang sejajar, cara makan, dan sebagainya. Selain itu yang lebih penting pada anak laki-laki adalah mengajarkannya bagaimana sikap dan cara memperlakukan perempuan, dan bisa mengalah dengan teman.

Anak-anak seusia Goku memang seharusnya diberikan kebebasan menggeluti apa yang dia suka. Sebagai orangtua, jangan pernah memaksakan kehendak agar anak-anak bisa memenuhi keinginan orangtuanya. Aku sangat nggak setuju dengan orangtua yang ‘hyper parenting’. Aku pernah melihat sendiri orangtua seperti ini ketika menjadi juri lomba anak di sebuah mal di Solo.

Orangtua yang ‘hyper parenting’ ini biasanya merasa tidak puas dengan karir atau segala hal yang mereka peroleh, sehingga mereka melampiaskannya pada anak-anak mereka. Orangtua mesti tahu bahwa memaksakan kehendak adalah hal yang tidak baik. Dampaknya bisa berakibat sangat fatal bagi anak-anak, baik secara psikologis maupun secara fisik.

Pada dasarnya, setiap anak-anak memiliki jiwa yang bebas. Anak-anak juga dapat berkembang dengan baik karena mereka memiliki kebebasan dalam bereksperimen, bereksplorasi, berpendapat, dan lainnya.

Proses ini memang seharusnya mereka lalui dalam kehidupan, agar anak dapat memaksimalkan potensinya, dan mengasah kecerdasan mereka dalam masa tumbuh kembang. Sebuah impian dan cita-cita seorang anak bisa selalu berubah. Namun orangtua jangan khawatir apakah bakat yang sedang ditekuninya bisa menjadi kariernya di masa depan.

Yang penting adalah jangan pernah memaksakan kehendak untuk sama seperti orangtua, dan bisa membimbing semua bakat minat dan potensi yang memang sudah di anugerahkan-Nya.

“Aku gak pernah ngajarin jadi pintar, tapi memastikan mereka jadi orang baik”

 

Godblessyou

Anak pertamaku Godblessyou lahir 16 April 2008. Awalnya aku ingin proses persalinan secara normal, namun karena kelahirannya terlambat sebelas hari, dan air ketubannya sudah hijau, untuk urusan ini keinginanku pun tidak kekeuh seperti biasanya, Goku harus dilahirkan lewat operasi caesar. Hal yang kurasakan saat itu adalah tidak tega melihat ibunya, karena hal beban yang ditanggung ketika punya anak bukanlah pada sembilan bulan mengandung, namun seumur hidup anak itu.

“Selamat pak, anak bapak sudah lahir!” aku langsung kaget ketika mendengar ucapan dokter yang mengurus persalinan anak pertamaku. Yang lebih mengagetkan lagi adalah raut muka anakku tampak sangar sekali persis kayak petinju, antagonis banget. Seketika aku langsung teringat dosa-dosa yang pernah kulakukan. Untungnya raut sangar di muka Goku itu lama-lama menghilang.

Tidak ada ritual dan selebrasi khusus untuk merayakan kelahiran anak pertamaku, namun sesuai adat dan tradisi Islam Jawa, kami melakukan aqiqah dan prosesi memotong atau mencukur rambut bayi. Aqiqah adalah sembelihan yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang bayi, sedangkan tradisi cukur rambut adalah hal berguna yang dipercaya untuk membuka lubang pori-pori yang ada di kepala. Ini juga dipercaya bisa bermanfaat untuk menguatkan indera penglihatan, penciuman dan pendengaran si bayi.

Semakin besar sifat Goku makin terlihat. Dia jauh lebih friendly daripada bapaknya. Goku juga cepat sekali beradaptasi, mempelajari, dan mengeksplorasi hal-hal yang dia suka. Awalnya aku pikir Goku sangat minat dengan musik, sewaktu belum punya gigi, ia sudah mahir bernyanyi ‘Long Live My Family’ dan vokalnya itu sama sekali nggak fals. Sejak kecil, sudah banyak hal yang ia coba, mulai dari; yoyo, menggambar, membuat animasi, robotik, skateboard, dia juga bisa berenang dan sama sekali nggak takut dengan air. Namun yang paling bikin aku kaget adalah ketika dia bisa berbahasa Inggris. Lha, padahal bapaknya aja nggak lancar bahasa Inggris, kok bisa?

Goku itu paling senang nonton tutorial, lalu sharing apapun yang dia dapat saat itu. Dia juga bisa nge-rap, ‘free style’, referensinya dia dapat dari video games. Itulah hebatnya, anak kecil bisa ‘free style’ tanpa ada beban, bisa bisa nge-rap dengan gaya yang ‘los’ banget. Lucunya lagi, kalau lagi nge-rap Goku bisa kehilangan konsentrasi jika akan memuntahkan kata-kata ‘kotor’. (*)

Ada Apa Dengan Anak Laki-Laki?

Dari sejak pacaran, aku sudah membayangkan nama anak-anakku kelak. Satu bulan setelah menikah, ternyata istriku mengandung anak pertama. Hal itu sama sekali tidak membuatku bingung, justru aku malah tenang banget ketika langsung dikaruniai anak. Selama mengandung, aku serahkan semua urusan perbelanjaan anak ke istriku, karena dia yang lebih tahu apa saja yang harus diperlukan.

Nama Godblessyou, Barakallah, dan Swastiastu memang sudah ada di benak, jauh sebelum mereka lahir. Awalnya sih dua anak saja cukup, tapi kehendak-Nya ternyata berbeda, aku dikaruniai tiga anak. Nama yang kuberikan memang nama untuk anak laki-laki.

Kenapa laki-laki? bukan karena aku nggak menginginkan anak perempuan, tapi aku merasa nggak mampu menjaga anak perempuan. Mendidik anak perempuan menurutku harus penuh kehalusan, makanya aku nggak ‘pede’ kalau punya anak perempuan. Sedangkan anak laki-laki akan lebih mudah hidup mandiri. Seorang anak kan akan mencontoh bapaknya, lha aku ini nggak layak untuk dicontoh, pokoknya merasa nggak pantes lah. :p (*)