Masih Juga Ingin Makan Junk Food?

Ini tips agar tubuh kita tetap sehat meskipun masih mengonsumsi junk food:

• Mulailah hari dengan mengonsumsi menu sarapan sehat seperti jus buah, susu rendah lemak, yoghurt, sereal tinggi serat, dan buah. Orang yang berpola makan tinggi serat mencerna makanan secara lambat. Akibatnya, rasa lapar tertunda dan keinginan untuk mengasup makanan berlemak berkurang.

• Kandungan lemak dan sodium french fries sangat tinggi. Bila mau membeli burger carilah jenis yang lebih banyak mengandung bahan nabati dibandingkan hewani. Jika memungkinkan perbanyak isi sayurnya, seperti selada, tomat, mentimun, dan sebagainya.
• Jangan mencoba berpantang makan junk food karena kita mungkin justru tergoda untuk mencomotnya. Jika ingin, belilah dalam porsi kecil lalu bagilah dengan rekan atau teman anda.
 
• Mulailah berolahraga, Olahraga akan memompa endorfin, yaitu morfin alami dalam tubuh, untuk beredar ke seluruh tubuh. Dengan berolahraga kita jadi punya waktu sedikit untuk makan.

• Biasakan sarapan dan makan di rumah sehingga keinginan ngemil pun dapat sedikit berkurang.
• Periksa kandungan makanan yang tertera pada kemasannya makanan ringan. Perhatikan jumlah gram lemaknya. Setiap lima gram lemak, setara dengan satu sendok makan. Jadi, kalau di situ tertulis memiliki 27 gram, artinya makanan itu mengandung lima setengah sendok makan. Jumlah itu tergolong sehat kalau setara dengan 30 persen dari total kalori. Kalau lebih, artinya makanan itu mengandung lemak berlebih. Dengan cara itu, kamu dapat memilih mana makan yang mengandung lemak dalam jumlah yang aman. Dengan cara yang sama, perhatikan juga kandungan sodiumnya.
• Minum air putih sebanyak-banyaknya setelah makan junk food. Air putih membantu proses pembuangan racun-racun yang masuk bersama makanan ke dalam tubuhmu.
• Imbangi junk food yang kamu makan dengan sayuran dan buah-buahan. Kandungan gizi dalam sayur dan buah melengkapi kekurangan pada junk food.
• Jangan biasakan ngemil sambil nonton TV. Kalau pengen banget ngemil sambil nonton film atau acara favoritmu, batasi jumlahnya dan jangan nambah lagi.

Kenapa Harus Junk Food?

Apakah kalian termasuk penyuka Junk food, atau bahkan malah sudah kecanduan? Junk food adalah istilah untuk makanan yang jumlah kandungan nutrisinya terbatas. Makanan yang tergolong dalam kategori ini adalah makanan yang kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya tinggi, tetapi kandungan vitamin, protein, mineral dan seratnya rendah. Padahal, semua zat gizi itu sangat dibutuhkan untuk kesehatan tubuh kita.

Dalam makanan, haruslah tercukupi paling tidak unsur karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Dalam Junk food atau fast food kebutuhan tersebut belum tentu lengkap. Kadang, malah diberi tambahan vitamin dengan bahan sintesa. Bila jumlah kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya terlalu banyak di dalam tubuh, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat seperti  darah tinggi, stroke, jantung, dan kanker.

Fast food dan soft drink mengandung kadar gula yang tinggi. Konsumsi berlebihan, mengakibatkan peningkatan kadar gula dalam darah. Penumpukan gula ini merangsang tubuh untuk memproduksi insulin lebih banyak sehingga terjadi sindrom kadar gula di dalam darah. Akibatnya, badan jadi lesu, sulit konsentrasi, dan mudah marah. Lebih parah lagi, kadar gula tersebut diikuti peningkatan produksi hormon adrenalin yang mendorong remaja bersikap agresif.”

