Cafe Racer, Boober, dan Motor Kustom

USAI Perang Dunia I, suasana di Inggris kembali normal. Bersamaan dengan itu, kendaraan bermesin, mobil dan sepeda motor semakin mendominasi jalan-jalan raya. Lalu lintas pun semakin padat hingga akhirnya diciptakan sistem jalan yang baru di Inggris. Bersamaan dengan tumbuh kembangnya perindustrian, maka bermunculan cafe-cafe , dan tempat-tempat nongkrong yang kerap dikunjungi oleh supir truk dan pemotor. Biasanya mereka mampir untuk sekedar rehat dalam perjalanan.

Cafe-cafe dan restaurant ini melayani pengunjung-pengunjung dengan menu mereka tanpa ada maksud untuk menjadikannya ruang sosial atau tempat nongkrong. Seiring dengan kebangkitan ekonomi yang sempat terpuruk, anak-anak muda pun menggunakan sepeda motor bukan hanya sebagai kendaraan sehari-hari, namun juga menjadi gaya hidup tersendiri. Sebagian menggunakan motor sekedar untuk jalan-jalan sore bersama pacarnya, atau sebatas ingin berkendara dengan tujuan rekreasional, bahkan untuk ajang balap.

Memasuki era Perang Dunia II, anak-anak muda ini terkena wajib militer dan ikut berperang melawan Jerman. Pemerintah Inggris pun mengambil kendali industri sepeda motor untuk kebutuhan perang. Beberapa tahun setelah perang berakhir, perekonomian dan kehidupan rakyat Inggris kembali normal, dan pada awal 50-an banyak anak muda yang membangkitkan lagi era cafe racer.

Di sisi budaya, saat itu musisi seperti Elvis Presley, Eddie Cochran, dan Gene Vincent mondar-mandir di radio-radio dengan music Rock & Roll-nya. Belum lagi hadirnya sosok James Dean dan Marlon Brando menghiasi perfileman saat itu, mereka pun menjadi idola anak muda. Saat itu sepeda motor menjadi gaya hidup yang trendi dan keren. Industri motor pun menyikapi hal ini dengan menjual barang-barang spare part sepeda motor seperti stang jepit, tangki fiber, bodi belakang, dan knalpot swept-back dan lainnya.

 

Akhirnya Cafe-café yang sebelumnya berfungsi sebagai tempat beristirahat, akhirnya bergeser menjadi ruang sosial dari budaya. Banyak geng-geng motor yang sengaja datang ke sebuah café dan menjadikannya tempat nongkrong permanen. Tak jarang mereka terlibat adu balap dari café ke café dengan kecepatan tinggi. Anak-anak muda yang menggunakan sepeda motor, jaket kulit, dan mendengarka music Rock & Roll ini kemudian dikenal dengan nama ‘Rockers’.

Budaya ini tidak hanya popular di kalangan remaja Inggris, namun juga menyebar ke seluruh dunia. Motor bergaya cafe racer ini memiliki penggemar tersendiri hingga saat ini, tak terkecuali di Indonesia. Pada grup di Facebook “Cafe Racer – Indonesia” sudah tercatat lebih 30an ribu anggota.

Di Indonesia motor cafe racer rata-rata hasil modifikasi dengan basis sepeda motor yang beredar di pasaran. Motor yang sering dijadikan bahan yakni, Honda Tiger, Honda Megapro, GL, Suzuki Thunder, Kawasaki Binter, Yamaha Scorpio, dan sebagainya.

Aku punya motor café racer yang berbahan Honda Tiger, motor ini aku bangun di N’Joy 76, bengkel yang bergerak di bidang modifikasi motor dari berbagai aliran. Di bengkel ini juga aku mulai tahu ternyata motor ada style-style-nya; ada chopper, boobers, cafe racers, dsb. Ternyata sama seperti music, motor juga banyak genrenya. Di bengkel ini aku juga banyak belajar dan ngulik motor sesuai dengan aliran. Sebagaimana di dunia musik, di motor juga aku telat sadarnya.

“oh ini namanya punk, padahal aku sudah memainkannya sejak lama. Oh ini cafe racer, dan ternyata aku sudah bergaya seperti itu sejak lama, dari motor yang dikasih sama bapakku waktu aku masih sekolah.

Awalnya aku sudah memberikan empat design motor ke bengkel ini, namun kemudian ketika proses pemngerjaannya menjadi konsep yang berbeda. Setelah hampir jadi, konsepnya pun berkembang hingga akhirnya berubah total dari ide awalnya.