Gula, terutama gula buatan, enggak baik untuk kesehatan karena dapat menyebabkan penyakit gula atau diabetes, kerusakan gigi, dan obesitas. Makanan atau minuman yang mengandung banyak gula, antara lain cake, cookies, dan minuman bersoda (soft drink). Di antara semua di atas, minuman bersoda mengandung paling banyak gula. Pada satu kaleng minuman bersoda, mengandung sedikitnya sembilan sendok teh gula. Padahal, seharinya tubuh kamu cuma butuh empat gram atau satu sendok teh. Enggak boleh lebih! Bayangin, kalau seharinya kamu minum soft drink dua sampai tiga kaleng. Berapa banyak gula menumpuk dalam tubuhmu?

Perlu kamu ketahui, minuman bersoda enggak cuma mengandung banyak gula, tetapi juga mengandung kafein dan zat-zat adiktif lainnya. Aku memang tidak terlalu suka minuman bersoda. Sekarang sudah hampir tidak pernah menyentuhnya. Lha, kalau dulu biasany beli soda untuk dicampur dengan minuman lainnya. Tapi itu kan dulu..hehehe.

Aku juga kebetulan memang tidak terlalu suka junk food, tapi apa mau dikata? Menu inilah yang paling gampang dicarinya, terutama di saat darurat lapar menyerang. Saat sudah malam, namun rasa lapar menghantui, kita bingung mau makan apa, pastinya fast food yang paling gampang dijangkau, rasanya, harganya pun sudah kita tahu kepastiannya. Saat sedang di luar kota, selama ada junk food rasanya masih aman. Namun junk food ini buatku tidak untuk menu harian, tapi untuk darurat saja. Menu favoritku ya Fried Chicken, paha dan sayap, tanpa nasi.
Tapi jika sudah keseringan, aku berusaha untuk menghindar, bagaimana caranya? Ya mending langsung tidur aja. Hehehe.

Aku tahu bagaimana bahaya dan rusaknya jika terlalu keseringan menyantap junk food. Aku tahu informasi ini dari film dokumenter, dimana ada orang yang bereksperimen selama 30 hari hanya makan junk food. Ia pun sakit, dan diperingati dokter akan bahaya terburuknya. Aku juga kerap mendapat informasi di internet agar jangan jadikan junk food sebagai menu sehari-hari. Jika sedang menonton film, bekerja, atau menedit DOES memang lebih nikmat ditemani cemilan. Biasanya aku kalau ngemil cukup dengan kacang mete dan kwaci. Tapi, karena sedang menjalani diet, sekarang kebiasaan ngemil sudah nggak lagi. Kalau mau makan, ya makan besar sekalian, jadi nggak usah nanggung-nanggung. Daripada nyemil dan kebanyakan junk food, bisa juga beli buah buahan.  Ini yang paling sering aku lakukan. (*)

Kamu Suka yang Mana, Gudeg Basah atau Gudeg Kering?

Sebagaimana Endank Soekamti, Gudeg dan Bakpia adalah aset Yogyakarta. Gudeg adalah makanan khas yang paling terkenal, dan telah menjadi ikon kuliner khas Yogyakarta. Di hampir tiap sudut kota Jogja, kita akan sangat mudah menemui penjual makanan dengan bahan utama gori (nangka muda) ini. Rasa gudeg yang manis dan gurih ini karena memasaknya dicampur dengan gula aren. Makan gudeg biasanya dipadupadankan dengan berbagai macam lauk pelengkap seperti; krecek, telur, ayam, tempe dan tahu bacem.

Jika biasa makan gudeg, kita pasti tahu kalau secara umum makanan ini ada dua jenis, yakni gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg basah disajikan dengan kuah santan yang gurih dan ‘nyemek’ (agak becek) dan biasanya banyak diburu untuk menu sarapan pagi. Sedangkan gudeg kering dimasak dalam waktu yang lebih lama sampai kuahnya kering dan warnanya coklat pekat.

Aku lebih suka gudeg basah daripada yang kering, karena lebih enak kalau ada kuah-kuahnya becek gitu. Aku memang nggak punya tempat langganan makan gudeg, tapi yang jadi favoritku adalah warung-warung gudeg yang ada di pinggir jalan, terutama yang berjualan di malam hari. Karena nggak makan nasi, jadi biasanya aku hanya pesan gudeg (gori)nya saja, sayap ayam, telur, dan krecek, itu pasti.

Menurutku gudeg itu sudah menjadi industri, dan hampir jarang rumah-rumah yang kutemui memasak gudeg untuk menu sehari-hari di dapur keluarga mereka. Menjadi industri karena saking identiknya dengan Yogyakarta, para turis dan wisatawan selalu berburu gudeg dan membawanya pulang untuk dijadikan buah tangan. Tempat makan gudeg yang paling terkenal di Jogja adalah sentra gudeg Wijilan.

Selain terkenal. kawasan ini juga bersejarah, karena letaknya yang berada di sebelah timur Alun Alun Utara, tepatnya di selatan Plengkung Tarunasura atau dikenal dengan Plengkung Wijilan. Di Jalan Wijilan ini berjejer warung-warung yang menjajakan gudeg. Menurut cerita, kawasan ini awalnya hanya ada satu penjual gudeg, yaitu Warung Gudeg Ibu Slamet, beliaulah yang  pertama kali merintis warung gudeg, tepatnya pada zaman pendudukan Jepang, tahun 1942.

Setelah Warung Gudeg Ibu Slamet, beberapa waktu kemudian di Wijilan tambah dua warung lagi, yakni Warung Gudeg Campur Sari yang sudah tutup sejak tahun 80an, dan Warung Gudeg Ibu Djuwariah yang saat ini dikenal dengan Gudeg Yu Djum. Di era 90an, muncul Warung Gudeg Bu Lies, dan hingga saat ini banyak bermunculan warung gudeg lainnya di daerah Wijilan. Karena banyaknya warung gudeg di sana, dan letaknya berdekatan dengan lokasi wisata Kraton Yogyakarta, maka Jalan Wijilan dijadikan sentra gudeg untuk para turis.

Kita cerita sedikit tentang sejarah gudeg di Yogyakarta yang muncul bersamaan dengan pembangunan kerajaan Mataram di alas Mentaok yang kini bernama Kotagede. Pada abad ke-16, para prajurit Kerajaan Mataram membuka hutan belantara untuk membangun peradabannya, kebetulan di hutan tersebut, ada banyak pohon nangka, melinjo, dan kelapanya. 

Pohon- pohon tersebut kemudian ditebang, dan banyaknya nangka, melinjo dan kelapa menginspirasi orang-orang saat itu untuk membuat makanan dari bahan-bahan tersebut. Karena jumlah pekerja yang sangat banyak, untuk memenuhi makanan mereka, nangka muda yang dimasak jumlahnya juga sangat banyak. Untuk mengaduknya yang dalam bahasa Jawa disebut ‘hangudeg’ harus menggunakan alat menyerupai dayung perahu. Dari proses mengaduk (hangudeg) inilah makananan tersebut disebut gudeg. Bisa dibilang gudeg tercipta dari ketidak sengajaan para prajurit Mataram. Ketenarannya pun dimulai dari keluarga para prajurit mataram, hingga melebar ke masyarakat luas.

Nah, kalau sedang ke Jogja dan naik pesawat, perjalanan kamu terburu-buru hingga tidak sempat mampir ke sentra gudeg Wijilan, kamu bisa mampir ke Gudeg Rahayu yang letaknya di dekat bandara Adisucipto. Di sana ada menu gudeg basah dengan paduan rasa pedas dan gurih.
Selain gudeg, di sana juga menjual aneka makanan oleh-oleh khas Jogja, di antaranya sudah pasti bakpia.