Kebanyakan pengendara cafe racer badannya kurus dan cungkring semua, orang berbadan besar jarang pakai karena nggak akan nyaman, nah desain motorku ini cocok untuk orang-orang yang badannya gede kayak aku. Keunggulan motor ini ya cuma masuk di aku, kalau orang lain yang pakai gak mungkin nyaman, bodynya sudah di desain untuk bentuk tubuh sepertiku ini.

Aku juga punya boober Yamaha Verago 1100 cc. Bentuknya sih nggak boober amat, tapi merupakan kombinasi cafe racer dan boober, mesinnya cukup besar. Motor ini aku modif karena bentuk aslinya nggak enak untuk riding, terbukti waktu itu nyaris meninggal di Pacitan (DOES eps 43). Motor ini dimodif bentuknya diperbaiki agar lebih balance dan bisa nyaman aku tunggangi. Sebenernya ini motor favoritku karena posisi riding paling enak, paling pas, kecepatan, kekuatan, dan ukuran motornya sangat pas.

Motor kustom bagiku juga untuk refreshing, karena cowok itu memang seharusnya mempunyai sesuatu yang diidam-idamkan, dibangun, lalu disayang, tentunya selain anak dan istri. Membangun motor juga ada filosofinya, seseorang harus tidak boleh berhenti untuk membangun sesuatu, entah itu rumah, motor dan sebagainya. Kalau beli mudah, tapi kalau membangun tentunya melalui sebuah proses, yang pasti mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman. (*)

 

Asiknya Vespa Dengan Sespan

Aku punya motor vespa spesial yang sedikit dimodif. Aku suka Vespa Spesial karena bodinya yang kecil dan imut. Motor ini aku tambahkan sespan yang membuat bebannya lebih nambah. Vespa spesial itu kan kecil sedangkan badanku lumayan besar, jadi mesin yang kecil kurang bisa menopang berat badanku. Untuk mempertahankan bodinya yang kecil dan imut, Vespa spesial ini aku padupadankan dengan mesin PX yang lebih besar supaya tetap bisa ngebut.

Motor ini aku modif di Tosan, bengkel yang terletak di Sleman ini memang sudah terkenal di kalangan penyuka vespa. Sespan adalah aksesori tambahan yang ditempelkan di bagian samping sepeda motor. Vespa menjadi salah satu motor yang kerap menggunakan sespan. Bentuk sespan sangat beragam, dan semua akan tergantung permintaan dari konsumen kepada buildernya.

Sespan merupakan gaya modif tersendiri di kancah pervespaan. Skuteris memang mempunyai gayanya masing-masing, mulai dari klasik, mods, vintage, hingga gaya yang nyeleneh. Sespan sendiri pertama kali terbentuk berawal dari sebuah sepeda kayuh. Menurut sejarahnya, waktu jaman perang dunia, motor masih belum terlalu banyak. Sepeda justru menjadi sarana paling penting kala itu, supaya menjadi media yang fungsional maka seseorang bernama M.Bertoux menciptakan sebuah inovasi baru pada sepedanya, yaitu “Sidecar” atau yang sering kita sebut “sespan”.

Selain berfungsi untuk mengangkut muatan, sespan juga berfungsi untuk menerima penumpang dan mengirim paket. Karena melihat adanya peluang, Vespa yang sudah ada semenjak jaman perang dahulu pun mendapatkan sebuah inspirasi. Vespa pun sempat menggunakan bahan bodi anti peluru sebagai alat tempur.

Di Indonesia, Sespan sering dijadikan ajang kontes, hal ini yang menjadi salah satu hal yang membuat skuteris kepincut untuk membuatnya. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan beberapa daerah lainnya sangat banyak festival yang mengadakan perkumpulan vespa sespan.

Dengan sespan ini aku ingin bisa mengantar anak-anakku dengan motor. Lucu juga kan nganter anak-anakku ke sekolah, mereka ada di samping kiriku. (*)

Komunitas Motor, Penting Nggak Sih?

Sebagai mahluk sosial pastinya kita tidak bisa hidup sendirian. Kita mesti membutuhkan orang lain, baik itu untuk saling berbagi ilmu, berinteraksi, hingga saling berkasih sayang. Karena itu banyak adanya komunitas-komunitas yang berupa sekumpulan orang yang bergabung dengan ketertarikan yang sama terhadap suatu bidang, baik sekedar hobi maupun bisnis tertentu. Satu di antaranya adalah komunitas sepeda motor.

Dalam sebuah komunitas, ada interaksi, hubungan, dan komunikasi erat yang karena adanya kesamaan hobi. Contohnya di komunitas motor kita bisa berbagi tips seputar motor, saling konsultasi tentang motor. Kita juga bisa melakukan transaksi jual-beli aksesoris dan sebagainya.