Gudeg & Bakpia Pathok Rahayu ini punya dua cabang, pusatnya ada di Jalan Solo Km 10 Yogyakarta (timur traffic light Bandara Adisucipto), dan cabangnya di Jalan Laksda Adisucipto Km 7,5, Tambak Bayan, Yogyakarta. Gudeg ini juga cocok sebagai menu nasi box untuk berbagai acara, kalau oleh-oleh biasanya yang paling sering diburu adalah gudeg besek/kendil dan gudeg kalengan. Nah, kalian suka yang mana, gudeg basah atau kering? Itu sih soal selera. (*)

Sate Kere, Sore Hore

Orang Jogja dan sekitarnya sudah pasti tahu makanan bernama sate kere. Namun bagi yang belum mengenalnya, jika merujuk pada kata ‘kere’, pastilah identik dengan kemiskinan, nggak punya duit, orang tidak mampu, dan sebagainya. Tapi yang namanya sate kere ini jauh berbeda dengan apa yang ada dibayangkan dengan istilah ‘kere’. Apa istimewanya dengan sate kere ini? sepintas bentuknya mirip dengan sate pada umumnya. Di setiap tusuk sate kere itu tidak semua berupa daging murni, ada beberapa potongan daging kecil dan sepotong daging berupa gajih. Sate tersebut dipadukan dengan sayur tempe, pokoknya wuenak tenan lah. 

Aku biasanya menikmati sate kere tiap sore di Soekamtiland. Kebetulan di dekat Soekamtiland ada penjual sate kere yang terkenal. Aku dan teman-teman DOES University cukup membeli mentahannya dan satenya kita bakar sendiri. Teman-teman yang datang, bahkan tamu-tamu di Radio Soekamti juga berkesan dengan sensasi rasanya. Bahkan kebanyakan mereka yang datang dari luar Jogja, selalu ketagihan dengan sate ini.
Sebelum dibakar, sate kere direndam di kuah yang agak keruh. Agar bumbunya lebih meresap, setelah pembakaran pertama, satenya di rendam lagi. Bedanya sate kere dengan sate lainnya ya di bumbunya itu. Biasanya sate disajikan dengan sambal kacang, atau disajikan menggunakan kuah seperti kuah gulai di sate klathak.

Meski kita membeli mentahannya, bumbu sate kere sangat meresap karena dalam proses pengolahannya terasa seperti daging matang dan bukan setengah matang. Sate-sate ini sebelumnya memang sudah dibumbui dengan waktu tertentu, karena itu ketika akan dibakar, bumbunya sudah merasuk di pori-pori daging.
Sate kere di Jalan Godean ini buka mulai sore hingga malam hari. Anak-anak DOES University biasanya punya tempat langganan, namanya Warung Sate Kere Pak Mardi, warung ini berada di seberang jalan lokasi Warung Sate Kere Bu Bambang. Sate Kere Mbah Mardi terletak di Jl. Godean Km. 7 Gesikan, Sidomulyo, Sleman Yogyakarta.

Istimewanya sate kere ini tidak hanya pada kelezatannya saja, tapi juga harganya. Bisa jadi disebut sate kere karena harganya yang merakyat, hingga orang yang tak punya banyak uang pun bisa menikmatinya.
Sate kere ini cocok banget dengan program diet keto yang sedang aku jalani. Diet keto membolehkan makan daging berlemak, yang dimasak dengan bumbu berlimpah. Ini cocok, karena meski diet, kita boleh memakan menu yang beraroma lezat, dan rasa yang gurih. Diet keto cocok bagi yang ingin membakar lemak di tubuh, tapi tetap makan enak. Secara umum, diet keto adalah diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak. Lewat sate kere yang nikmat ini kita harus mengubah pola pikir yang beranggapan bahwa lemak itu jahat dan bikin gendut. Yuk jangan takut kere, tiap sore kita santap sate kere ini. (*)

Berburu Kuliner di Danau Toba

Saat Soekamti Day di Pematang Siantar, Sumatera Utara, aku menyempatkan diri buat plesiran ke Danau Toba. Jarak Danau Toba memakan waktu satu jam perjalanan dari hotel tempatku menginap. Danau Toba merupakan danau terluas di Indonesia. Perairan yang berlokasi di Sumatera Utara ini memiliki panjang sekitar 100 kilometer dan lebar 30 kilometer. 

Danau Toba terletak di pegunungan Bukit Barisan. Luasnya 1.145 kilometer persegi yang menjadikannya danau terluas tidak hanya se Indonesia tapi juga se-Asia Tenggara. Luas Danau Toba lebih besar dari Singapura. Danau ini terbentuk karena letusan gunung berapi yang memuntahkan 2.800 km kubik material letusan, sehingga membuat kawah yang lambat laun dipenuhi air menjadi danau. Pilihan berwisata di sini ada dua, kita mau sekedar cuci mata atau sekalian menikmati airnya. Kita bisa berenang dan menaiki kapal mengelilingi danau. Tapi kalau hanya ingin cuci mata, kita harus menaiki bukit agar bisa menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya.

Di tengah Danau Toba terdapat pulau bernama Samosir yang memiliki beberapa desa dengan wisata alam luar biasa, seperti pegunungan dan air terjun. Di sana aku dan teman-teman berusaha mencari makanan khas Danau Toba, namun yang didapat tidak banyak, mungkin karena waktu plesiran yang sangat terbatas. Aku juga sempat bertanya kepada warga sekitar, apa makanan khas di sini, hamper semua menjawab ‘tidak ada’. Ya sama seperti di daerah lain, makanan yang tersedia adalah masakan padang, dan jualan mie instan. Tapi ada makanan khas yakni ikan bakar, terutama ikan nila.

Menu yang pertama kali kita dapatkan adalah martabak mesir. Kamu tahu apa bedanya martabak mesir dengan martabak telur? Keduanya sepintas nampak sama, padahal kenyataannya sangat berbeda. Persamaan kedua martabak ini adalah penampakannya, yakni adonan terigu yang diberi isian, kemudian dilipat-lipat sambal digoreng. Tekstur kulitnya renyah dan kecoklatan. Luarnya boleh sama, tapi kalau soal rasa, kita bakal langsung bisa membedakannya. Isian martabak telur dan martabak mesir itu berbeda, terutama daging yang ada pada martabak mesir dimasak dengan bumbu rempah yang banyak. Sebagaimana rendang dan gulai, bumbu rempahnya sangat beragam. Belum lagi ada tambahan variasi seperti jamur atau bawang bombay. Yang jelas, martabak mesir isinya lebih variatif daripada martabak telur biasa.


Menu lainnya yang memiliki cita rasa tinggi adalah Mie Gomak adalah makanan khas Toba Samosir khususnya kota Balige. Berbeda dengan lainnya, mie ini berukuran besar seperti pasta. Kuahnya mengandung berbagai macam rempah, andaliman, dan berbumbu cabai. Tidak hanya menyajikan air danau yang asri, di Danau Toba juga terdapat warung makan dengan menu Na Tinombur atau ikan bakar, sangat dianjurkan untuk kalian yang memiliki selera pedas. Salah satu masakan khas Batak yadalah Arsik. Menu ini biasanya paling banyak digunakan pada saat acara adat. Arsik merupakan makanan berbahandasar ikan seperti ikan mas, nila dan ikan mujair yang ditangkap langsung dari Danau Toba. Rasa dan aroma yang khas, dikarenakan proses memasaknya menggunakan andaliman sejenis rempah. Makanya menu ini rasanya pedas dan hangat.