Bergabung dengan klub motor itu menurutku perlu, terlepas dari urusan permotoran, kan kita harus punya banyak teman. Berkomunitas itu bagus untuk kita mendapatkan banyak informasi. Menurutku yang nggak perlu itu adalah kumpuk komunitas yang cuma nongkrong-nongkrong doang. Jadi kesimpulannya berkomunitas itu nggak harus cuma nongkrong-nongkrong aja, tapi juga berkomunitas dengan media yang sekarang ada. Karena yang paling penting itu informasinya, jadi nongkrongnya ya nggak sekedar tiap malam minggu, harus di perempatan mana, itu kan kelihatan banget kayak nggak punya kerjaan toh?

Contohnya kayak komunitasku DOESdive Squad ini lagi akan gathering, kumpul bareng, setelah hampir delapan bulan nggak menyelam bareng. Bayangkan, delapan bulan sekali, itu pun karena memang orangnya sibuk semua, bekerja semua ya harus cari jadwal yang bener-bener pas, makanya kadang aku yang ngalah, dan aku yang harus ke Jakarta buat kumpul bareng.

Sebenarnya komunitas itu seperti keluarga sendiri. Untuk komunitas motor, rata-rata aku bikin komunitas sendiri, seperti Soekamtrail, dan Soekamtiride, kalau memang dibuat berkesinambungan ya pasti akan banyak yang gabung.

Lalu kenapa aku nggak gabung dengan komunitas gede yang sudah ada, ya satu lagi karena masalah waktu. Aku bukan orang yang cukup ‘selow’ untuk bisa eksis di komunitas itu. Toh banyak jalan tentunya untuk kita bisa gabung ke sebuah komunitas, tergantung tujuannya aja. Kalau tujuanku masuk komunitas tertentu untuk mendapatkan banyak teman, mendapatkan informasi untuk hobi tersebut. Kalau informasi itu cukup aku dapat dari bengkel yang komunitasnya memang sudah gede, ya cukup aja menurutku. Contoh komunitasnya Mas Lulut Wahyudi (Kustomfest), itu kan temenku semua, jadi aku nggak harus ikut aktif nongkrong juga, kalau ada apa-apa tinggal minta bantuan, ya pasti dibantu. kalau butuh informasi tentang mesin ini dan itu, pasti juga dapat infromasinya.

Kalau di ranah maya, aku ikutan beberapa komunitas street cub. Pernah suatu ketika Endank Soekamti main di Samarinda dan dijemput di bandara sama komunitas di sana. Aku sangat senang, tapi kan kadang-kadang malah ngerepotin. Komunitas motor yang sehat menurutku anggotanya harus merasa sejajar, apapun latar belakangnya. Baik pejabat, pembalap, musisi, artis, semua diperlakukan sama. Buat aku kayaknya nggak cocok untuk masuk ke komunitas yang terlalu ramai. Kalau nongkrong tapi cuma foto-foto aja kan jadi capek juga. Kita kan maunya sama, yaitu senang-senang.

Ngomong-mgomong soal motor street cub punyaku, itu aku bikinnya iseng karena bentuknya memang lucu, karena saat itu lagi kurang gawean akhir aku bangun motor street cup dengan bahan Honda 70.  Ternyata main motor itu udah kayak candu,  jadi gatel mau bikin apa lagi ya?

Memodifikasi motor bebek tentu tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Selain penampilan, faktor performa, kenyamanan dan keamanan juga penting dan harus diperhatikan. Motor yang satu ini murah meriah, lucu, jadi aku ingin bikin sesuatu yang cantik. Kalau orang berlomba-lomba bikin motor besar, aku mau coba kustom motor kecil, tapi yang naik tetap orang besar, maksudnya yang berjiwa besar. hahaha…

Honda 70 alias pitung ini aku jadikan sedikit chopper, keunggulannya sama seperti motor lain, hanya saja bentuknya lebih lucu. Penampakan motor ini ada di video klip Endank Soekamti ‘Liburan’ dimana kalian bisa melihat penampakan king kong mengendarai sepeda kecil. (*)

 

Good Looking and Good Riding!

Di Indonesia, kustom kultur berkembang dengan sangat pesat. Di dunia otomotif, sebuah motor kustom adalah wujud kreativitas dan kebebasan berekspresi. Karena itu tidak mengherankan jika motor-motor kustom yang lahir juga semakin ‘total’. Ubahan di dalamnya gak jarang termasuk sasis buatan sendiri yang didesain untuk mengejar tampilan akhir sesuai selera builder. Saat ini perkembangan motor kustom di Indonesia sangat luar biasa, motor kustom sudah menjadi tren, anak muda seolah harus memiliki motor yang sesuai dengan diri kepribadiannya sebagai identitas, hal ini juga direspon dengan industri dan bisa meningkatkan ekonomi pasar yang luar biasa. Perhatikan saja sekarang banyak bengkel dimana-mana, banyak festival kustom dimana-mana, dan banyak individu yang semakin percaya diri dengan diri sendiri.