Nah, kalau ingin merasakan sushi ala Batak, kita bisa mencoba Naniura. Bahan dasar ikan mas, nila, dan mujair ini tidak dimasak, digoreng ataupun direbus. Tapi karena bumbunya yang cadas, ikan mentah ini bakal lebih enak rasanya. Ketika berwisata, yang ditawarkan oleh sebuah tempat bukan sekedar pemandangan dan kulinernya saja, tapi juga ‘pengalamannya’. Seperti menaiki kapal kecil, makan ikan setempat. Memang perlu waktu yang cukup lama untuk melihat potensi yang ada di sebuah tempat wisata. (*)

Belut Disambelin

Salah satu tempat makan favoritku di Selatan Yogyakarta adalah Sambel Welut. Sudah beberapa kali di sana aku merayakan ulang tahun dan makan sepuasnya bersama teman-teman. Nama tempatnya adalah warung Sambal Welut Pak Sabar. Olahan daging belut ini merupakan kuliner tradisional khas Bantul. Menu utama di sana adalah aneka hidangan berbahan dasar belut, dari yang sederhana seperti belut goreng hingga belut yang diulek dan dijadikan sambal. Sambel welut adalah jagoan utama di warung ini. Pastinya menu inilah yang wajib kalian coba, pedasnya pun ada beberapa level, tinggal pilih sesuai kekuatan lidah dan perut. Jangan lupa tambahkan lalapan segar seperti mentimun dan daun kemangi. Lalapan ini juga berfungsi sebagai peredam rasa pedas. Sambal belut ini bisa disajikan pisah atau dijadikan satu dengan nasi. Untuk makan bersama, penyajian pisah sepertinya lebih pas. Rasanya benar-benar segar dan sedap saat disantap. Hahaha…

Sambel welut dibuat setelah belut yang sudah dibersihkan dan dihilangkan durinya digoreng. Kemudian dagingnya ditumbuk dengan sambal yang sudah dibuat terpisah. Sambalnya terbuat dari cabai hijau, kencur, daun jeruk, bawang putih dan garam. Kencur dan daun jeruk memberi aroma khas yang bener-bener ‘Slentem’, sangat menggugah selera makan.

Kesegaran dan kelezatan sambal belut ini juga dipengaruhi oleh bahan baku, termasuk ukuran belutnya. Untuk disambal, belut yang digunakan kurang lebih beratnya 1 ons atau 100 gram.

Selain menu utama sambal belut, di sana juga menyediakan olahan belut lainnya, seperti belut goreng, oseng belut. Rasa belut gorengnya sangat gurih, tidak terlalu kering dan tidak juga terlalu basah. Nah, favoritku selain sambal welut ya ini, oseng belut. Lidahku sangat dimanjakan dengan perpaduan rasa gurih dan manis, dan sedikit cipratan kuahnya yang pedas.

Kalau makan ke sana  beramai-ramai dengan teman-teman dan koleha, mending pesan belutnya kiloan, jadi bisa dimasak jadi beberapa variasi menu. Satu kilogram belut biasanya cukup untuk makan lima hingga tujuh orang. Tapi kalau datangnya nggak ramai-ramai, biasanya satu porsi sambal welut bahannya seberat satu ons.

Jika ada yang kurang suka daging belut, atau masih geli karena belum terbiasa, teman-teman bisa memilih menu tambahan beberapa jenis ikan sungai seperti, wader dan kutuk (ikan gabus) yang nggak kalah menariknya. Siapa yang mampu mengingkari betapa nikmatnya nasi putih hangat dengan lauk wader goreng kering atau pun ikan gabus goreng yang dicocolkan ke sambal bawang.

Minumannya yang spesial adalah teh dan jeruk, mau panas atau pun dingin pakai gula batu sebagai pemanisnya. Lokasi warung ini memang berada cukup jauh dari pusat kota Jogja, meskipun begitu, warung ini selalu ramai didatangi orang dari berbagai kalangan.

Jika mau ke sana, lokasinya dari pusat Kota Jogja, menuju ke selatan arah Pojok Benteng Wetan.

Pertigaan pertama, belok kanan hingga bertemu Jalan Ringroad Selatan. Terus lagi masih ke selatan sekitar 1,5 kilometer, selanjutnya biarkan aplikasi peta digitalmu yang bekerja. Hehehe..