Namun, seperti yang dikutip dari situs gilamotor.com, instruktur safety riding Ikatan Motor Indonesia (IMI), Dyan Dilato mengatakan bahwa motor kustom jelas dipakainya pasti gak enak dan gak safety. Karena itu kreativitas yang berkembang di dunia kustom hendaknya selalu mengedepankan faktor keselamatan berkendara, meski pada dasarnya motor kustom lebih cocok dilihat sebagai sebuah karya seni, dibanding kendaraan yang ideal dan aman buat transportasi.

Menurutku konsep motor kustom itu ada dua prinsip dan aspek, yang merupakan syarat mutlak motor bagus. “Good Looking and Good Riding!” Untuk memenuhi kebutuhan ‘good looking’ tentunya harus sesuai dengan karakter individu penggunanya. Sedangkan untuk aspek ‘good riding’ ya harus disesuaikan juga dengan bentuk fisik dan kenyamanan penggunanya. Jadi nggak bisa disamakan dengan keluaran pabrikan yang semuanya disamaratakan.

Mengendarai sepeda motor memang menjadi pilihan paling praktis dan ekonomis sebagai alat transportasi, baik pribadi maupun keluarga.
Naik motor bisa melakukan ‘selap-selip’ ketika jalanan macet, misalnya. Selain mampu melewati jalan yang relatif kecil, motor juga lebih irit dan ekonomis secara penggunaan konsumsi BBM. Hal yang perlu diperhatikan bagi pengendara motor adalah kesadaran untuk belajar berkendara dengan baik dan aman. Masih banyak kita lihat orang mengendarai motor dengan kebut-kebutan, atau sangat lambat, tidak memperhatikan rambu lalu-lintas, dan lain-lain yang membahayakan dirinya juga orang lain di sekitarnya. Alangkah baiknya jika menyukai motor kustom juga dibarengi dengan kesadaran untuk belajar berkendara dengan baik dan aman. Menurut survey tim safety riding course, lebih dari 50% kecelakaan sepeda motor disebabkan oleh faktor manusia itu sendiri, selain faktor kendaraan dan lingkungan.

Karenanya sekali lagi, menurutku motor kustom yang bagus dan baik itu adalah yang matching dengan karakter pemiliknya. Alasannya ada dua yakni bagus secara mata dan sehat secara fungsi. “Good Looking and Good Riding!”.

Saat ini aku mengoleksi beberapa motor dari berbagai jenis, tipe, dan genre. Motor pertamaku itu Honda 90 yang aku dapet dari bapakku. Motor keduaku Vespa spesial keluaran tahun 1984. Motor ketigaku Honda Tiger yang dimodifikasi menjadi Cafe Racer. Motor ke empat Honda Street Cup 70 cc, motor kelima Yamaha Verago 1100 cc yang aku kustom jadi Boober, dan motor keenam adalah trail, yang merupakan satu-satunya motor yang aku beli baru dari showroom.

Motor trail adalah yang paling sering aku pakai, karena selain aman karena mesinnya baru, dan tidak pernah ada masalah di urusan mesin, motor ini juga cocok untuk segala medan, mau macet-macetan, becek-becekan, kebut-kebutan semuanya bisa. Menyandang predikat seorang biker menurutku nggak sembarangan, karena seorang biker selayaknyaa adalah seseorang yang menggunakan sepeda motor dan mengetahui karakteristik pada sepeda motornya. Baik itu mengerti karakteristik mesin atau bagian-bagian lain pada sepeda motor yang dikendarainya, seperti suspensi, ban, bagian kemudi, hingga kelistrikan, dan sebagainya. Karenanya aku lebih menjadi seorang rider, bukan biker, rider adalah seorang pengendara sepeda motor yang cukup hanya bermodal pengetahuan bagaimana cara mengendarai motor dengan asik.

Saat ini keinginanku untuk menambah motor lagi, belum ada, Karena kesibukanku, motor motor tersebut juga jadi jarang dipakai. Tapi yang ingin aku beli sekarang motor kecil elektrik yang bisa dilipat dan dibawa kemana-mana ketika aku ke luar kota. Kalau ke luar kota kan gak mungkin bisa bawa semua motor-motorku itu. (*)