Setelah semakin ramai, warung Pak Sabar yang mulai membuka usahanya sejak awal tahun 90an ini diperluas, dan kini lokasinya berada di pinggir jalan. Sambal Welut Pak Sabar alamatnya ada di Jalan Imogiri Barat km 6, Dusun Dokaran, Kelurahan Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Warung ini buka setiap harinya dari jam 10 pagi hingga 10 malam. (*)

 

Bikin Cilok Sendiri

Jika teman-teman sudah mulai ketagihan yang namanya Cilok, tapi penjual cilok keliling sudah lama nggak ada yang lewat, ditambah kita lagi pengen santai di rumah dan malas keluar. Maka

Jangan ragu untuk bikin Cilokmu sendiri.

Cilok itu terbuat dari tepung aci (kanji) yang dicampur dengan air, lalu diaduk hingga jadi adonan yang lentur.  Adonan ini kemudian kita bikin bentuknya bulat-bulat seperti bakso. Lalu direbus atau dikukus. Jangan lupa siapkan tusuk sate, lalu disiram kuah kacang atau kuah kecap.

Dari sini kita juga bisa buat sendiri variasinya, mau Cilok, Cireng, atau Cimol. Kalau Cilok itu kan singkatan dari aci dicolok, Cireng itu aci digoreng, dan Cimol adalah aci digemol. Lha, kalau Ciblek? (hehehe.. bercanda.. bercanda…)

Bahan utama untuk membuat cilok, cireng, dan cimol adalah tepung aci, bumbu ketiganya pun nyaris sama. Untuk membuat adonan cilok, aci juga dicampur dengan tepung sagu dan terigu.
Kemudian masak air panas bersama bawang putih halus, penyedap, garam dan merica. Air panas ini dimasukan sedikit demi sedikit ke dalam campuran tepung sambil diuleni hingga kalis.

Jika adonan kalis berarti sudah beremulsi dengan semua bahan. Kalau diuleni akan terasa licin dan untuk mengeceknya sangat mudah. Tandanya adalah saat diaduk, adonan sudah tidak lengket di tangan maupun di wadah atau alasnya.

Adonan tersebut lalu dibentuk bulat dan direbus dalam air mendidih sampai mengapung. Kalau penjual Cilok biasanya kan menjajakannya di gerobak, cilok tersebut dikukus dalam dandang terus-menerus hingga tetap hangat.
Selanjutnya kita bikin sendiri genre ciloknya, menurut referensi cilok di setiap daerah itu berbeda-beda cara penyajiannya. Kalau di Bandung, rasa gurih pada cilok karena adonannya dibuat bersama rebusan kaldu dan bawang putih yang dihaluskan, serta rempah-rempah lainnya. Belakangan ini juga banyak yang dikustom dengan berbagai isian, tinggal pilih, keju, sosis, ayam, dan lainnya. Ada juga cilok yang dibakar seperti sate.

Kalau kamu mau makan yang pedas-pedas, dan berkuah hangat. Coba genre Cilok Goang yang terkenal dari Tasikmalaya. Goang adalah nama sambal khas Sunda yang terbuat dari tumbukan cengek (Cabai rawit) dengan garam. Menurut pakar cilok, sejarah genre ini masih simpang siur. Samapi sekarang belum ada yang tahu persis kapan Cilok Goang ditemukan, dan siapa penemunya. Bisa juga ditambahkan berbagai jenis rempah-rempah. Mulai dari isi daging cincang, tahu, ceker ayam, dan kuah kaldu merah pedas.

Ayo, bikin sendiri cilokmu, dan pamerkan karya cilokmu di sini! (*)

Cilok Segede Gajah?

Bentuknya bulat seperti bakso, bertekstur kenyal, bisa disiram kuah atau saos pelengkap, kecap, maupun sambal kacang. Ditusuk-tusuk dan paling enak dimakan hangat-hangat, hayo siapa yang suka?

Siapa di sini yang nggak pernah makan cilok? Gunakan tusuk kayu untuk mencolok dan menikmati butiran cilok. Cita rasa yang gurih dengan paduan bumbu meresap ini bisanya paling enak dinikmati sambal ‘nyore’. Nyammm!

Ya, makanan yang terbuat dari tapioka ini asal muasalnya dari Jawa Barat. Tak hanya di bumi Parahiayangan, cilok juga jadi jajanan favorit di berbagai kota lainnya. Kita bisa dengan mudah menemukan penjual cilok yang menjajakan dagangannya di gerobak.

Karena terbuat dari bahan aci (tepung kanji), dan cara menyantapnya dengan dicolok, maka ia dinamakan cilok, singkatnya cilok adalah singkatan dari aci yang dicolok.

Di Jogja kotaku tercinta, Cilok juga banyak ditemui. Namun yang paling hits adalah cilok Gajahan yang terletak di Alun-Alun Selatan, Yogyakarta. Kalau kamu kebetulan lagi jalan-jalan sore di sana, perhatikan ke salah satu sudutnya. Di sana banyak orang berkumpul buat antri di depan sebuah gerobak, hanya untuk jajan Cilok Gajahan ini.

Biasanya pembeli selalu ketagihan dan balik lagi buat jajan di sana. Alasannya tentu saja soal kualitas dan rasanya. Cilok Gajahan ini jadi spesial karena racikan sambalnya. Menurut juragan Cilok Gajahan yang bernama Mas Syahrul, rahasia sambalnya yang mantap, adalah cabe rawit segar, bawang merah, bawang putih, dan beberapa bumbu lainnya. Buat yang suka, teman-teman juga bisa minta tambahan kecap. Rasa pedas manis, gurih adalah sensasinya. Istilahnya Tony Soekamti….. Mak, Slentem!

Kalau melihat dari bahan bakunya, memang nggak berbeda dengan cilok lainnya, yakni tepung tapioka, dan rempah-rempah. Namun yang berbeda adalah isinya yang menggunakan daging. Nama cilok Gajahan ini bukan karena besarnya segeda gajah lho, bukan juga berarti isiannya yang terbuat dari daging gajah, tapi karena letak berjualannya berada di bekas kandang gajah milik Keraton Yogyakarta, yang dikenal dengan area Gajahan.

Kamu tahu, Mas Syahrul ini sudah berjualan cilok di sana sejak 10 tahun lalu. Ia menjajakan ciloknya setiap sore hari di area Gajahan, dan pagi harinya beliau keliling dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Bayangkan, 10 tahun lalu cilok belum nge-hits kayak sekarang, waktu itu juga nggak banyak pembeli dan pelanggan yang mampir ke gerobaknya. Namun karena keputusannya untuk tetap menjual cilok, meski tren kuliner terus silih berganti menjadi salah satu kunci suksesnya. Ya… beliau adalah orang yang konsisten dengan pilihannya.

Sebab kegigihannya dan nggak pernah menyerah, lambat laun ciloknya mendapat kepercayaan pelanggan, hingga akhirnya ramai seperti sekarang. Karena sudah memiliki banyak pelanggan, beberapa tahun ini, Mas Syahrul sudah tidak lagi berjualan keliling ke sekolah-sekolah. Saking ramainya, kalau jajan di sana sekarang pakai nomor antrian, dan hanya dalam waktu dua jam lebih, cilok-cilok tersebut sudah ludes terjual.

Dibanding dengan cilok-cilok di kota lainnya seperti Bandung dan Jakarta yang dibandrol seharga Rp 500 per buah, Cilok Gajahan justru jauh lebih murah teman-teman. Bayangkan dengan harga Rp. 250 untuk sebuah Cilok, Mas Syahrul mampu meraup omzet hingga Rp. 1.5 juta per hari lho!

Gimana, bener-bener ‘Slentem’ kan? (*)